Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Manuskripta

Elit Lokal Palembang dan Polemik Kebangkitan Kesultanan Palembang: Menggali Sumber Sejarah melalui Manuskrip Endang Rochmiatun
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.373 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i1.103

Abstract

The State of Sultan Mahmud Badaruddin II's descendant (zuriat) after the Sultanate of Palembang was controlled by Dutch Colonials in the XVIII AD century, Palembang Sultanate was the center of Islamic studies in Indonesian Archipelago and was the continuity of the development of Islam in Aceh which declined in the XVII AD. In XVIII AD ulema and intellectuals received great encouragement and attention from the Sultanate which causes the emergence of ulema writers whose works still can be read and taught in the society til now. The development of Islamic intellectuals at that time is inseparable from the role of the rulers (sultan) who ruled. The Sultan highly encouraged the ulema and intellectuals in conducting Islamic studies, especially during the reign of Sultan Mahmud Badaruddin II both nationally and internationally. --- Keadaan zuriat (keturunan) Sultan Mahmud Badaruddin II setelah Kesultanan Palembang dikuasai Kolonial Belanda pada Pada abad XVIII M, Kesultanan Palembang merupakan pusat kajian Islam di Nusantara dan merupakan kontinuitas dari perkembangan Islam di Aceh yang megalami kemunduran pada abad XVII M. Pada abad XVIII M tersebut para ulama dan cendekiawan mendapat dorongan serta perhatian yang besar dari pihak Kesultanan, sehingga muncul ulama-ulama penulis yang karya-karyanya masih tetap dapat dibaca dan diajarkan di masyarakat hingga sekarang. Berkembangnya bidang intelektual Islam pada masa itu tak lepas dari peran para penguasa (sultan) yang meme-rintah. Para Sultan sangat mendorong para ulama dan cendekiawan dalam melakukan kajian keislaman, terutama pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II baik nasional maupun internasional.
Orang Laut, Bajak Laut, dan Raja Laut: Dinamika Kehidupan dan Kekuasaan dalam Naskah Kontrak Sultan-sultan Palembang Abad 18-19 Endang Rochmiatun
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3524.471 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.75

Abstract

Sriwijaya Kingdom and Palembang Sultanate were the maritime empires that could not be separated from an understanding of the sea. The role of sea as a liaison with other regions also made their knowledges opened, because any information and knowledge from the outside world or otherwise entered through the sea. The Manuscript Kontrak Sultan-Sultan Palembang of 18-19 centuries reveal the dynamics of the life and power of the sea. "Pirate" is one side of the power at sea which are often referred in the text. Behind the pirates actually contained another role in the dynamics of sea life, which is "the people of sea" and "the king of the sea". This study examines the dynamics of life and power of the Palembang Sultanate in 18-19 century as a maritime empire. Role, position, even the existence of conflict and domination helped to reinforce the relationship between the three entities of the sea community. In addition, this study also examined the agreements, conventions, and rules regulating those involved in aquatic life in the Palembang Sultanate. --- Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang adalah kerajaan maritim yang tak lepas dari pemahaman terhadap laut. Laut sebagai penghubung dengan wilayah lain juga telah membuka cakrawala pemikiran mereka, sebab informasi dan ilmu pengetahuan dari dunia luar atau sebaliknya masuk melalui laut. Naskah Kontrak Sultan-Sultan Palembang dari abad 18-19 mengungkap adanya dinamika kehidupan dan kekuasaan di laut. “Bajak laut” merupakan salah satu sisi kekuasaan di laut yang banyak disebut dalam naskah tersebut. Dibalik adanya bajak laut sebenarnya terdapat peran dalam dinamika kehidupan lainnya di laut yakni adanya “orang laut” dan “raja laut”. Kajian ini mengupas dinamika kehidupan dan kekuasaan Kesultanan Palembang pada abad 18-19 sebagai kerajaan maritim. Peran, kedudukan, bahkan adanya konflik dan dominasi ikut mewarnai hubungan antara ketiga entitas komunitas laut tersebut. Selain itu, kajian ini juga akan menelaah adanya kesepakatan-kesepakatan, dan konvensi aturan main (hukum) dalam mengatur mereka yang terlibat dalam kehidupan di perairan dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang.
Naskah Gelumpai di Uluan Palembang: Antara Ajaran Islam dan Ajaran Hindu-Buddha Endang Rochmiatun
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.494 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.129

Abstract

This article discusses the manuscripts of gelumpai (bamboo blades) which have ulu or kaganga characters which are the cultural treasures of riverbank communities in South Sumatra. One of the gelumpai manuscripts in this study is a manuscript consisting of 14 bamboo blades. This manuscript was made around the 16th-17th century AD, which was produced by the ulama of the Palembang Darussalam Sultanate using upstream and Javanese characters. The contents of this text tell about profiles, character and social values, and invitations to refer to Islam as Shari'a in life. Another "gelumpai" text is a manuscript consisting of eight bamboo blades. This manuscript comes from the sub-ethnic Malays who occupy the Musi Rawas region today. Fill in the text of the text containing the teachings in Hinduism and Buddhism, with many mentioning the word Maharesi and pastors who recite mantras. --- Tulisan ini membincangkan tentang naskah gelumpai (bilah bambu) yang beraksara ulu atau kaganga yang menjadi kekayaan budaya masyarakat tepian sungai di Sumatera Selatan. Salah satu naskah gelumpai dalam kajian ini adalah naskah yang terdiri dari 14 bilah-bilah bambu. Naskah ini dibuat sekitar abad ke-16-17 Masehi, yang diproduksi oleh kalangan ulama Kesultanan Palembang Darussalam dengan menggunakan aksara hulu dan bahasa Jawa. Isi dari naskah ini menceritakan tentang profil, karakter dan nilai-nilai sosial, serta ajakan agar merujuk Islam sebagai syariat dalam kehidupan. Naskah “gelumpai” lainnya yakni naskah yang terdiri dari 8 bilah bambu. Naskah ini berasal dari sub Etnis Melayu yang menempati kawasan Musi Rawas saat ini. Isi teks naskah berisikan tentang ajaran-ajaran dalam Agama Hindu dan Budha, dengan banyak menyebutkan kata Maharesi dan pendeta yang membaca mantra-mantra.