Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analisis Penggunaan Shuujoshi Danseigo Darou, Zo, Ze, Saa, Dan Kana Dalam Anime “Detective Conan Series – Season 22 Episode 701-704” Priskila Grace Madeleine Rorong; Umul Khasanah
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 4 No 1 (2022): APRIL
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v4i1.5448

Abstract

Abstrak: Di dalam penelitian ini berisi tentang shuujoshi danseigo, antara lain darou, ze, zo, saa, dan kana, yang diambil dari anime “Detective Conan”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dan pendekatan Sosiolinguistik sebagai desain penelitian. Hasil temuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama : fungsi shuujoshi darou : (1) menunjukkan kemungkinan sebanyak 3 data, (2) question tag sebanyak 5 data, (3) menunjukkan keraguan sebanyak 4 data. Kedua, fungsi shuujoshi ze : menunjukkan pernyataan sebanyak 9 data. Ketiga, fungsi shuujoshi zo : menunjukkan perintah, ancaman, mempertegas kalimat sebanyak 11 data. Keempat, fungsi shuujoshi saa : memperhalus penegasan sebanyak 9 data. Kelima, fungsi shuujoshi kana : menunjukkan ketidakpastian, heran sebanyak 6 data. Kata kunci: anime, Detective Conan, sosiolinguistik, shuujoshi danseigo. Abstract: This analysis of shuujoshi danseigo [darou], [ze], [zo], [sa], and [kana] by the characters of anime Detective Conan. Use of descriptive qualitative research methods and sociolinguistic approaches as research design. The data source is taken from the anime "Detective Conan Series : The Jet Black Mystery Train Season 22, Episodes 701 to 704". First : [Darou] 1. There are 3 data for stating the possibilities in the text. There are 5 data as question tags in the text. There are 4 data of wondering in the text. Second : [Ze] There are 9 data of statement in a sentence. Third : [Zo] There are 11 instructions or threat data in the text. Fourth : [Saa] There are 9 numbers of affirmative softening data in the text. Last : [Kana] There are 6 data that indicate uncertainty in the text. Keywords: Anime, Detective Conan, sociolinguistic, shuujoshi danseigo
ANALISIS FUNGSI SHUUJOSHI NO DAN YO OLEH TOKOH WANITA DALAM ANIME VIOLET EVERGARDEN EPISODE 1-9 Ithrotun Nisa'; Umul Khasanah
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 3 No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v3i2.5453

Abstract

Artikel diterima tanggal....Artikel diedit tanggal.....Abstrak: Anime merupakan salah satu jenis seni kontemporer atau modern yang di minati oleh berbagai kalangan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  fungsi Shuujoshi No dan Yo yang digunakan oleh tokoh wanita dalam anime “Violet Evergarden”. dalam analisis digunakan pendekatan Sosiolinguistik dan metode deskriptif sebagai desain penelitian . Sumber data yang digunakan adalah anime Violet Evergarden Episode 1 sampai 9 dengan hasil temuan sebagai berikut; pertama: fungsi shuujoshi No: (1) Pertanyaan sebanyak 24 data, (2) Penyampaian berita dengan lembut sebanyak 29 data. Kedua: fungsi shuujoshi Yo: (1) Ajakan sebanyak 1 data, (2) Pernyataan untuk memastikan sebanyak 20 data, (3) Omelan atau hinaan sebanyak 6 data, (4) Permohonan sebanyak 2 data. Kata kunci: Anime, Sosiolinguistik, Violet Evergarden, Shuujoshi Yo dan No. Abstract: Anime is one type of contemporary or modern art that is of interest to the public. This study aims to describe the Shuujoshi No and Yo functions used by the female characters in the anime "Violet Evergarden" according to the context. Using Sociolinguistic approach and descriptive method as research design . The select data source is  anime Violet Evergarden from episode 1-9 with the following findings :  function of shuujoshi No: (1) 24 data questions, (2) 29 data delivers news gently. Second: the shuujoshi Yo function: (1) 1 data invitation marker, (2) 20 data giving a statement to ensure , (3) 6 data showing scolding or insults , (4) 2 data Indicating  requests.Keywords: Anime, Sosiolinguistik, Violet Evergarden, shuujoshi No and Yo.
Analisis Retorika Makna dalam Manga Doraemon Volume 18 Yuwi Andraini; Umul Khasanah
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v7i1.11727

Abstract

Penggunaan retorika dalam sebuah manga bertujuan untuk menambah nilai estetika pada manga tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis retorika makna yang terdapat pada manga “Doraemon” volume 18 karya Fujiko.F. Fujio dengan menggunakan teori retorika makna menurut Seto (2002). Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Data dalam penelitian ini berupa dialog dan monolog para tokoh yang ada dalam manga “Doraemon” Volume 18 karya Fujiko.F. Fujio dan dikumpulkan dengan menggunakan teknik baca catat. Hasil penelitian terhadap 56 data yang berupa dialog dan monolog para tokoh dalam manga “Doraemon” Volume 18 diketahui ada 7 jenis retorika makna, yaitu simile sebanyak 4 data, sinestesia 38 data, sinekdok 2 data, hiperbola 2 data, tautologi 7 data, eufemisme 2 data, dan pertanyaan retorika 1 data pada manga “Doraemon” volume 18 karya Fujiko.F. Fujio. Kata Kunci: pragmatik, Retorika Makna, Manga, Doraemon
Japanese Diplomatic Strategy in Using Traditional Culinary as An Instrument of Cultural Diplomacy in Indonesia Umul Khasanah; Sidrotun Naim; Priyanto; Kanah; Wahyuning Dyah
Jurnal Kewarganegaraan Vol 7 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v7i1.5225

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis inisiatif yang dilakukan oleh masyarakat Jepang dalam memanfaatkan masakan tradisional. Metodologi penelitian menggunakan metode kualitatif. Tinjauan literatur memanfaatkan berbagai sumber data sekunder digunakan untuk tujuan ini. Tiga konsep yang digunakan dalam penelitian ini yaitu konsep kekuasaan persuasif, diplomasi budaya, dan diplomasi publik. Ketiga konsep ini membantu Jepang maju dalam dua cara utama. Fase awal melibatkan pengorganisasian pameran di acara-acara seperti festival, sedangkan fase kedua melibatkan peningkatan kesadaran melalui media visual seperti manga dan anime. Kesimpulan utama dari artikel ini adalah bahwa upaya Jepang melalui washoku ditujukan untuk menjaga kepentingan nasional, termasuk memajukan bangsa dan mencapai nilai ekspor yang diinginkan ke luar negeri. Mempengaruhi persepsi masyarakat dunia bahwa Jepang adalah negara yang menghargai perdamaian dan memiliki budaya menawan baik kontemporer maupun tradisional, serta menegaskan fakta bahwa Jepang memiliki budaya kuliner yang sangat khas. Kata Kunci: Jepang, Tradisional, Diplomasi, Budaya Kuliner Abstract The objective of this research is to analyze the initiatives that the Japanese have implemented to utilize traditional cuisine. The research methodology employs qualitative methods. A review of literature utilizing various secondary data sources is utilized for this purpose. Three concepts are utilized in this research: the concepts of persuasive power, cultural diplomacy, and public diplomacy. These three concepts assisted Japan in progressing in two main ways. The initial phase involves organizing exhibitions at events such as festivals, while the second phase involves raising awareness through visual media like manga and anime. The main conclusion from this article is that Japan's endeavors through washoku are aimed at safeguarding national interests, including promoting the nation and achieving the desired value of its exports overseas. Influencing the perception of the global population that Japan is a country that values peace and possesses a captivating culture that is both contemporary and traditional, as well as emphasizing the fact that Japan possesses a highly distinctive culinary culture. Keywords: Japan, Traditional, Diplomatic, Culinary Culture
Penggunaan keigo oleh Berrien berdasarkan jōge kankei pada visual novel Akuma Shitsuji To Kuroi Neko Febryana Meutia Nur Fadillah; Umul Khasanah
Proceeding of Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies Vol. 6 No. 1 (2026): Vol. 6 No. 1 (2026): UNCOLLCS: PROCEEDING RESEARCH ON LITERARY, LINGUISTIC, AND
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/pcllcs.v6i1.6928

Abstract

Keigo adalah sistem bahasa hormat Jepang yang berfungsi sebagai penanda kesantunan sekaligus mencerminkan hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur. Dalam masyarakat Jepang, penggunaan keigo erat kaitannya dengan hubungan atasan-bawahan atau jōge kankei yang menjadi salah satu karakteristik hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan keigo oleh tokoh Berrien berdasarkan hubungan atasan-bawahan dengan Aruji dalam visual novel Akuma Shitsuji to Kuroi Neko. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa tuturan Berrien yang mengandung keigo dalam interaksinya dengan Aruji pada visual novel Akuma Shitsuji Main Story Episode 1. Data dikumpulkan menggunakan metode simak catat, kemudian dianalisis menggunakan teori jenis keigo menurut Mitsuno (2008), teori pembentukan keigo menurut Aoki et al (2007) dan Marumo et al (2015), teori faktor penggunaan keigo menurut Mizutani (1987), serta konsep hubungan vertikal masyarakat Jepang menurut Nakane (1967). Hasil penelitian menujukkan bahwa penggunaan sonkeigo, kenjougo, dan teineigo oleh Berrien tidak hanya berfungsi sebagai bentuk kesantunan berbahasa, tetapi juga merepresentasikan hubungan atasan-bawahan antara pelayan dan majikan. Dominasi penggunaan teineigo menunjukkan profesionalitas Berrien sebagai pelayan, sedangkan sonkeigo dan kenjougo digunakan untuk menunjukkan penghormatan kepada Aruji sebagai pihak yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Dengan demikian, penggunaan keigo oleh Berrien berperan dalam membangun dan merepresentasikan hubungan atasan-bawahan dalam visual novel.