Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Daya Tahan Tanaman Jagung Terhadap Serangan Penyakit Bulai Pada Benih Jagung Hibrida Varietas P31 dan Varietas P35 di PT. DuPont Pioneer Surya Putra; Musthofa Lutfi; Darwin Kadarisman
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.406 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengamati daya tumbuh benih jagung hibrida varietas P31, varietas P35 dan varietas kompetitor, dan mengamati daya tahan benih jagung hibrida varietas P31, varietas P35 dan varietas kompetitor terhadap serangan penyakit Bulai. Metode pengamatan yang dilakukan di perusahaan yang pertama adalah penanaman benih jagung meliputi persiapan alat dan bahan sebelum tanam, persiapan lahan pengamatan, penanaman, pemberian pupuk pertama, dan penyiangan. Langkah kedua adalah pengamatan dan pengambilan data meliputi pengamatan daya tumbuh, proses inokulasi dan pengambilan data intensitas serangan penyakit Bulai. Dari hasil pengamatan pada 10 HST (Hari Setelah Tanam) diketahui bahwa daya tumbuh varietas P31 (93%), varietas P35 (98%) dan varietas kompetitor (92%). Kemudian tanaman jagung yang tergolong sangat tahan bulai adalah varietas P35 (9,18%), tanaman varietas P31 (13,98%) tergolong tahan dan varietas kompetitor agak tahan (36,94%), pada pengamatan intensitas serangan penyakit Bulai 40 HST. Kata kunci: Penanaman, Daya Tumbuh, Inokulasi, Daya Tahan Benih
Identifikasi Sifat Fisik Buah Nangka (Artocarpus heterophyllus) Eva Widiarti Budi Wardani; Musthofa Lutfi; Wahyunanto Agung Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.62 KB)

Abstract

Nangka merupakan buah popular di daerah tropis terutama Indonesia hampir di seluruh wilayah dapat ditemui buah ini dan memiliki tingkat ekonomi yang tinggi. Pengolahan buah ini masih dilakukan secara manual terutama dalam pengupasan, buah yang besar, keras sedikit elastic membuat buah ini tidak praktis dalam pengupasanya sehingga  dapat dibuat inovasi pengupas nangka guna membantu pekerjaan di industry yang mengelola buah nangka. Dalam perancangan alat sangat penting adanya pengetahuan awal yaitu penelitian tentang  pengukuran dimensi dan sifat-sifat fisik dari buah nangka tersebut. Hasil dari penelitian ini akan mempengaruhi hasil kinerja dan bentuk alat yang akan dirancang untuk pengupas nangka, sehingga diharapkan meningkatkan produktivitas pengolahan buah nangka yang efektif dan efisien. Kata Kunci: sifat fisik, buah nangka, elastisitas, viskoelastisitas 
Optimasi Plastik Biodegradable Berbahan Jelarut (Marantha arundinacea L) dengan Variasi LLDPE untuk Meningkatkan Karakteristik Mekanik Hendri Setiawan; Musthofa Lutfi; Masruroh Masruroh
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.119 KB)

Abstract

Pengemasan saat ini didominasi dengan bahan yang terbuat dari minyak bumi, di mana sulit untuk didegradasi secara alami dan membutuhkan waktu lama, maka dibuatlah terobosan plastik biodegradable.  Indonesia memiliki potensi yang besar dengan keanekaragam hayati berupa umbi-umbian yang memiliki kandungan yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat plastik biodegradable. Ubi jelarut merupakan salah satu jenis umbi yang memiliki kadar amilosa tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan plastik biodegradable dengan ditambahkan LLDPE sebagai penguat untuk mencapai standar yang telah ditetapkan. Tujuan penelitian ini adalah pengaruh penambahan LLDPE terhadap sifat mekanik yang meliputi kuat tarik, elongasi dan modulus pada plastik yang dihasilkan, morfologi dan gugus fungsi plastik berbahan dasar ubi jelarut dengan penambahan LLDPE. Pengujian dilakukan pada hasil sampel dengan perbandingan pati jelarut dan LLDPE dengan perbandingan komposisi 10 : 90, 20 : 80, 30 : 70, 60 : 40 dan 50 : 50. Hasil sampel diuji karakteristik mekanik dilakukan dengan menggunakan universal testing machine (UTM). Hasil uji kuat tarik didapatkan bahwa semakin tinggi komposisi  LLDPE maka kuat tarik semakin tinggi, untuk uji perpanjangan semakin tinggi komposisi LLDPE sampel yang dihasilkan semakin elastis, sedangkan uji modulus semakin tinggi komposisi LLDPE tingkat kekakuan semakin menurun. Dari hasil uji mekanik yang dilakukan diperoleh bahwa plastik berbahan dasar ubi jelarut hampir mnyerupai PBAT eastman (easter bio 14766) pada komposisi pati jelarut dan LLDPE 20 : 80 Uji morfologi diperoleh bahwa dengan LLDPE lebih tinggi hasil campuran semakin bertumpuk dan tidak merata sedangkan uji gugus fungsi diperoleh beberapa gugus fungsi yaitu OH, CO serta ester.   Kata kunci : Biodegradable, gugus fungsi, LLDPE,  jelarut (Marantha arundinacea L) 
Pengaruh Suhu dan Waktu pada Proses Ekstraksi Pektin Dari Kulit Buah Nangka (Artocarpus Heterophyllus) Ahmad Syamsun Injilauddin; Musthofa Lutfi; Wahyunanto Agung Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.856 KB)

Abstract

Selama ini pemanfaatan buah nangka hanya terbatas pada daging buah, dami dan bijinya saja, sedangkan kulit buah nangka yang jumlahnya cukup besar sering kali dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan terlebih dahulu padahal didalam kulit buah nangka terdapat kandungan pektin yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pektin adalah senyawa polisakarida yang larut dalam air yang mengandung gugus-gugus metoksil. Penggunaannya yang paling umum adalah sebagai bahan perekat/pengental (gelling agent) pada selai dan jelly. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi kandungan pektin pada kulit buah nangka, perbandingan suhu dan lama waktu ekstraksi terbaik pada proses ekstraksi serta karakterisasi pektin hasil ekstraksi terhadap pektin komersial.Pada penelitian ini, proses ekstraksi dilakukan pada pH 1,5 dengan menggunakan pelarut air yang diasamkan dengan penambahan asam klorida dan natrium hidroksida. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan dua faktor. Faktor pertama merupakan suhu (T) dimana: T1= 80°C, T2= 85°C, T3= 90°C, T4= 95°C. Sedangkan faktor kedua adalah waktu (W) dimana: W1= 80 menit dan, W2= 90 menit. Beberapa analisa yang dilakukan meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, berat ekuivalen, kadar metoksil, dan kadar asam galakturonat. Hasil penelitian menunjukkan rendemen tertinggi didapatkan pada suhu ekstraksi 85°C dengan lama waktu ekstraksi 90 menit yaitu sebesar 4,68%, kadar air 9,82%, kadar abu 2,7%, kadar metoksil 8,47% dan kadar asam galakturonat sebesar 88,88%.Kata kunci : ekstraksi, kulit, metoksil, pektin
Analisa Pengaruh Microwave Assisted Extraction (MAE) Terhadap Ekstraksi Senyawa Antioksidan Catechin Pada Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis) (Kajian Waktu Ekstraksi Dan Rasio Bahan:Pelarut) Muhammad Husain Kamaluddin; Musthofa Lutfi; Yusuf Hendrawan
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.955 KB)

Abstract

Teh (Camellia sinesis) merupakan suatu bahan minuman yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia, teh ialah suatu bahan pangan yang bisa diolah menjadi sebuah produk yang bernilai tinggi seperti dijadikan untuk minuman yang berkhasiat dan mampu mengurangi beberapa penyakit. Selama ini banyak cara yang telah dilakukan para peneliti untuk mendapatkan ekstraksi teh yang baik tanpa merusak kandungan antioksidan yang ada dalam teh, khususnya antioksidan catechin, catechin ini memiliki sifat penting seperti antimikroba karena menunjukkan kemampuan merusak sel dari sebagian mikroorganisme, antioksidan, memperkuat pembuluh darah, melancarkan sekresi urin, dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Pada penelitian ini menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Metode rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini ialah menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 perlakuan yaitu waktu ekstraksi (W) yang  terdiri  atas 5 level  (120, 180, 240, 300, 360 detik)  dan  rasio pelarut  (P) yang  terdiri  atas  3  level  (25,  35, 45 ml). Dari hasil penelitian didapatkan kombinasi perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan volume pelarut 35 ml dan lama waktu 4 menit (P2W3), dengan karakteristik  kandungan catechin sebesar 56,322 % (1.54 mg/g) dan nilai rendemen sebesar 56,007 %.   Kata Kunci : Catechin, Daun Teh Hijau, Ekstraksi, Microwave Assisted Extraction (MAE)
Ekstraksi Minyak dari Microalga Jenis Chlorella Sp. Dengan Menggunakan Metode Osmotik Berbantukan Ultrasonik Swasti Riska Putri; Musthofa Lutfi; Bambang Susilo
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.58 KB)

Abstract

Tingkat konsumsi dari energy khususnya bahan bakar minyak (BBM) semakin meningkat setiap tahunnya. Peningkatan nilai konsumsi BBM ini akan mempengaruhi ketersediaan minyak mentah yang semakin lama akan semakin habis.  Fenomena seperti ini perlu diantisipasi dengan usaha diversifikasi energy seperti alkohol, gasohol dan minyak nabati. Namun renewable energy ini berbahan baku pangan seperti singkong, jagung, dan lain sebagainya, sehingga dapat mengganggu stabilitas pangan. Biodiesel merupakan salah satu renewable energy yang dapat diproduksi dari microalga diantaranya Chlorella Sp.. Kelebihan Clorella Sp. dari bahan baku biodiesel yang lain adalah dapat berkembang biak dengan cepat , tidak memerlukan pretreatment dalam pengolahannya, dan bukan merupakan bahan pangan. Microalga dapat diekstrak salah satunya dengan menggunakan cara kimiawi yaitu shock osmotic berbantukan ultrasonic yaitu memecah membrane semipermeable sel sehigga kandungan minyak dapat terekstrak. Lama ekstraksi divariasikan sebamyak 5 level yaitu 60, 90, 120, 150, dan 180 menit.  Hasil pengujian kadar lemak dalam eksrak alga ini didapatkan bahwa kandungan lemak hasil ekstrak tanpa menggunakan gelombang ultrasonic terbesar adalah pada lama ekstraksi 3 jam yaitu sebesar 0.655%. Sedangkan kandungan lemak pada ektrak dengan ultrasonic yang tertinggi adalah pada lama ekstraksi 2 jam yaitu 0.545%. Kata kunci : Ekstraksi, Clorella Sp., Metode Osmotik, Gelombang Ultrasonik
Pengaruh Suhu dan Lama Pengeringan terhadap Mutu Tepung Jamur Tiram Putih (Plaerotus ostreatus) Maya Lisa; Musthofa Lutfi; Bambang Susilo
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.4 KB) | DOI: 10.21776/jkptb.v3i3.293

Abstract

Jamur tiram putih banyak dibudidayakan petani di Indonesia karena sifatnya yang adaptif terhadap lingkungan, produktifitas tinggi, kaya nutrisi, dan rendah lemak sehingga sangat baik untuk dikonsumsi. Namun, jamur tiram putih yang telah dipanen akan mudah sekali rusak karena kandungan airnya tinggi yaitu 86,6%. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan untuk memperpanjang daya simpan jamur tiram putih setelah dipanen dengan mengolah jamur tiram putih menjadi tepung. Salah satu tahapan penting dalam pembuatan tepung jamur  tiram adalah proses pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi faktor suhu dan lama pengeringan terhadap mutu tepung jamur tiram putih dan berapakah suhu dan lama pengeringan yang tepat untuk menghasilkan tepung jamur tiram putih dengan mutu terbaik. Diketahui semakin tinggi suhu dan lama pengeringan maka rendemen, kadar abu, kadar protein, dan derajat putih tepung jamur tiram akan semakin meningkat, sedangkan kadar airnya menurun. Begitu pula sebaliknya.  Disamping itu, diketahui pula bahwa suhu pengeringan 650C dan lama pengeringan 5,5 jam akan menghasilkan tepung jamur tiram putih terbaik dengan rendemen 7,34%, kadar air 4,30%, kadar abu 4,75%, kadar protein 19,20%, dan derajat putih 82,17.
Utilization of agricultural waste biomass for co-firing fuel for coal-fired power plant with consideration of the potential of slagging, fouling, and abrasion in pulverized coal (PC) boilers Hariana Hariana; Hanafi Prida Putra; Musthofa Lutfi; Adi Prismantoko
Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE) Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.afssaae.2022.005.01.8

Abstract

The world is moving towards clean energy, especially since the Paris Agreement in 2016. Indonesia is no exception, which must reach 23% of its total energy mix usage from renewable energy sources by 2025, as stated in President Regulation No. 22/2017. Biomass as a renewable energy source can be used as a co-firing fuel for power plants based on its calorific value. This study discusses some of the most important characteristics needed in co-firing fuels, including slagging, fouling, and abrasion, using palm empty fruit bunch (EFB), rice husk (RH), and EFB-RH blended with the composition of 5%, 15%, 25%, and 35% on low-rank coal (LRC) and bituminous coal (BTC).  The results showed that the addition of biomass on BTC has no significant effect on the slagging and fouling potential. Conversely, the addition of biomass to LRC significantly reduced the potential of slagging and fouling with the composition of up to 35% biomass which has EFB up to 20%. For blends with 75% of LRC and 25% of biomass blends, only biomass blends with 100% RH can be considered from the aspect of slagging and fouling risk. From potential abrasion characteristics, the addition of biomass on two types of coals did not show any problem for all compositions studied.
Rancang Bangun Plant Factory untuk Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau (Brassica Rapa var. Parachinensis) dengan Menggunakan Led (Light Emitting Diode) Merah dan Biru Ryan Maulana Abdul Hakim; Yusuf Hendrawan; Musthofa Lutfi
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.667 KB)

Abstract

Sektor pertanian selama ini telah memberikan sumbangan yang tidak sedikit dalam proses pembangunan nasional. Namun akhir-akhir ini, produktivitas sektor pertanian cenderung terus menurun dikarenakan kegiatan pembangunan yang hanya berorientasikan pada pertumbuhan ekonomi semata. Sistem plant factory merupakan cara baru untuk menumbuhkan tanaman di bawah lingkungan yang terkendali seperti didalam bangunan. Pada penelitian ini, faktor pertumbuhan yang akan digunakan sebagai kontrol adalah cahaya khususnya pencahayaan untuk pertumbuhan tanaman. Penelitian ini menggunakan objek penelitian berupa tanaman sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis) karena tanaman ini mudah di tanam di Indonesia. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan cahaya LED merah dan biru, serta perlakuan cahaya fluorescent terhadap pertumbuhan sawi, dan berikutnya untuk mengetahui berapa perbandingan antara  cahaya LED dengan fluorescent untuk mencapai pertumbuhan optimum tanaman sawi pada plant factory. Dalam hal ini, perlakuan dengan fluorescent akan digunakan sebagai variabel kontrol dalam pengamatan. Data yang diukur berupa temperatur udara, intensitas cahaya dan pengukuran fisik tanaman. Metode yang digunakan untuk menganalisa data dari tanaman sawi adalah menggunakan anova satu arah dengan 4 jumlah perlakuan dan 24 hari masa pengamatan.