Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pengembangan Wisata Berkelanjutan Melalui Penghijauan Sarana Penunjang Wisata di Desa Sumberdodol Kabupaten Magetan Andini, Isti; Rahayu, Paramita; Mukaromah, Hakimatul; Rahayu, Murtanti Jani
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 1 (2024): November
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/s519gg80

Abstract

Pariwisata merupakan magnet yang meningkatkan aktivitas manusia pada tapak atraksi. Pada banyak kasus, perkembangan pariwisata berdampak pada penurunan kualitas lingkungan alami. Pembangunan sarana pada atraksi wisata berarti merubah tutupan lahan dari tutupan non-terbangun menjadi terbangun yang menurunkan kemampuan tapak untuk menyerap air dan mempertahankan kualitas udara dan suhu. Oleh karena itu, upaya penghijauan diperlukan dalam pengembangan wisata yang berkelanjutan. Desa Sumberdodol merupakan salah satu desa di Kabupaten Magetan yang dikembangkan menjadi salah satu desa wisata melalui pengembangan Smart Fisheries Village. Terdapat beberapa atraksi yang ditawarkan dengan lokasi yang cukup berdekatan. Hal ini mendorong dibangunnya lokasi kantong parkir dengan luas yang cukup besar. Kondisi saat ini, kantong parkir tersebut belum memiliki penghijauan yang cukup terutama pada jalur pedestrian. Melalui kegiatan pengabdian yaitu penghijauan pada sarana pendukung atraksi wisata tersebut, diharapkan perwujudan wisata berkelanjutan di Desa Sumberdodol dapat terwujud. Pengabdian ini akan menjadi kontribusi langsung dari Universitas Sebelas Maret melalui Pusat Inforamsi dan Pengembangan Wilayah yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Perkembangan Permukiman Peri Urban di Kota Manado Berdasarkan Preferensi Bermukim Masyarakat Tangon, Micheline Raychel; Andini, Isti; Permana, Chrisna Trie
Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Vol. 5 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/jppk.v5i1.1997

Abstract

This study investigates the development of peri-urban settlements in Manado City, focusing on residents' housing preferences. The rapid growth of Manado’s urban population has caused housing development to expand into peri-urban areas due to limited space in the city center. This research aims to analyze the patterns of formal housing development in these areas and assess the factors that influence residents' decisions to live in peri-urban Manado. Using a quantitative approach, data were collected from 165 respondents living in formal housing in two peri-urban areas: Paniki Bawah and Sea I. The data were analyzed using descriptive statistics and conjoint analysis. Results show that 56% of respondents identified accessibility, particularly proximity to work and transportation, as the most important factor in choosing housing, followed by the availability of infrastructure (33%), environmental comfort (24%), and housing affordability (21%). Paniki Bawah experienced the highest population growth at 56% from 2012 to 2022, driven by significant formal housing expansion. These findings provide crucial insights for urban planners and policymakers in designing residential areas that meet residents' preferences and efficiently manage land use in the peri-urban regions of Manado.
Perubahan Kepadatan Bangunan PermukimanTerdampak Perkembangan Aglomerasi Industri di Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar Sirotulmustaqim, Dikri; Andini, Isti; Widodo, Candraningratri Ekaputri
Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Vol. 3 No. 2 (2025): April: Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sip
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/konstruksi.v3i2.808

Abstract

The 2013-2031 Karanganyar Regency RTRW directs Gondangrejo District as an area designated for medium to large-scale industries, although on the other hand there are rural settlement areas in existing conditions. The industry in Gondangrejo District is growing and developing which is agglomerated along the Solo-Purwodadi Road. The development of this agglomeration has an impact on the increasing density of rural settlements around the industry. Therefore, this study aims to measure changes in the density of residential buildings affected by the development of industrial agglomeration in Gondangrejo District, Karanganyar Regency between 2004-2024. The research method used is quantitative with regional relative comparison analysis techniques, average nearset neighbors, and kernel density analysis. The results of the study show that industrial agglomeration in Gondangrejo District has experienced low-level development. The density of residential buildings has also increased to 25 units/ha. The growth of residential buildings, boarding houses, shops/stalls, and parking facilities around the industry is a direct impact of the development of industrial agglomeration on the density of residential buildings.
Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Trayek 15 Trans Jogja Miftahurrahmah, Miftahurrahmah; Pujantiyo, Bambang S.; Andini, Isti
Journal of Comprehensive Science Vol. 4 No. 6 (2025): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v4i6.3364

Abstract

Sentralisasi aktivitas di wilayah perkotaan Yogyakarta mendorong pergerakan penduduk dari daerah sekitarnya ke kota, yang berpotensi menambah kemacetan lalu lintas. Kepemilikan kendaraan meningkat pesat sebesar 4% setiap tahun, sehingga kebutuhan akan layanan transportasi publik yang lebih baik menjadi sangat penting. Sebagai respons, pemerintah memperluas layanan Trans Jogja dengan meluncurkan Trayek 15 yang menghubungkan daerah-daerah utama, termasuk Palbapang dan Malioboro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan trayek baru ini. Survei dilakukan dengan menggunakan kuesioner pada populasi yang berada dalam jangkauan area 1000 meter, dengan sampel masyarakat setempat. Analisis data menggunakan analisis faktor, dengan mempertimbangkan 10 variabel: usia, kepemilikan kendaraan, pendapatan, pendidikan, jarak, waktu, biaya, keamanan, kenyamanan, dan keteraturan. Hasil penelitian menunjukkan terbentuknya tiga faktor utama yang memengaruhi pemilihan moda, yaitu kualitas pelayanan, kondisi sosial-ekonomi, dan karakteristik perjalanan. Di antara ketiga faktor tersebut, kenyamanan, pendapatan, dan waktu perjalanan terbukti memiliki pengaruh yang paling signifikan. Temuan ini menyarankan agar pemerintah meningkatkan kualitas pelayanan, terutama kenyamanan, dan memperhatikan faktor sosial-ekonomi untuk mendorong penggunaan transportasi publik di wilayah ini.
Partisipasi Masyarakat dalam Program Pelestarian Lingkungan di Kawasan Bendhung Lepen Kampung Mrican, Kota Yogyakarta Dewanti, Isabell Nur Fadhilla; Permana, Raden Chrisna Trie Hadi; Andini, Isti; Kusumastuti
Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Vol. 3 No. 3 (2025): Juli: Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipi
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/konstruksi.v3i3.997

Abstract

Community participation refers to the active involvement of citizens in various stages of the development process, especially at the village level. A concrete example of community participation can be seen in the case study of Bendhung Lepen, located in Mrican Village, Yogyakarta. Bendhung Lepen is an irrigation canal that stems from the Gajah Wong River. Before its revitalization, the area faced numerous environmental problems, primarily due to household waste and pollution that contaminated the waterway and negatively affected the environment and public health. In response to these issues, local residents, along with relevant stakeholders, initiated an environmental conservation program. The main goal of this initiative was to restore the ecological function of Bendhung Lepen and transform it into a clean, green, and beneficial public space for the community. This study aims to measure the level of community participation in the environmental conservation program. Data collection methods included questionnaires for quantitative analysis and in-depth interviews for qualitative insights into community involvement. The results of the study show that community members were actively involved in various phases of the program, including planning, implementation, and evaluation. Stakeholders involved in the program included community leaders, youth groups, environmental organizations, and village officials. The forms of participation extended beyond voicing aspirations to contributing labor (through mutual cooperation) and materials (such as donations or supplies). According to Arnstein’s ladder of participation, the level of community participation in this conservation program falls under the category of "delegated power," which represents a high degree of participation. This means that the community was not merely involved as passive participants but was given real authority in decision-making and program management. These findings indicate that genuine and sustained community involvement plays a crucial role in the success of local environmental conservation efforts.
Dampak Konversi Lahan Pada Daerah Peri-Urban Terhadap Perubahan Mata Pencaharian Petani Tahun 2004-2024: Studi Kasus Desa Gentan, Baki, Sukoharjo Margareta, Lauren Adellia; Andini, Isti; Rahayu, Paramita
Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Vol. 5 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/jppk.v5i2.2166

Abstract

Land conversion is a phenomenon of land conversion that causes a decrease in the proportion of a land area to other functions. In peri-urban areas that are dominated by agricultural land, its function changes to non-agricultural land due to land conversion for the construction of public facilities for the community. Especially at the location of this research study located in Gentan Village, Baki District, Sukoharjo Regency, Central Java. The existence of land conversion causes the loss of productive agricultural land so that farmers experience decreased productivity and affects farmers' livelihoods which change from agriculture to non-agriculture such as opening boarding houses, rental houses, shops, stalls and so on. This study uses a deductive quantitative approach with GIS analysis, Likert scale and Wilcoxon test to determine changes in farmers' livelihoods due to agricultural land conversion as the purpose of the study. The use of the snowball sampling technique with a quota of 32 farmers whose land was converted is based on the limitations of secondary data in the search for respondents. So that from this study it was found that land conversion causes significant changes in livelihoods that can affect socio-economic and environmental conditions.
Pemetaan Potensi Diversifikasi Wisata di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten Permana, Chrisna Trie Hadi; Rahayu, Paramita; Andini, Isti; Mukaromah, Hakimatul; Rini, Erma Fitria; Audyna, Fadhila Sandra; Najwa, Azka Fauzia
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 3 No. 1 (2025): November
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/ymbkcx75

Abstract

Desa Ponggok, yang terletak di Kecamatan Ponggok, Kabupaten Klaten, adalah desa yang berkembang dengan berbasis wisata air. Namun, perkembangan wisata air di Desa Ponggok masih mengalami tantangan seperti belum oprimalnya pengendalian terhadap pemanfaatan sumber daya alam, pencemaran mata air dan permasalahan pengelolaan sampah. Sehingga, diperlukan perkembangan wisata yang beorientasi terhadap keberlanjutan lingkungan. Solusi permasalahan tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pembentukan platform berbasis peta trail wisata berkelanjutan, video wisata berkelanjutan ponggok, poster atraksi wisata dan melaksanakan mini-workshop. Data didapatkan melalui proses survei lapangan dan focus group discussion (FGD) antara Tim HGR Pengabdian dan pihak BUMDes Ponggok.  Hasil luaran berupa peta trail wisata dilakukan dengan tujuan untuk memperkenalkan berbagai atraksi wisata di Desa Ponggok melalui bentuk rangkaian trail wisata dan transportai penunjangnya serta memberikan edukasi kepada wisatawan melalui poster edukatif. Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung pariwisata keberlanjutan di Desa Ponggok sebagai hasil kolaborasi pemikiran antara tim HGR Pengabdian sebagai akademisi dan pihak BUMDes sebagai pengelola wisata desa.
Penataan Permukiman Kumuh di Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo dan Dampaknya terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Fakhri, Hariz; Astuti, Winny; Andini, Isti
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67515.64-76

Abstract

Permukiman kumuh merupakan kawasan dengan kualitas infrastruktur yang tidak terjamah oleh pertumbuhan dan pembangunan perkotaan. Penataan permukiman kumuh merupakan proses penyelesaian permukiman kumuh dengan fokus penataan pada tujuh komponen, yaitu penataan bangunan, jalan lingkungan, air bersih, sanitasi, drainase, pengelolaan persampahan, dan proteksi kebakaran. Upaya penyelesaian permukiman kumuh dapat memberikan dampak bagi kualitas hidup masyarakat setempat. Kondisi kualitas hidup yang diteliti pada penelitian ini adalah kondisi sosial dan ekonomi pada masyarakat Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo, Kota Surakarta. Pemilihan kawasan tersebut didasarkan pada kondisi kawasan permukiman kumuh yang sudah selesai pada tahapan penataan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penataan permukiman kumuh terhadap kualitas hidup pada Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dengan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penggunaan metode penelitian kuantitatif dilakukan pada pengujian hipotesis untuk melihat perubahan kualitas hidup dengan analisis paired sample t-test. Metode penelitian kualitatif dilakukan untuk melihat dampak penataan permukiman kumuh terhadap kualitas hidup dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara terhadap masyarakat Kawasan HP 00001. Hasil dari pengumpulan data kuesioner tersebut menjadi input untuk analisis paired sample t-test. Dari hasil pengujian hipotesis paired sample t-test, didapatkan kesimpulan bahwa pada Kawasan HP 00001 terdapat perubahan kualitas hidup baik dari kondisi ekonomi maupun sosial. Perubahan yang terjadi pada kondisi sosial yaitu kondisi kesehatan, perilaku, interaksi sosial, dan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Perubahan yang terjadi pada kondisi ekonomi yaitu perubahan pada pendapatan dan kepemilikan aset masyarakat. Adapun pekerjaan dan kepuasan kerja masyarakat tidak mengalami perubahan sebelum dan sesudah penataan permukiman kumuh. Hal tersebut mengakibatkan adanya dampak signifikan dan dampak tidak signifikan. Dampak signifikan terjadi pada kondisi kesehatan, perilaku masyarakat, interaksi sosial, keamanan terhadap bahaya kebakaran, pendapatan, dan kepemilikan aset. Dampak tidak signifikan terjadi pada pekerjaan dan kepuasan kerja.
Potensi Peningkatan Perekonomian Pelaku Usaha Lokal sebagai Dampak Perubahan Guna Lahan pada Kawasan Wisata: Studi Kasus Kawasan Wisata Rowo Jombor, Kabupaten Klaten Aszahro, Zaimul Azzah; Andini, Isti; Astuti, Winny
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67560.77-89

Abstract

Kawasan Wisata Rowo Jombor merupakan salah satu pembentuk citra wisata Kabupaten Klaten. Upaya revitalisasi Waduk Rowo Jombor dan penyusunan Masterplan Kawasan Rowo Jombor 2037 bertujuan untuk mengembalikan fungsi waduk yang menurun akibat pendangkalan dan mengembangkan objek wisata, sarana, dan prasarana penunjang wisata di Waduk Rowo Jombor. Pengembangan atraksi, objek wisata, sarana, prasarana destinasi wisata yang memindahkan aktivitas dari atas air ke daratan akan berdampak bagi perubahan guna lahan di sekitar kawasan sebagai manifestasi peningkatan aktivitas masyarakat terutama dalam bidang perekonomian. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi peningkatan perekonomian pelaku usaha lokal sebagai dampak perubahan guna lahan di Kawasan Wisata Rowo Jombor. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis proyeksi perubahan penggunaan lahan dan proyeksi peningkatan perekonomian. Adanya perubahan penggunaan lahan untuk mengakomodasi pengembangan dan pembangunan objek wisata dan sarana penunjang wisata pada tahun 2037 diproyeksikan akan meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal sebesar 462% melalui peningkatan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja baru, dan penyerapan tenaga kerja pada objek wisata maupun sarana penunjang wisata. Kontribusi terbesar terhadap peningkatan perekonomian disumbangkan oleh peningkatan pendapatan pelaku usaha pada atraksi Embung Purbosari yang diproyeksikan mengalami perluasan penggunaan lahan wisata sebesar 5,71 ha dengan peningkatan pendapatan sebesar lebih dari Rp 2.576.556.906,10.
Ecocultural City – How Actual Is This Concept in The Era of Disruption of Pandemic Covid 19? Winny Astuti; Rufia Andisetyana Putri; Hakimatul Mukaromah; Murtanti Jani Rahayu; Paramita Rahayu; Erma Fitria Rini; Isti Andini
Journal of Architecture & Environment Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2355262x.v20i1.a7760

Abstract

This research explored the implementation of concept of Surakarta ecocultural city platform in the era of Pandemic Covid-19 in 2 case study areas of Balekambang Park as the Natural and Heritage Park and Jayengan Jewelry Kampung (JKP) as Heritage Creative Industry-based Kampung Tourism. Eco city is basically the concept to create new urban development to be more ecologically, liveable and Sustainable, while the cultural city refers to the city, which focusing on cultural and performance for branding the city. Ecocultural city is mainly related to connectivity among people, place and culture and this concept is mostly applicated in the tourism world, where to maintain this sustainably, this has to address people, place and its cultural relationship with biophysical aspects. Therefore, in the era of disruption of COVID-19, the ecocultural based of tourist destination areas are highly affected due to the loss of tourists visiting the areas. The research found that the model of People, place, technology and government proposes for increasing adaptability of people to the disruption condition, initiating resilient, creative, healthy and smart places, exhalating technology for added value of tourism product and improving resilience government to adapt, absorb the change, collaborating multi stakeholder partnerships.