Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Vegetalika

HUBUNGAN KOMPONEN HASIL DAN HASIL TIGA BELAS KULTIVAR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) Aditya Herwin Dwiputra; Didik Indradewa; Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.397 KB) | DOI: 10.22146/veg.10474

Abstract

Penelitian bertujuan untuk 1) untuk mencari hubungan antara hasil dan komponen hasil berbagai kultivar kedelai, 2) untuk menentukan variabel komponen hasil yang memiliki hubungan paling erat dengan hasil beberapa kultivar kedelai, dan 3) untuk mendapatkan kultivar kedelai dengan hasil yang tinggi. Penelitian lapangan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal yang diuji adalah tiga belas kultivar kedelai yaitu Anjasmoro, Kaba, Argomulyo, Mahameru, Baluran, Muria, Burangang, Sinabung, Gema, Tanggamus, Gepak Kuning, Wilis dan Ijen. Hasil penelitian menunjukkan kultivar tanggamus merupakan kultivar yang memiliki hasil terbaik jika dibandingkan dengan kedua belas kultivar yang diuji hal ini terlihat dari data statistik yang menunjukkan hasil biji per tanaman yang paling tinggi. Variabel jumlah jumlah cabang, jumlah biji dan berat 100 biji adalah komponen hasil yang memilki hubungan erat terhadap hasil kedelai.
KUANTITAS DAN KUALITAS HASIL PUCUK ENAM KLON TEH SINENSIS (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze var Sinensis) DI BAGIAN KEBUN KAYULANDAK, PT. PAGILARAN Aryo Wijayanto; Didik Indradewa; Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.5 KB) | DOI: 10.22146/veg.10476

Abstract

Penelitian bertujuan untuk (1) membandingkan hasil pucuk beberapa klon teh sinensis dengan teh asamika, (2) mendapatkan klon teh sinensis dengan hasil dan kualitas hasil yang relatif tinggi, dan (3) mempelajari hubungan sifat fisiologis, pertumbuhan dan komponen hasil dengan hasil pucuk. Penelitian disusun dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan klon bertindak sebagai faktornya. Klon teh yang digunakan terdiri dari enam klon teh sinensis Oero 1, Oero 2, Oero 3, Oero 4, Oero 5, dan Oero 6 serta sebuah klon asamika yang diwakili Gambung 7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi hasil klon teh sinensis lebih rendah dibandingkan klon asamika, namun beberapa klon sinensis memiliki kualitas pucuk yang lebih baik dibanding klon asamika. Klon Oero 6 memiliki potensi hasil pucuk tinggi diantara klon-klon sinensis yang diteliti, sedangkan klon Oero 1, Oero 2, dan Oero 3 memiliki kualitas pucuk paling baik. Jumlah pucuk dan bobot per pucuk mempengaruhi potensi hasil pucuk secara langsung, sedangkan jumlah pucuk peko, bobot per pucuk peko, dan panjang trikoma berpengaruh langsung pada kualitas teh.
Pengaruh Dosis Urea terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max L. Merr.) Kultivar Anjasmoro Dhimas Ikhsan Prakoso; Didik Indradewa; Endang Sulistyaningsih
Vegetalika Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.609 KB) | DOI: 10.22146/veg.35931

Abstract

Kedelai diketahui memiliki kemampuan untuk mengikat N dari udara, namun pada budidayanya di lapangan, pemupukan N masih dilakukan untuk mendukung pertumbuhan awal tanaman. Kultivar Anjasmoro banyak ditanam petani karena memiliki morfologi biji yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan dosis  urea pada tanaman kedelai kultivar Anjasmoro serta menentukan takaran optimum untuk pertumbuhan dan hasil. Penelitian lapangan dilakukan dengan rancangan acak kelompok lengkap dengan perlakuan takaran pupuk urea yang terdiri dari 5 aras : 0 kg/ha, 50 kg/ha, 100 kg/ha, 150 kg/ha, dan 200 kg/ha. Tata letak acak kelompok dengan empat blok sebagai ulangan. Data yang diperolah dianalisis menggunakan sidik ragam, bila ada beda nyata dilanjutkan dengan uji jarak ganda Duncan dengan taraf kesalahan 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan Urea menurunkan kadar N daun. Tidak terdapat perbedaan takaran namun memberikan laju asimilasi bersih dengan takaran optimal 205 kg/ha. Pemupukan Urea tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai kultivar Anjasmoro.
Perbandingan Perakaran Beberapa Kultivar Kedelai (Glycine max L.) yang Mengalami Kekeringan dengan Metode Pengamatan Berbeda Yudha Pratiwi; Dody Kastono; Didik Indradewa
Vegetalika Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.913 KB) | DOI: 10.22146/veg.42714

Abstract

Penelitian mengenai ”Perbandingan hasil pengukuran perakaran lima kultivar kedelai (Glycine max L.) dengan metode berbeda” dilakukan di rumah plastik di Kebun Tridharma Banguntapan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sedangkan analisis pertumbuhan tanaman dilakukan di Laboratorium Manajemen Produksi Tanaman Sub Laboratorium Ilmu Tanaman dan Ekologi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penelitian berlangsung dari bulan Maret-Agustus 2018. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari sifat perakaran pada kondisi berbeda (cukup air dan kekeringan) dan membandingkan hasil pengukuran parameter perakaran dengan metode berbeda (manual dan area meter). Rancangan lingkungan yang dipakai berupa split plot dengan dua faktor yang diuji coba yaitu perlakuan kekeringan sebagai faktor pertama dan kultivar sebagai faktor kedua. Perlakuan kekeringan terdiri dari 2 aras yaitu cukup air dengan disiram 1 hari sekali dan kekeringan dengan disiram 3 hari sekali. Kultivar yang digunakan terdiri dari 5 macam kultivar kedelai, yaitu kultivar Anjasmoro, Burangrang, Demas 1, Dering 1, dan Devon 1. Data yang diperoleh kemudian dilakukan analisis varians (ANNOVA) dan apabila terdapat beda nyata, dilakukan uji lanjut Honest Significant Difference (Beda Nyata Jujur) Tukey 5 %. Pada metode penelitian ini sifat perakaran dalam kondisi kekeringan cenderung mengalami penurunan yang signifikan. Pengukuran perakaran kedelai dengan metode berbeda menunjukkan bahwa pengukuran secara manual memberikan nilai panjang akar total, volume akar, dan luas permukaan akar yang lebih besar.