Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Analisis Pengaruh Waktu Pretreatment dan Konsentrasi NaOH terhadap Kandungan Selulosa, Lignin dan Hemiselulosa Eceng Gondok Pada Proses Pretreatment Pembuatan Bioetanol Elwin elwin; Musthofa Lutfi; Yusuf Hendrawan
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.314 KB)

Abstract

Penelitian pretreatment pada proses pembuatan bioetanol dari bahan eceng gondok telah dilakukan. Eceng gondok sebagai bahan perlakuan dipisahkan dari akarnya, dipotong-potong menjadi ukuran ± 3cm dan diblender sehingga menjadi bubur eceng gondok. Bubur eceng gondok ditimbang sebanyak 20 gram dan dicampur dengan 200 ml NaOH konsentarasi 1 molar dan 2 molar. Selanjuntnya eceng gondok dipretreatment menggunakan microwave orolux daya 700 watt selama 10,15,20,25 dan 30 menit. Eceng gondok sebelum dan setelah dilakukan proses pretreatment di uji kandungan selulosa, hemiselulosa dan lignin menggunakan metode Chesson. Perlakuan terbaik selanjutnya dilakukan analisa struktur permukaan menggunajan uji SEM (Scanning Electron Microscopy).Data hasil penelitian selanjutnya di analisa dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan terbaik dengan peningkatan selulosa tertinggi dan penurunan hemiselilosa dan lignin terendah yaitu pada perlakuan pretreatment menggunakan konsentrasi NaOH 2 molar selama 30 menit. Selulosa meningkat dari 56% menjadi 68.27%, hemiselulosa turun dari 24.77% menjadi 6.58% dan lignin turun dari 12.01% menjadi 11.50%.  Kandungan lignin pada bahan eceng gondok masih tergolong tinggi. Hal ini diduga karena waktu pretreatment 30 menit menggunakan microwave masih belum cukup untuk memecah kandungan lignin bahan eceng gondok.   Kata Kunci : Bioetanol, Hemiselulosa, Lignin, Pretreatment,  Selulosa. 
Penentuan Tingkat Kerusakan Buah Alpukat pada Posisi Pengangkutan Dengan Simulasi Getaran yang Berbeda Khusna Fauzia; Musthofa Lutfi; La Choviya Hawa
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.82 KB)

Abstract

Buah  alpukat  merupakan  buah  klimaterik  yaitu  buah  yang  memiliki  laju respirasi  meningkat tajam  selama  periode pematangan.  Salah  satu sifat  fisik  buah adalah  kekerasan  (tekstur).  Kerusakan  diakibatkan  dari  getaran  dan  tumbukan selama  pengangkutan.  Simulasi  transportasi  menggunakan  meja  getar  dengan tingkat  getaran  yang  berbeda  dan  variasi  posisi  pengangkutan  buah.  Pengukuran kekerasan  dengan  menggunakan  penetrometer  PCE- PTR  200  dalam  satuan  kuat tekan  kg/cm².  Penelitian  ini  memberikan  informasi  tentang  per lakuan  tingkat getaran dan  posisi  buah yang  lebih  baik  dalam proses pengangkutan  buah alpukat.   Kata kunci : Alpukat, Transportasi, Getaran
Rancang Bangun Sistem Pendinginan Pada Mesin Screw Press Sandro Niko Gultom; Musthofa Lutfi; Wahyunanto Agung Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.501 KB)

Abstract

Teknik pengepresan biji jarak dengan menggunakan ulir (screw) merupakan teknologi yang lebih maju dan banyak digunakan di industry pengolahan minyak jarak saat ini. Dengan cara ini, biji jarak dipres dengan pengepresan berulir (screw) yang berjalan secara kontinyu. Proses pengepresan terjadi karena adanya tekanan antar bahan pada ruang pengepresan, dimana semakin mendekati ujung, tekanan semakin tinggi karena volume ruang yang semakin kecil. Panas yang terjadi akibat gesekan pada ruang clearance mampu menghambat performansi mesin screw press.Pengujian dilakukan dengan pada tiga titik yaitu suhu air masuk pada pipa besi (Tin), suhu keluar dari pipa besi (Tout) dan suhu pada ruang clearance (TL) dengan selang waktu 5 menit. Sistem pendinginan yang telah diuji mampu memberikan penurunan laju perpindahan panas dari 31.72 W menjadi 33.84 W dan kemudian diturunkan lagi menjadi 26.54 W. Suhu pada ruang clearance sebelum menggunakan sistem pendinginan memiliki rata rata peningkatan suhu sebesar 4.63 oC, sedangkan setelah menggunakan sistem pendinginan rata rata peningkatan suhu menjadi 2.26 oC. Kata Kunci: Screwpress, Jarak pagar ( jatrophacurcas L.), Sistem pendinginan
Efektifitas Pengaplikasian Sludge Biogas Pada Tanaman Jagung di Lahan Kering Syaifuddin Purwo Utomo; Musthofa Lutfi; Bambang Dwi Argo; Ary Mustofa Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280 KB)

Abstract

Jagung merupakan penyumbang terbesar kedua setelah padi dalam subsector tanaman pangan. Kebutuhan pangan yang semakin meningkat tersebut bertolak-belakang dengan lahan pertanian, Lahan yang masih jarang termanfaatkan tetapi berpotensi sebagai lahan produksi jagung adalah lahan kering. Lahan kering umumnya memiliki kandungan unsur hara sedikit. Sludge merupakan hasil teknologi biokenversi yang mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman. Sludge merupakan hasil keluaran biodigester yang sudah terfermentasi yang mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga dapat mempebaiki unsur hara pada tanah yang menunjang pertumbuhan tanaman. Sludge diharapkan dapat meningkatkan kandungan unsur hara pada tanah sehinga dapat membantu pertumbuhan vegetatif dan genertif tanaman jagung sampai akhirnya juga bisa meningkatkan hasil tanaman jagung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Perlakuan dari dua faktor yaitu aplikasi sludge organik (A), perlakuanya yaitu disebar permukaan, diaduk dengan tanah, dan di benamkan/dikubur. Faktor kedua yaitu dosis aplikasi sludge (D) terdiri dari 20 dan 30 tonha-1. Hasil dari penelitian yaitu dosis dan cara aplikasi sludge organik ternyata memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan perkecambahan, pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman jagung di lahan kering, daya perkecambahan, jumlah daun, tinggi tanaman, diameter tanaman, jumlah bunga dan jumlah tongkol tanaman jagung. Cara aplikasi pemupukan yang efektif dengan menggunakan sludge terhadap tanaman jagung di lahan kering yaitu dengan cara diaduk dengan dosis 30 ton ha-1. Aplikasi pemupukan yang efektif dan tepat dengan menggunakan sludge hasil keluaran bio-digester sebagai pupuk pada pertubuhan vegetatif dan generatif tanaman jagung di lahan kering yaitu dengan cara diaduk dengan hasil pertumbuhan perkecambahan sebesar >98%, tinggi 155,60cm, jumlah daun 13helai, diameter batang 2.35cm, jumlah bunga 119 dan jumlah tongkol 157buah.   Kata kunci : Jagung, lahan kering, sludge organik
Rancang Bangun Model Penghasil Air Tawar dan Garam dari Air Laut Berbasis Efek Rumah Kaca Tipe Penutup Limas Gunomo Djoyowasito; Ary Mustofa Ahmad; Musthofa Lutfi; Andi Anggara
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.678 KB)

Abstract

Ketersediaan air bersih dan air tawar untuk keperluan sehari-hari menjadi salah satu kendala dalam kehidupan masyarakat pesisir pantai tersebut. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan memanfaatkan air yang mayoritas ada yaitu air laut dengan cara pengolahan menjadi air tawar. Pengolahan ini menggunakan prinsip umum destilasi. Dengan bahan pilihan yang digunakan serta modifikasi struktur, selain menghasilkan air laut nantinya juga akan menghasilkan produk yang lain yaitu garam. Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang dan membuat model fisik serta menguji pengolahan air laut sebagai penghasil air tawar dan garam. Penelitian ini menggunakan metode perancangan fungsional dan struktural untuk mengetahui bahan apa yang digunakan, dimensi serta fungsi pada setiap bagian model fisik alat tersebut. Pengujian yang dilakukan yaitu dengan metode deskriptif dengan melakukan pengukuran secara langsung pada saat pengamatan. Hasil penelitian yang diperoleh berupa model penghasil air tawar dan garam dari air laut dengan ruang kaca , atap kaca, wadah bahan, cerobong, saluran air, penyangga dan saluran output. Hasil pengujian menunjukkan suhu air laut lebih tinggi dari suhu ruang dan suhu kaca, dimana ketiganya memiliki suhu yang lebih tinggi dari suhu lingkungan. Hal ini karena adanya Efek Rumah Kaca atau glass house effect. Proses yang terjadi pada model alat merupakan proses batch dimana bahan yang masuk sebesar 2000 ml akan mengalami proses pengolahan, pertama adalah proses destilasi yang menghasilkan air tawar sebesar 1316,5 ml kemudian mengalami proses pengkristalan garam yang menghasilkan 73,06 gram garam. Dari proses tersebut, persentase air awar yang dihasilkan sebesar 65,83 % sedangkan untuk garam 3,55 %.
Penggunaan Fotobioreaktor Sistem Batch Tersirkulasi terhadap Tingkat Pertumbuhan Mikroalga Chlorella vulgaris, Chlorella sp. dan Nannochloropsis oculata Tri Nurhayati; Musthofa Lutfi; Mochammad Bagus Hermanto
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.976 KB)

Abstract

Mikroalga adalah tanaman yang paling efisien dalam menangkap dan memanfaatkan energi matahari dan CO2 untuk keperluan fotosintesis. Ekplorasi yang besar-besaran perlu ditunjang dengan peralatan yang digunakan untuk mengembangbiakkan mikroalga. Salah satu peralatan yang digunakan adalah fotobioreaktor dengan sistem batch tersirkulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan fotobioreaktor dengan sistem batch tersirkulasi terhadap kepadatan mikroalga. Serta dapat menganalisis variabel pertumbuhan yang mempengaruhi proses produksi mikroalga Chlorella vulgaris, Chlorella sp. dan Nannochloropsis oculata. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, kadar lipid dan laju pertumbuhan untuk Chlorella vulgaris sebesar 1,92 %; 0,311, dan Nannochloropsis oculata sebesar 4,29%; 1,834. Variabel pertumbuhan yang mempengaruhi proses produksi mikroalga secara umum yang diamati yaitu suhu, intensitas cahaya, kadar oksigen terlarut, pH, RH dan salinitas masing-masing dengan kisaran nilai 25-32°C; 570-1610 lux; 5,48-9,22 gr/ml; 7,08-8,56; 58-95% dan 31,5-32 ‰. Nannochloropsis oculata, dapat bertahan hidup lebih lama dibandingkan dengan mikroalga jenis Chlorella vulgaris dan Chlorella sp. Variabel pertumbuhan yang diamati memberikan pengaruh terhadap proses produksi mikroalga Chlorella vulgaris, Chlorella sp. dan Nannocloropsis oculata. Kata Kunci: Fotobioreaktor sistem batch tersirkulasi, Tingkat Pertumbuhan, Chlorella vulgaris, Chlorella sp. dan Nannocloropsis oculata    
Ekstraksi dan Karakterisasi Pektin dari Buah Pandan Laut (Pandanus tectorius) Widyaningrum widyaningrum; Musthofa Lutfi; Wahyunanto Agung Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.237 KB)

Abstract

Pektin merupakan senyawa aditif yang berfungsi sebagai gelling agent. Sejauh ini kebutuhan terhadap pektin terpenuhi dari hasil impor, padahal sumber pektin sangat mudah didapat. Salah satu sumber pektin yang mungkin adalah pektin yang berasal dari buah  Pandanus tectorius dikarenakan masih sangat sedikit pemanfaatan dan penelitian tentang tanaman tersebut sehingga dirasa perlu untuk dilakukan penelitian ekstraksi pektin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap kualitas pektin yang dihasilkan dari buah Pandanus tectorius serta mencari kombinasi yang tepat untuk memperoleh hasil yang baik. Pengambilan pektin dari buah Pandanus tectorius dilakukan dengan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut air yang diasamkan dengan menambahkan asam klorida. Analisa yang dilakukan meliputi rendemen, kadar air, berat ekuivalen, kadar metoksil, kadar abu, kadar asam galakturonat dan kekuatan gel. Variasi suhu dan lama pemanasan berpengaruh terhadap banyaknya pektin yang dihasilkan dimana pektin tertinggi didapatkan pada ekstraksi suhu 80°C dan 80 menit yaitu sebesar 14.26%. Berdasarkan metode Bayes pektin terbaik yang dihasilkan adalah pektin hasil ekstraksi suhu 80°C selama 80 menit. Pektin dengan kondisi ekstraksi terbaik kemudian dibandingkan dengan pektin komersial. Parameter yang dibandingkan adalah parameter yang sesuai dengan standar yang ditetapkan Food Chemical Codex. Pektin hasil penelitian memiliki mutu yang lebih baik daripada pektin komersial.   Kata kunci : ekstraksi, karakterisasi, Pandanus tectorius, Pandan laut, pektin.
Karakterisasi Luas Permukaan Bet (Braunanear, Emmelt Dan Teller) Karbon Aktif Dari Tempurung Kelapa Dan Tandan Kosong Kelapa Sawit Dengan Aktivasi Asam Fosfat (H3PO4) Riski Kurniawan; Musthofa Lutfi; Wahyunanto Agung Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.448 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar dari luas permukaan karbon aktif dan angka iodin dari bahan tempurung kelapa dan tandan kosong kelapa sawit dengan diaktivasi menggunakan aktivasi kimia dengan bahan asam fosfat (H3PO4) dengan berbagai variasi Molar. Pembuatan karbon aktif dapat menggunakan bahan baku dari limbah tempurung kelapa dan tandan kosong kelapa sawit yang melalui proses pembersihan, pembakaran, penggilingan, pengayakan, pengaktivasian dengan Asam Posfat (H3PO4), pencucian dan pengeringan. Pemberian  Asam Posfat (H3PO4) dan variasi molar memberikan pengaruh nyata terhadap karakterisasi karbon aktif, baik terhadap angka Iodin, dan luas permukaan karbon aktif. Perlakuan terbaik yaitu pada konsentrasi Asam Posfat 3 Molar yang menghasilkan nilai angka Iodin pada tempurung kelapa sebesar 219,4414 mg/g. Hasil tersebut dapat ditunjukan dari hasil regresi yaitu y = 16.801x + 210.59. Nilai Iodin pada tandan kelapa sawit sebesar 208,1887 mg/g, dan dapat diketahui dengan persamaan y = 16.801x + 209.12. Dan untuk nilai luas permukaan karbon aktif (BET) angka pada tandan kosong sawit sebesar 131.2788511 m2/g, dan untuk tempurung kelapa sebesar 386.4470513 m2/g. Luas permukaan karbon aktik (BET) terbaik yaitu pada tempurung kelapa dengan molar 3 yaitu sebesar386.4470513 m2/g. Dan dapat diketahui dengan persamaan regresi y = 34.835x+124.93.   Kata kunci : Karbon aktif, tempurung kelapa, tandan kosong  
Pengaruh Konsentrasi Asam Sulfat Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Biochar dari Sludge Biogas pada Proses Aktivasi Johan Ari Sandra; Musthofa Lutfi; Wahyunanto Agung Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.179 KB)

Abstract

Degradasi lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus menyebabkan penurunan hasil panen tanaman. Untuk mengatasi permasalahan itu maka digunakan metode baru pembenahan tanah dengan biochar. Biochar merupakan substansi arang yang berpori atau sering disebut charcoal, atau agrichar. Salah satu sifat yang penting dari biochar adalah luas permukaan. Untuk mendapatkan luas permukaan biochar maka dilakukan aktivasi dengan cara perendaman asam sulfat dengan berbagai konsentrasi untuk mendapatkan luas permukaan paling besar. Penelitian ini dilakukan di Labortorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian Jurusan Keteknikan Pertanian. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi. Data yang diambil dilakukan ulangan sebanyak 3 kali. Luas permukaan paling besar pada penelitian ini di dapatkan pada biochar yang diaktivasi dengan asam sulfat dengan konsentrasi 2 M yaitu 45,16 m2/g dengan parameter pendukung lainnya KTK 31,09 me/100g, Densitas 0.08 g/cc, C-Organik 4.82, Bahan Organik 8,34 dan pH 5,04. Semakin tinggi konsentrasi asam sulfat yang digunakan maka luas permukaan biochar akan semakin meningkat karena asam sulfat yang digunakan sebagai aktivator dapat membuka pori pada biochar..
Pengaruh Induksi Medan Magnet Extremely Low Frequency (ELF) terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica Juncea L) Gunomo Djoyowasito; Ary Mustofa Ahmad; Musthofa Lutfi; Alifah Maulidiyah
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.981 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2019.007.01.2

Abstract

Pengembangan budidaya sawi mempunyai prospek baik untuk mendukung upaya peningkatan pendapatan petani, gizi masyarakat, dan perluasan kesempatan kerja. Seiring dengan perkembangan zaman, pemanfaatan medan magnet Extremely Low Frequency (ELF) diberbagai bidang meningkat, salah satunya di bidang pertanian hortikultura (sayuran dan buah-buahan). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa medan magnet mempengaruhi berbagai aspek pertumbuhan hingga berdampak pada peningkatan hasil panen. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian untuk mengetahui pengaruh medan magnet Extremely Low Frequency (ELF) terhadap laju pertumbuhan tanaman sawi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 4 kali pengulangan dan 2 faktorial, faktor pertama yaitu variasi besar pemaparan medan elektromagnetik sebesar 300 µT (M1) dan 600 µT (M2), dan faktor kedua yaitu lama pemaparan medan elektromagnetik dengan waktu pemaparan 30 menit (T1), 60 menit (T2), dan 90 menit (T3), serta satu perlakuan kontrol tanpa pemaparan medan elektromagnetik. Pengaruh medan magnet Extremely Low Frequency (ELF) pada variasi waktu T2 atau waktu 60 menit sebesar 300 µT dan 600 µT merupakan waktu pemaparan yang paling baik terhadap pertumbuhan tanaman sawi, yaitu berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah, dan bobot kering tanaman. Nilai efektivitas terbesar adalah pada perlakuan selama 60 menit, yaitu sebesar 0,865 g/Wh, dan hasil uji  C/N ratio pada variasi waktu 60 menit sebesar 9,5.