Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pelatihan Public Speaking Bagi Gerakan Pemuda Ansor Ciledug Sagiyanto, Asriyani; Liliyana; Lancia, Ferari; Pratama, Muhammad Anggi Azhar
Jurnal Abdimas Komunikasi dan Bahasa Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/abdikom.v4i2.2995

Abstract

Gerakan Pemuda (GP) Ansor adalah organisasi kepemudaan kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaan yang berwatak kerakyatan. Gerakan Pemuda Ansor atau disingkat GP Ansor adalah badan otonom di bawah Nahdatul Ulama (NU). Organisasi ini awalnya bernama Gerakan Pemuda Ansor sebagai kelanjutan dari Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO) yang berganti nama menjadi Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama pada AD/ART NU. GP Ansor berdiri di Banyuwangi, Jawa Timur pada 10 Muharram 1353 Hijriyah atau bertepatan tanggal 24 April 1934. Pada organisasi tersebut tentunya memiliki permasalahan yang dihadapi, salah satunya berkaitan dengan bagaimana berkomunikasi dengan teknik yang persuasif di depan umum. Dari salah satu permasalahan yang dihadapi oleh GP Ansor Ciledug, kami dosen-dosen dari Fakultas Komunikasi Bahasa Universitas Bina Sarana Informatika, mencoba menawarkan sebuah solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, yaitu memberikan pelatihan public speaking kepada anggota GP Ansor Ciledug. Adapun pelatihan ini  dapat bermanfaat sebagai sarana pembelajaran bagaimana komunikasi yang baik dalam organisasi agar kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan program yang telah di rencanakan dan sesuai dengan target yang di harapakan. The Ansor Youth Movement (GP) is a social, national and religious youth organization with a populist character. The Ansor Youth Movement or abbreviated as GP Ansor is an autonomous body under Nahdatul Ulama (NU). This organization was originally called the Ansor Youth Movement as a continuation of Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO) which changed its name to the Ansor Nahdlatul Ulama Youth Movement in the NU AD/ART. GP Ansor was founded in Banyuwangi, East Java on 10 Muharram 1353 Hijriyah or 24 April 1934. This organization certainly has problems it faces, one of which is related to how to communicate using persuasive techniques in public. Based on one of the problems faced by GP Ansor Ciledug, we lecturers from the Faculty of Language Communication, Bina Sarana Informatika University, tried to offer a solution to resolve this problem through this community service activity, namely providing public speaking training to members of GP Ansor Ciledug. This training can be useful as a means of learning how to communicate well within an organization so that the activities carried out are in accordance with the planned program and in accordance with the expected targets.
Model Komunikasi Keluarga dalam Membangun Resilensi Anak Korban Perundungan: Studi Kasus pada Siswa Wilayah Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan Sagiyanto, Asriyani; Ita Suryani
Jurnal Public Relations (J-PR) Vol. 6 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jpr.v6i2.10304

Abstract

Komunikasi keluarga adalah proses pertukaran pesan, informasi, nilai, dan emosi yang terjadi antaranggota keluarga. Komunikasi ini memainkan peran penting dalam membentuk karakter, perilaku, serta kesehatan mental dan emosional anggota keluarga, khususnya anak-anak. Dalam konteks resiliensi anak korban perundungan, komunikasi keluarga menjadi sarana utama pembentukan dukungan emosional, pemberdayaan diri, dan pembelajaran sosial yang berfungsi sebagai fondasi ketahanan anak. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana menemukan pendekatan komunikasi keluarga yang paling efektif dan panduan komunikasi yang dapat membantu dalam membangun resiliensi anak korban perundungan. Menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan pendekatan studi kasus di wilayah Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan perspektif Teori Resiliensi yang dikembangkan oleh Patrice M. Buzzanell dan Teori Sistem Keluarga (Family System Theory) yang dikembangkan oleh Bateson dkk, analisis menggunakan kedua teori tersebut dikatakan bahwa resiliensi sebagai kapasitas atau kemampuan untuk beradaptasi secara positif dalam mengatasi permasalahan hidup yang signifikan, untuk menghadapi, mengatasi, belajar dari, serta bertahan ketika mendapatkan permasalahan dan kesulitan hidup atau keterpurukan yang membuatnya menjadi tak berdaya serta mampu untuk bangkit dari keterpurukan tersebut sehingga menjadi sebuah pribadi yang lebih baik dan keluarga dipandang sebagai suatu sistem yang berisi pola-pola interaksi antar anggota keluarga yang dinamis dalam upayanya memenuhi tujuan bersama.
Citra Toxic Masculinity Pria dalam Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” Shafira, Syari; Sagiyanto, Asriyani; Astuti, Fajar Diah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena toxic masculinity dalam budaya patriarki Indonesia sering dinormalisasi melalui media film, seperti terlihat pada 401.975 kasus kekerasan perempuan tahun 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos representasi toxic masculinity pria dalam film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis (2024) menggunakan semiotika Roland Barthes. Jenis kualitatif deskriptif dengan populasi 54 adegan (durasi 1:42 jam), sampel 8 adegan purposive. Instrumen peneliti, analisis Miles-Huberman (reduksi, penyajian, kesimpulan) triangulasi literatur. Hasil temukan lima pola: dominasi verbal, represi emosi, kekerasan fisik, kontrol mobilitas perempuan, normalisasi agresi patriarkal. Kesimpulan: Film kritisi konstruksi sosial destruktif ini via mitos Barthes, sarankan literasi media setara gender.