Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PERSEPSI MULTIGENERASI TERHADAP ELEMEN PERSISTEN KAWASAN PUSAT KOTA PASURUAN Rony Gunawan Sunaryo; Soegiono, Phylicia Deosephine; Sunaryo, Rony Gunawan; Hariyanto, Agus Dwi
MODUL Vol 24, No 1 (2024): MODUL vol 24 nomor 1 tahun 2024 (5 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mdl.24.1.2024.1-10

Abstract

Kota Pasuruan pertama kali dikenal sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara di timur Jawa. Hal ini dikarenakan lokasinya strategis berada di utara yang berbatasan langsung dengan selat Madura. Namun, dalam perkembangannya, kota Pasuruan tidak lagi sebagai central perdagangan di Jawa Timur. Keberadaan kota Pasuruan tetap bertahan namun sebagai kota yang bercirikan perkebunan dengan memiliki beberapa elemen pusat kota, antara lain pemerintah kota, pusat penelitian gula, masjid dan alun-alun, serta klenteng yang menjadi khas dari kota Pasuruan. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui morfologi tipologi kawasan pusat Kota Pasuruan, mengidentifikasi tingkat permanensi elemen-elemen pembentuk pusat Kota Pasuruan, dan mendapatkan gambaran perubahan karakter kawasan pusat Kota Pasuruan. Metodologi penelitian yang dipakai adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan analisis urban tissue secara diakronis dan sinkronis setiap elemen pembentuk pusat kota, melakukan analaisis matrikulasi permanensi elemen di tiap layer wakti, dan peta mental untuk mendapatkan gambaran masyarakat. Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa saran elemen kota apa yang perlu dipertahankan dan diubah untuk perbaikan citra kawasan. 
The construction of temporary and permanent housing after the Semeru eruption as a new strategy for post-disaster reconstruction Hariyanto, Agus Dwi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 9 No 2 (2024): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Mei 2024 ~ Agustus 2024
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v9i2.3277

Abstract

Mount Semeru in East Java erupted on December 4, 2021, which resulted in dozens of residents in Lumajang Regency dying and thousands of residents fleeing. The government is programming the rehabilitation of infrastructure and facilities, including reconstructing temporary and permanent housing for refugees. The research location is in the refugee relocation area in Sumbermujur Village, Candipuro District. In post-disaster reconstruction programs, permanent housings are built after temporary housings have been occupied for several months. However, in Lumajang Regency, the government accelerated the construction of permanent housing so that the developer completed the permanent housing earlier than the temporary housing. Two types of residential units were built simultaneously on a plot of site by different developers, so problems arose in combining the different housing types. After conducting literature studies and general observations, the researcher selected five cases for further observation. The criteria and technical specifications for temporary units are stated in Lumajang Regent Regulation Number 1 of 2022. The construction of permanent units uses RISHA technology. The two types of housing are planned to be directly connected in integration. This paper aims to explain the implementation of the construction of temporary and permanent housing and identify problems in combining the two types of housing in one plot. Researchers found four categories of issues, namely: differences in floor height at the connection between two building units, door and window openings that do not function because they meet the wall, two areas of the roof that are not connected properly, and there are gaps in the connection between units.
Influence of Traditional Wall Façade from Taneyan Lanjhang House to Thermal Sensation Andreas Bastedo; Mentari Murti Larasati Z; Agus Dwi Hariyanto
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 22, No 2 (2024): Arsitektura: Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v22i2.80329

Abstract

Of the various ethnic groups that comprise Indonesia, Madurese ethnic belongs to the top five in ethnic group population numbers in Indonesia. As an ethnic group, Madurese developed a traditional settlement called natively Taneyan Lanjhang (TL). TL is described as a specific pattern settlement that follows local and Islamic-influenced cultural norms. This research aims to find local wisdom properties in tectonics configuration in Bangsal housing unit concerning thermal comfort and sensation aspect of a vernacular design. The study is using quantitative method with field observation using lidar scanner, hot-wire anemometer and model simulation using computational fluid dynamics. The final result of the study is finding a correlation between closing and opening wall configuration related to thermal comfort defined by airflow, temperature and relative humidity parameter.
Perbandingan Sistem Struktur Rumah Gadang Koto Piliang dan Bodi Caniago Terhadap Gempa Elora Ivena; Reinaldo Nathanael William; Felicya Agustinanda; Agus Dwi Hariyanto
Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture Vol. 6 No. 2 (2024): Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture
Publisher : Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/acesa.v6i2.13478

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbandingan sistem struktur dari arsitektur vernakular rumah gadang Koto Piliang dan Bodi Caniago dalam merespon seismik lokal Minangkabau, yaitu kestabilan sistem struktur bangunan terhadap gempa. Metode penelitian dengan cara mengumpulkan data-data sekunder digunakan untuk menentukan landasan teori yang akan digunakan dalam penelitian, yaitu seismik lokal Minangkabau, sistem struktur vernakular rumah gadang, serta join yang mempengaruhi sistem struktur dalam merespon beban gempa. Interpretasi penyaluran beban gempa serta efektivitas sistem struktur dalam merespon beban gempa dilakukan dengan cara menganalisa dari data-data sekunder yang telah dikumpulkan.
Pengaruh Konsep Terapeutik Arsitektur dalam Menurunkan Sindrom Burnout Aditya Christanto; Joyce Marcella Laurens; Agus Dwi Hariyanto
Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture Vol. 6 No. 2 (2024): Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture
Publisher : Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/acesa.v6i2.13898

Abstract

Para peserta pendidikan kedokteran, dalam menjalankan tugasnya di Rumah Sakit Pendidikan memerlukan usaha dan kerja keras hingga terkadang menyebabkan permasalahan kesehatan. Sindrom burnout merupakan kondisi yang menggambarkan respon terhadap stres yang berhubungan dengan pekerjaan dengan kelelahan fisik, mental dan emosional yang relatif lama. Menjadi pemicu bagi beberapa dokter melakukan penelitian tentang kesehatan dan keberlanjutan paramedis, dengan mengangkat kembali isu tentang pentingnya ruang istirahat. Pendekatan teori Therapeutic Architercture sebagai salah satu penanganan dengan memodifikasi lingkungan diharapkan dapat membantu para peserta pendidikan kedokteran dalam menghadapi sindrom burnout. Tujauan penelitian ini untuk mempelajari bagaimana peserta pendidikan kedokteran meredakan burnout yang mereka hadapi melalui restorasi perhatian berdasarkan kegiatan/aktivitas. Metode penelitian yang akan digunakan menggunakan pendekatan metode kualitatif, mengelolah data menggunakan konten analisis, menyunting dan mengkodekan selanjutnya di uji menggunakan perangkat lunak statistik JMP. Variabel yang paling berpengaruh dalam upaya mengatasi burnout ialah “soft fascination” yang berhubungan dengan relaksasi dan rekreasi, yang mendukung konsep Therapeutic Architecture. Menghadirkan suasana layaknya rumah, dengan variabel lingkungan arsitektur yang dapat di terapkan pada ruang istirahat dokter. Hingga dapat menurunkan burnout pada para peserta pendidikan kedokteran.
Komparasi Tektonika Arsitektur Empat Tiang Utama Pada Rumah Tradisional Madura Dan Jawa Fariz Hidayat; Asarias Ari Ayowembun; Derius Pekei; Lintu Tulistyantoro; Agus Dwi Hariyanto
Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture Vol. 6 No. 2 (2024): Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture
Publisher : Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/acesa.v6i2.14076

Abstract

Keberadaan empat tiang utama pada rumah Bangsal di Madura memiliki kemiripan dengan rumah tradisional Jawa, yaitu rumah Joglo. Kesamaan ini menarik perhatian untuk mengkomparasikannya. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan tektonika empat tiang utama pada rumah Bangsal dan rumah Joglo berdasarkan faktor-faktor tektonika klasik. Komparasi tektonika empat tiang utama dilakukan melalui analisis kualitatif. Hasil komparasi menunjukkan perbedaan dalam menciptakan kekuatan konstruksinya. Rumah Joglo menggunakan pemberat untuk menciptakan kekakuan pada bangunannya karena berada di daerah rawan gempa, sedangkan rumah Bangsal tidak. Selain itu, pemberat dirumah Joglo dapat menghasilkan konstruksi yang tidak stabil pada kondisi gempa tertentu. Detail tektonika mempunyai fungsi campuran selain untuk memberikan fungsi struktural juga keindahan arsitektural. Empat tiang utama memberikan kesan kuat dan kokoh pada ruang. Selain itu menciptakan center point dan terciptanya pembagian ruang secara semu pada rumah Bangsal dan masif pada rumah Joglo. Pada rumah Joglo juga untuk merepresentasikan area yang sakral.
Permanensi Kawasan Pusat Kota Banyuwangi Wijaya, Catherine Kirsten Eka; Sunaryo, Rony Gunawan; Hariyanto, Agus Dwi
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 22, No 1: January 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.5072

Abstract

Banyuwangi sebagai wilayah perkotaan memiliki perjalanan sejarah panjang,  dari wilayah Kerajaan Blambangan kemudian beralih menjadi  pos induk VoC di ujung timur Jawa di era kolonial. Banyuwangi selanjutnya menjadi kota pelabuhan dagang yang berlanjut hingga era kemerdekaan, hingga beralih kembali pada era pemerintahan Bupati Azwar Anas, Kota Banyuwangi ditetapkan salah satu visinya menjadi kota wisata. Hingga masa yang cukup lama elemen-elemen perkotaan Banyuwangi bersifat persisten, namun perubahan visi kota yang terakhir mendorong perubahan elemen-elemen perkotaan. Beberapa elemen persisten di pusat kota diubah dengan tren masa kini, sehingga karakter awalnya berubah atau hilang. Upaya pembaruan ini kontradiktif terhadap strategi pemanfaatan potensi sejarah perkotaan untuk pariwisata. Penelitian ini merupakan analisis urban tissue pusat kota Banyuwangi,  dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, mengidentifikasi elemen kota yang bertahan maupun yang punah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi permanensi elemen perkotaan Banyuwangi agar elemen-elemen yang memiliki signifikansi dalam morfologi dan sejarah transformasi  kota Banyuwangi dapat dikenali. Hasil penelitian terdapat dua puluh lima yang persisten dan delapan elemen yang punah. Sebagian besar elemen perkotaan yang persisten bernilai historis signifikan dan potensial dikembangkan menjadi bagian srategi wisata sejarah dan budaya perkotaan Banyuwangi.
Studi Defensible Space Terkait Okupansi Ruang Pada Rumah Susun Sederhana Sewa Rajawali Makassar Halim, Ikeshia Grace; Damayanti, Rully; Hariyanto, Agus Dwi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah  Susun  cenderung  dihindari warga dengan alasan  utama  kurangnya keamanan. Untuk itu penghuni perlu melakukan tindakan untuk membuat diri mereka dan sesama penghuni lain aman. Penelitian ini mengidentifikasi okupansi ruang yang terkait perubahan atau penambahan aktivitas dan peletakan objek fisik penghuni, pada studi kasus Rusunawa Rajawali Makassar. Ruang yang diteliti adalah ruang semi-publik yang membentuk area-area defensif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui teknik behaviour mapping, observasi dan wawancara. Penelitian menemukan bahwa kebutuhan penghuni yang berbeda-beda memunculkan penambahan objek fisik yang variatif dalam pembentukan area defensif. Lebih lanjut, teridentifikasi sebanyak 11 variasi penambahan objek di ruang semi-publik rusunawa. Terdapat perbedaan perilaku dalam pembentukan area defensif yang muncul berdasarkan lantai yang ditinggali, yaitu invasif semakin lantai ke bawah dan personalisasi semakin tinggi lantainya. Personalisasi tericpta melalui penempatan tempat duduk pada unit hunian yang terpusat didepan tangga utama dimana aktivitas berkumpul sering dilakukan. Penelitian ini memberikan manfaat kepada perancang untuk dapat  mengakomodasi penambahan objek fisik penghuni agar dapat mendesain rusunawa yang lebih aman.
Plagiarisme Karya Arsitektur dalam Perspektif Etika Profesi dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek Pahlawan, Muhamad Reiza; Sunaryo, Rony Gunawan; Hariyanto, Agus Dwi
ATRIUM: Jurnal Arsitektur Vol. 11 No. 1 (2025): ATRIUM: Jurnal Arsitektur
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/atrium.v11i1.385

Abstract

Title: Plagiarism of Architectural Works from the Perspective of Professional Ethics and the Code of Conduct for Architects Plagiarism in the creative and academic world is a serious issue related to intellectual property rights violations, including in the field of architecture. Law No. 28 of 2014 concerning Copyright protects architectural works as part of copyright, while the code of professional ethics formulated by the Indonesian Architects Association (IAI) regulates ethical aspects in architectural practice. However, until now there have been no clear parameters to determine whether an architectural work can be categorized as plagiarism. This study examines the issue of plagiarism in architecture from the perspective of the code of ethics and rules of conduct for the architectural profession in Indonesia. The method used is a qualitative-interpretive approach with an analysis of literature studies and a study of regulations and cases of architectural plagiarism in Indonesia. The results of the study show that Law No. 28 of 2014 has guaranteed copyright protection, and the code of ethics for the architectural profession has regulated general ethical principles. However, there are no explicit boundaries that distinguish between inspiration and plagiarism in architectural works. This research is expected to be the basis for formulating clearer regulations in determining plagiarism in architecture.
ANALISIS PERAN DAN POSISI ARSITEK PADA PERENCANAAN MENARA SAIDAH, JAKARTA SELATAN Tjandra, Elizabeth; Sunaryo, Rony Gunawan; Hariyanto, Agus Dwi
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 23 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v23i1.21839

Abstract

Perencanaan merupakan tahap krusial dalam proyek konstruksi bangunan gedung, karena keputusan yang diambil berdampak langsung pada aspek teknis, hukum, lingkungan, dan keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran dan tanggung jawab arsitek dalam kegagalan perencanaan proyek Menara Saidah, sebuah gedung perkantoran bertingkat tinggi di Jakarta Selatan yang ditinggalkan akibat permasalahan struktural. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan analisis literatur, regulasi, dan observasi fisik bangunan. Fokus kajian mencakup tanggung jawab profesional, teknis, hukum, dan moral arsitek berdasarkan PP No. 15 Tahun 2021, PP No. 16 Tahun 2021, dan SNI 164:2017. Hasil menunjukkan adanya kesenjangan antara tanggung jawab normatif arsitek dan praktik di lapangan, khususnya dalam integrasi studi geoteknik dan pengawasan desain teknis. Penelitian ini menegaskan pentingnya reposisi arsitek sebagai pemimpin integrasi desain sejak tahap pra-desain hingga pengawasan pelaksanaan. Rekomendasi mencakup optimalisasi penggunaan Building Information Modeling (BIM), penguatan kompetensi lintas disiplin, serta pemutakhiran SOP kerja arsitek agar sesuai dengan standar profesi dan peraturan yang berlaku.