Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Efektivitas Kebijakan Label Gizi terhadap Perilaku Konsumsi dan Metabolisme Energi: Tinjauan Literatur Putri Rahayu Ratri; Tri Setyo Wardhani
HARENA : Jurnal Gizi Vol 6 No 1 (2025): HARENA: Jurnal Gizi (Desember 2025)
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/harena.v6i1.6616

Abstract

Label gizi merupakan instrumen kebijakan kesehatan masyarakat yang bertujuan memberikan informasi nilai gizi suatu produk untuk membantu konsumen membuat keputusan makanan yang lebih sehat. Literatur menunjukkan bahwa label gizi berperan dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi kalori, gula, garam, dan lemak yang berhubungan dengan gangguan metabolisme energi, obesitas, dan penyakit tidak menular. Tinjauan literatur ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kebijakan label gizi terhadap perubahan perilaku konsumsi dan implikasinya terhadap metabolisme energi. Pencarian artikel dilakukan melalui database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci nutrition labeling, consumer behavior, energy metabolism, dan food policy, dengan rentang publikasi tahun 2010–2024. Dari 236 artikel yang teridentifikasi, 22 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Hasil menunjukkan bahwa penerapan label gizi, terutama front-of-pack labeling (FoPL) seperti Nutri-Score dan Traffic Light Label, meningkatkan pemahaman konsumen terhadap nilai gizi produk dan menurunkan pembelian pangan berkalori tinggi. Beberapa studi intervensi menunjukkan bahwa label gizi mampu menurunkan asupan energi harian konsumen sebesar 6–13% dan meningkatkan pemilihan makanan rendah lemak dan tinggi serat. Selain itu, keberadaan label turut mendorong industri melakukan reformulasi produk menjadi lebih sehat. Kesimpulan dari review ini adalah bahwa kebijakan label gizi memiliki efektivitas dalam memengaruhi perilaku konsumsi dan mendukung keseimbangan metabolisme energi, namun keberhasilannya dipengaruhi oleh literasi gizi, desain label, dan dukungan edukasi kesehatan masyarakat.  
Profil Gula Darah Sewaktu dan Postprandial Tikus Diabetes Melitus Tipe 2 Setelah Intervensi Bubuk Kakao (Theobroma cacao L.): Analisis Statistik Deskriptif Arisanty Nursetia Restuti; Adhinigsih Yulianti; Putri Rahayu Ratri; Handini Dyah Wulandari; Adinda Putri Khairiyah
HARENA : Jurnal Gizi Vol 6 No 1 (2025): HARENA: Jurnal Gizi (Desember 2025)
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/harena.v6i1.6862

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolik kronik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat resistensi insulin dan disfungsi sel β pankreas. Evaluasi gula darah sewaktu (GDS) dan glukosa darah postprandial (GDPP) penting untuk menggambarkan respons glikemik basal. Bubuk kakao (Theobroma cacao L.) mengandung flavonoid dan polifenol yang berperan dalam perbaikan profil glikemik melalui aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan profil dan perubahan GDS dan GDPP pada tikus diabetes melitus tipe 2 setelah intervensi bubuk kakao. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan desain pretest–posttest control group. Subjek penelitian adalah tikus jantan galur Sprague Dawley yang diinduksi diabetes melitus tipe 2 menggunakan kombinasi diet tinggi lemak dan streptozotocin dosis rendah. Tikus dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dan tiga kelompok perlakuan yang menerima bubuk kakao dosis 0,4 g, 0,8 g, dan 1,2 g per hari selama 14 hari. Parameter GDS dan GDPP disajikan dalam bentuk rerata dan simpangan baku (mean ± SD). Sebelum intervensi, seluruh kelompok menunjukkan rerata GDS dan GDPP di atas 200 mg/dl kecuali kelompok kontrol negtif. Setelah intervensi, kelompok perlakuan dosis 0,8 g dan 1,2 g menunjukkan penurunan rerata GDS (108,33mg/dL, 102mg/dL) dan GDPP (40,33mg/dL, 105 mg/dL). Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi bubuk kakao memperbaiki kadar GDS dan GDPP tikus diabetes melitus tipe 2, terutama pada dosis menengah dan tinggi.