Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENERAPAN ASESMEN UNJUK KERJA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS EKSPOSISI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 KOTA JAMBI TAHUN AJARAN 2022/2023 Ikram Azizul Hakim; Andiopenta Purba; Priyanto
Sasando Vol 6 No 1 (2023): SASANDO VOL 6 NO 1 APRIL 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pancasakti Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/sasando.v6i1.200

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan asesmen unjuk kerja dalam pembelajaran menulis teks eksposisi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Kota Jambi Tahun Ajaran 2022/2023. Pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya menulis teks eksposisi merupakan kegiatan yang sulit dilakukan apa lagi seusia anak sekolah menengah pertama dan belum diketahui kualitasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif karena pendekatan tersebut lebih tepat dalam memahami keadaan pada penelitian lapangan secara alamiah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penerapan asesmen unjuk kerja dalam menulis teks eksposisi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Kota Jambi dalam bentuk teks eksposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan asesmen unjuk kerja materi menulis teks ekposisi sudag dilaksanakan dengan baik berdasarkan teori asesmen unjuk kerja dalam persiapan merancang, menerapkan, dan mengevaluasi hasil penilaian. Bentuk asesmen unjuk kerja di terapkan pada penilaian produk dan portofolio. Terdapat kendala-kendala yang muncul dalam penerapan asesmen unjuk kerja menulis teks eksposisi kelas VIII SMP Negeri 3 Kota Jambi yang di sebabkan oleh faktor internal dan eksternal yaitu pengoptimalan waktu, kurangnya motivasi belajar dari peserta didik dan interpretasi siswa yang kurang.
Fungsi dan Makna Tindak Tutur Ilokusi dalam Parno Maloa Ijab Qobul pada Prosesi Akad Nikah Adat Masyarakat Kerinci di Kecamatan Koto Baru Dilsa Sismadika; Andiopenta Purba; Helty Helty
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 4 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i4.3730

Abstract

Parno merupakan tradisi tutur yang hidup dalam masyarakat Kerinci dan digunakan dalam berbagai upacara adat, termasuk prosesi pernikahan. Salah satu bentuknya adalah Parno Maloa Ijab Qobul, yaitu rangkaian tuturan adat yang mengiringi pelaksanaan akad nikah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis, fungsi, dan makna tindak tutur ilokusi yang muncul dalam upacara adat tersebut. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka analisis pragmatic teori Searle, data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan ninik mamak dan teganai rumah, serta dokumentasi teks Parno di Kecamatan Koto Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima kategori tindak tutur ilokusi representatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif muncul secara dominan dalam tuturan Parno. Tuturan-tuturan ini tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi ritual, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai budaya, seperti tanggung jawab, kesopanan, penghormatan, dan legitimasi sosial. Dari segi makna, tindak tutur representatif merepresentasikan situasi adat secara faktual untuk meneguhkan kesadaran kolektif terhadap aturan turun-temurun, sedangkan tindak tutur lainnya berperan mengatur, mengesahkan, dan memperkuat hubungan sosial antarpelaku adat. Temuan ini menunjukkan bahwa Parno Maloa Ijab Qobul memainkan peran penting dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat Kerinci melalui bahasa yang kaya simbolisme dan nilai-nilai adat.
PENERAPAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA TUTURAN GANJAR PRANOWO DAN NAJWA SHIHAB DALAM ACARA MATA NAJWA Elvira Putri Asri; Andiopenta Purba; Eddy Pahar Harahap
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01, Maret 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.41824

Abstract

This study aims to analyze the application of linguistic politeness principles in the utterances of Ganjar Pranowo and Najwa Shihab in the Mata Najwa program broadcast on the YouTube channel. Linguistic politeness is an important aspect of communication that reflects ethics and social norms in interaction. This research focuses on analyzing politeness maxims based on Geoffrey Leech’s theory, which includes the maxim of tact, the maxim of generosity, the maxim of approbation, the maxim of modesty, the maxim of agreement, and the maxim of sympathy. This study employs a qualitative descriptive method with a pragmatic approach. The data sources are the utterances spoken by Ganjar Pranowo and Najwa Shihab in episodes of the Mata Najwa program uploaded on YouTube. Data collection techniques were carried out using observation and note-taking methods, namely by watching the videos, transcribing the conversations, and recording utterances that contain principles of linguistic politeness. Data analysis was conducted by identifying, classifying, and describing the utterances based on politeness maxims, as well as analyzing compliance with and violations of linguistic politeness principles. The results show that the utterances of Ganjar Pranowo and Najwa Shihab reflect all six politeness maxims proposed by Leech. Both speakers tend to comply with politeness principles in communication, although several violations of politeness maxims were also found in certain contexts. Compliance with politeness maxims is demonstrated through the use of polite utterances, respect for interlocutors, and consideration of others’ feelings. Meanwhile, violations of politeness maxims occur in specific situations influenced by the conversational context, communication goals, and discourse strategies used in the talk show.
ANALISIS TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM ACARA MAMANU-MANU PERNIKAHAN MASYARAKAT BUGIS DI KAMPUNG LAUT TANJUNG JABUNG TIMUR Rika Julianti; Andiopenta Purba; Rahmawati
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01, Maret 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.43672

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the forms and functions of illocutionary speech acts used in the Mamanu-manu ceremony of Bugis marriage in Kampung Laut, Tanjung Jabung Timur. Mamanu-manu is the initial stage carried out by the male family to convey their intention to propose to the female family through a formal dialogue between representatives of both parties. This study employed a pragmatic approach with a descriptive qualitative method. The data were obtained from utterances spoken by the speakers (pa’bicara) and the interlocutors (pa’bicaranna) during the Mamanu-manu ceremony. Data were collected through observation, non-participatory observation (simak bebas libat cakap), recording, and note-taking techniques. The data were analyzed using qualitative data analysis procedures including data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of the study show that there are 24 utterances containing four categories of illocutionary speech acts based on Searle’s (1979) theory, namely assertive, directive, commissive, and expressive speech acts. These speech acts reflect the communicative strategies used by the Bugis community in conveying intentions, requests, commitments, and expressions within the context of traditional marriage negotiations.
PENGGUNAAN BENTUK-BENTUK KESANTUNAN PRAGMATIK DALAM BAHASA MELAYU DI SENGETI KABUPATEN MUARO JAMBI Wandira, Ayu; Akhyaruddin; Arum Gati Ningsih; Andiopenta Purba
Jurnal Tunas Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2025): JURNAL TUNAS PENDIDIKAN
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52060/pgsd.v8i1.3297

Abstract

Penelitian ini menganalisis bentuk-bentuk kesantunan pragmatik dalam bahasa Melayu di Sengeti Kabupaten Muaro Jambi menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kompleksitas sistem kesantunan yang mencerminkan nilai budaya masyarakat setempat. Kesantunan verbal terwujud melalui sistem sapaan hierarkis ("wak", "miicik", "bang"), ungkapan hormat ("dengan izin Datuk", "terima kasih belambon atas budi baik nyo"), dan diksi diplomatik ("dak biso", "nampak nyo biso kito pertimbangkan dulu"). Sistem pronomina hormat dengan gradasi "Man", "Kulo", dan "Sayo" menunjukkan sensitivitas linguistik terhadap aspek sosial-kultural. Kesantunan non-verbal memperkuat komunikasi melalui gesture, intonasi, dan ekspresi wajah. Terdapat tiga tingkatan ragam bahasa: formal, semi-formal, dan informal yang dipengaruhi faktor usia, status sosial, kedekatan hubungan, pendidikan, dan jenis kelamin. Pola penggunaan menunjukkan konsistensi tertinggi pada penanda leksikal, sedang pada strategi struktural, dan terendah pada aspek non-verbal. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman sistem kesantunan bahasa daerah Indonesia dan memberikan wawasan pelestarian budaya linguistik di era globalisasi.
Bentuk Bahasa Sindiran dalam Tuturan Sehari-hari Masyarakat Melayu Riau di Desa Pulau Aro Kabupaten Kuantan Singingi Popy Aprilia Ningsih; Andiopenta Purba; Deri Rachmad Pratama
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 16 No. 2 (2026): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v16i2.4233

Abstract

Kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu yang tinggal di Desa Pulau Aro, Kabupaten Kuantan Singingi, sering menggunakan bahasa kiasan. Dalam situasi sosial tertentu, bahasa kiasan sering digunakan untuk menyindir. Tulisan ini membahas tentang bentuk bahasa sindiran yang dituturkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu Riau di Desa Pulau Aro. Adapun tujuan tulisan ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan berbagai bentuk sindiran yang ditemukan dalam tuturan orang Melayu Riau di Desa Pulau Aro. Selain itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna dan fungsi serta konteks penggunaan dari setiap bentuk sindiran yang ditemukan dalam interaksi sosial di masyarakat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui teknik pengumpulan data wawancara tak terstruktur. Data penelitian berupa kata, frasa, dan kalimat yang mengandung bahasa sindiran. Hasil analisis data menunjukkan bahwa bahasa sindiran dalam tuturan masyarakat Melayu Riau di Desa Pulau Aro terdiri atas lima bentuk yaitu ironi, sinisme, sarkasme, satire, dan antifrasis, sedangkan bentuk innuendo tidak ditemukan dalam data. Setiap bentuk sindiran memiliki makna konotatif yang berbeda dan berfungsi sebagai sarana kritik sosial, teguran, nasihat, serta penilaian terhadap perilaku seseorang tanpa menyampaikan secara langsung.
Penerapan Norma-Norma Sosiokultural Dalam Berbahasa Pada Penutur Bahasa Simalungun Perantauan Dikota Jambi Arnold Harun Purba; Andiopenta Purba; Akhyarudin Akhyarudin
Jurnal Ilmiah Dikdaya Vol 16, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/dikdaya.v16i1.895

Abstract

This qualitative research aims to identify and examine the sociocultural norms in interaction and interpretation, as well as to analyze the transformation of communication culture among Simalungun language speakers in Jambi City. Data were collected using participatory observation and in-depth interviews with the Simalungun community residing in the research location. The data analysis technique employed was speech situation data analysis, focusing on the context supporting the utterances in a conversation. The data analysis process involved three interactive stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing, performed throughout the research period. The findings reveal that the sociocultural norms among Simalungun speakers in Jambi City are divided into three main categories. First, Sociocultural Norms of Interaction, which include five sub-norms: (1) granting turn-taking opportunities to the interlocutor, (2) demonstrating a sympathetic attitude towards the interlocutor's speech, (3) avoiding interruption of the interlocutor, (4) apologizing for not meeting the interlocutor's expectations, and (5) expressing gratitude for attention and service. Second, Sociocultural Norms of Interpretation, encompassing three aspects: (1) attitude and body gestures (posture, hands, facial expressions, and eye contact), (2) inquiring about personal status (occupation, marital status, age, and social status), and (3) maintaining appropriate physical distance between the speaker and the interlocutor. Third, the study identified Sociocultural Norms in the Transformation of Communication Culture. These findings contribute to understanding the linguistic dynamics of migrant ethnic groups within a different cultural environment.