Shanti Kirana Anggraeni
Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Implementasi Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proses Grinding Dan Welding Vinanti Nurul Saskia; Shanti Kirana; Wahyu Susihono
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 1 No. 3 September 2013
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.457 KB)

Abstract

Manajemen K3 memiliki kaitan yang sangat erat dengan manajemen risiko karena keberadaan bahaya dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan atau insiden serta risiko menggambarkan besarnya potensi bahaya. PT.X adalah sebuah perusahaan fabrikasi yang berada di Cilegon yang memproduksi diantaranya pressure vessel, heat exchanger, fire & water tube boiler. Dari data tahun 2009-2012 proses grinding dan welding memiliki frekuensi kecelakaan kerja yang sering terjadi dibanding dengan proses lain dengan total kecelakaan kerja sebanyak 63 kasus. Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja, menghitung risk score kecelakaan kerja, menghitung biaya kecelakaan kerja dan mengidentifikasi usulan pengendalian risiko kecelakaan kerja. Metode Robinson adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi dalam pengendalian kecelakaan kerja dengan melakukan pengolahan data terhadap data kecelakaan kerja yang terjadi pada industri dengan tiga klasifikasi variabel yaitu bagian badan yang terluka, sifat jejas dan ada tidaknya hilang hari kerja. Hasil yang didapat identifikasi risiko bahaya kecelakaan kerja pada proses grinding dan welding diantaranya terkena percikan api, tergores material yang berkarat, cedera muskoloskeletal, terkena material lain yang mudah terbakar, terpeleset, terkena droplet metal panas, terkena spatter, terjepit..arde (ground), mata kemasukan gram. tersetrum, terhirup debu sisa material, terjadi ledakan gas, terhirup gas pengelasan, bising jatuh dari ketinggian, terkena fume dan terpapar cahaya ultraviolet. Risk score terbesar pada tahun 2010 sebesar 285.42% dengan nilai IFR 10.69, ISR 2.67 dan probability sebesar 0.10. Total biaya kecelakaan kerja langsung Rp 846.800 dan biaya overhead Rp 418.489. Usulan pengendalian risiko diataranya dengan penggunaan APD dengan tetap adanya pengawasan, adanya punisment atau sangsi apabila ada yang melanggar dan adanya reward kepada pekerja yang mematuhi K3, area bebas dari material atau bahan yang mudah terbakar, memberi arahan kepada pekerja atau operator (safety induction), menyediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan), diberi sekat atau partisi dan jarak antar proses atau kegiatan, penempatan sirkulasi udara yang tepat dan benar, tersedianya isolator getaran pada grinding.
Usulan Pemilihan Supplier Bahan Baku Tetap Menggunakan Vendor Performance Indicator dan Analytical Hierarchy Process (AHP) Deny Andika; Shanti Kirana Anggraeni; Sirajuddin Sirajuddin
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 1 No. 2 Juli 2013
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.052 KB)

Abstract

 Dalam aplikasi Supply Chain Management modern, melibatkan semua pihak yang merupakan kunci dalam salah suatu proses produksi termasuk supplier. Konsep perancangan perbaikan perusahaan guna meningkatkan produktivitas perusahaan tidak lagi hanya diupayakan di plant tetapi juga di supplier. PT. XYZ merupakan perusahaan kontraktor yang bergerak dibidang industri manufaktur yaitu produksi drum. Bahan baku drum tersebut salah satunya berupa plate Zincalium dengan ketebalan 0.2 - 1 mm baik berupa lembaran ataupun koil yang dipasok dari empat perusahaan. Untuk memperoleh bahan baku yang berkualitas maka perusahaan harus dapat selektif. Oleh karena itu pemilihan supplier menjadi salah satu faktor penting dalam rantai pasok (supply chain). Vendor Performance Indicator (VPI) merupakan suatu sistem manajemen pengukuran kinerja supplier yang dilakukan secara komphrensif dan sesuai dengan reqruitment perusahaan. Permasalahan di PT.XYZ adalah terdapat bahan baku yang dapat dikategorikan reject atau dibawah standar kualitas yang ditentukan perusahaan, terlebih lagi masalah yang muncul dari supplier seperti misalnya ketepatan pengiriman (delivery), fleksibilitas supplier dalam memenuhi permintaan terhadap perubahan jumlah dan waktu (mendadak) serta responsif dalam mengatasi masalah. Seleksi supplier ini menggunakan lima kriteria yaitu, Quality, Cost, Delivery, Flexibility, Responsiveness (QCDFR). Tiap VPI dan SPI dibobotkan dengan menggunakan metode AHP secara manual dan melalui software Expert Choice Versi 11.1.3238. dimana quality mendapat bobot prioritas sebesar 0,346, cost 0,139, delivery 0,329, fleksibility 0,085, dan responsiveness 0,100. Selanjutnya performansi supplier  direpresentasikan dengan Scoring System menggunakan Metode Grafik berdasarkan pendekatan Higher is Better, Smaller is Better dan Zero-One. Dari hasil Scoring System dihasilkan skor Vendor performance Indikator PT.A sebesar 79,6%, PT. B sebesar 92,3%, PT.C sebesar 80%, PT.D 74,9%. Sehingga usulan sebagai supplier bahan baku plate yang layak dipertahankan sebagai partner kerja sama di PT. XYZ adalah perusahaan PT. B.
Pengukuran Kinerja Kualitas Pelayanan Departemen Logistik dengan Metode OMAX Marisa Satriansyah; Putiri Bhuana Katili; Shanti Kirana Anggraeni
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 1 No. 1 Maret 2013
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.524 KB)

Abstract

PT. X merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelabuhan dan departemen logistic service yang merupakan salah satu bagian yang sangat penting bagi PT. Xnkarena berperan besar bagi perusahaan dalam bidang operasional dan jasa pelayanan pelabuhan yang merupakan produk inti dari PT.X. Kualitas pelayanan terhadap pelanggan adalah tujuan utama dari departemen tersebut, sehingga diperlukan pengukuran kinerja untuk mengetahui bagaimanakah kinerja pada departemen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kimerja pada departemen tersebut. Pengukuran kinerja pada penelitian ini menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) dimana pengukurannya difokuskan pada kriteria-kriteria inti, sehingga didapatkan kesimpulan departemen tersebut memiliki kinerja yang baik atau belum memuaskan ataupun buruk, yang selanjutnya diidentifikasi penyebab masalah pada kriteria tersebut dengan diagram fishbone dan diperbaiki dengan rancangan usulan perbaikan yang menggunakan metode 5W+1H. Berdasarkan hasil pengolahan data Januari 2012-Desember 2012 didapatkan Indeks Performansi departemen logistic service PT.X sebesar 8,055%. Angka tersebut menunjukkan bahwa kinerja departemen logistic service PT. X tahun 2012 adalah  di bawah rata-rata atau masih di bawah kinerja standar.
Minimasi Pemborosan Pada Proses Produksi Tahu Dengan Menggunakan Metode AHP dan Valsat Febianti, Evi; Muharni, Yusraini; Prameswari, Latifa Dewi; Anggraeni, Shanti Kirana; Ekawati, Ratna; Wahyuni, Nuraida
Journal of Systems Engineering and Management Vol 2, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/joseam.v2i1.19401

Abstract

Pabrik Tahu XYZ merupakan salah satu UMKM yang saat ini masih memproduksi tahu setiap hari. Pabrik Tahu XYZ ini memiliki 7 tahapan utama proses produksi. Permasalahan yang terjadi adalah pada saat proses produksi  terdapat pemborosan (waste). Pemborosan tersebut tentunya harus diminimasi karena tidak memiliki nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pemborosan yang paling berpengaruh dari hasil bobot AHP dan dapat ditentukan tools yang digunakan pada VALSAT  untuk mengatasi pemborosan yang terjadi, serta memberikan usulan perbaikan yang perlu dilakukan untuk meminimasi pemborosan. Hasil penelitian menunjukkan dengan metode AHP didapatkan bobot 0,446 pada waste defect yang berpengaruh sangat tinggi terhadap proses produksi tahu putih. Pada VALSAT yang dipilih adalah Process Activity Mapping (PAM) dengan skor sebesar 4,31 dan Quality Filter Mapping (QFM) dengan skor sebesar 4,16. Dua tools tersebut terpilih karena memiliki korelasi tinggi terhadap pemborosan yang terjadi pada proses produksi tahu putih.
ANALYSIS AND DESIGN OF WHEAT DISTRIBUTION SYSTEM IN PORT AREA BANTEN Ekawati, Ratna; Anggraeni, Shanti Kirana; Wahyuni, Nuraida; Febianti, Evi
Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. 34 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Industri Pertanian
Publisher : Department of Agroindustrial Technology, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24961/j.tek.ind.pert.2024.34.1.55

Abstract

The globalization of free trade has caused imported food to become an alternative consumption because of the ease of consumption, such as fast food. Wheat demand fluctuates due to increased demand for making wheat flour by factories around the port area. Indonesia, which does not have productive wheat plantations, imports to meet national needs. The stakeholders in the wheat supply and distribution chain are the ports where transport ships from abroad dock. In the Banten region, the Cigading port is a loading and unloading port for wheat, corn and other agricultural grain commodities. Partner companies manage the delivery of farm commodities from loading and unloading with the help of transportation modes such as trucks, trains and conveyors for factories around the port. Imported wheat from country A is docked at the port, the loading and unloading process and delivered to several warehouses between the dry warehouse at the port and the surrounding factory warehouse. The method of transporting wheat commodities is by trucks and trains when shipping. The research aimed to optimize the number of grain truck transportation modes so that minimum distribution costs per truck can be obtained using the integer linear programming method. Minimize total distribution costs of $435.5, with truck routes sending wheat to dry warehouses inside the port and factory warehouses outside the port 12 times back and forth. That is caused by weather, long loading and unloading times, limited transportation capacity, and irregular truck queues. Keywords: distribution costs, imported, truck ration, wheat, wheat flour