Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Peran Weak Ties pada X terhadap Partisipasi Protes Mahasiswa di Indonesia Madinah, Raysa; Adi Wibowo, Kunto; Faudy, Ikhsan; Rahmawan, Detta
Jurnal Studi Ilmu Politik Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Studi Ilmu Politik
Publisher : Prodi Ilmu Politik FISIP Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsipol.v5i1.33139

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana peran weak ties di media sosial X terhadap partisipasi protes mahasiswa di Indonesia. Tujuan penelitian ini berfokus pada penggunaan X serta weak ties dalam mendorong partisipasi protes secara daring maupun luring. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik convenience sampling pada mahasiswa Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial X. Peneliti mendapatkan total 126 responden melalui penyebaran kuesioner dengan Google Form menggunakan metode skala likert. Hasil pengukuran menunjukan uji validitas dan reliabilitas yang baik (Cronbach’s Alpha > 0.60) serta uji hipotesis melalui analisis jalur. Temuan utama memperlihatkan bahwa penggunaan X tidak berpengaruh signifikan terhadap weak ties dan tidak secara langsung meningkatkan partisipasi protes. Sebaliknya, weak ties berpengaruh terhadap aksi protes, menekankan pada jaringan sosial lebih menentukan keterlibatan.
Strategi aktivisme digital di Indonesia: aksesibilitas, visibilitas, popularitas dan ekosistem aktivisme Rahmawan, Detta; Mahameruaji, Jimi Narotama; Janitra, Preciosa Alnashava
Manajemen Komunikasi Vol 4, No 2 (2020): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v4i2.26522

Abstract

Setidaknya dalam satu dekade terakhir, mayoritas masyarakat Indonesia sangat antusias mengadopsi beragam platform digital seperti media sosial dan aplikasi pesan instan. Pesatnya penetrasi teknologi ini juga kerap dibungkus dalam narasi techno-utopianism terutama dalam kaitannya dengan harapan akan pertumbuhan perekonomian digital di Indonesia. Meskipun demikian, pemanfaatan platform digital juga perlu dilihat pada konteks penguatan demokrasi, dan perubahan sosial di masyarakat. Dalam hal ini, aktivisme digital, atau peran teknologi digital dalam berbagai gerakan sosial di Indonesia menjadi penting untuk diamati. Penelitian ini menggunakan studi literatur untuk menganalisis secara kritis beragam studi terkait aktivisme digital serta memberikan ulasan terkait konsep aksesibilitas, visibilitas, popularitas dan ekosistem aktivisme sebagai mekanisme yang mendasari praktik aktivisme digital Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep aksesibilitas memaparkan faktor ketersediaan infrastruktur digital serta kesiapan masyarakat dalam menerima praktik aktivisme. Selanjutnya, ide terkait visibilitas dan popularitas memperlihatkan bahwa praktik aktivisme digital selalu berkaitan dengan algoritme dan metrics yang mendasari bagaimana media digital bekerja, sehingga, pelaku aktivisme digital perlu melakukan adaptasi agar aktivisme dapat menjadi “terlihat” (visible) dan “populer” pada khalayak yang tepat tanpa menghilangkan esensi dan substansi dari aktivisme tersebut. Sangat penting untuk melihat ekosistem aktivisme secara komprehensif dan holistis, dengan tidak hanya memperhatikan faktor teknologi, namun juga faktor kondisi sosial dan budaya serta konteks historis dari aktivisme dan berbagai gerakan sosial yang muncul, berkembang dan menyebar di masyarakat.
KOMUNIKASI VERBAL PADA ANGGOTA KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK INDIGO Arkandito, Gregorius Fendi; Maryani, Eni; Rahmawan, Detta; Wirakusumah, Teddy K.
Manajemen Komunikasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Manajemen Komunikasi Vol. 1 No.1 Otober 2016
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.747 KB) | DOI: 10.24198/jmk.v1i1.9955

Abstract

      Gregorius Fendi Arkandito, 2016. “Komunikasi Pada Anggota Keluarga Yang Memiliki Anak Indigo”. Dibantu oleh Achwan Noorlistyo Adi, S.I.Kom selaku rekan peneliti dan Duddy Zein, Drs., M.Si selaku dosen Program Studi Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui komunikasi verbal pada keluarga dengan anak indigo. 2) Untuk mengetahui mengapa komunikasi verbal tersebut digunakan. 3) Untuk mengetahui proses penyampaian masalah anak indigo pada anggota keluarga lain. 4) Untuk mengetahui pengambilan keputusan pada keluarga tersebut.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus. Teknik utama dalam mengumpulkan data yaitu observasi, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa komunikasi verbal yang digunakan anggota keluarga yang belum mempelajari indigo lebih dalam, lebih memilih komunikasi satu arah dan komunikasi verbal bersifat memerintah. Anggota keluarga lebih intens mendekati jika anak indigo mengalami atau melakukan hal negatif. Serta pembinaan yang digunakan adalah pembinaan pedagogi. Sedangkan anggota keluarga yang mempelajari indigo secara dalam, menggunakan komunikasi verbal yang lebih instruktif dan informatif. Tetap menjaga kadar emosi dari anak indigo tersebut agar tidak melewati batas wajar dan menggunakan pola pembinaan andragogi.Kata Kunci       : Komunikasi, Komunikasi Keluarga, Anak, Indigo
THE IMPACT OF DIGITAL LITERACY ON POLITICAL TRUST Maritza, Regina; Wibowo, Kunto Adi; Rahmawan, Detta; Fuady, Ikhsan
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 10 No. 1 (2026): MARET
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v10i1.3218

Abstract

The phenomenon of political hoaxes poses a serious challenge to political communication in the digital era, particularly with the widespread use of social media. Hoaxes not only distort information but also have the potential to reduce political trust and undermine the quality of democracy. This study aims to analyze the relationship and influence of digital literacy on political trust among young social media users. The study employed a positivistic paradigm with a quantitative approach through a survey method. The study population was college students who used Instagram, with a sample of 399 respondents in West Java. Data were collected through a five-point Likert-scale questionnaire measuring digital literacy and political trust, then analyzed using SPSS. The test results showed that all research instruments were valid and reliable. Spearman correlation analysis showed a positive and significant relationship between digital literacy and political trust (r = 0.355; p < 0.05). Furthermore, binary logistic regression analysis showed that digital literacy significantly influenced the likelihood of respondents having a high level of political trust (Exp(B) = 1.268). These findings confirm that digital literacy plays a protective role in dealing with political hoaxes and is important in maintaining the quality of political communication and democracy in the digital era.
Management and Psychological Aspect: Teenagers' Awareness of Privacy in Social Media Maryani, Eni; Rahmawan, Detta; Garnesia, Irma; Ratmita, Reksa Anggia
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 5 No. 2 (2020): December 2020 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v5i2.429

Abstract

Rising concern about the impact of internet usage among teenagers needs to be continuously addressed. Teenagers’ awareness of online privacy was the focus of this study on account of frequent sharing of private information in social media. This study is an exploratory research which tries to map and understand the psychological and cultural aspects of vulnerable online privacy practice by teenagers. The data were collected through a survey and interviews with high school students in Bandung, Indonesia. This study found that teenagers’ knowledge, awareness, and management of online privacy was relatively low. Psychologically, teenagers often need others to talk to. To maintain relationship, some cultural aspects, such as togetherness, friendliness, and openness to strangers were perceived as important. However, those aspects were the causes of poor online privacy practices. A call for increased media literacy and the development of cyber law that can anticipate internet-based crime especially against teenagers, were discussed.
Strategi Komunikasi Extinction Rebellion Indonesia dalam Mendorong Kesadaran Krisis Iklim melalui Instagram Debtian, Muhammad Rizky; Venus, Anter; Rahmawan, Detta
Jurnal Media dan Komunikasi Indonesia Vol 7, No 1 (2026): March
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmki.103211

Abstract

This study aims to analyze how Extinction Rebellion Indonesia (XR Indonesia) designs and implements its communication strategy on Instagram to promote public awareness of the climate crisis. The object of this research is XR Indonesia’s Instagram-based activism, with data collected through in-depth interviews with internal members and followers, as well as content observation and document analysis conducted between June and November 2024. Using a qualitative case study approach, the data were analyzed through an interactive model of data reduction, display, and conclusion drawing. The findings indicate that XR Indonesia’s communication practices align structurally with Oepen’s environmental communication strategy framework (assessment, planning, production, and action-reflection) yet are adapted to the decentralized and volunteer-based nature of digital activism. Assessment and evaluation processes are largely informal and reflective rather than systematically documented. Integrating Fisher’s narrative paradigm and Moody-Adams’ concept of narrative activism, XR’s communication operates as a counter-narrative strategy that constructs moral claims, collective identity, and systemic critiques in the digital arena. In conclusion, XR Indonesia demonstrates that adaptive narrative-based communication can function as a strategic tool in digital environmental activism, despite limitations in formal evaluation and audience measurement.