Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Integrated Exhaust System in Grossing Table for Formaldehyde Exposure Control Meike Rachmawati; Wida Purbaningsih; Meta Maulida Damayanti; Iman Apriana Effendi; Faradilla Azzahra Dinariansyah; Fathin Azimati Nadila; Ismawati; Nugraha; Aninditya Putri Anugrah; Fattahrani; Reyiena Kusumaryani Rahmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol. 13 No. 2 (2025): Accredited Sinta 2
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v13i2.7422

Abstract

Formaldehyde, a widely used tissue fixative in anatomical pathology laboratories, poses significant health risks due to its irritant and carcinogenic properties. Exposure control during grossing procedures is critical, yet commercial grossing tables with integrated ventilation systems are often cost-prohibitive. This study aimed to develop and evaluate a cost-effective grossing table equipped with a local exhaust ventilation system to reduce formaldehyde exposure in compliance with occupational health and safety (OHS) standards. A quasi-experimental study was conducted in collaboration with an anatomical pathology laboratory in Bandung, Indonesia, from 2023 to 2025, testing three exhaust configurations: (1) control (no exhaust), (2) room exhaust only (S1), and (3) room + table-mounted exhaust (S2). Session-level analysis using the Kruskal-Wallis test revealed significant differences among configurations (p=0.035). Post-hoc Mann-Whitney tests confirmed that exposure in S2 was significantly lower than in the control (p=0.024, 95% CI=0.25–0.70), indicating a large effect size. Mean session exposures decreased from control (0.86–1.50 ppm) to S1 (0.74–0.85 ppm) and S2 (0.58–0.62 ppm). The corresponding 8-hour time-weighted averages (TWA) were 0.403 ppm (control), 0.257 ppm (S1), and 0.086 ppm (S2), compared to the limits of 0.75 ppm (OSHA), 0.1 ppm (ACGIH), and 0.016 ppm (NIOSH). Short-term exposure limits (STELs) were 1.55 ppm, 1.11 ppm, and 0.29 ppm, benchmarked against two ppm (OSHA), 0.3 ppm (ACGIH), and 0.1 ppm (NIOSH), respectively. In conclusion, the S2 setup met OSHA and ACGIH limits, demonstrating that integrated local exhaust effectively reduces formaldehyde exposure and provides an effective engineering control to improve occupational safety in pathology laboratories. This low-cost intervention offers a practical solution for safer working conditions in pathology laboratories.
PEMBERDAYAAN KADER KARANG TARUNA DALAM INVESTIGASI KONTAK ERAT TUBERKULOSIS UNTUK MENINGKATKAN DETEKSI KASUS DI KOTA BANDUNG Yani Triyani; Lisa Adhia Garina; Rio Dananjaya; Wida Purbaningsih
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 5 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i5.3541

Abstract

Upaya peningkatan deteksi kasus Tuberkulosis (TB) di masyarakat perkotaan dan padat penduduk sangat diperlukan untuk menurunkan angka kejadian (TB) yang saat ini masih sangat tinggi. Inverstigasi kontak erat TB keluarga  pasien TB merupakan salah satu upaya deteksi dini kasus TB, dan kelompok karang taruna merupakan salah satu kelompok masyarakat potensial dan belum diberdayakan dalam membantu peningkatan deteksi dini kasus TB.  Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM)  melakukan pemberdayaan karang taruna melalui sosialisasi dan pendampingan program investigasi kontak erat TB kepada keluarga pasien TB berdasarkan temuan dari Puskesmas, fasilitas kesehatan lain dan temuan kader kesehatan di lapangan. Metode tahap awal pengukuran tingkat pengetahuan peserta mengisi kuesioner pre test dan post test saat sebelum dan sesudah pemaparan materi investigasi kontak erat TB. Selanjutnya  pendampingan investigasi kontak erat keluarga pasien TB kepada karang taruna oleh tim pengabdi dengan kunjungan rumah. Hasil tahap awal, terjadi peningkatan pengetahuan  para peserta dengan rata-rata nilai pre dan post test 68 dan 72 (minimal dan maksimal score 20 dan 100), dengan uji Paired t-test p=0,085. Tahap selanjutnya, hasil pendampingan investigasi kontak erat keluarga pasien TB selama Juni–September 2025 menemukan 3 orang terdiagnosis TB paru aktif baru dari penjaringan 4 keluarga pasien TB yang berjumlah 18 orang (17% kejadian TB paru baru). Hambatan yang ditemukan adalah warga masih merasa malu ketika dikunjungi untuk investigasi kontak erat  TB dan kurang ada kesesuaian waktu karena masalah pekerjaan di luar rumah. Kesimpulan hasil pemberdayaan Kader karang taruna dalam pelaksanaan investigasi kontak erat TB berhasil meningkatkan pengetahuan dan temuan kasus TB baru.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Kepatuhan Hemodialisis pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Ghefira Nurul Fatimah; Wida Purbaningsih; Umar Islami
Bandung Conference Series: Medical Science 41-48
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22059

Abstract

Abstract. Chronic Kidney Failure (CKD) is a chronic disease that requires lifelong hemodialysis therapy. Hemodialysis as a long-term therapy requires consistent commitment. Patient non-adherence can lead to the accumulation of toxic substances, frequent complications, and a decline in physical and psychological conditions. Patient adherence in undergoing hemodialysis is thought to be influenced by family support. This study aims to determine the relationship between social support and the level of hemodialysis adherence in CKD patients in the Hemodialysis Unit of a Private Hospital, Tasikmalaya. This study used an observational analytical design with a Chi-Square approach. A sample of 150 adult CKD patients undergoing hemodialysis was obtained, selected using a consecutive sampling technique. Social support was measured using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) questionnaire, while the level of adherence was measured based on patient medical records. Data analysis was performed using the Chi-Square test because the dependent and independent variables are categorical data. The results showed that 0.1% of respondents had low social support, 31.3% had moderate social support, and 68% had high social support. The adherence rates for hemodialysis patients were 6.7% low, 0.7% moderate, and 92.6% high. The results showed a significant relationship between social support and hemodialysis adherence. Good social support was positively associated with adherence to hemodialysis therapy in patients with chronic kidney disease (CKD). Abstrak. Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi hemodialisis seumur hidup. Hemodialisis sebagai terapi jangka panjang menuntut komitmen yang konsisten. Ketidakpatuhan pasien dapat menyebabkan penumpukan zat beracun, komplikasi yang sering terjadi, serta penurunan kondisi fisik dan psikologis. Kepatuhan pasien dalam menjalani hemodialisis diperkirakan dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan tingkat kepatuhan hemodialisis pada pasien GGK di Unit Hemodialisis RS Swasta, Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan Chi-Square. Sampel diperoleh sebanyak 150 pasien GGK dewasa yang menjalani hemodialisis, dipilih dengan teknik consecutive sampling. Dukungan sosial diukur menggunakan kuesioner Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), sedangkan tingkat pemenuhan diukur berdasarkan rekam medis pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square karena variabel dependen dan independen berupa kategori data. Hasil menunjukkan 0,1% responden memiliki dukungan sosial rendah, 31,3% sedang, dan 68% tinggi. Tingkat pemenuhan pasien hemodialisis adalah 6,7% rendah, 0,7% sedang, dan 92,6% tinggi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan sosial dan tingkat kepatuhan menjalani hemodialisis. Dukungan sosial yang baik memiliki hubungan yang baik dengan tingkat kepatuhan terapi hemodialisis pada pasien GGK.
Hubungan Durasi Pengobatan Tuberkulosis Paru terhadap Parameter Kesembuhan pada Anak di Klinik Utama DR. H. A. Rotinsulu Cibadak Kota Bandung Molandi Septiana Purwadi; Wida Purbaningsih; Dicky Santosa
Bandung Conference Series: Medical Science 83-90
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22077

Abstract

Abstract. Pulmonary tuberculosis in children represents a clinical challenge that requires comprehensive management, and treatment duration is often considered an important factor in determining therapeutic success. This study analyzed the relationship between treatment duration and improvement in clinical symptoms among pediatric tuberculosis patients receiving care at Dr. H. A. Rotinsulu Primary Clinic, Cibadak, Bandung. A total of 100 children were evaluated at two follow-up periods, namely at the second month and the sixth month, resulting in 200 clinical observations. Clinical outcomes were classified into two categories: improvement (asymptomatic) and no improvement (symptomatic). The proportion of asymptomatic children increased markedly from 31% at the two-month evaluation to 60% at the six-month evaluation. Chi-square analysis demonstrated no significant association between treatment duration and clinical symptom improvement, with a p-value of 0.791. These findings indicate that treatment duration does not have a significant effect on the improvement of clinical symptom characteristics. This suggests that clinical improvement is not determined by treatment duration alone but is more strongly influenced by treatment adherence and other contributing factors. Abstrak. Tuberkulosis paru pada anak merupakan tantangan klinis yang memerlukan penanganan komprehensif, dan durasi pengobatan dianggap berperan penting dalam menentukan keberhasilan terapi. Penelitian ini menganalisis hubungan antara durasi pengobatan dan perbaikan gejala klinis pada pasien TB anak yang menjalani perawatan di Klinik Utama Dr. H. A. Rotinsulu, Cibadak, Bandung. Sebanyak 100 anak dinilai pada dua periode tindak lanjut, yaitu bulan ke-2 dan bulan ke-6, sehingga menghasilkan 200 observasi klinis yang diklasifikasikan menjadi ada perbaikan (tidak bergejala) dan tidak ada perbaikan (masih bergejala. Proporsi anak tanpa gejala meningkat secara signifikan dari 31 persen pada evaluasi dua bulan menjadi 60 persen pada evaluasi enam bulan. Analisis Chi-square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara durasi pengobatan dan perbaikan gejala dengan nilai p sebesar 0.791. Nilai ini menunjukkan bahwa durasi pengobatan tidak berpengaruh signifikan terhadap perbaikan karakteristik gejala klinis. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan karakteristik klinis tidak ditentukan olah durasi terapi semata, melainkan lebih dipengaruhi oleh kepatuhan pengobatan, dan faktor lainnya.
Hubungan Tingkat Stres dengan Konsentrasi Belajar dan Prestasi Akademik pada Siswa SMAN di Kota Sukabumi Kelas XI Tahun 2024/2025 Nasywa Putri Rahmawati; Wida Purbaningsih; Umar Islami
Bandung Conference Series: Medical Science 181-188
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22108

Abstract

Abstract. Stress is a common psychological condition experienced by students and can affect how they learn and achieve their academic goals. One thing that can disrupt student learning concentration and academic achievement is a fairly high level of stress. The purpose of this study was to determine the relationship between stress and student learning concentration at SMAN 2 Sukabumi City. In this study, observational analytics was used through a cross-sectional approach, with respondents of more than one hundred and four students. Meanwhile, the Perceived Stress Scale and Student Learning Concentration Questionnaire were used to collect data and a recap of exam scores was used to assess student academic achievement. To identify independent and dependent variables, data analysis was conducted univariately and bivariately. The results of the analysis showed that there was no significant correlation between stress levels and learning concentration. Therefore, it can be concluded that stress levels are not a supporting factor in the relationship with concentration and academic achievement, especially at SMAN 2 in Sukabumi City.. Abstrak. Stres adalah kondisi psikologis yang umum dialami oleh siswa dan dapat mempengaruhi bagaimana mereka belajar dan mencapai tujuan akademik mereka. Salah satu hal yang dapat mengganggu konsentrasi belajar dan prestasi akademik siswa adalah tingkat stres yang cukup tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara stres dengan konsentrasi belajar siswa di SMAN 2 Kota Sukabumi. Dalam penelitian ini, analitik observasional digunakan melalui pendekatan cross-sectional. dengan responden lebih dari seratus empat siswa. Sementara kuesioner Perceived Stres Scale dan Student Learning Concentration Questionnare digunakan untuk mengumpulkan data dan rekap nilai ujian digunakan untuk menilai prestasi akademik siswa. Untuk mengidentifikasi variabel independen dan dependen, analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara tingkat stres dan konsentrasi belajar. Maka dapat disimpulkan bahwa tingkat stres bukan faktor pendukung hubungan dengan konsentrasi dan prestasi akademik, terutama di kelas XI SMAN 2 di Kota Sukabumi.
Hubungan antara Durasi Pengobatan Tuberkulosis Paru terhadap Perubahan Status Nutrisi pada Pasien Tuberkulosis Anak di RS Rotinsulu Bandung Haikal Ahmad Nur Rahman; Wida Purbaningsih; Samsudin Surialaga
Bandung Conference Series: Medical Science 581-588
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22273

Abstract

Abstract. Nutritional status is a critical determinant of treatment outcomes in pediatric tuberculosis (TB), as chronic infection induces metabolic stress, appetite suppression, and increased energy expenditure. Although anti-TB therapy is expected to improve nutritional recovery, evidence regarding the influence of treatment duration on nutritional improvement in children remains limited. This study aimed to compare changes in nutritional status across two treatment durations 2 months and 6 months in pediatric TB patients at Rotinsulu Hospital, Bandung. A prospective cohort design was employed involving children diagnosed with TB who met the inclusion criteria and completed follow-up evaluations. Samples were obtained using consecutive sampling. Nutritional status was assessed at the second and sixth month of treatment using medical record data. The association between treatment duration and nutritional change was analyzed using the Chi-square test. Of the 200 observations collected from 100 patients, 73.5% demonstrated improvement in nutritional status. Although the 6- month group exhibited a higher proportion of improvement compared to the 2-month group, the difference was not statistically significant (p = 0.262). The odds ratio (OR= 1.44; 95% CI: 0.76–2.70) indicated no meaningful effect of treatment duration on nutritional recovery. These findings suggest that nutritional improvement among pediatric TB patients is not determined solely by treatment duration but may be more strongly influenced by baseline nutritional status, adherence to therapy, and dietary adequacy throughout treatment. Abstrak. Status nutrisi merupakan determinan penting dalam keberhasilan terapi tuberkulosis (TB) pada anak, karena infeksi kronis dapat memicu stres metabolik, penurunan nafsu makan, serta peningkatan kebutuhan energi. Meskipun pengobatan TB diharapkan dapat mendukung pemulihan status nutrisi, bukti mengenai pengaruh durasi terapi terhadap perbaikan status nutrisi masih terbatas pada populasi anak. Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan status nutrisi berdasarkan dua durasi pengobatan 2 bulan dan 6 bulan pada pasien TB anak di RS Rotinsulu Bandung. Desain penelitian menggunakan cohort prospektif dengan sampel anak yang terdiagnosis TB dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel diperoleh melalui consecutive sampling. Status nutrisi dievaluasi pada bulan ke-2 dan bulan ke-6 pengobatan berdasarkan data rekam medis. Hubungan antara durasi terapi dan perubahan status nutrisi dianalisis menggunakan uji Chi-square. Dari total 200 observasi pada 100 pasien, 73,5% menunjukkan perbaikan status nutrisi. Kelompok dengan durasi 6 bulan memperlihatkan proporsi perbaikan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok 2 bulan, namun perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,262). Nilai odds ratio (OR = 1,44; 95% CI: 0,76–2,70) juga menunjukkan bahwa durasi pengobatan tidak berpengaruh signifikan terhadap perbaikan status nutrisi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemulihan nutrisi pada anak dengan TB tidak ditentukan oleh durasi terapi semata, melainkan lebih dipengaruhi oleh status gizi awal, kepatuhan pengobatan, dan kecukupan asupan nutrisi selama perawatan.
Hubungan Pola Makan, Pola Aktivitas, dan Status Nutrisi dengan Kejadian Komplikasi pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Tamansari Tahun 2025 Ferawati Oktaviani; Wida Purbaningsih; Jannatin Aliya Indrina
Bandung Conference Series: Medical Science 679-686
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22323

Abstract

Abstract. One of the chronic diseases that occurs globally due to continuously increasing incidence rates is type 2 diabetes mellitus. Several factors that can increase the risk of complications in diabetes mellitus patients are diet, physical activity, and nutritional status. This study aims to analyze the relationship between diet, activity patterns, and nutritional status with complications in type 2 diabetes mellitus patients at the Tamansari Community Health Center. A cross-sectional design was used. The population consisted of all type 2 diabetes mellitus patients registered at the Tamansari Community Health Center, with a sample of 50 people selected using total sampling. The research instruments were the Food Frequency Questionnaire (FFQ), the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), anthropometric measurements (BMI and waist circumference), and medical records from the Tamansari Community Health Center, which had been tested for validity and reliability. The results showed that there was a partial relationship between dietary patterns (p = 0.015), activity patterns (p = 0.023), and nutritional status (p = 0.014) with the incidence of type 2 diabetes mellitus complications at the Tamansari Community Health Center. Conclusion: There is a partial relationship between dietary patterns, activity patterns, and nutritional status with the occurrence of type 2 diabetes mellitus complications. It is hoped that future researchers will investigate other factors that influence the occurrence of type 2 DM complications using different analyses such as linear or logistic regression. Abstrak. Salah satu penyakit kronis yang terjadi secara global karena angka kejadian yang terus menerus meningkat adalah diabetes melitus tipe 2. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko komplikasi pada pasien diabetes melitus adalah pola makan, aktivitas fisik dan status nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola makan, pola aktivitas dan status nutrisi dengan komplikasi pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Tamansari. Desain yang digunakan adalah cross-sectional. Populasi adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 terdaftar di Puskesmas Tamansari dengan sampel sebanyak 50 orang yang diambil menggunakan total sampling. Instrumen penelitian adalah Food Frequency Questionnaire (FFQ), International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), pengukuran antropometri (IMT dan lingkar pinggang) serta rekam medis Puskesmas Tamansari yang telah teruji valid dan reliabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan parsial pola makan (p = 0,015), pola aktivitas (p = 0,023) dan status nutrisi (p = 0,014) dengan kejadian komplikasi diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Tamansari. Kesimpulan, terdapat hubungan parsial pola makan, pola aktivitas dan status nutrisi dengan kejadian komplikasi diabetes mellitus tipe 2. Diharapkan peneliti selanjutnya meneliti faktor lain yang mempengaruhi kejadian komplikasi DM tipe 2 dengan menggunakan analisis berbeda seperti regresi linear atau logistik.
Co-Authors Adhi Nugraha Adli Giardin Agly Adithya Agly Adithya, Agly Aida Fitriyane Hamdani Aida Fitriyane Hamdani Aida Ajeng Kartika Aninditya Putri Anugrah Annisa Humairra Annisa Rahmah Furqaani Anugrah, Aninditya Putri Aryanti Aryanti Aurora Rahma Koesdinar Budiman , Budiman Chirgo Rahmat Basdiwo Della Desliana Dicky Santosa Diemas Abdurahman Hernawan Diyana Djatnika Setiabudi Eka Nurhayati Enggar Hestu Enggar Hestu, Enggar Fajar A Yulianto Fani Amalia Putri Faradilla Azzahra Dinariansyah Fathin Azimati Nadila Fattahrani Ferawati Oktaviani Ghefira Nurul Fatimah Haikal Ahmad Nur Rahman Herri S. Sastramihardja Ida Parwati Iman Apriana Effendi Ismawati Ismet Muchtar Nur Jannatin Aliya Indrina Laila, Nazmy Noor Lelly Yuniarti Lisa Adhia Garina Listya Hanum Siswanti Lukman Hakim Muttaqien Maya Tejasari Meike Rachmawati Melati, Rina Meta Maulida Damayanti Miranti Kania Dewi Molandi Septiana Purwadi Muhammad Faris Rizki Nadiyya Yasmin Nasywa Putri Rahmawati Nugraha Nuzirwan Acang Purbaningsih, Purbaningsih Rahmi, Fadhilat Sabila Raihan Zakki Ratna Damailia RB. Soeherman Herdiningrat Retno Ekowati Reyiena Kusumaryani Rahmat Rika Nilapsari Rio Dananjaya Robian, Rian Sadeli Masria Salsabila Adinda Rahman Samsudin Surialaga Sara Shafira Sayyidah Fauziyah Siti Annisa Devi Trusda, Siti Annisa Devi Siti Salma Nurhaliza Fitriadi Siti Salma Nurhaliza Fitriadi Suryani, Yani Dewi Susan Fitriyana Titik Respati Tri Wahyuni Tryando Batara Tursina, Alya Umar Islami Umar Islami Umar Islami Widhy Yudistira Nalapraya Winni Maharani Yani Dewi Suryani Yani Triyani Zikri Resa Hasrian Zulfi Noor Fadia Zulfi Noor Fadia