Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH DENGAN PEMBERIAN KOMPOS KULIT BUAH PISANG PADA TANAH ULTISOL mustaghfirin mustaghfirin; Edy Santoso; Purwaningsih Purwaningsih
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 3, No 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah dengan pemberian kompos kulit buah pisang pada tanah ultisol. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 6 Januari sampai dengan 23 Februari 2014, Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 6 taraf perlakuan K0 = tanpa kompos, K1 = 716 g/polybag, K2 = 1097 g/polybag,  K3= 1478 g/ polybag, K4= 1859, K5= 2240 g/polybag  dengan banyaknya 4 ulangan, setiap perlakuan terdapat 3 sampel tanaman. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah daun perumpun (helai), jumlah umbi perumpun (umbi), berat umbi kering perumpun (g). Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk kompos kulit buah pisang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada semua variabel pengamatan.   Kata kunci : Bawang Merah, Kompos Kulit Buah Pisang, Tanah Ultisol
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI TERHADAP BERBAGAI DOSIS DAN INTERVAL PENYIRAMAN AIR LIMBAH KOLAM IKAN LELE PADA TANAH ALUVIAL PUTRI LESTARI; Basuni Basuni; Purwaningsih Purwaningsih
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v10i1.43679

Abstract

Kegiatan budidaya ikan lele menghasilkan limbah yang berasal dari feses dan sisa pakan yang mengandung protein tinggi. Air limbah kolam lele dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, disamping itu ternyata air limbah kolam ikan lele ini memiliki kandungan hara yang dapat diserap oleh tanaman.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mencari dosis air limbah lele, interval penyiraman air limbah lele, serta interaksi antar keduanya yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Parit Bugis, Gang Nusantara 1, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 15 Agustus - 30 Desember 2019. Pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan faktorial dengan pola RAL ( Rancangan Acak Lengkap ) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu dosis air limbah kolam lele (D) yang terdiri dari 3 taraf perlakuan (250, 500 dan 750 ml) dan faktor kedua yaitu interval penyiraman air limbah kolam lele (P) yang terdiri dari 3 taraf perlakuan (3, 5 dan 7 hari sekali). Variabel pengamatan yang diamati berupa tinggi tanaman, volume akar, berat kering tanaman, jumlah polong isi, berat biji per tanaman dan bobot 100 biji kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis air limbah lele tidak mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di tanah aluvial. Interval penyiraman 7 hari memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan berat biji per tanaman walaupun terhadap variabel yang lainnya tidak memberikan pengaruh yang nyata. Dan kombinasi pemberian dosis air limbah lele 750 ml dengan interval penyiraman 5 hari memberikan hasil bobot 100 biji kering terkecil.
Pengaruh Pupuk Orgnik Cir Limbah Ikan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Terung Ungu pada Tanah Aluvial khusnul barudah; Purwaningsih Purwaningsih; Agus Hariyanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i2.38845

Abstract

Limbah ikan merupakan limbah yang cukup banyak di Pontianak yang belum dimanfaatkan, padahal limbah ikan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.Penggunaan pupuk organik cair (POC) limbah ikan bertujuan untuk mencari konsentrasi POC limbah ikan yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman terung ungu (varitas Pertiwi).Penelitian dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura dimulai pada tanggal 15 Juni –31 Agustus tahun 2019. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri dari 5 perlakuan konsentrasi (k1=  5%., k2 = 10%., k3 = 15%., k4 = 20%., dan k5 = 25%). Jumlah tanaman sampel ada 4, dengan  banyaknya ulangan 5. Pemberian POC dengan volume200 ml/tanaman dan diberikan 7 hari sekali.Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman,jumlah buah per tanaman, berat buat per tanaman, panjang buah per tanaman, volume akar dan berat kering tanaman.Hasil penelitian penggunaan POC limbah ikan pada konsentrasi 20% memberikan pertumbuhan dan hasil terung yang terbaik pada tinggi tanaman, jumlah buah per tanaman dan berat buah per tanaman. Kata Kunci :Aluvial, POC Limbah Ikan, Terung Ungu.
PENGARUH PEMBERIAN BAHAN ORGANIK TERHADAP HASIL PADA BEBERAPA VARIETAS UBI JALAR PADA TANAH ALLUVIAL ketti andrayani; wasi'an wasi'an; purwaningsih purwaningsih
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 3, No 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  pengaruh penggunaan bahan organik terhadap hasil empat varietas ubi jalar lokal serta interaksinya antara keduanya. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2014 sampai tanggal 2 Mei 2014 di kebun percobaan yang terletak di Desa Parit Lintang Kecamatan Salatiga. Waktu penelitian selama 3 bulan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dan Rancangan Petak Terbagi (RPT) yang terdiri dari 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor 1 yaitu jenis varietas ubi jalar lokal yang ditempatkan sebagai mainplot terdiri dari ubi jalar oranye ( v1), ubi jalar kuning ( v2), ubi jalar putih ( v3), ubi jalar ungu ( v4).  Faktor 2 sebagai subplot yaitu jenis bahan organik terdiri dari pupuk kotoran ayam (b1), pupuk kotoran sapi (b2), pupuk kotoran kambing (b3). Dosis penggunaan bahan organik yaitu pupuk kotoran ayam 30,30 kg/petak, pupuk kotoran sapi 15,31 kg/ petak, pupuk kotoran kambing 14 kg/petak. Setiap perlakuan terdiri dari 3 tanaman sampel. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi jumlah umbi pertanaman, jumlah umbi perpetak, berat umbi pertanaman (g), berat umbi perpetak (g), diameter umbi pertanaman (cm).  Hasil penelitian menunjukan pemberian bahan organik dan penggunan varietas ubi jalar dapat meningkatkan hasil tanaman ubi jalar pada tanah alluvial.  Pemberian bahan organik pupuk kotoran ayam dengan dosis 30,30 kg/petak merupakan perlakuan terbaik yang memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap berat umbi perpetak, diameter umbi pertanaman, sedangkan perlakuan penggunaan varietas ubi jalar ungu dan putih merupakan varietas yang terbaik terhadap variabel jumlah umbi pertanaman. Kata kunci : Bahan Organik, Tanah Alluvial ,Varietas,              
Pengaruh metode ekstraksi terhadap viabilitas benih kakao ( Theobroma Cacao L) Karunia Alpa Novando Sitanggang; Purwaningsih Purwaningsih; Elly Mustamir
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v10i2.45822

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahan ekstraksi mana yang terbaik yang dapat menjaga viabilitas benih kakao tetap tinggi. Penelitian ini dimulai dari 20 Maret sampai 18 April 2020 di Jalan Gusti Hamzah Gang Nur 2, Pontianak. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan berbagai bahan ekstraksi benih kakao, yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 6 ulangan yang masing-masing menggunakan 25 benih. Perlakuan yang dimaksud adalah (p1) pengupasan pulp dengan perendaman air kapur 20 g /liter, (p2) Pengupasan pulp dengan abu gosok 5 g/benih, (p3) Pengupasan pulp dengan ilalang, dan (p0) Tanpa dilakukan pengupasan. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah daya berkecambah, kecepatan tumbuh, dan keserempakan tumbuh. Selain itu juga dilakukan pengamatan kondisi suhu (oC) dan kelembaban udara (%), dan curah hujan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa perlakuan ekstraksi benih kakao menggunakan abu sekam padi dan kapur tohor dapat menghasilkan viabilitas benih kakao terbaik. Kata kunci: abu, benih kakao, kapur, ilalang 
PHYTOSOCIOLOGICAL STUDY OF THE MONTANE FOREST ON THE SOUTH SLOPE OF MT. WILIS, EAST JAVA, INDONESIA Purwaningsih Purwaningsih; Ruddy Polosakan; Razali Yusuf; Kuswata Kartawinata
Reinwardtia Vol. 16 No. 1 (2017)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/reinwardtia.v16i1.3110

Abstract

PURWANINGSIH, POLOSOKAN, R., YUSUF, R. & KARTAWINATA, K. 2017. Phytosociological study of the montane forest on the south slope of Mt. Wilis, East Java. Indonesia. Reinwardtia 16(1): 31 - 45. —A phytosociological stud y of a montane forest was carried out on the south slope of Mount Wilis, Kediri, East Java. The objective of the study was to do quantitative measurements of floristic composition and structure of the montane forest located within the seasonally dry climatic region as to date no such study has been undertaken there. It was conducted using the quadrat method by establishing plots of 2500 m2 each at five locations at the altitudes of 1100 m asl (above sea level), 1200 m asl, 1300 m asl, 1400 m asl and 1500 m asl, thus the total area sampled was 1.25 ha. They were Plot1100 at Bekayang, Plot1200 at Bukit Bendera, Plot1300 at Batutulis, Plot1400 at Mergosepi and Plot1500 at Brak. A total of 1045 trees comprising 74 species of 50 genera and 33 families were recorded. Based on a species constancy index of 100 %, the Saurauia nudiflora-Weinmannia blumei association was established. The association consisted of (1) the Cyathea-Polycias subassociation, representing the heavily disturbed forest, currently dominated by Cyathea contaminans and (2) the Villebrunea-Syzygium subassociation, representing the least disturbed forests, dominated by Syzygium lineatum and Villebrunea rubescens. The lowest number of species (13) was recorded in Plot1100 and the highest number (39) in Plot1300. Important species recorded included Cyathea contaminans (Importance Value, IV= 47.97); Lithocarpus sp. (IV= 22.07); Lithocarpus sundaicus (IV= 14.05); Saurauia pendula (IV= 12.85); Villebrunea rubescens (IV= 12.12) and Syzygium lineatum (IV= 11.22). Diameter measurements showed that 76.60 % of trees in Plot1100 and 86.60 % in Plot1200 consist of small individuals with diameters between 10 and 30 cm. Trees with large diameters of >30 cm occurred in Plot1300, Plot1400 and Plot1500. The presence of large numbers of small trees and lesser numbers of trees with large diameters in a forest stand indicated that the stand was regenerating after heavy disturbance. The presence of the majority of trees with height of < 20 m (99 %) further confirmed the forest’s dynamic status.
PHYTOSOCIOLOGICAL STUDY OF THE MONTANE FOREST ON THE SOUTH SLOPE OF MT. WILIS, EAST JAVA, INDONESIA Purwaningsih Purwaningsih; Ruddy Polosakan; Razali Yusuf; Kuswata Kartawinata
Reinwardtia Vol. 16 No. 1 (2017)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/reinwardtia.v16i1.3110

Abstract

PURWANINGSIH, POLOSOKAN, R., YUSUF, R. & KARTAWINATA, K. 2017. Phytosociological study of the montane forest on the south slope of Mt. Wilis, East Java. Indonesia. Reinwardtia 16(1): 31 - 45. —A phytosociological stud y of a montane forest was carried out on the south slope of Mount Wilis, Kediri, East Java. The objective of the study was to do quantitative measurements of floristic composition and structure of the montane forest located within the seasonally dry climatic region as to date no such study has been undertaken there. It was conducted using the quadrat method by establishing plots of 2500 m2 each at five locations at the altitudes of 1100 m asl (above sea level), 1200 m asl, 1300 m asl, 1400 m asl and 1500 m asl, thus the total area sampled was 1.25 ha. They were Plot1100 at Bekayang, Plot1200 at Bukit Bendera, Plot1300 at Batutulis, Plot1400 at Mergosepi and Plot1500 at Brak. A total of 1045 trees comprising 74 species of 50 genera and 33 families were recorded. Based on a species constancy index of 100 %, the Saurauia nudiflora-Weinmannia blumei association was established. The association consisted of (1) the Cyathea-Polycias subassociation, representing the heavily disturbed forest, currently dominated by Cyathea contaminans and (2) the Villebrunea-Syzygium subassociation, representing the least disturbed forests, dominated by Syzygium lineatum and Villebrunea rubescens. The lowest number of species (13) was recorded in Plot1100 and the highest number (39) in Plot1300. Important species recorded included Cyathea contaminans (Importance Value, IV= 47.97); Lithocarpus sp. (IV= 22.07); Lithocarpus sundaicus (IV= 14.05); Saurauia pendula (IV= 12.85); Villebrunea rubescens (IV= 12.12) and Syzygium lineatum (IV= 11.22). Diameter measurements showed that 76.60 % of trees in Plot1100 and 86.60 % in Plot1200 consist of small individuals with diameters between 10 and 30 cm. Trees with large diameters of >30 cm occurred in Plot1300, Plot1400 and Plot1500. The presence of large numbers of small trees and lesser numbers of trees with large diameters in a forest stand indicated that the stand was regenerating after heavy disturbance. The presence of the majority of trees with height of < 20 m (99 %) further confirmed the forest’s dynamic status.