Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hubungan Antara Waktu Tunggu Pelayanan Resep dengan Kepuasan Pasien Rawat Jalan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan Elza Yurika; Warrantia Citta Citti Putri; Rofidah Nur Umar
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 3 No. 4 (2025): Oktober : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v3i4.891

Abstract

Pharmaceutical services are an essential component in improving hospital service quality and patient satisfaction. One of the main indicators of pharmaceutical service quality is prescription waiting time. This study aimed to analyze the relationship between prescription waiting time and outpatient satisfaction levels at the Pharmacy Installation of Restu Ibu Hospital Balikpapan. This research employed a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 393 outpatient respondents who met the inclusion criteria, with data collected through direct observation of prescription waiting time and a satisfaction questionnaire based on the five SERVQUAL dimensions (tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy). Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. The results showed that most prescription waiting times met the standard (≤30 minutes for non-compounded and ≤60 minutes for compounded drugs). The majority of patients expressed satisfaction with the services provided. The Chi-Square analysis revealed a significant relationship between prescription waiting time and patient satisfaction level p <0,001 (p < 0.05). Thus, shorter prescription waiting times are associated with higher levels of patient satisfaction.
GAMBARAN PENYIMPANAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN DAN BAHAN MEDIS HABIS PAKAI (BMHP) DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT SWASTA BALIKPAPAN SAFIRA ARBANI; Warrantia Citta Citti Putri
PHARMACIA Vol. 3 No. 2 (2025): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47002/3ytpb240

Abstract

Penyimpanan sediaan farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) merupakan tahap penting dalam pengelolaan perbekalan farmasi karena memengaruhi mutu, keamanan, dan ketersediaan obat di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat kepatuhan penyimpanan sediaan farmasi dan BMHP di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Swasta di Kota Balikpapan berdasarkan standar Permenkes No. 72 Tahun 2016. Metode yang dig unakan adalah deskriptif dengan observasi dan wawancara menggunakan daftar periksa terstandar. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepatuhan penyimpanan berdasarkan tempat sebesar 94,73% (kategori baik), dengan sebagian besar telah sesuai standar meski belum dilengkapi fasilitas eye washer dan safety shower. Aspek metode dan sistem memperoleh 100% (kategori sangat baik) yang mencerminkan penerapan sistem penataan alfabetis serta prinsip First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO) secara optimal. Secara keseluruhan tingkat kepatuhan mencapai 98,24% (kategori sangat baik). Hasil ini menunjukkan bahwa pengelolaan penyimpanan telah memenuhi standar pelayanan kefarmasian, namun perlu peningkatan sarana keselamatan kerja untuk menjamin keamanan tenaga farmasi dan keberlanjutan mutu pelayanan.
GAMBARAN SISTEM PENCATATAN KARTU STOK OBAT DI LOGISTIK FARMASI IBNU SINA BALIKPAPAN Atirah Salsabila; Warrantia Citta Citti Putri
PHARMACIA Vol. 3 No. 2 (2025): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47002/wge4hk46

Abstract

Pengelolaan logistik obat yang efektif merupakan kunci dalam menjamin mutu, ketersediaan, dan keberlanjutan pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan. Salah satu instrumen penting dalam mendukung hal tersebut adalah sistem pencatatan kartu stok obat yang berfungsi memantau mutasi persediaan, mencegah kekosongan maupun penumpukan obat, serta menjaga keakuratan data distribusi. Namun, praktik pencatatan secara manual masih umum digunakan dan sering menimbulkan kendala seperti keterlambatan pencatatan, ketidaksesuaian data, serta potensi kesalahan input. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesesuaian sistem pencatatan kartu stok obat di Instalasi Farmasi Ibnu Sina Rapak Balikpapan dengan menyoroti aspek pelaksanaan, efisiensi, serta kendala yang dihadapi petugas logistik. Penelitian dilakukan pada Agustus–September 2025 menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen kartu stok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pencatatan telah dilakukan secara teratur dan sesuai prosedur, meliputi pencatatan mutasi, rekap bulanan, serta kesesuaian antara stok fisik dan catatan. Meskipun demikian, masih ditemukan kelemahan pada ketidakkonsistenan pencatatan nomor batch, keterlambatan pembaruan data, serta keterbatasan sumber daya manusia. Integrasi dengan sistem digital Khanza terbukti membantu meningkatkan ketepatan dan efisiensi pencatatan. Dengan demikian, kombinasi sistem manual dan digital menjadi pendekatan adaptif yang efektif untuk memperkuat manajemen logistik obat secara berkelanjutan.
GAMBARAN KEJADIAN RETUR SEDIAAN FARMASI PADA DEPO RAWAT INAP RUMAH SAKIT SWASTA DI BALIKPAPAN Ika Adhinda Ayundariaslan; Warrantia Citta Citti Putri
PHARMACIA Vol. 3 No. 2 (2025): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47002/m6r25505

Abstract

Retur obat merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kefarmasian karena berkaitan langsung dengan efisiensi logistik, pemborosan biaya, dan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kejadian serta faktor penyebab retur sediaan farmasi pada depo rawat inap di salah satu rumah sakit swasta di Balikpapan. Desain penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling terhadap seluruh lembar retur obat periode Juli–Agustus 2025. Hasil analisis menunjukkan terdapat 678 item obat yang diretur dari total 3.971 item resep atau sebesar 17,07%. Faktor utama penyebab retur meliputi pasien pulang (49%), terapi ekstra (20,40%), penghentian terapi (19,02%), perubahan terapi (10,90%), dan meninggal dunia (0,68%). Tingginya angka retur berkaitan erat dengan penerapan sistem One Daily Dose Dispensing (ODD) yang kurang adaptif terhadap dinamika klinis pasien. Sebagai tindak lanjut, rumah sakit mengimplementasikan model distribusi hybrid ODD–UDD, yang dinilai mampu menekan jumlah retur tanpa menurunkan efisiensi dan mutu pelayanan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan sediaan farmasi yang responsif dan fleksibel untuk mendukung keselamatan pasien, efisiensi operasional, serta peningkatan kualitas layanan farmasi klinis di rumah sakit.
GAMBARAN PERENCANAAN DAN PENGADAAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN DAN BAHAN MEDIS HABIS PAKAI (BMHP) DI INSTALASI FARMASI KLINIK IBNU SINA  Sofia Nurul Hidayah; Warrantia Citta Citti Putri
PHARMACIA Vol. 3 No. 2 (2025): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47002/5gr3em22

Abstract

Manajemen pengelolaan obat sangatlah berperan penting dalam meningkatkan pelayanan kefarmasian di instalasi farmasi klinik. Pada Klinik Ibnu Sina Rapak Balikpapan, masalah yang sering terjadi yaitu kekosongan barang dan keterlambatan pengiriman. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui pelaksanaan standar pelayanan pengelolaan sediaan farmasi terkait proses perencanaan dan pengadaan obat yang sesuai dengan petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Klinik Nomor 34 Tahun 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara mendalam terhadap lima informan yang terdiri dari satu apoteker penanggungjawab, dua petugas farmasi dan dua petugas logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan obat di Klinik Ibnu Sina Rapak Balikpapan dilakukan dengan metode konsumsi dan morbiditas yang mempertimbangkan sisa stok dan buffer stock selama 3 minggu. Pengadaan obat dilakukan melalui sistem digital namun masih terdapat kendala seperti kekosongan barang di distributor dan keterlambatan pengiriman. Upaya yang dilakukan meliputi pengorderan CITO, penambahan buffer stock serta koordinasi antar unit pelayanan. Kesimpulan penelitian ini adalah perencanaan dan pengadaan obat di Klinik Ibnu Sina Rapak Balikpapan telah sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian, meskipun masih terdapat kendala teknis yang perlu diperbaiki melalui peningkatan komunikasi, monitoring stok dan integrasi.
EVALUASI KELENGKAPAN KONSELING APOTEKER DI DEPO FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X DI BALIKPAPAN Juwita Amalia Sholikah; Warrantia Citta Citti Putri
PHARMACIA Vol. 3 No. 2 (2025): Pharmacy
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47002/za5h1p77

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelengkapan pelaksanaan konseling oleh apoteker saat penyerahan obat di Depo Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit X di Balikpapan. Latar belakang penelitian ini didasari oleh pentingnya konseling apoteker dalam meningkatkan pemahaman, kepatuhan, dan keselamatan pasien terhadap penggunaan obat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan observasi langsung menggunakan lembar checklist yang mencakup sembilan aspek konseling, dilakukan dengan metode total sampling terhadap seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kelengkapan konseling sebesar 57,28%, dengan aspek identitas pasien, indikasi, dosis, cara, dan waktu penggunaan obat mencapai kelengkapan 100%, sedangkan aspek efek samping (4,8%), interaksi obat (0,4%), dan penyimpanan obat (8,4%) masih rendah. Rendahnya tingkat kelengkapan pada aspek tertentu dipengaruhi oleh keterbatasan waktu konseling, jumlah antrian pasien, serta fokus apoteker pada penyampaian informasi dasar. Meskipun demikian, kegiatan konseling tetap terlaksana secara konsisten dan menunjukkan adanya upaya apoteker dalam memberikan edukasi kepada pasien, sehingga diperlukan peningkatan pelatihan komunikasi dan penerapan standar prosedur yang lebih optimal untuk mendukung kualitas pelayanan kefarmasian.