Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

KAJIAN SIFAT FISIK FILM TIPIS NATA DE SOYA SEBAGAI MEMBRAN ULTRAFILTRASI Puspawiningtiyas, Endar; Damajanti, Neni
Techno Jurnal Ilmu Teknik Vol 12, No 1 (2011): Jurnal Techno April 2011
Publisher : UMP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Whey” is one of liquid waste water that was produced from tofu making process. There are many research that process  whey to waste water that ready to dispose. One of whey utilization to product that more useful is as of nata making raw material, that often called nata de soya. The contain of nata is cellulose (Bergenia,1982). Cellulose that produced via fermentation process by bacteria often called microbial cellulose. Based of physic and chemical properties that owned by microbial cellulose, be required  a study about possibility nata de soya as separated membrane especially  ultrafiltration membrane.The Goal of this research are to study  about influence of NaOH and H2SO4 concentration to density,  swelling degree, water flux, nata de soya membrane rejection.The result of this research show that NaOH and H2SO4 treatment influence to phisical and chemical properties of nata de soya thin layer. Greatest density and smallest swelling degree are 0,94gr/cm3 and 210% at NaOH 6 % treatment. Greatest density and smallest swelling degree are 0,92gr/cm3 and 216% at H2SO4 8 % treatment. Flux value generated at  several NaOH concentration average 18,89 Lm-2jam-1bar-1.  By Murder (1996), ultrafiltration membrane has operational presure range 1.0 – 5.0 bar and water flux 10 -50 Lm-2jam-1bar-1, thus flux test result show that nata de soya thin layer adequate as ultrafiltration membrane. Smallest water flux value is obtained at NaOH 6 % concentration is 15.68  Lm-2jam-1bar-1. Fluctuating graph at influence of NaOH concentration to rejection coefficient has not been able to conclude best treatment to obtain maximum rejection coefficient, but overall average rejection coefficient at NaOH treatment to nata de soya thin layer is 47,6%. Keyword : ultrafiltration membrane, nata de soya
Pemanfaatan Arang Dari Limbah Tempurung Kelapa Sebagai Variasi Material Dalam Sand Filtration Untuk Penjernihan Air Sumur Di Kelurahan Tegalkamulyan Cilacap Atyani, Fitri; Damajanti, Neni; Hamad, Alwani
Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 2014: Proceeding Seminar Nasional LPPM 2014, 20 Desember 2014
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam rangka pemenuhan  kebutuhan air bersih, masyarakat  di desa Tegalkamulyan Cilacap pada umumnya cenderung menggunakan air tanah, yaitu dengan cara membuat sumur gali. Permasalahan yang timbul yaitu  kualitas air tanah kurang memenuhi syarat sebagai air bersih terutama warnanya keruh.Untuk mendapatkan kualitas air sumur sesuai dengan syarat baku mutunya maka cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air sederhana dengan menggunakan metode sand filtration dengan material yang mudah didapat antara lain batu,kerikil,arang,pasir,dan ijuk. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah pemanfaatan arang tempurung kelapa dalam susunan mterial sand filtration dapat menjernihan air agar didapat kualitas air bersih sesuai baku mutu. Pada penelitian ini digunakan masing- masing material pada proses filtrasi setinggi 10 cm dan disusun sesuai standar proses sand filtration. Digunakan arang dari batok kelapa disini karena dapat memanfaatkan limbah batok kelapa yang banyak terdapat di kelurahan Tegalkamulyan.Arang batok kelapa ini berfungsi sebagai adsorben dalm proses filtrasi.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa air hasil filtrasi berwarna jernih dengan sifat fisik warna sebesar 40 TCU (standar <50TCU), kandungan logam berat, kesadahan dan mikorba (coliform) dibawah standar baku mutu air bersih .Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proses sand filtration dengan salah satu material yang digunakan dari arang batok kelapa dapat menjernihkan air sumur keruh di Desa TegalKamulyan Cilacaop dengan hasil sesuai baku mutu air bersih..Kata kunci : Penjernihan air sumur, arang batok kelapa, filtrasi, sand filtration
Pengolahan Air Limbah Sohun dengan Metode Koagulasi Menggunakan Koagulan Kitosan Damajanti, Neni; Puspawiningtiyas, Endar
Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 2014: Proceeding Seminar Hasil Penelitian LPPM 2014, 6 September 2014
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri sohun sebagai salah salah industri pangan menghasilkan air limbah dengan nilai chemical oxygen demand (COD), biological oxygen demand (BOD) dan total disolved solid (TDS) cukup tinggi. Salah satu cara pengolahan air limbah adalah dengan proses koagulasi menggunakan bahan kimia, seperti aluminium sulfat (tawas) dan garam-garam besi. Untuk mengurangi penggunaan bahan kimia, dapat digunakan koagulan alami seperti kitosan. Kitosan dapat diperoleh dari kitin yang merupakan zat pembentuk cangkang udang, kepiting dan rajungan. Kitosan dari cangkang udang memberikan keuntungan lain selain sebagai koagulan dalam pengolahan air limbah, yaitu mengurangi limbah produksi perikanan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam pengolahan air limbah sohun dengan metode koagulasi menggunakan koagulan kitosan diperoleh hasil terbaik pada dosis kitosan 4 mL dengan waktu pengadukan 20 menit (2 menit pengadukan cepat dan 18 menit pengadukan lambat). Hal ini ditunjukan dengan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara dosis kitosan 4 dan 5 mL pada waktu pengadukan 20 dan 30 menit, sehingga diambil hasil terbaik pada dosis kitosan terkecil dan waktu pengadukan tercepat. Namun kesimpulan ini belum berdasarkan pada hasil kuantitatif, karena analisis COD, BOD dan TSS belum dapat dilakukan dengan sempurna.  Kata kunci: air limbah sohun, koagulasi, kitosan, COD, BOD
PENGOLAHAN AIR LIMBAH TAPIOKA DENGAN METODE KOAGULASI MENGGUNAKAN KOAGULAN KITOSAN Sholikhah, Amiratus; Damajanti, Neni
PROSIDING SENATEK FAKULTAS TEKNIK UMP 2015: PROSIDING SENATEK TAHUN 2015, 28 November 2015
Publisher : PROSIDING SENATEK FAKULTAS TEKNIK UMP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air limbah tapioka mengandung bahan-bahan organik yang bersifat biodegradable, yang berarti bahan tersebut secara alamiah dapat atau mudah diurai oleh mikroba. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah bahan organik pada limbah cair tapioka adalah dengan memanfaatkan kitosan. Sebagai polimer alami, kitosan memiliki muatan ionik yang reaktif sehingga dapat mengikat dan mengabsorpsi komponen lain yang berlawanan muatan. Kemampuan kitosan sebagai absorben dapat digunakan sebagai koagulan dalam pengolahan air limbah tapioka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa dosis kitosan dan waktu flokulasi yang menghasilkan persentase penurunan terbesar pada nilai COD, BOD, dan Turbidity air limbah tapioka. Metode yang digunakan adalah koagulasi menggunakan koagulan kitosan, dengan varisi pada pemberian  dosis kitosan 50; 100 dan 150 mg/L serta waktu fokulasi 10; 20 dan 30 menit. Kitosan mampu mereduksi nilai COD 3,64-17,58% dengan nilai COD setelah perlakuan  13.600 mg/L. Nilai BOD dapat direduksi 1,22-15,05% dengan nilai setelah perlakuan 2096,50 mg/L. Turbidity pada air limbah tapioka dapat direduksi hingga 51,83-75,10% dengan nilai akhir 122,5 NTU. Niliai akhir dari COD dan BOD yang diperoleh belum memenuhi standar baku mutu yang tertera dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012.Kata kunci: Air limbah tapioka, Koagulasi, Kitosan
PENGARUH NUTRISI BAKTERI Pseudomonas sp DALAM ROTATING BIOLOGICAL CONTACTOR (RBC) TERHADAP KANDUNGAN BOD DAN COD AIR LIMBAH KILANG PARAXYLENE Ganda Kurniawan; Neni Damajanti; Alwani Hamad
Sainteks Vol 11, No 1 (2014): SAINTEKS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v11i1.203

Abstract

Air Limbah pabrik perminyakan adalah air yang masih mengandung sedikit minyak, suspended solid, BOD dan COD yang relative masih tinggi. Penelitian ini bertujuan memperoleh hasil analisa air limbah outlet Rotating Biological Contactor (RBC) yang memenuhi standar KEP. 09 / MENLH/4/1997 khususnya kandungan BOD dan COD .Proses reduksi BOD dan COD terjadi di rotating biological contactor (RBC) oleh bakteri Pseudomonas. Pada penelitian ini digunakan variabel tetap flow rate air limbah 7 m3/jam, kecepatan putaran RBC 2,12 rpm sedangkan variable berubahnya adalah injeksi urea (1,1.1,1.2 kg/day) dan phospat (0.2,0.3,0.4 kg/day) kedalam RBC. Air limbah outlet RBC dianalisa setiap hari dengan metode API method 728-53. Dari hasil penelitian diketahui bahwa terjadi penurunan BOD dan COD di air limbah setelah diinjeksi urea dan phospat di RBC. Injeksi yang memberikan hasil terbaik dalam penelitian ini adalah urea 1.2 kg dan phospat 0.4 kg, untuk BOD terjadi penurunan dari rata-rata 166 ppm menjadi 97 ppm, untuk COD terjadi penurunan rata-rata 272 ppm menjadi 198 ppm. Kata kunci: Rotating Biological Contactor, BOD, COD, Urea, Phospat
Pengaruh 2,4-D (Asam Diklorofenoksi Asetat) dan BAP (Benzyl Amino Purin) terhadap Proliferasi Kalus dan Produksi Metabolit Sekunder dari Kalus Kencur (Kaemferia galanga L.) Anis Shofiyani; Neni Damajanti
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 15 No 2 (2017): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.329 KB) | DOI: 10.35814/jifi.v15i2.514

Abstract

The aim of this research is to fi nd combination of 2,4-D (diclorophenoxy acetic acid) and BAP (benzyl amino purine) concentration which give the best infl uence to callus proliferation and to know the effect of interaction between 2,4-D and BAP to obtain good growth culture of Kaemferia galanga L callus and able to produce secondary metabolite. The design used for callus proliferation was a combination of 2.4 D (1–3 mg/L) and BAP (0-0.2 mg/L). All were randomly arranged in a complete randomized design (RAL) with three replicates, and each treatment unit used 10 bottles of culture. The combination of eff ective treatment for callus proliferation was 2,4 D concentrations of 1 to 3 mg/L and without the addition of BAP (B0). 2,4 D with 1 mg/L concentration gave the best callus proliferation rate indicated at callus volume, fresh weight of callus, dried weight callus and the weakness high and white light colour with friable nature. The higher concentration of 2.4 D to 3 mg/L in the formation of callus color to green and on the process of organogenesis (shoot and root formation). Based on qualitative analysis test using thin layer chromatography (TLC), extract methanol callus Kaemferia galanga research results contain secondary metabolite compounds in the form of alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, steroids and ethyl para-methoxycinnamate.
PENGEMBANGAN METODE STERILISASI PADA BERBAGAI EKSPLAN GUNA MENINGKATKAN KEBERHASILAN KULTUR KALUS KENCUR (Kaemferia galangal L) Anis Shofiyani; Neni Damajanti
Agritech: Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol 17, No 1 (2015): AGRITECH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/agritech.v17i1.1345

Abstract

Dewasa ini penggunaan obat tradisional yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan dimasyarakat semakin meningkat sebagai dampak dari konsep hidup kembali ke alam (back to nature). Salah satu tumbuhan yang dikembangkan sebagai tanaman obat di Indonesia adalah kencur (Kaemferia galanga). Kencur banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu), fitofarmaka, industri kosmetika,penyedap makanan dan minuman, rempah, serta bahan campuran saus rokok pada industri rokok kretek. Secara empirik kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan, infeksi bakteri, obat batuk, disentri, tonikum, ekspektoran, masuk angin, sakit perut karena rimpangnya mengandung senyawa metabolit sekunder antara lain saponin, flavonoid, fenol serta minyak atsiri (Syamsuhidayat dan Johnny, 1991). Tahap awal keberhasilan kultur kalus yang dilakukan tidak lepas dari ketepatan pemilihan bahan dasar eksplan yang akan digunakan dan juga teknik sterilisasi yang dilakukan selama kultur kalus. Ketepatan pemilihan sterilan dan lamanya waktu pemberian sterilan pada berbagai macam eksplan ternyata memberikan respon yang berbeda. Penelitian ini merupakan upaya dalam perolehan metode sterilisasi yang tepat pada berbagai macam sumber eksplan berupa daun, akar dan irisan rhizome dalam media MS yang digunakan dalam kultur in vitro khususnya kultur kalus tanaman kencur (Kaemferia galanga), sehingga akan diperoleh metode sterilisasi yang sesuai untuyk perbanyakan kalus kencur. Hasil penelitian menujukkan bahwa kombinasi perlakuan yang efektif untuk menekan pertumbuhan dan perkembangan sumber kontaminasi adalah Natrium hipoklorit (NaOCl 10 %), 5 menit + Alkohol 70 % ,1 menit pada eksplan daun, kombinasi perlakuan Natrium hipoklorit (NaOCl 5 %), 5 menit + Alkohol 70 % ,1 menit untuk eksplan akar dan kombinasi perlakuan Alkohol 70 % ,1 menit + Kaporit (Ca(ClO)2) 6%, 20 menit untuk eksplan rimpang kencur. Sumber kontaminan yang dominan tumbuh adalah bakteri dan jamur dari jenis Mucor dan Rhizopus dengan cirri morfologi hifa berwarna putih hingga kelabu hitam.
Aplikasi Zeolit Alam Aktif Wonosari Sebagai Adsorben Zat Warna Remazol Yellow Fg Neni Damajanti; Anwar Ma’ruf; Hanafi Khafid Nugraha
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 1 (2021): Proceedings of Smart Advancement on Engineering and Applied Science
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.648 KB) | DOI: 10.30595/pspfs.v1i.138

Abstract

Zeolite as an adsorbent has been widely used. Zeolite activation was carried out to increase the absorption. This study aimed to determine the characteristics of the active zeolite and apply it as an adsorbent. The activation process was carried out by adding acid and calcining at 4500C for 6 hours. Remazol Yellow FG is a dye that is widely used in the textile industry. In this study, the adsorption process was carried out on the Remazol Yellow FG solution, then analyzed the effect of changes in pH (5, 6, 7, 8, 9), contact time (30, 60, 90, 120, 150 minutes) and the concentration of Remazol Yellow FG solution ( 50, 100, 150, 200, 250 ppm) on the adsorption of Remazol Yellow FG dye. From the analysis of the sample solution of Remazol Yellow, the values of Ce and qe can be calculated. These values were then used to calculate KL and KF in the Langmuir adsorption isotherm and Freundlich adsorption isotherm models. From the experimental results, it could be seen that as the contact time increased, the adsorption capacity would be greater. However, when the zeolite was already in the saturated phase, the adsorption capacity would tend to decrease. In the Langmuir adsorption isotherm, the KL value was 0.0274 L/mg and in the Freundlich adsorption isotherm model, the KF value was 29.25 L/mg. Remazol Yellow FG adsorption tended to follow the Langmuir adsorption isotherm model with an R2 value of 0.998.
Pengaruh Jumlah Siklum HEM (High Energy Milling) Pada Karakteristik MFC (Microfibrillated Cellulose) Dari Sekam Padi Anwar Maruf; Neni Damajanti
Techno (Jurnal Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto) Vol 21, No 1 (2020): Techno Volume 21 No.1 April 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/techno.v21i1.5387

Abstract

MFC merupakan selulosa yang sudah mengalami proses lanjut yaitu refinerdan homogenizer sehingga ukurannya berskala nanometer (nm). Proses pembuatanMFC dapat dilakukan secara mekanik, yaitu dengan memanfaatkan refiner, highpressure homogenizer dan gelombang ultrasonic. Selain dengan metode mekanik,pembautan MFC juga dapat dilakukan dengan metode enzimatis. MFC dapatdigunakan sebagai komposit pada berbagai bidang seperti industri makanan, cat,kosmetik dan medis. Pemanfaatan selulosa sekam padi dalam pembuatan MFC belumbanyak dilakukan. Proses penting dalam pembuatan MFC sekam padi adalah prosesdelignifikasi untuk menghilangkan lignin dan silika, proses bleaching dan prosespenggilingan. Pada penelitian ini akan dikaji pengaruh konsentrasi hydrogenperoksida, temperature bleaching dan waktu penggilingan. Optimasi variabel dapatdilakukan dengan menggunakan Response Surface Metodology (RSM). Hasilpenelitian menunjukkan kondisi optimum untuk proses delignifikasi adalah padaperbandingan volume/berat sekam sebesar 9, konsentrasi H2O2 1,5% dan pH 11,5.Variabel yang signifikan terhadap kadar lignin adalah diketahui yang signifikanterhadap kadar lignin adalah pH (linier), rasio V/w (kuadratik), konsentrasi H2O2(kuadratik) dan pH (kuadratik). Proses HEM sangat berpengaruh pada karakteristikMFC. Semakin banyak siklus HEM, maka gugus aktif MFC akan semakin banyak.
KAJIAN SIFAT FISIK FILM TIPIS NATA DE SOYA SEBAGAI MEMBRAN ULTRAFILTRASI Endar Puspawiningtiyas; Neni Damajanti
Techno (Jurnal Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto) Vol 12, No 1 (2011): Techno Volume 12 No 1 April 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.346 KB) | DOI: 10.30595/techno.v12i1.23

Abstract

“Whey” is one of liquid waste water that was produced from tofu making process. There are many research that process whey to waste water that ready to dispose. One of whey utilization to product that more useful is as of nata making raw material, that often called nata de soya. The contain of nata is cellulose (Bergenia,1982). Cellulose that produced via fermentation process by bacteria often called microbial cellulose. Based of physic and chemical properties that owned by microbial cellulose, be required a study about possibility nata de soya as separated membrane especially ultrafiltration membrane. The Goal of this research are to study about influence of NaOH and H2SO4 concentration to density, swelling degree, water flux, nata de soya membrane rejection. The result of this research show that NaOH and H2SO4 treatment influence to phisical and chemical properties of nata de soya thin layer. Greatest density and smallest swelling degree are 0,94gr/cm3 and 210% at NaOH 6 % treatment. Greatest density and smallest swelling degree are 0,92gr/cm3 and 216% at H2SO4 8 % treatment. Flux value generated at several NaOH concentration average 18,89 Lm-2jam-1bar-1. By Murder (1996), ultrafiltration membrane has operational presure range 1.0 – 5.0 bar and water flux 10 -50 Lm-2jam-1bar-1, thus flux test result show that nata de soya thin layer adequate as ultrafiltration membrane. Smallest water flux value is obtained at NaOH 6 % concentration is 15.68 Lm-2jam-1bar-1. Fluctuating graph at influence of NaOH concentration to rejection coefficient has not been able to conclude best treatment to obtain maximum rejection coefficient, but overall average rejection coefficient at NaOH treatment to nata de soya thin layer is 47,6%. Keyword : ultrafiltration membrane, nata de soya