Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Ekstraksi Daun Cocor Bebek Menggunakan Berbagai Pelarut Organik Sebagai Inhibitor Korosi Pada Lingkungan Asam Klorida Tri Reksa Saputra; Agustinus Ngatin
Jurnal Kimia Fullerene Vol 4 No 1 (2019): Fullerene Journal of Chemistry
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.881 KB) | DOI: 10.37033/fjc.v4i1.50

Abstract

Research has been conducted on the extraction of cocor bebek leaves using organic solvents with various levels of solvent polarity. This is done to obtain which solvent has a corrosion inhibitor activity in the hydrochloric acid environment, where five fractions are obtained, namely n-hexane, ethyl acetate, acetone, acetic acid, and methanol. Based on quantitative analysis of cocor bebek leaf extract in variations in the polarity of solvents using a spectrophotometer with a wavelength of 511nm. The flavonoid content in cocor bebek leaf extract produced using acetone solvent showed the highest yield. Corrosion rate of carbon steel in 0.1M HCl solution; 0.05M; 0.01M with the addition of cocor bebek leaf extract decreased as the concentration of extract increased and reached the lowest decrease in the addition of extracts in acetone solvent around 200 ppm with a corrosion rate of 42.18 mpy in 0.1M HCl solution and at an increase in extract concentration there was a decrease does not show a significant reduction in corrosion rate. For 0.05M HCl solution and 0.01m concentration showed a decrease in corrosion rate until the addition of 1500 ppm extract. The results of the extract using acetone solvent showed the corrosion rate of carbon steel in 0.1M HCl solution; 0.05M; and 0.01M lower than the extract results with other solvents (ethyl acetate, methanol, and 5% acetic acid).
Carbon Steel Corrosion In The Atmosphere, Cooling Water Systems, And Hot Water Gatot Subiyanto; Agustinus Ngatin
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.555

Abstract

Korosi merupakan proses kerusakan material akibat berinteraksi dengan lingkungan yang korosif. Untuk mempelajari proses korosi di industri, maka dilakukan pengujian korosi di atmosfer, simulasi dalam skala lab untuk sistem air pendingin dan sistem air panas. Pengujian korosi dilakukan pada material baja lunak dengan metode Coupon dan laju korosi dihitung berdasarkan metode kehilangan berat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju korosi di lingkungan atmosfer, air pendingin, dan air panas berdasarkan pengaruh waktu. Hasil pengujian korosi di atmosfer menunjukkan bahwa lingkungan sekitar laboratorium kimia (gedung A) masih sangat baik dengan laju korosi 0,39mpy, sistem air pendingin mencapai 3,52 mpy dan di sistem air panas mencapai 137,12 mpy. Produk korosi dari ke tiga sistem berupa lapisan berwarna coklat dari Fe2O3.xH2O atau FeO(OH) menempel di permukaan logam. Dari ketiga lingkungan yang menunjukkan laju korosi terbesar adalah di sistem air panas.Pengendalian dengan coating dan proteksi katodik anoda korban dapat menurunkan potensial baja sampai dibawah kriteria proteksi (<-850mV/CSE), untuk coating mencapai – 896 mV/CSE, proteksi katodik anoda korban Mg dapat mencapai – 1696 mV/CSE, sedangkan potensial baja telanjang -762 mv/CSE
Modifikasi Homopolimer Poli (Vinil Asetat) dengan Variabel Hidrofobisitas Emulsifier untuk Aplikasi Perkayuan Rony Pasonang Sihombing; Agustinus Ngatin
Fluida Vol 12 No 2 (2019): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v12i2.1620

Abstract

Perekat (lem) merupakan salah satu media yang sangat penting untuk menyatukan kayu yang satu dengan lainnya dan berbasis pada pelarut. Umumnya, pelarut yang digunakan adalah pelarut organik golongan BTX (Benzena, Toluene, dan Xylene) yang merupakan pelarut berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Untuk itu perekat berbasis air yang berbahan baku vinil asetat akan diperkenalkan pada penelitian ini. Pengaruh hidrofobisitas surfaktan yang digunakan terhadap viskositasnya dijadikan tujuan dari penelitian ini. Vinil asetat dan polivinil alkohol digunakan sebagai bahan baku. Asam tartrat dan amonium persulfat digunakan sebagai bahan pendukung proses. Proses polimerisasi dilakukan di dalam reaktor dilengkapi kondensor, termometer, dan motor pengaduk dengan laju 50 – 500 rpm (opsional, hingga terbentuk vorteks). Water bath dipanaskan pada tekanan 1 atm dan suhu sekitar 750C. Perekat yang dihasilkan dilakukan uji viskositas dan total NVC . Hasil penelitian adalah sintesis perekat melalui proses polimerisasi vinil asetat dengan polivinil alkohol berhasil dibuat, dengan hasil perekat tanpa menggunakan surfaktan memiliki viskositas (13.400 cps) di antara NP-10 (14.500 cps) dan NP-06 (5.500 cps), sehingga perekat dengan surfaktan NP-10 memiliki viskositas paling tinggi dengan nilai 14.500 cps dari ketiga perekat yang dihasilkan.
Fermentasi Jerami sebagai Pakan Tambahan Ternak Ruminansia Yunus Tonapa Sarungu; Agustinus Ngatin; Rony Pasonang Sihombing
Fluida Vol 13 No 1 (2020): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v13i1.1852

Abstract

ABSTRAK Jerami adalah limbah tanaman padi yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak. Agar jerami tidak mengalami pembusukan, maka dilakukan proses fermentasi. Fermentasi merupakan proses pengubahan suatu zat dengan bantuan mikroorganisme dengan menghasilkan karbohidrat. Fermentasi divariasikan dengan waktu 7, 15 dan 21 hari menggunakan probiotik EM4 dan starbio. Rasio perbandingan bahan jerami dan probiotik yaitu 10:1. Dilakukan pengamatan pada hasil fermentasi untuk kandungan protein, karbohidrat sederhana, dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jerami hasil fementasi berwarna cokelat, kadar protein dan glukosa meningkat. Kadar protein dengan penambahan probiotik EM4 naik dari 5,775% menjadi 18,06% dan penambahan starbio menaikkan kadar protein menjadi 14,07%. Fermentasi jerami dengan penambahan EM4 lebih efektif daripada starbio. Waktu fermentasi yang paling efektif adalah 15 hari. Kata kunci: Jerami, fermentasi, probiotik, EM4, starbio ABSTRACT Straw is rice crop waste which can be used as animal feed materials. To avoid straw to decay, the fermentation process is carried out. Fermentation is the process of changing a substance with the help of microorganisms to produce carbohydrates. Fermentation was varied for 7, 15 and 21 days using EM4 and starbio probiotics. The ratio of straw and probiotic is 10: 1. The results of fermentation were observed for protein, simple carbohydrates, and water content. The results showed that fermentation resulted in brown colour and icreases of protein and glucose levels. Protein levels with the addition of EM4 probiotics increase from 5.775% to 18.06% and addition of starbio increases the protein levels to 14.07%. Straw fermentation with the addition of EM4 is more effective than starbio. The most effective fermentation time is 15 days. Keywords: Straw, fermentation, probiotics, EM4, starbio,
Pengaruh Waktu Proses pada Desalinasi Air Laut dengan Metode Elektrokoagulasi secara Batch Rifki Ardiansyah; Triyoga Meiditama Putra; Dian Ratna Suminar; Agustinus Ngatin
Fluida Vol 14 No 2 (2021): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v14i2.2828

Abstract

ABSTRAK Salah satu upaya untuk menjaga persediaan air yaitu dengan cara menurunkan parameter air laut agar memenuhi parameter air tawar menggunakan metode elektrokoagulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu proses elektrokoagulasi terhadap penurunan TDS, kekeruhan, kadar Cl, dan kadar Fe. Selain itu, untuk mengetahui perbandingan antara elektroda Al dan Fe. Air laut diambil dari Pantai Pelabuhan Ratu. Elektroda yang digunakan adalah Al dan Fe dengan ukuran 15x10 cm2. Tegangan yang digunakan yaitu 5 volt atau rapat arus sebesar 0,137 A/dm2 dengan waktu proses 15, 30, 45, dan 60 menit serta volume bahan bakunya 4 Liter. Penelitian dengan waktu proses 30 menit dan proses pengendapan selama satu hari mampu menurunkan kekeruhan hingga 2,28 NTU (55,07%); TDS hingga 1.010 mg/L (3,71%); kadar Cl hingga 271,98 mg/L (3,52%); dan kadar Fe 0,05 mg/L (40,65%). Proses elektrokoagulasi menggunakan elektroda aluminium lebih baik dibandingkan elektroda besi pada waktu proses 30 menit. ABSTRACT One of the efforts to maintain water supply is by lowering seawater parameters to meet freshwater parameters using the electrocoagulation method. This study aims to study the effect of electrocoagulation process time on the decrease in TDS, turbidity, Cl content, and Fe content. In addition, to determine the comparison between Al and Fe electrodes. Seawater is taken from Pelabuhan Ratu Beach. The electrodes used are Al and Fe with a size of 15x10 cm2. The voltage used is 5 volts or a current density of 0,137 A/dm2 with processing times of 15, 30, 45, and 60 minutes and the volume of the raw material is 4 liters. Research with a processing time of 30 minutes and sedimentation for one day was able to reduce turbidity up to 2,28 NTU (55,07%); TDS up to 1.010 mg/L (3,71%); Cl content up to 271,98 mg/L (3,52%); and Fe content of 0,05 mg/L (40,65%). The electrocoagulation process using aluminum electrodes was better than iron electrodes at a processing time of 30 minutes.
Konversi Seng Dari Limbah Baterai Zn-C Menjadi Senyawa Seng Sulfat Agustinus Ngatin; Rony pasonang sihombing
JC-T (Journal Cis-Trans): Jurnal Kimia dan Terapannya Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : State University of Malang or Universitas Negeri Malang (UM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.004 KB) | DOI: 10.17977/um0260v5i22021p013

Abstract

Baterai seng-karbon terdiri dari seng (Zn) tempat karbon (C) yang diselubungi mangan dioksida (MnO2) dan amonium klorida (NH4Cl) yang berupa pasta. Baterai Zn-C merupakan baterai primer yang  akhirnya akan dibuang sebagai limbah. Limbah baterai Zn-C mengandung limbah B3 yang membahayakan lingkungan. Untuk mengurangi limbah B3 ini dilakukan konversi pelat seng menjadi senyawa seng sulfat yang bermanfaat. Tujuan penelitian ini adalah menentukan jumlah asam sulfat yang diperlukan untuk mengkonversi  pelat seng menjadi seng sulfat dan dan efisiensi persen hasilnya. Proses konversi meliputi pre-treatment, pelarutan seng dalam bervariasi konsentrsi asam sulfat (5%, 10%, 15%, 20% , 25%, dan 30%) dalam volume 80 mL, pengadukan dengan 450 rpm,  dan pemanasan,  filtrasi,  dan kristalisasi. Kristal seng sulfat hepta hidrat terbentuk pada suhu ruangan. Hasil maksimum dicapai pada konsentrasi asam sulfat 30% dengan rasio seng dan asam sulfat 1: 1 dengan sedikit asam sulfat berlibih. Kondisi tersebut kristal ZnSO4.7H2O dihasilkan  sekitar 18,39 gram. dengan efisiensi. 83,71%.
Pemanfaatan Besi Berkarat Menjadi Senyawa Besi (III) Amonium Sulfat sebagai Bahan Koagulan Agustinus Ngatin; Rony Pasonang Sihombing
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol 11 No 1 (2020): Prosiding 11th Industrial Research Workshop and National Seminar (IRWNS)
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.496 KB) | DOI: 10.35313/irwns.v11i1.2006

Abstract

Besi berkarat merupakan senyawa besi oksida yang mencemari lingkungan, akibat tumpukan besi yang kotor, berwarna coklat dan kurang menarik. Untuk mengurangi pencemaran ini dapat dilakukan pengubahan besi berkarat menjadi senyawa besi (III) ammonium sulfat yang bermanfaat sebagai bahan koagulan pada pengolahan limbah industri, pengikat warna pada proses pewarnaan tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan besi berkarat menjadi senyawa besi (III) aonium sulfat dengan menentukan pengaruh jumlah asam sulfat 20% dan H2O2 10% sebagai oksidator Fe2+ menjadi Fe3+untuk menghasilkan % produk optimal. Sintesis besi (III) dilakukan secara batch pada suhu 80 0C dan diaduk menggunakan pengaduk magnit selama 45 menit, ditambah larutan H2O2 10% untuk mengubah Fe2+ menjadi Fe3+ dilanjutkan pemanasan sampai jenuh, didinginkan sampai terbentuk kristal. Kristalnya diamati, ditimbang dan dimanfaatkan sebagai koagulan pada pengolahan air limbah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kondisi operasi untuk 3,0 gram besi berkarat ditambah 50 mL larutan asam sulfat 20% dan 5 mL-10mL hidrogen peroksida 10% menghasilkan besi (III) ammonium sulfat mencapai 94 %produk. Besi (III) ammonium sulfat merupakan kristal berwarna putih terang, berbentuk rombis, dan bersifat higroskopis.
Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji Sebagai Inhibitur Korosi Baja Paduan dalam Medium Larutan NaCl Agustinus Ngatin; Annisaa Fitri Wulandari; Asri Dwi Saffanah; Dian Ratna Suminar; Sinta Setyaningrum
Fluida Vol 15 No 2 (2022): FLUIDA
Publisher : Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v15i2.3923

Abstract

Korosi merupakan masalah yang tak dapat dihindari oleh industri. Salah satu upaya untuk menekan laju korosi adalah dengan menggunakan inhibitor korosi. Daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung antioksidan berupa tanin yang dapat dimanfaatkan sebagai inhibitor korosi organik ramah lingkungan pada baja paduan tinggi dalam medium larutan NaCl 3,56% (b/v). Ekstrak daun jambu biji didapatkan dengan metode maserasi, sedangkan pengkorosian dengan metode perendaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi inhibitor ekstrak daun jambu biji dan waktu pengkorosian terhadap laju korosi dengan efisiensi inhibisinya pada baja paduan tinggi dalam medium larutan NaCl 3,56%. Hasil penelitian menujukkan bahwa laju korosi terendah dicapai pada konsentrasi inhibitor ekstrak 400 ppm sebesar 0,0244 mm/y dengan efisiensi inhibisi 53,03%. Pengaruh waktu pengkorosian baja paduan tinggi pada konsentrasi inhibitor ekstrak 400 dan 800 ppm menghasilkan laju korosi terendah pada waktu 192 jam, yaitu 0,0301 dan 0,0282 mm/y. Penggunaan ekstrak daun jambu biji sebagai inhibitor korosi berhasil menurunkan laju korosi baja paduan tinggi dalam medium larutan NaCl 3,56%.
Pengaruh Laju Alir Terhadap Penurunan Pengotor Limbah Laundry Metode Elektrokoagulasi Kontinyu Berpengaduk Agustinus Ngatin; Adi Rizki Nugraha; Mukhtar Gozali; Ageng Priyambudi; Tri Hariyadi; Rony Pasonang Sihombing; Yusmardhany Yusuf; Retno Dwi Jayanti; Retno Indarti
Fluida Vol 15 No 2 (2022): FLUIDA
Publisher : Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v15i2.4040

Abstract

Limbah laundry dapat menjadi masalah serius bagi lingkungan jika dibuang tanpa pengolahan. Masalah yang timbul diantaranya nilai Chemical Oxygen Demand (COD), fosfat, dan kekeruhan yang tinggi. Tujuan penelitian yaitu mempelajari pengaruh laju alir terhadap efisiensi penurunan kadar kekeruhan, COD, dan TSS, serta menentukan kondisi optimalnya dengan alat elektrokoagulasi kontinyu berpengaduk. Reaktornya adalah reaktor berkapasitas 10 L dilengkapi pengaduk 180 rpm, pompa peristaltik, rectifier dan 3 pasang elektroda Alumunium dengan ketebalan 0,3x15x15cm yang disusun secara monopolar. Percobaan variasi laju alir (115mL/menit, 170 mL/menit, 340mL/menit) dilakukan dengan rapat arus tetap (70 A/m2), dengan waktu operasi 60 menit untuk setiap variasi. Hasilnya menunjukkan bahwa pada laju tinggi (340 mL/menit) dan laju rendah (115 mL/menit) menghasilkan efisiensi penurunan pengotor yang rendah dan laju alir terbaik ditunjukkan pada 170 mL/menit. Kondisi optimal terjadi pada laju alir 170 mL/menit pada rapat 70 A/m2 menghasilkan efisiensi penurunan kekeruhan, COD, dan TSS berturut-turut 89,35%, 73,33%, dan 99,26%. Laundry waste can be a serious problem for the environment if it is disposed of without treatment. Problems that arise include the value of Chemical Oxygen Demand (COD), phosphate, and high turbidity. The aims of the research were to study the effect of flow rate and current density on the efficiency of reducing turbidity, COD, and TSS levels, and to determine the optimal conditions using a continuous stirred electrocoagulation device. The reaktor used is a reaktor with a capacity of 10 L equipped with a 180 rpm stirrer, a peristaltic pump, a rectifier and 3 pairs of aluminum electrodes with a thickness of 0.3x15x15cm arranged in a monopolar manner. The flow rate variation experiment was carried out with a constant current density (70 A/m2), and the current density variation experiment was carried out with a fixed flow rate (170 ml/minute) with an operating time of 60 minutes for each variation. The results of the flow rate variation showed that at a high rate (340 ml/min) and a low rate (115 ml/min) resulted in a low impurity reduction efficiency, the best flow rate was shown at 170 ml/min. The results of the current density variation show that the increase in impurity reduction efficiency occurs as the current density increases, the best results occur at a current density of 70 A/m2. Optimal conditions occurred at a flow rate of 170 ml/min at a rate of 70 A/m2 resulting in the efficiency of reducing turbidity, COD, and TSS respectively 89.35%, 73.33%, and 99.26%.
Delaminasi Perekat Polivinil Asetat Berbasis Air Satu Komponen untuk Aplikasi Kayu Keras Ulin dan Merbau: Delamination on Polyvinyl Acetate Water Based Adhesive One Component for Ulin and Merbau Hard Wood Working Application Retno Indarti; Agustinus Ngatin; Robby Sudarman; Tifa Paramitha; Rony Pasonang Sihombing
KOVALEN: Jurnal Riset Kimia Vol. 8 No. 2 (2022): August Edition
Publisher : Chemistry Department, Mathematics and Natural Science Faculty, Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/kovalen.2022.v8.i2.15900

Abstract

Water-based adhesive was one of the most important media for bonding substrates to one another because of their environmental friendly character. Previously, in the application of hardwood adhesives such as Ulin and Merbau, the type of adhesive used was a two-component system. For this reason, a one-component water-based adhesive was introduced in this study. The advantage of these was environmental friendly and high durability. In this application, delamination was one of the important parameters to determine whether the adhesive used was well penetrated or not. For this reason, delamination will be the main parameter in this study. This research includes the preparation of tools and materials, manufacture of PVA (polyvinyl alcohol) solution, polymerization of polyvinyl acetate by mixing the main raw material of vinyl acetate monomer and PVOH solution using APS (ammonium persulfate) initiator. The polymerization process was carried out at 1 atm pressure and 75oC – 80oC temperature accompanied by stirring with ±500 rpm rotation rate. Final product is a homopolymer PVAc (polyvinyl acetate) with PVOH Z-210 with AAEM (acetoacetoxy ethyl methacrylate) content having an acetoxy functional group. A delamination test was carried out on the final product with a modified test based on Japanese Agricultural Standard 1152 where the product was immersed in water for 360 minutes, then placed in an oven at 40oC for 18 hours. Samples using PVOH with AAEM content have an average delamination rate of 0.67-1.67% while existing products on the market have an average delamination rate of 45.83-52.08%.