Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGARUH SUBSTITUSI LABU KUNING (Curcubitamoshcata) TERHADAP KUALITAS BAKSO IKAN NILA (Oreochromisniloticus) Findya Puspitasari; Rabiatul Adawyah
Fish Scientiae Vol 7 No 2 (2017): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.568 KB)

Abstract

The aims of this study were to determine the level of yellow pumpkin substitution on Nile tilapia fish ball processing to improve the fish ball quality. The treatment used in this study is a different level of substitution (0, 10, 20%) respectively. The Nile tilapia fishball substituted with yellow pumpkin was analyzed in term of water, protein, fat, ash and carbohydrate content. This study uses a completely randomized design (CRD) with three treatments and three replications. The result showed that fish ball with 20% substitution of yellow pumpkin is the best formulation in term of water, protein, fat, ash and carbohydrate content.
VARIASI PENAMBAHAN GULA MERAH AREN (Arenga pinnata) DENGAN KONSENTRASI BERBEDA PADA DENDENG IKAN SEPAT SIAM (Trichogaster pectoralis) TERHADAP PENERIMAAN PANELIS Candra Candra; Rabiatul Adawyah; Mawarti Mawarti
Fish Scientiae Vol 7 No 2 (2017): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.278 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v7i2.121

Abstract

Dendeng sepat siam is a semi-wet processed with curing in spice solution (onion, garlic, palm sugar, salt, water, galangal, coriander, and tamarind). The purpose of this study was to determine the concentration of palm sugar (Arengapinnata) on the processing of dendeng sepat siam (Trichogaster pectoralis). This study uses organoleptic tests that include color, aroma, texture, and taste. The results showed that addition of different palm sugar concentration affect the aroma and color specifications, but not havean effect on texture and taste. The best treatment is the 24% addition of palm sugar.
ORGANOLEPTIK IKAN PAPUYU (Anabas testudineus Bloch) PRESTO DENGAN CARA BUDIDAYA YANG BERBEDA Candra Candra; Nor Ikrima; Rabiatul Adawyah
Fish Scientiae Vol 9 No 2 (2019): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.054 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v9i2.145

Abstract

Ikan papuyu (Anabas testudineus Bloch) dari budidaya yang berbeda akan di olah menjadi pengolahan presto. Presto adalah salah satu diversifikasi pengolahan hasil perikanan, terutama sebagai modifikasi pemindangan pengolahan presto Tujuan dari penelitian organoleptik ikan papuyu presto dengan cara budidaya yang berbeda adalah mendapatkan profil penilaian organoleptik pada ikan papuyu presto dari budidaya bioflok, kolam dan penangkapan alam. Metode yang digunakan ialah uji organoleptik jenis hedonik yaitu tingkat kesukaan. Hasil penilitian ini ikan papuyu presto diperoleh nilai rata-rata 7 (suka) dari penangkapan alam, budidaya kolam dan bioflok. Pada ikan papuyu presto dengan cara budidaya yang berbeda diperoleh bahwa perlakuan C (bioflok) merupakan perlakuan yang paling disukai dan memiliki nilai rata-rata tertinggi dari kenampakan, aroma, rasa pada dan tekstur nilai rata-rata yang terbaik pada perlakuan A (alam).
PENGARUH PERBANDINGAN DAGING IKAN DENGAN TEPUNG TAPIOKA YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS KERUPUK IKAN GABUS (Channa striata) Purnomo Purnomo; Nooryantini Soetikno; Wiwin Windari; Rabiatul Adawyah
Fish Scientiae Vol 9 No 2 (2019): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.011 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v9i2.147

Abstract

Ikan gabus (Channa striata) merupakan ikan air tawar yang memiliki sifat fungsional yaitu memiliki protein cukup tinggi, dapat mempercepat penyembuhan luka dan mempunyai efek antiezing. Kerupuk ikan adalah salah satu produk diversifikasi olahan yang bahan utamanya ditambahkan daging ikan selain tepung tapioka.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan hasil yang optial dari perbandingan daging ikan dengan tepung tapioka yang berbeda terhadap kualitas kerupuk ikan gabus.Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan yaitu perbandingan daging ikan dengan tepung tapioka (1:3, 1:2, 1:1) dan uji yang dilakukan meliputi uji organoleptik, fisik dan kimia. Hasil penelitian uji organoleptik menunjukkan bahwa nilai perlakuan yang terbaik dengan penambahan daging ikan dengan tepung tapioka 1:3 karena perlakuan tersebut paling disukai oleh panelis dan memiliki hasil perbandingan yang optimal terhadap kualitas kerupuk ikan gabus yang ditinjau dari segi kenampakan, warna, aroma, tekstur dan rasa. Sehingga perbandingan daging ikan dengan tepung tapioka yang berbeda berpengaruh nyata terhadap kualitas kerupuk ikan gabus.
EFEKTIVITAS ALAT PENGERING MODEL MSN TYPE RAK PADA KUALITAS IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) KERING Juhana Suhanda; Misran Misran; Rabiatul Adawyah; Candra Candra
Fish Scientiae Vol 10 No 1 (2020): Issue June-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.584 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v10i1.151

Abstract

Efektivitas alat pengering model type msn pada kualitas ikan nila (oreochromis niloticus) kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas alat pengering ikan model msn type rak terhadap kualitas ikan nila (oreochromis niloticus) kering, dan kegunaan dari penelitian ini untuk memberikan informasi mengenai efektivitas alat pengering ikan model msn type rak terhadap kualitas ikan nila (oreochromis niloticus) kering. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 3 kali pengulangan, dengan media alat pengering ikan yang berbeda yaitu pengeringan ikan dengan alat para-para sebagai media control, pengeringan ikan dengan alat model msn type rak dan pengeringan ikan dengan alat pondok plastik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengeringan ikan dengan media alat model msn type rak lebih efektiv dibandingkan alat pengering lainnya. Hasil nilai suhu yang didapatkan lebih tinggi bisa mencapai 510C dibandingkan alat pengering yang lain. Hasil uji analisa kadar air menunjukan nilai rerata lebih tinggi terdapat pada alat pengering ikan model msn type rak yaitu 33,43%, dibandingkan alat pengering ikan dengan para-para dan pondok plastik yang hanya menghasilkan nilai 29,49% pada pondok plastik dan para-para 28,93% yang dimana pada alat pengering ikan model msn type rak masih memiliki kelemahan tidak adanya tempat sirkulasi udara pada alat tersebut. Hasil uji organoleptik/uji deskriftif menunjukan panelis lebih menyukai produk ikan nila kering dengan menggunakan pengeringan ikan alat model msn type rak dengan nilai kenampakan, aroma/bau, rasa dan tekstur lebih tinggi dibandingkan dengan alat pengering ikan lainnya.
PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN EKSTRAK BONGGOL NANAS (Ananas comosus) TERHADAP ORGANOLEPTIK PRODUK DENDENG CUMI-CUMI (Loligo sp) Agustiana Agustiana; Rabiatul Adawyah; Ratih Cahyati Maharani
Fish Scientiae Vol 11 No 1 (2021): Issue June-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.961 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i1.170

Abstract

Cumi-cumi (Loligo sp) berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang dapat dikonsumsi karena cumi-cumi mengandung tinggi protein, lemak, asam amino esensial, kaya akan mineral seperti fosfor dan kalsium. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil organoleptik dendeng cumi-cumi (Loligo sp) yang direndam dalam ekstrak bonggol nanas (Ananas comosus) dengan lama waktu perendaman yang berbeda. Rancangan penelitian ini bersifat eksperimental dengan perbedaan lama waktu perendaman ekstrak bonggol nanas (Ananas comosus) terhadap organoleptik produk dendeng cumi-cumi (Loligo sp). Kesimpulan dari penelitian ini adalah produk dendeng cumi-cumi (Loligo sp) dengan lama waktu perendaman ekstrak bonggol nanas (Ananas comosus) yang berbeda berpengaruh nyata terhadap profil organoleptik dendeng cumi-cumi (Loligo sp). Profil organoleptik dendeng cumi-cumi (Loligo sp) yang terbaik adalah perlakuan C (perendaman 8 jam) meliputi spesifikasi warna 5.85, bau 6.25, tekstur 6.4, rasa 6.15 didukung dengan uji penunjang kadar air 11.03% dan kadar protein 32.12% Squid (Loligo sp) has great potential to be developed into processed products that can be consumed because squid contains high protein, fat, essential amino acids, rich in minerals such as phosphorus and calcium. This study aims to obtain the organoleptic profile of squid jerky (Loligo sp) soaked in pineapple hump extract (Ananas comosus) with different immersion time. The design of this study was experimental with differences in the length of time soaking the extract of pineapple hump (Ananas comosus) against the organoleptic product of squid jerky (Loligo sp). The conclusion of this study is that the product of squid jerky (Loligo sp) with a long soaking time in the extract of pineapple hump (Ananas comosus) has a significant effect on the organoleptic profile of squid jerky (Loligo sp). The best organoleptic profile of squid jerky (Loligo sp) is treatment C (8 hours immersion) including color specifications 5.85, smell 6.25, texture 6.4, taste 6.15 supported by supporting tests for moisture content of 11.03% and protein content of 32.12%
PENGARUH PENAMBAHAN RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale varietas rubrum) YANG BERBEDA TERHADAP NILAI ORGANOLEPTIK OLAHAN DENDENG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Siti Aisyah; Findya Puspitasari; Rabiatul Adawyah; Riki Sanjaya
Fish Scientiae Vol 11 No 1 (2021): Issue June-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.995 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i1.172

Abstract

Dendeng adalah produk olahan daging tradisional khas Indonesia dan sampai saat ini minat masyarakat dalam mengonsumsi dendeng cukup tinggi. Dendeng didefinisikan sebagai makanan yang berbentuk lempengan yang terbuat dari irisan atau gilingan daging segar yang diberi bumbu dan dikeringkan. Dendeng yang berada di pasar kebanyakan mengandung air antara 9,9-35,5%, kadar gula antara 20- 52%, kadar garam antara 0,4-0,6%, kadar lemak antara 1,0-17,4%, serat kasar antara 0,4-15,5%, dan aw antara 0,4-0,5 (Purnomo, 1996). Dalam penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yaitu Perlakuan yang diberikan adalah O (tanpa penambahan jahe merah), A penambahan jahe merah 1 %, B penambahan jahe merah 2 % dan C penambahan jahe merah 3%. Parameter yang diamati adalah uji organoleptik (rasa, warna, tekstur dan aroma). Berdasarkan penilaian panelis diketahui bahwa perlakuan C merupakan perlakuan terbaik dengan spesifikasi warna dengan nilai 2,7 yang dimana mendekati agak coklat kehitaman, untuk aroma dengan nilai 5,6 menyatakan mendekati kuat aroma bumbu, tekstur dengan nilai 4,2 menunjukan agak empuk, dan rasa dengan nilai 4,2 menyatakan cukup manis dan gurih. Dengan kadar air 33,19 % ,dan berdasarkan penelitian Harnisah dkk, kadar protein dendeng ikan nila sebesar 27,67 % yang dimana menurut Astawan, 2004 bahwa dendeng tergolong dalam bahan.makanan semi basah yaitu bahan pangan yang mempunyai kadar air tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah yaitu 15-50%. Dendeng ikan nila memiliki nilai rata-rata untuk uji organoleptik berbeda nyata pada setiap perlakuan terhadap spesifikasi warna, aroma, rasa dan tekstur. Hal ini menunjukan bahwa H1 dapat diterima pada pembuatan dendeng ikan nila Dendeng is a traditional Indonesian processed meat product and until now the public's interest in consuming beef jerky is quite high. Dendeng is defined as food in the form of plates made from sliced ​​or ground fresh meat which is seasoned and dried. Most of the jerky on the market contains water between 9.9-35.5%, sugar content between 20- 52%, salt content between 0.4-0.6%, fat content between 1.0-17.4%, crude fiber between 0.4-15.5%, and aw between 0.4-0.5 (Purnomo, 1996). In this study using 4 treatments, namely the treatments given were O (without the addition of red ginger), A was the addition of 1% red ginger, B was the addition of 2% red ginger and C was the addition of 3% red ginger. The parameters observed were organoleptic test (taste, color, texture and flavor). Based on the panelist's assessment, it is known that treatment C is the best treatment with a color specification with a value of 2.7 which is closer to dark brown, for an aroma with a value of 5.6 which indicates that it is close to the strong aroma of spices, the texture with a value of 4.2 indicates a bit soft, and the taste with a value of 4.2, it is quite sweet and savory. With a water content of 33.19%, and based on the research of Harnisah et al, the protein content of tilapia jerky is 27.67% which according to Astawan, 2004 that jerky is classified as a semi-wet food ingredient, namely food that has a water content that is not too high and not too low at 15-50%. Nile tilapia has an average value for the organoleptic test which is significantly different in each treatment with respect to color, flavor, taste and texture specifications. This shows that H1 is acceptable for making nile tilapia
PENGARUH LAMA WAKTU PENGGARAMAN YANG BERBEDA TERHADAP KADAR PROTEIN DAN ASAM AMINO CUMI-CUMI (LOLIGO SP.) Rabiatul Adawyah; Ulil Amri; Widya Ramadhini; El Redha El Redha; Findya Puspitasari
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.753 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.178

Abstract

Cumi-cumi (Loligo sp.) merupakan binatang lunak dengan tubuh berbentuk silindris. Sirip-siripnya berbentuk triangular atau radar yang menjadi satu pada ujungnya. Pada kepalanya disekitar lubang mulutnya terdapat 10 tentakel yang dilengkapi dengan alat penghisap (sucker) dan merupakan sumber protein hewani yang mana komponen utama penyusun proteinnya adalah asam amino. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu penggaraman yang berbeda pada proses pengolahan cumi-cumi terhadap kadar protein dan profil asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu penggaraman yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap kadar protein berdasarkan hasil Analysis of Variance (ANOVA) α 5%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh lama waktu penggaraman cumi yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kadar protein, Hasil analisa kadar protein tertinggi ada pada perlakuan C yaitu penggaraman selama 5 hari sebesar 15,09% sedangkan untuk profil asam amino lisin sebesar 1,38% dari perlakuan 0 yaitu cumi-cumi segar merupakan jenis asam amino esensial tertinggi dari profil asam amino penyusun protein cumi, sedangkan jenis asam amino non esensial tertinggi adalah asam glutamat sebesar 2,79% dari perlakuan 0 yaitu cumi-cumi segar. The squid (Loligo sp.) Is a soft animal with a cylindrical body. The fins are triangular or radar-shaped which are joined at the ends. On the head around the mouth opening there are 10 tentacles which are equipped with a sucker (sucker) and are a source of animal protein where the main component of protein is amino acids. This study aims to determine the effect of different salting times in the processing of squid on protein content and amino acid profile. The results showed that the different salting time treatments had no significant effect on protein content based on the results of the Analysis of Variance (ANOVA) α 5%. The conclusion of this study is that the effect of different salting time of squid has no effect on protein content.The results of the analysis of the highest protein content were in treatment C, namely salting for 5 days at 15.09%, while for the lysine amino acid profile of 1.38% of the treatment. 0, namely fresh squid is the highest type of essential amino acid from the amino acid profile of squid protein, while the highest type of non-essential amino acid is glutamic acid at 2.79% from treatment 0, namely fresh squid.
VARIASI PENAMBAHAN TEPUNG TAPIOKA DAN TEPUNG TERIGU TERHADAP UJI ORGANOLEPTIK NUGGET BELUT (Monopterus Albus) Siti Aisyah; Findya Puspitasari; Rabiatul Adawyah; El Redha El Redha; Muhammad Adriani; Tri Dekayanti
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.274 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.182

Abstract

Ikan Belut (Monopterus albus) secara maksimal dirubah bentuknya sehingga disukai menjadi bentuk olahan nugget. Nugget merupakan makanan siap saji yang sudah merakyat dan berupa olahan berbahan baku daging dan dilapisi dengan tepung dalam bentuk potongan-potongan kecil berwarna kuning keemasan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ikan belut menjadi bahan olahan, secara maksimal merubah bentuk tubuh belut yang kurang disukai menjadi olahan yang disukai, mendapatkan karakteristik nugget yang baik dan nilai kadar air sesuai SNI. Kesimpulan penelitian nugget belut berdasarkan keempat parameter dalam uji organoleptik dengan menggunakan 20 orang panelis tak terlatih yang menujukkan kualitas optimal adalah pada perlakuan B dengan penambahan tepung tapioka 10%, tepung terigu 10% dan kandungan kadar air, yaitu 48.32%. Eel (Monopterus albus) is maximally transformed so that it is preferred to be a processed nugget. Nugget is a fast food that is populist and consists of processed ingredients made from meat and contains flour in the form of small pieces of golden yellow. This study aims to utilize eels into processed materials, maximally change the body shape of the eels that are less preferred to processed high protein, get good nugget characteristics and water content values according to SNI. The conclusion of the study of eel nuggets based on the fourth parameter in the organoleptic test using 20 untrained panelists who showed optimal quality was in treatment B with the addition of 10% tapioca flour, 10% wheat flour and water content, which was 48.32%.
PENGARUH KONSENTRASI GARAM YANG BERBEDA TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK IKAN SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus) Findya Puspitasari; Tri Dekayanti; Laili Wahyudi Rajab; El Redha El Redha; Rabiatul Adawyah
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.5 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.184

Abstract

Ikan sepat rawa merupakan salah satu bahan makanan yang memiliki sumber protein relatif murah dibandingkan dengan sumber protein lainnya. Sebagai salah satu pengawetan dari ikan sepat rawa, teknik penggaraman digunakan karena kebanyakan bakteria, fungi dan organisme patogenik lainnya tidak dapat bertahan hidup dalam sebuah lingkungan dengan kadar garam yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi garam yang berbeda terhadap prosil asam lemak ikan sepat rawa. Rancangan penelitian ini bersifat eksperimental dengan penambahan konsentrasi garam yang berbeda memberikan pengaruh terhadap prosil asam lemak ikan sepat rawa. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi garam yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap profil asam lemak ikan sepat rawa. Jumlah kadar asam lemak tertinggi yaitu B dengan konsentrasi garam 10% sebesar 65,74 % dan untuk profil asam lemak terdapat 29 jenis dengan asam lemak terbanyak yaitu asam palmitat (asam lemak jenuh) sebesar 20,89 %, asam oleat (asam lemak tak jenuh tunggal) sebesar 17,86% dan asam linolenat (asam lemak tak jenuh jamak) sebesar 3,70%. Sepat rawa fish is a food that has a relatively cheap source of protein compared to other protein sources. As one of the preservation of three sepat rawa fish, the salting technique is used because most bacteria, fungi and other pathogenic organisms cannot survive in high salinity environments. This study aims to determine the effect of different salt concentrations on the fatty acid prosyl of three sepat rawa fish. The design of this research was experimental with the addition of different salt concentrations to affect the fatty acid prosyl of sepat rawa fish. The results showed that the difference in salt concentration had a significant effect on the fatty acid profile of three sepat rawa fish. The most fatty acid content is B with a salt concentration of 10% of 65.74% and for the fatty acid profile there are 29 types with the most fatty acids, namely palmitic acid (saturated fatty acid) of 20,89%, oleic acid (monounsaturated fat acids) by 17,86% and linolenic acid (poly unsaturated fatty acid) by 3,70%.