Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGARUH PROPORSI TEPUNG DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) DAN PURE IKAN PATIN (PANGASIUS HYPOPHTHALMUS) TERHADAP MUTU SENSORI DAN MUTU KIMIA BROWNIES Afifah, Azizah Nur; Sajiman; Mas’odah, Siti; Andrestian, Meilla Dwi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.30011

Abstract

Anemia zat besi masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Prevalensi tertinggi yaitu balita (47,0%), yang dapat menyebabkan stunting. Kejadian tersebut dapat dicegah dengan memenuhi kebutuhan zat besi. Bahan alternatif meningkatkan asupan zat besi adalah daun kelor yang mengandung zat besi nonheme, sehingga membutuhkan protein hewani untuk meningkatkan penyerapan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh proporsi tepung daun kelor dan pure ikan patin terhadap mutu sensori dan kimia brownies, Penelitian ini adalah true experimental. Data yang dikumpulkan adalah mutu sensori dengan metode hedonik scale di Laboratorium Organoleptik Poltekkes Banjarmasin, sedangkan  mutu kimia zat besi dengan SSA dan protein dengan kjeldahl di BARISTAND. Analisis mutu sensori dilakukan dengan Friedman dan mutu kimia dengan One Way Anova. Penelitian menunjukkan yang paling disukai terkait warna (57%), aroma (64%), dan rasa (83%) pada kontrol, sedangkan tekstur (53%) pada P3. Kadar zat besi tertinggi pada P3 (70,61 mg/kg) dan terendah kontrol (51,68%), sedangkan kadar Protein tertinggi pada P1 (8,04%) dan terendah P3 (6,71%).  Tidak ada pengaruh proporsi tepung daun kelor dan pure ikan patin terhadap tekstur brownies (p = 0,923). Namun, ada pengaruh terhadap warna, aroma, dan rasa brownies (p = 0,001; 0,000; 0,002). Ada pengaruh proporsi tepung daun kelor dan pure ikan patin terhadap zat besi (p = 0,028) dan protein (p = 0,001) brownies. 
Effects of Torbangun Leaves(Coleus amboinicus Lour) Extract on Blood Glucose and Super Oxide Dismutase Activity in Hyperglycemic Rats Andrestian, Meilla Dwi; Damanik, Muhammad Rizal Martua; Anwar, Faisal; Yuliana, Nancy Dewi
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 14 No. 3 (2019)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.66 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2019.14.3.149-156

Abstract

This research aimed to analyze the yield of torbangun extract, flavonoid content, and antioxidant activity of TE-S and its effect on the activity of SOD enzymes and blood glucose level in hyperglycemic rats as a DM animal model. The water content of simplicia was measured by the gravimetric method. The antioxidant activity of TE-S was determined using the DPPH method, while the total flavonoid was measured using spectrophotometry. The study was a completely randomized design using 25 Sprague Dawley rats. Rats were divided into four groups, namely NG (negative control, hyperglycemic rats), N (normal rats), H-IM (control of metformin drugs 62.5 mg/kg of BW), and H-IT (TE-S 620 mg/kg of BW). The treatment was carried out for 14 days. FBG levels were taken on day 0, 4, 7, 11, and 14, measured using a glucometer, while blood serum SOD levels were measured using ELISA. The study showed the water content of torbangun simplicia was 7.99% and TE-S yield from simplicia was 4.69%. TE-S contains total flavonoids of 3.91% and antioxidant activity (IC50) of 306.28 ppm with a standard of 1 ppm vitamin C. TE-S treatment significantly decreased FBG (p=0.005, α=0.01) and increased SOD levels in hyperglycemic rats. TE-S has the potential to increase blood serum SOD levels by contributing to the availability of antioxidants and decreasing blood glucose levels in hyperglycemic rats. 
Salıva pH, Carıes and OHI-S Score in Stuntıng Pre-School Chıldren in The Swamp Area Utami, Naning Kisworo; Andrestian, Meilla Dwi; Insana, Aima
Medical Laboratory Technology Journal Vol. 11 No. 2 (2025): December
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Analis Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/mltj.v11i2.688

Abstract

Stunting remains a major global health issue and is associated with impaired physical and cognitive development, as well as increased susceptibility to oral diseases such as dental caries. Environmental factors, including acidic peatland water, may further aggravate oral health conditions among children living in swamp areas. This study aimed to analyze the relationship between salivary pH, dental caries severity (def-t index), and oral hygiene status (OHI-S) in preschool children with stunting living in peatland regions of South Kalimantan, Indonesia. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted involving 32 preschool children aged 2–5 years residing in the working area of the Martapura Timur Public Health Center. Data collection included clinical examination of caries using the WHO criteria, salivary pH measurement with a Krisbow digital pH meter, and assessment of oral hygiene using the Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S). Statistical analysis was performed using the Spearman correlation test. The results showed that salivary pH ranged from 5.5 to 7.0, def-t scores ranged from 2 to 8 (mean = 5.34 ± 1.78), and OHI-S scores were 0.00 in 22 children (68.7%) and >0.00 in 10 children (31.3%). A significant association was found between salivary pH and dental caries severity (p = 0.005; α = 0.05), indicating that lower salivary pH is associated with higher caries prevalence. In conclusion, stunted preschool children in peatland areas exhibited acidic salivary conditions and a high caries burden despite relatively good oral hygiene status. These findings highlight the importance of integrating nutritional rehabilitation and oral health education programs to reduce the risk of dental caries in children living in environmentally vulnerable swamp regions.
PEMBERDAYAAN LANSIA MELALUI GIZI BERBASIS PANGAN LOKAL UNTUK MENCEGAH RISIKO ALZHEIMER DI DESA MELAYU TENGAH: Vol. 2 No.1 (2025) : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT MERDEKA MEMBANGUN NEGERI (ABDIMERKA) Mahpolah; Meilla Dwi Andrestian; Mahdalena; Zulfiana Dewi; Rusmini Yanti; Niken Pratiwi; Rutmauli Hutagaul; Laila Sholehah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Merdeka Membangun Negeri Vol. 2 No. 1 (2025): Desember
Publisher : STIKES BANYUWANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/abdimerka.v2i1.713

Abstract

Peningkatan angka harapan hidup di Indonesia berdampak pada bertambahnya jumlah lansia yang berisiko mengalami penyakit degeneratif seperti alzheimer. Kondisi ini menuntut adanya upaya pencegahan berbasis komunitas, terutama di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema Pemberdayaan Lansia Melalui Gizi Berbasis Pangan Lokal Untuk Mencegah Risiko Alzheimer dilaksanakan di Desa Melayu Tengah, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Program ini bertujuan meningkatkan literasi gizi, keterampilan pengolahan pangan lokal, dan kapasitas kader dalam mendukung pencegahan Alzheimer. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Agustushingga September 2025 dengan melibatkan 30 lansia, 30 keluarga pendamping, dan 10 kader posyandu serta posbindu. Metode yang digunakan meliputi edukasi interaktif, pelatihan kader, dan demonstrasi pengolahan pangan fungsional berbasis bahan lokal dengan desain pra– eksperimen one group pretest-posttest. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta dari rata-rata 55,0 menjadi 83,3 setelah intervensi. Kegiatan juga meningkatkan keterampilan kader dalam edukasi gizi serta pemanfaatan bahan pangan lokal seperti kelor, talas, dan singkong sebagai sumber antioksidan alami. Kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah desa, PKK, dan puskesmas menjadi faktor keberhasilan utama program. Dengan pendekatan partisipatif dan pemanfaatan sumber daya lokal, kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan Alzheimer dan dapat dijadikan model intervensi berkelanjutan di wilayah pedesaan.