Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Integrated Exhaust System in Grossing Table for Formaldehyde Exposure Control Meike Rachmawati; Wida Purbaningsih; Meta Maulida Damayanti; Iman Apriana Effendi; Faradilla Azzahra Dinariansyah; Fathin Azimati Nadila; Ismawati; Nugraha; Aninditya Putri Anugrah; Fattahrani; Reyiena Kusumaryani Rahmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol. 13 No. 2 (2025): Accredited Sinta 2
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v13i2.7422

Abstract

Formaldehyde, a widely used tissue fixative in anatomical pathology laboratories, poses significant health risks due to its irritant and carcinogenic properties. Exposure control during grossing procedures is critical, yet commercial grossing tables with integrated ventilation systems are often cost-prohibitive. This study aimed to develop and evaluate a cost-effective grossing table equipped with a local exhaust ventilation system to reduce formaldehyde exposure in compliance with occupational health and safety (OHS) standards. A quasi-experimental study was conducted in collaboration with an anatomical pathology laboratory in Bandung, Indonesia, from 2023 to 2025, testing three exhaust configurations: (1) control (no exhaust), (2) room exhaust only (S1), and (3) room + table-mounted exhaust (S2). Session-level analysis using the Kruskal-Wallis test revealed significant differences among configurations (p=0.035). Post-hoc Mann-Whitney tests confirmed that exposure in S2 was significantly lower than in the control (p=0.024, 95% CI=0.25–0.70), indicating a large effect size. Mean session exposures decreased from control (0.86–1.50 ppm) to S1 (0.74–0.85 ppm) and S2 (0.58–0.62 ppm). The corresponding 8-hour time-weighted averages (TWA) were 0.403 ppm (control), 0.257 ppm (S1), and 0.086 ppm (S2), compared to the limits of 0.75 ppm (OSHA), 0.1 ppm (ACGIH), and 0.016 ppm (NIOSH). Short-term exposure limits (STELs) were 1.55 ppm, 1.11 ppm, and 0.29 ppm, benchmarked against two ppm (OSHA), 0.3 ppm (ACGIH), and 0.1 ppm (NIOSH), respectively. In conclusion, the S2 setup met OSHA and ACGIH limits, demonstrating that integrated local exhaust effectively reduces formaldehyde exposure and provides an effective engineering control to improve occupational safety in pathology laboratories. This low-cost intervention offers a practical solution for safer working conditions in pathology laboratories.
PEMBERDAYAAN KADER KARANG TARUNA DALAM INVESTIGASI KONTAK ERAT TUBERKULOSIS UNTUK MENINGKATKAN DETEKSI KASUS DI KOTA BANDUNG Yani Triyani; Lisa Adhia Garina; Rio Dananjaya; Wida Purbaningsih
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 5 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i5.3541

Abstract

Upaya peningkatan deteksi kasus Tuberkulosis (TB) di masyarakat perkotaan dan padat penduduk sangat diperlukan untuk menurunkan angka kejadian (TB) yang saat ini masih sangat tinggi. Inverstigasi kontak erat TB keluarga  pasien TB merupakan salah satu upaya deteksi dini kasus TB, dan kelompok karang taruna merupakan salah satu kelompok masyarakat potensial dan belum diberdayakan dalam membantu peningkatan deteksi dini kasus TB.  Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM)  melakukan pemberdayaan karang taruna melalui sosialisasi dan pendampingan program investigasi kontak erat TB kepada keluarga pasien TB berdasarkan temuan dari Puskesmas, fasilitas kesehatan lain dan temuan kader kesehatan di lapangan. Metode tahap awal pengukuran tingkat pengetahuan peserta mengisi kuesioner pre test dan post test saat sebelum dan sesudah pemaparan materi investigasi kontak erat TB. Selanjutnya  pendampingan investigasi kontak erat keluarga pasien TB kepada karang taruna oleh tim pengabdi dengan kunjungan rumah. Hasil tahap awal, terjadi peningkatan pengetahuan  para peserta dengan rata-rata nilai pre dan post test 68 dan 72 (minimal dan maksimal score 20 dan 100), dengan uji Paired t-test p=0,085. Tahap selanjutnya, hasil pendampingan investigasi kontak erat keluarga pasien TB selama Juni–September 2025 menemukan 3 orang terdiagnosis TB paru aktif baru dari penjaringan 4 keluarga pasien TB yang berjumlah 18 orang (17% kejadian TB paru baru). Hambatan yang ditemukan adalah warga masih merasa malu ketika dikunjungi untuk investigasi kontak erat  TB dan kurang ada kesesuaian waktu karena masalah pekerjaan di luar rumah. Kesimpulan hasil pemberdayaan Kader karang taruna dalam pelaksanaan investigasi kontak erat TB berhasil meningkatkan pengetahuan dan temuan kasus TB baru.