Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Overcoming Shortage of Pharmacists to Provide Pharmaceutical Services in Public Health Centers in Indonesia Yuniar, Yuyun; Herman, Max Joseph
Kesmas Vol. 8, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia masih menghadapi keterbatasan jumlah apoteker di puskesmas, sehingga pihak pemerintah daerah dan puskesmas harus berupaya mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ketersediaan dan distribusi tenaga pelayanan kefarmasian di puskesmas serta permasalahan dan alternatif pemecahannya. Data diambil dari hasil Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) tahun 2011I. Data kuantitatif tentang tenaga pelayanan kefarmasian di puskesmas dianalisis secara deskriptif berdasarkan regional. Data kualitatif sebagai pendukung diperoleh melalui wawancara mendalam dengan bagian kepegawaian dinas kesehatan dan apoteker empat puskesmas di Kota Bogor dan Bekasi, 3 kemudian dianalisis dengan metode analisis tema. Hasil analisis menunjukkan bahwa Sulawesi memiliki persentase puskesmas dengan tenaga apoteker tertinggi (29,1%) sedangkan Indonesia Timur memiliki persentase puskesmas tertinggi dengan tenaga pelayanan kefarmasian tanpa latar belakang pendidikan farmasi (51,5%). Persentase tenaga kefarmasian terbesar di puskesmas adalah tenaga teknis kefarmasian kemudian perawat. Permasalahan utama yang dihadapi puskesmas adalah beban kerja yang berat dengan kondisi tenaga yang terbatas. Alternatif pemecahan masalah yaitu pengangkatan apoteker baru, namun jika tidak memungkinkan maka penempatan apoteker pada puskesmas dengan kebutuhan mendesak merupakan prioritas utama. Pilihan lain yang memungkinkan adalah pemberdayaan tenaga teknis kefarmasian dan staf lain yang sudah dilatih atau memanfaatkan tenaga siswa magang. Indonesia is facing shortage of pharmacist in public health centers (PHCs), therefore the local government and PHCs have to cope with this problem. This paper aimed to describe the pharmaceutical manpower availability in PHCs, the problems occurred and potential applied solutions. Data was taken from National Health Facility Research 201. Quantitative data related to pharmaceutical manpower in PHCs was analyzed descriptively based on regions. Supporting qualitative data through in-depth interviews with the health office staffs in Bogor and Bekasi and pharmacists in four PHCs were conducted and being analyzed using thematic analysis. It was found that Sulawesi had the highest percentage of PHCs having pharmacist (29.1%) while Eastern Indonesia 51.5% of PHCs didn’t have any staff with pharmacy related educational background. The highest percentages of staff composition were pharmacy technician followed by nurse. The main problem was due to high workload with limited manpower available. The proposed solutions are recruitment of new pharmacists, but in case it is not possible then placing pharmacist in certain type of PHCs with urgent needs is a priority. Empowering pharmacy technician, all available trained staff and other resources such as on job students are other feasible choices.
Proses Adaptasi Mahasiswa Baru melalui Manajemen Kecemasan dan Motivasi Pemahaman Lintas Budaya di Universitas Garut, Provinsi Jawa Barat Yuniar, Yuyun; Hudaya, Deri; Yatnosaputro, Rosanti Dewi
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3636

Abstract

This study aims to examine how non-local students adapt to the local culture at Garut University, where Sunda culture predominates. The research focuses on three key aspects: the development of self-concept, the motivation to interact, and the relationships formed with local students. Data were collected through in-depth interviews with six non-local students from diverse cultural backgrounds, supported by insights from lecturers and counselors who served as expert informants. The findings indicate that although the students initially experienced anxiety and uncertainty, they were able to overcome these feelings through self-reflection, a desire to be accepted within a new social environment, and active participation in various campus activities. Intensive and positive interactions with local students played a crucial role in accelerating their adaptation process and fostering a sense of belonging. Their adjustment of self-concept occurred in a flexible manner—maintaining their original identity while remaining open to the new environment. Their motivation to interact was driven not only by academic needs but also by a personal desire to build meaningful social relationships. This study highlights the importance of creating an inclusive and culturally aware campus environment to support the adaptation of students from diverse cultural backgrounds.Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswa pendatang beradaptasi dengan budaya lokal di Universitas Garut, yang sebagian besar didominasi oleh budaya Sunda. Fokus penelitian ini meliputi tiga hal utama: pembentukan konsep diri, motivasi berinteraksi, dan hubungan mereka dengan mahasiswa lokal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan enam mahasiswa pendatang dari berbagai latar belakang budaya, serta masukan dari dosen dan konselor yang berperan sebagai narasumber ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya, siswa pendatang merasa cemas dan tidak yakin, namun mereka bisa mengatasi hal tersebut melalui refleksi diri, keinginan untuk diterima dalam kelompok sosial baru, dan keterlibatan aktif dalam berbagai aktivitas kampus. Interaksi yang intens dan positif dengan pelajar lokal sangat membantu mempercepat proses adaptasi mereka dan memberi rasa diterima. Penyesuaian konsep diri mereka dilakukan dengan cara yang fleksibel, tanpa menghilangkan identitas aslinya, tetapi dengan terbuka terhadap lingkungan baru. Motivasi untuk berinteraksi tidak hanya didorong oleh kebutuhan akademik, tetapi juga oleh keinginan pribadi untuk membangun hubungan sosial yang bermakna. Penelitian ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan sadar budaya untuk mendukung adaptasi mahasiswa dari latar belakang budaya yang berbeda.