Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pemberdayaan PKK Untuk Peningkatan Ekonomi Keluarga Rr Dewi Ngaisyah; Andre Kussuma Adiputra; Metty Metty
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2019: 5. Pemberdayaan Kaum Perempuan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.937 KB) | DOI: 10.18196/ppm.25.476

Abstract

Latar belakang: Desa Kanigoro terletak di Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul,Daerah Istimewa Yogyakarta dengan luas wilayah 2.515 Ha. Desa Kanigoro memiliki 10Padukuhan dan 44 Rukun Tetangga (RT) serta 10 Rukun Warga (RW). Jumlah pendudukDesa Kanigoro 6.760 orang dengan penduduk laki-laki sebanyak 3.352 orang dan pendudukperempuan sebanyak 3.408 orang. Mata pencaharian penduduk Desa Kanigoro sebagaianbesar adalah nelayan. Tujuan: Peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya ikan untukdikembangkan menjadi home industri kuliner dengan cara pemberdayaan pada kelompokPKK Desa. Metode: Upaya yang sudah dilakukan untuk pengembangan pemanfaatan panganlokal ikan diantaranya melakukan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok PKK Desasehingga mampu memproduksi dan memasarkan beberapa produk (abon, nugget, bakso, crispy,ikan asin dan kerupuk ikan). Selain itu membentuk sentra produksi aneka olahan ikan yangdikelola oleh kelompok PKK Desa. Hasil: Pengolahan ikan dapat menambah unggulan desakarena dari bulan kebulan penjualan produk mengalami tren peningkatan. Pengolahan ikanini menjadi nilai tambah Desa Kanigoro dalam meningkatkan perekonomian terutama dalampenyediaan lapangan pekerjaan dan sumber pendapatan keluarga. Simpulan: Pemberdayaankelompok PKK efektif meningkatkan konsumsi ikan dan ekonomi keluarga. Pengembangansentra produksi pengolahan ikan sebaiknya terus diupayakan dengan terus berinovasi padaupaya pemasarannya.
Keterkaitan Pola Pangan Harapan (Pph) dengan Kejadian Stunting Pada Balita Rr Dewi Ngaisyah
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.597 KB) | DOI: 10.24853/jkk.13.1.71-79

Abstract

Dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita, pola konsumsi makanan berperan penting sehingga pola konsumsi makanan yang baik perlu diperhatikan. Data Dinkes Kab. Sleman tahun 2014 angka kejadian stunting di Provinsi DIY sebesar 14,32%, Kab. Sleman sebesar 12,87%, dari 12,87% tersebar di 3 Kecamatan yang memiliki prevalensi tinggi yaitu Kecamatan Minggir 1,67%, Kecamatan Ngemplak 1,44%, dan Kecamatan Moyudan 1,43%. Tujuandari penelitian ini adalah Mengetahui hubungan pola pangan harapan dengan kejadian stunting pada balita di Kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Jenis penelitian adalah observasional menggunakan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan sampel berjumalah 39 balita. Instrumen yang digunakan adalah form skor PPH dan form recall 24 jam untuk melihat keragaman, kejadian stunting diperoleh dengan menggunakan indeks TB/U dari pengukuran antropometri TB. Hasil penelitian ini adalah Terdapat 21 sampel dalam kategori beragam, dari 21 sampel tersebut terdapat 20 sampel normal dan 1 sampel stunting, sampel tidak beragam sebanyak 18 sampel, dari 18 sampel 8 sampel normal dan 10 sampel stunting. Dari analisis chi-square diperoleh nilai X2 = 12.349 dan nilai p = 0,000.  Sehingga dapat disimpulan bahwa ada hubungan antara Pola Pangan Harapan dengan kejadian stunting pada balita di Kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Kata Kunci: Pola Pangan Harapan, Stunting. 
HUBUNGAN TINGGI BADAN ORANG TUA DENGAN KEJADIAN STUNTING Rr Dewi Ngaisyah; Septriana
Jurnal Ilmu Kebidanan Vol. 3 No. 1 (2016): Edisi Desember
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN UMMI KHASANAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi stunting di Indonesia meningkat pada tahun 2010 mencapai 35,6% menjadi 37,2% pada tahun 2013. Salah satu faktor penentu terjadinya stunting yaitu status gizi dan kesehatan orang tua, terlihat dari indikator tinggi badan ayah dan tinggi badan ibu yang diwariskan kepada anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan pada bulan Maret sampai Oktober 2016. Populasi berjumlah 2310 balita dengan menggunakan cluster random sampling peneliti memperoleh 110 balita yang digunakan sebagai sampel. Data tinggibadan orang tua diperoleh dengan cara pengukuran TB menggunakan microtoise ketelitian 0,1 cm dan kejadian stunting diperoleh dengan pengukuran tinggi badan atau panjang badan balita menggunakan stadiometer SECA ketelitian 0,1 cm. Pengukuran TB orang tua dan anak dilakukan secara bersamaan. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu oleh empat orang enumerator. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitiandiperoleh prevalensi ayah pendek sebesar 28,2%, prevalensi ibu pendek sebesar 29,09% dan kejadian stunting balita 48,2%. Dari hasil uji bivariat tidak ada hubungan tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting, hasil uji chi square antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting (p-value 0,507) dan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting (p-value 0,195). Diperlukan program berupa peningkatan edukasi khususnya pada keluarga yang memiliki pendidikan rendah dalam rangka mempersiapkan 1000 hari kehidupan pertama.
Pengembangan potensi lokal ikan menjadi nugget dan abon ikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan angka kejadian stunting di Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul Raden Roro Dewi Ngaisyah; Andre Kusuma Adiputra
Journal of Community Empowerment for Health Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.453 KB) | DOI: 10.22146/jcoemph.36961

Abstract

Kanigoro Village is blessed abundantly with great potential for fish resources development. Its strategic location by the seashore also poses an opportunity for Kanigoro to become a center for local home-based culinary industries focusing on local fish, such as fish nuggets and floss (shredded meat), which are rich sources of animal protein. Despite the plentiful local protein sources, a high prevalence of stunting continues to plague Kanigoro Village, reaching up to 48.2%. Developing fish-based culinary industries may become a means to reduce the stunting rates as well as to improve the economic status of the villagers. This project aimed to develop the fish-based local food processing into nuggets and floss to improve family economies and nutritional status in Kanigoro Village through a community-based approach. It began with the sharing of the project plan to gain support from the community. The team collaborated with local Kanigoro organizations, namely posyandu cadres and women's group. The training was given to the women's group on marketing, such as providing nutritional information on the packages, developing attractive packaging, and introducing marketing niches. Posyandu cadres were trained to motivate the villagers to increase fish consumption. After the training, the groups conducted meetings with the local women under the supervision of the team. In the meeting sessions, they encouraged villagers to eat more fish. Through the training, the local women acquired new knowledge on product enhancement, starting from improved processing hygiene, upgraded packaging, provision of nutritional information, and innovative marketing ventures. In the gatherings, posyandu cadres were able to deliver motivation to augment fish consumption. They could measure the height and weight of children under five correctly, enabling them to identify children with stunting. The knowledge and skills acquired from this project will equip the local villagers to prevent and reduce stunting prevalence in Kanigoro Village.
HUBUNGAN RIWAYAT LAHIR STUNTING DAN BBLR DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA USIA 1-3 TAHUN DI POTORONO, BANTUL YOGYAKARTA Rr Dewi Ngaisyah
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.492 KB) | DOI: 10.35842/mr.v11i2.505

Abstract

The first 1000 days of life exceptionally determine infant life quality. Pregnant mothers with low nutritional status are at risk of giving infant to stunted (< 48 cms) and infant with low birth weight (LBW) that is less than 2.500 gram weight. Infant with stunted growth in Indonesia are expected to reach 20,2%, with the highest number recorded comes from East Nusa Tenggara (28,7%). And Special Region of Yogyakarta (28,6%) is right after East Nusa Tenggara (Riskesdas, 2013).                This study aims to discover the relationship of the stunted growth and LBW history with the nutritional Status of children in Potorono, Bantul, Yogyakarta. The study draws on observational design with cross sectional approach. It begins in February and ends in December, 2015. The data of stunted growth and LBW history were collected through a cross sectional study. And the data of the nutritional status are collected through an anthropometric calculation, to later on conclude the Z-score body weight/age and height/age indices.                This study confirms the relationship of stunted history with nutritional status (TB/U) (p-value 0,001) and nutritional status (BB/U) (p-value 0,004). It also significantly validates the relationship of LBW history with nutritional status (TB/U) (p-value 0,02). However, there is no proven relationship between LBW history and nutritional status (BB/U) (p-value 0,051).                Accordingly, extra health monitoring during the pregnancy is suggested to decrease the number of children with stunted and LBR history that will affect the nutritional status of children. It is also recommended to improve the life quality of Indonesian humans that is by putting more attention to the first 1000 days of infant’ life through a nutrition improvement program for pregnant mothers and children.Keywords: Nutritional status, Stunting, LBW
PENGEMBANGAN FOOD BAR PISANG NANGKA (Musa acuminata) dan TEPUNG MOCAF SEBAGAI PANGAN DARURAT UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN GIZI MASYARAKAT TERDAMPAK BENCANA Rr Dewi Ngaisyah; Wahyu Rochdiat Murdhiono; Eko Mindarsih
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 18, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/mr.v18i4.966

Abstract

Latar Belakang: Bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun dan biasanya menimbulkan dampak yang merugikan bagi lingkungan serta masyarakat setempat. Kerugian materiil seperti hilangnya harta benda maupun kerugian non materiil menimbulkan kondisi rawan pangan yang menyebabkan terganggunya keberlangsungan hidup masyarakat terdampak bencana. Oleh karena itu perlu dilakukannya riset terkait pengembangan pangan darurat seperti food bar pisang nangka yang berasal dari bahan lokal dan memiliki gizi yang cukup tinggi. Tujuan : untuk mengembangkan food bar pisang nangka (Musa acuminata) dan tepung mocaf (Modified Cassava Fluor) sebagai pangan darurat untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat terdampak bencana. Metode: Penelitian ini dilaksanakan pada Mei-Juni 2022 di Laboratorium Dietetik dan Kulinari Universitas Respati Yogyakarta dengan design Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 kali ulangan, 2 kali unit percobaan, serta 3 kali percobaan. Pengambilan data dilakukan menggunakan teknik uji organoleptik yang melibaatkan 20 panelis, serta uji proksimat yang dilakukan di Laboratorium Pangan dan Gizi PAU UGM. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif serta analisis inferensial menggunakan uji Kruskall-Wallis dan uji lanjut Mean Whitney U-test. Hasil : terdapat beda signifikan 0,013 dan 0,003 pada substitusi pisang nangka (Musa acuminata) pada pembuatan food bar tepung mocaf terhadap sifat organoleptik berupa aroma dan tekstur food bar, dan tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap sifat organoleptik berupa warna dan rasa food bar. Hasil uji proksimat diketahui mengandung rerata kadar air sebesar 25,05%, kadar abu 1,8%, kadar lemak 16,96%, kadar protein 10%, serta karbohydrate by different 46,2%. Kesimpulan: terdapat pengaruh signifikan dan pada substitusi pisang nangka (Musa acuminata) pada pembuatan food bar tepung mocaf terhadap sifat organoleptik berupa aroma dan tekstur food bar.
Permasalahan Status Gizi Calon Pengantin Wanita Ayu Wantini, Nonik; Maydianasari, Lenna; Ngaisyah, Rr Dewi
Jurnal Kesehatan Global Vol 7, No 2 (2024): Edisi Mei
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jkg.v7i2.6079

Abstract

Status gizi pranikah sangat penting untuk dipersiapkan, mengingat gizi pra konsepsi akan menentukan kualitas anak yang akan dilahirkan kelak. Status gizi calon pengantin wanita (catin) menunjukkan masalah gizi seperti anemia, underweight, obesitas, kurang energy kronis. Banyak faktor yang mungkin mempengaruhi terjadinya masalah gizi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi calon pengantin wanita di Puskesmas Berbah. Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional, sampelnya adalah calon pengantin wanita yang berkunjung ke Puskesmas Berbah yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel 81 orang yang dipilih dengan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Body Shape Questionnaire (BSQ) untuk body image, International Physical Activity Questionnaire Short Form (IPAQ-SF) untuk aktivitas fisik, dan  Self Regulation of Eating Behaviour Questinnaire (SREBQ) untuk pengaturan diri dalam perilaku makan. Data status gizi diambil dari data sekunder dengan metode dokumentasi. Analisis data menggunakan uji Kendall Tau. Hasil penelitian menunjukkan 58% catin wanita berstatus gizi normal berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), Kurang Energi Kronis (KEK) sebesar 25,9%, sebanyak 18,5% anemia, dan 24,7% obesitas sentral. Catin wanita mayoritas tidak memiliki perhatian terhadap bentuk tubuhnya (79%), separuh (50,6%) beraktivitas sedang, dan 81,5% memiliki pengaturan diri kategori sedang dalam perilaku makan. Hasil uji Kendall Tau antara citra diri dengan kejadian obesitas sentral diketahui p-value 0,012, sedangkan faktor lainnya seperti aktivitas fisik, pengaturan diri dalam perilaku makan didapatkan p-value 0,05. Kesimpulannya permasalahan status gizi calon pengantin meliputi KEK, anemia, obesitas sentral dan faktor yang berhubungan dengan status gizi wanita (obesitas sentral) adalah citra diri.
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Kedungaren melalui Optimalisasi Pengolahan Pelepah Pisang untuk Kemandirian Ekonomi Ngaisyah, Dewi; Adiputra, Andre Kusuma; Nofiartika, Fera
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Tipis Wiring Vol 2 No 1 (2023): Tepis Wiring: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unversitas Islam Raden Rahmat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/tepiswiring.v2i1.1894

Abstract

Dusun Pisangan yang terletak di Desa Tridadi memiliki potensi sebagai Desa Wisata Kedungaren sekaligus dapat dikembangkan menjadi homeindustri kuliner oleh masyarakat karena memiliki perkebunan pisang. Pengabdian ini bertujuan untuk melakukan inovasi pengolahan taro pelepah pisang sehingga dapat menjadi icon desa wisata dan diversivikasi pangan serta membangun kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya pasca pandemi covid-19. Metode yang digunakan yaitu melakukan inisiasi bersama kelompok wanita tani (KWT) Kedungaren dalam pembudidayaan perkebunan pisang, dimana pelepah pisang yang ada kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan taro dengan beberapa variasi yang nantinya akan ditentukan variasi terbaiknya melalui analisis deskriptif dan inferensial (spss). Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini mampu memberikan hasil bahwa tim KWT Kedungaren untuk produksi taro pelepah pisah yang terstandar. Standarisasi telah dilakukan terhadap standar resep (melalui penentuan variasi taro terbaik) dan standar proses menggunakan spiner sehingga penyerapan minyak menjadi optimal. Standarisasi pengemasan juga telah dilakukan untuk produk taro pelepah pisang yang diberi nama Happysang. Kesimpulan kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu standarisasi produksi terbukti efektif meningkatkan mutu hasil produk taro pelepah pisang, dimana hal tersebut ditunjukkan melalui adanya perubahan kualitas sebelum dan setelah dilakukan pendampingan produksi pada kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan.
THE IMPLEMENTATION OF COMPLIMENTARY FOOD ON STUNTED CHILDREN Ngaisyah, Rr Dewi; Avianty, Selma
Muhammadiyah Medical Journal Vol 1, No 1 (2020): Muhammadiyah Medical Journal (MMJ)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.219 KB) | DOI: 10.24853/mmj.1.1.1-9

Abstract

Background: The age of 6-24 months old is a transitional period from breast milk to solid food. It is a critical period where children could easily get malnutrition and infection. The stunting prevalence in Kanigoro Village has surpassed the healthy limit (20%) and as such, WHO categorized it as a public health nutrition problem. This study figured out the determinant factors of the implementation of complimentary food for breast milk on 6-24 months old stunted children. Methods: This study collected the 5 (five) respondents via purposive sampling methods. The criteria used were the respondents: (1) being 6-24 months old, (2) having the height-for-age z-score value -2 SD, (3) living in the operational area of the Public Health Center of Saptosari Gunungkidul, and (4) committing to a consensual agreement to be the subjects of the study by submitting a legal informed consent letters. The data of the study were gathered via in-depth interview. The results were then compared to International Food Policy Research Institute (IFPRI) responsive feeding indicators. Results: All of the respondents failed to do the responsive feeding properly and thoroughly. They failed to spoon feed the children, or to help the children eat by themselves, to be patient and to persuade their children to eat, to provide food in safe environment, to make feeding time as also learning time, and to care for the children. The response feeding predisposition factors are the limited time and the respondents’ perception to their children. The enabling factors are the availability and accessibility of resources. The empowering factors are the motivation from family members. Conclusion: It is recommended to involve the results of this study in basic policies formulations of many public health centers. It is expected to help children get better food intake and to optimize their growth. 
Pelatihan Terapi Relaksasi Otot Progresif dan Terapi Tertawa dalam Menurunkan Tekanan Darah Wanita Masa Klimakterium Wantini, Nonik Ayu; Maydianasari, Lenna; Ngaisyah, Rr Dewi
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v5i2.4330

Abstract

Klimakterium adalah masa peralihan yang dilalui seorang wanita dari periode reproduktif ke periode non reproduktif. Penurunan estrogen pada masa ini berhubungan erat dengan perkembangan penyakit kardiovaskular. Masalah hipertensi mendominasi (19%) dibandingkan masalah kesehatan lainnya di Padukuhan Karangnongko. Banyak studi literatur menyebutkan terapi relaksasi otot progresif dan terapi tertawa memiliki manfaat dalam menurunkan tekanan darah. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui faktor risiko hipertensi, meningkatkan keterampilan peserta dalam melakukan terapi relaksasi otot progressive dan terapi tertawa, serta menurunkan tekanan darah. Adapun metode yang digunakan adalah pelatihan dengan metode demonstrasi. Sasaran program adalah 20 wanita masa klimakterium. Hasil kegiatan ini adalah faktor risiko obesitas yang ditemukan pada peserta antara lain jarang berolahraga (60%), obesitas sentral (75%), IMT kategori obesitas (55%), 70% overfat, keterampilan terapi peserta dalam kategori sangat baik, terdapat perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah pelatihan (p-value = 0,010) berdasarkan hasil uji Wilcoxon. Pelatihan terapi relaksasi otot progresif dan terapi tertawa efektif menurunkan tekanan darah, keterampilan wanita dalam melakukan terapi sangat baik saat evaluasi