Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Production of Purified Sodium Chloride as Industrial Standard Wiwit Sri Werdi Pratiwi; Makhfud Efendy; Nike Ika Nuzula; Mohammad Rahem; Fawait Afnani
Juvenil Vol 4, No 4: November (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i4.23053

Abstract

ABSTRACTThe research described about chemical treatments to increase percentage of sodium chloride from crude salt which was obtained from four districts on Madura Island. The conventional salt process contains percentage of sodium chloride 85.99%; 81.90%; 84.825% and 86.87% from Sumenep, Pamekasan, Sampang and Bangkalan respectively. Those results were still below the standard quality of industrial salt (98.5% of dry base). In this study, increasing percentage of sodium chloride was done by re-crystallization method. Crude salt was diluted with distilled water to form saturated solution, then added sodium hydroxide, barium chloride and hydrochloride acid to remove impurities such as magnesium hydroxide, calcium hydroxide, potassium hydroxide, barium sulfate, and carbonic acid. The results showed that the purified of sodium chloride enhanced 100.03%; 98.86%; 98.86% and 99.7% for salt products from Sumenep, Pamekasan, Sampang and Bangkalan, respectively and accepted by industrial standard.Keywords: Purified salt, chemical treatments, industrial standard
DETERMINATION OF VITAMIN C CONTENT IN BELL PEPPER (Capsicum annuum L.) WITH DIFFERENT PROTIC POLAR SOLVENT BY UV-VIS SPECTROSCOPY Afnani, Fawait; Yanti, Jamilah Hamidi; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi
Jurnal Kimia Riset Vol. 8 No. 2 (2023): December
Publisher : Universitas Airlangga, Campus C Mulyorejo, Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v8i2.44865

Abstract

Bell pepper can be an antioxidant and has many health benefits because of the high content of vitamin C. Vitamin C contents in yellow and orange bell peppers were extracted using different protic polar solvents and analyzed using the UV-Vis Spectrophotometry method. In this research, the bell peppers were extracted using the maceration technique for two days in 90% concentration of solvents (methanol and ethanol, respectively). Subsequently, the maximum wavelength was determined, and then 100 ppm ascorbic acid was used as a standard solution to analyze vitamin C content. Linearity based on a calibration curve is used to obtain the correlation coefficient of concentration between the standard solution and vitamin C levels in the sample. The result of UV-Vis spectroscopy analysis of this sample shows 373.5 nm of λmax. The linearity is shown in the equation y = 0.0006 x + 0.019. The vitamin C content in all samples had significant differences based on randomized complete block design (RCBD) test result with α = 0.05. The vitamin C level in the yellow pepper sample with an ethanol solvent (340 mg/100 g) was higher than that of the orange pepper sample with ethanol (251 mg/100 g). Meanwhile, the vitamin C content in the sample of yellow peppers with methanol solvent (562.5 mg/100 g) was smaller than that of orange peppers with methanol solvent (757.5 mg/100 g). These contents indicated a different result in the level sources of vitamin C, even if the maceration process used a solvent with a higher dielectric constant.
Aktualisasi Patronasi untuk Membangun Perilaku Peduli Lingkungan pada Kalangan Siswa Sekolah Adiwiyata di Padelegan Pamekasan Asih, Eka Nurrahema Ning; Rizqiyeh, St.; Sofiya, Lely; Widiyawati, Devita; Setiawati, Sulastiana; Nuzula, Nike Ika; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Kartika, Ary Giri Dwi; Wicaksono, Ashari; Siswanto, Aries Dwi; Efendy, Makhfud
Mestaka: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58184/mestaka.v4i3.632

Abstract

Padelegan Village is a coastal village that has a high risk of experiencing physiological stress in the form of pollution produced by domestic waste and industrial waste. This community service activity aims to foster an attitude of caring for the environment, especially character building in Padelegan 1 Elementary School students from an early age. This activity was carried out using three activity programs, namely socializing environmental awareness, reforestation practices through planting green beans and family medicinal plants (toga), education on types of waste, and making rubbish bins using used goods (gallons). The results of the activity showed that as many as 30 students representing 10 students each from classes IV, V, and VI showed that all students were interested in applying and re-practicing the activities that had been carried out. This shows that the entire program that has been carried out and the objectives of the program that have been implemented have succeeded in fostering an attitude of caring for the environment from an early age.
ANALISIS KADAR NaCl DAN MIKROB PADA BUMBU CAMPOR LORJUK DENGAN PENAMBAHAN GARAM KAYA MINERAL Ramadhani, Andini Rizky; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Siswanto, Aries Dwi; Nuzula, Nike Ika; Kartika, Ary Giri Dwi; Efendy, Makhfud; Asih, Eka Nurrahema Ning
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 21, No 3 (2025): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.21.3.216-222

Abstract

Campor lorjuk merupakan makanan khas Madura berbahan dasar lorjuk (Solen sp.) dan rempah-rempah pilihan yang mudah didapatkan di pasar. Natrium yang terkandung dalam garam konsumsi berperan bagi tubuh sebagai sumber elektrolit. Namun, konsumsi garam yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi. Tujuan penelitian ini untuk menentukan perlakuan terbaik bumbu campor lorjuk dengan penambahan garam kaya mineral berdasarkan parameter kadar NaCl terendah dan mikrob (E.coli) sebagai parameter kelayakan pangan pada produk perikanan. Empat sampel garam kaya mineral (K, F1, F2, F3) dianalisis meliputi kadar NaCl dan kadar air, sedangkan empat sampel bumbu campor lorjuk dengan penambahan berbagai jenis garam yakni N = K (tanpa lorjuk), P1 = F1, P2 = F2, dan P3 = F3 (masing-masing 13 g lorjuk) meliputi kadar NaCl, kadar air, dan uji mikroba. Kadar NaCl garam kaya mineral berkisar antara 78% (F3) hingga 93% (K), sementara kadar air berkisar antara 4,9% (F3) hingga 6,5% (F2). Pada kadar NaCl bumbu tertinggi N sebesar (62%) dan terendah P3 sebesar (49%), sementara itu, kadar air berkisar antara 18% (P3) hingga 20% (N, P1, P2). Berdasarkan karakteristik kimia perlakuan (P3) pada bumbu campor lorjuk yaitu NaCl 49%, kadar air 18%. Hasil pengujian mikrobiologi bumbu campor lorjuk sampel (bubuk lorjuk, N, P1, P2, P3) terindikasi negatif <3 MPN/g. Perlakuan P3 yang menggunakan garam kaya mineral F3 menunjukkan hasil terbaik (kadar NaCl terendah dan kadar air optimal), serta memenuhi syarat mutu mikrobiologi (negatif E. coli <3 MPN/g). Oleh karena itu, formulasi F3 direkomendasikan sebagai yang terbaik dan aman dikonsumsi.
Inovasi produk bumbu kaldu kokot Madura dengan penambahan garam kaya mineral Asih, Eka Nurrahema Ning; Salsabila, Marwa; Siswanto, Aries Dwi; Hafiludin; Nuzula, Nike Ika; Kartika, Ary Giri Dwi; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Efendy, Makhfud
Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M) Vol. 6 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jp2m.v6i4.24195

Abstract

Garam merupakan salah satu komoditas laut utama yang melimpah di Pulau Madura, namun pemanfaatannya sebagai bahan penyedap pada produk pangan lokal, khususnya produk garam kaya mineral, masih sangat terbatas dan belum dioptimalkan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi masyarakat dalam mengembangkan bumbu kaldu kokot khas Madura berbahan garam kaya mineral sebagai inovasi pangan fungsional. Pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif berupa penyuluhan, pelatihan  praktik pembuatan garam kaya mineral, serta demonstrasi formula bumbu instan, yang disertai diskusi interaktif dan pembagian modul pelatihan. Evaluasi dilakukan melalui kuisioner berbasis skala Likert sebelum dan sesudah intervensi untuk mengukur perubahan pengetahuan dan keterampilan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan, yaitu pemahaman dan kemampuan peserta dalam memproduksi bumbu sehat kaldu kokot naik dari 46.9% menjadi 87.14% setelah pelatihan. Kegiatan ini berkontribusi pada upaya pelestarian kuliner tradisional, peningkatan nilai ekonomi garam lokal, serta promosi pola makan sehat melalui diversifikasi produk pangan unggulan. Implikasi jangka panjangnya, program ini membuka peluang pemberdayaan masyarakat dan pengembangan usaha berbasis produk inovasi garam kaya mineral di daerah sentra produksi garam Madura.
Distribusi Barium Terlarut pada Estuari dan Laut Padelegan Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan Hidayatullah, Muhamad Aziz; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Kartika, Ary Giri Dwi; Indriyawati, Novi; Efendi, Makhfud
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.49525

Abstract

Barium (Ba) merupakan salah satu elemen minor di perairan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi apabila dimanfaatkan sebagai produk garam turunan. Sumber utama Ba terlarut berasal dari sungai, dan estuari menjalankan peran penting sebagai pengontrol fluktuasi kadar Ba terlarut pada sungai sebelum masuk ke laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Ba terlarut, distribusi Ba terlarut dan korelasi Ba terlarut dengan salinitas. Kadar Ba terlarut diketahui dari hasil pengujian sampel air laut yang diambil di 9 titik mulai dari daerah estuari hingga laut lepas. Pengujian kadar Ba terlarut menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry sesuai SNI 06-6989.39-2005. Kadar Ba terlarut di Perairan Padelegan berkisar antara 0,009-0,003 mg/L. Hasil visualisasi distribusi kadar Ba terlarut tertinggi berada di estuari dan kadar terendahnya berada di stasiun laut lepas. Distribusi Ba terlarut dari estuari hingga laut lepas menunjukkan kadar yang menurun secara bertahap. Hasil korelasi antara kadar barium terlarut dengan salinitas berbanding lurus yang disebabkan oleh intrusi air laut.  Barium (Ba) is a minor element in marine waters which has high economic value when used as a derivative salt product. The main source of dissolved Ba comes from rivers, and estuaries play an important role as controlling fluctuations in dissolved Ba levels in rivers before they enter the sea. This research aims to determine dissolved Ba levels, dissolved Ba distribution and the correlation of dissolved Ba with salinity. Dissolved Ba levels are known from the results of testing seawater samples taken at 9 points from the estuary area to the open sea. Dissolved Ba levels were tested using Atomic Absorption Spectrophotometry based on SNI SNI 06-6989.39-2005. Dissolved Ba levels in Padelegan Water range between 0,009-0,003 mg/L. Visualization results of the distribution of the highest dissolved Ba levels are in estuaries and the lowest levels are at open sea. The distribution of dissolved Ba from the estuary to the open sea shows gradually decreasing levels. Correlation results between dissolved barium levels and directly proportional salinity caused by seawater intrusion.
Mutu produk saus hidrolisat kerang tahu (Meretrix sp.) fortifikasi garam konsumsi kadar NaCl 87%: Product quality of hydrolyzate tofu shell sauce (Meretrix sp.) fortification of consumption salt with 87% NaCl content Salsabila, Marwa; Asih, Eka Nurrahema Ning; Kartika, Ary Giri Dwi; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Efendy , Makhfud
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 4 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(4)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v28i4.62321

Abstract

Kerang tahu sebagai sumber protein hewani dari laut Madura berpotensi dijadikan produk olahan inovatif saus kerang. Rekacipta inovasi saus kerang perlu penambahan garam konsumsi kadar NaCl 87% untuk menciptakan rasa yang kompleks serta unik dan enzim papain untuk mempermudah proses hidrolisis kerang sebagai bahan baku. Standar produk berdasarkan SNI 01-4275-1996 serta PerBPOM nomor 13 tahun 2019 adalah acuan yang digunakan agar produk aman dikonsumsi. Tujuan penelitian adalah menentukan formula terbaik serta menganalisis perbedaan signifikan penggunaan garam konsumsi dan enzim papain dengan konsentrasi yang berbeda terhadap karakteristik fisik, kimia serta mikrobiologi saus kerang (Meretrix sp.). Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan metode eksperimen meliputi preservasi kerang, hidrolisis kerang, pembuatan saus, uji karakteristik saus, yaitu parameter fisika (viskositas), kimia (proksimat dan pH) serta mikrobiologi (Angka Lempeng Total dan E. coli). Perbandingan konsentrasi dalam proses hidrolisis dengan persentase kerang (%): garam konsumsi (%): enzim papain (%), yaitu 89,1:1:9,9 (F1), 85,5:5:9,5 (F2), 81:10:9 (F3), 76,5:15:8,5 (F4), 72:20:8 (F5), 67,5:25:7,5 (F6). Hasil penelitian menunjukkan karakteristik fisik saus terbaik pada F2 dengan nilai viskositas 1.033±67,55 mPa.s. Berdasarkan SNI 01.4275:1996 dan PerBPOM nomor 13 tahun 2019 diketahui bahwa F3 merupakan formula terbaik berdasarkan karakteristik kimia dan mikrobiologi. Nilai prosimat F3 diantaranya kadar protein 3,81±0,03%, air 80,90±0,44%, abu 3,96±0,05%, lemak 1,57±0,18%, kabohidrat 9,74±0,69%, pH 5.90±0.00, sedangkan ALT 0,29x104 dan E. coli <3 MPN/g. Parameter fisik, kimia (air, abu, protein dan pH) dan mikrobiologi pada saus kerang memiliki perbedaan, sedangkan parameter kimia (lemak dan karbohidrat) tidak berbeda. Secara keseluruhan F3 direkomendasikan sebagai formula terbaik dan aman dikonsumsi masyarakat.
Edukasi Tata Kelola dan Kandungan Gizi Limbah Cair Pemindangan Ikan Cakalang sebagai Bahan Petis Madura Berkualitas di Poklahsar Tuna Jaya Asih, Eka Nurrahema Ning; Ismawati, Nurul; Fitriani, Atiqah; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Abidah, Indah Wahyuni; Kartika, Ary Giri Dwi; Nuzula, Nike I
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i3.20886

Abstract

Background: Optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan limbah pemindangan ikan cakalang perlu dilakukan karena limbah ini berpotensi mencemari perairan namun kaya nutrisi. Penyuluhan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mitra tentang pentingnya mengelola dan memanfaatkan limbah pemindangan ikan menjadi produk petis Madura yang bernilai gizi tinggi. Metode: Kegiatan melibatkan mitra yaitu Poklahsar Tuna Jaya dan pihak terkait. Tahapan kegiatan yang dilakukan berupa persiapan, penyuluhan, implementasi dan evaluasi. Kegiatan penyuluhan dilengkapi dengan kuisioner untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap materi penyuluhan. Hasil: Berdasarkan skala likert setelah penyuluhan dilaksanakan menunjukan 95% paham, 3% cukup paham dan 2% tidak paham mengenai pentingnya manajemen kelola limbah hasil pemindangan ikan. Respon peserta juga menunjukan 95% paham, 4% cukup paham dan 1% tidak paham mengenai kiat serta tahapan mempertahankan kandungan gizi pada air limbah hasil pemindangan ikan agar menghasilkan petis merah non histamin. Kesimpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini berimplikasi mampu meningkatkan pemahaman mitra dalam mengelola dan mempertahankan nilai gizi limbah pemindangan guna mempersiapkan bahan baku petis merah Madura berkualitas.
Studi Komparasi Parameter Lingkungan Proses Produksi Garam di Indonesia Fauziyah, Lailatul; Yulitasari, Fara’idhya Intan; Maulana, Ilham; Camila, Aysyah Fitria; Efendy, Makhfud; Nuzula, Nike Ika; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi
Rekayasa Vol 18, No 3: Desember, 2025
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/rekayasa.v18i3.28434

Abstract

Indonesia has great potential as a salt-producing country due to its extensive coastline and favorable geographical conditions. However, the quality and quantity of domestic salt production are still suboptimal and fail to meet the domestic industrial salt demand. This study aims to analyze and compare environmental parameters that influence the suitability of salt pond sites in several regions of Indonesia, as well as to understand the salt production process based on the deposition of impurities at various stages of crystallization. The study was conducted at eight locations with different climatological and hydrological characteristics, including rainfall, soil permeability and type, duration of sunlight, air humidity, wind speed, air temperature, evaporation rate, and water saturation. The results of the study indicate that environmental parameters play a role in determining the effectiveness and efficiency of the salt production process. Pati and Aceh Besar districts are classified as unsuitable (N) for soil parameters, thus requiring adaptive technologies such as geomembranes and boiling methods. The salt crystallization process begins with the flow of seawater from the bozem to the crystallization table, where impurities such as mud, sand, Fe₂O₃, CaCO₃, CaSO₄•2H₂O, and gypsum are gradually deposited. Meanwhile, NaCl deposits form on the crystallization table, and MgSO₄ and NaBr compounds are found in the bittern pond. This study emphasizes the importance of land suitability mapping based on environmental parameters to enhance national salt productivity and quality, as well as serving as a foundation for developing more adaptive salt production policies tailored to regional conditions.
Profil Kandungan Fitokimia Ekstrak Lamun Enhalus acoroides Sebagai Antibakteri Escherichia coli dan Vibrio harveyi dari Perairan Sapeken-Madura Eka Nurrahema Ning Asih; Siti Nihayatun Ni&#039;amah; Insafitri Insafitri; Ary Giri Dwi Kartika; Wiwit Sri Werdi Pratiwi; Nike I. Nuzula
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.39354

Abstract

Meningkatnya penggunaan antimikroba sintetik beresiko menghasilkan mutasi strain bakteri patogen resisten dan jumlah toksisitas perairan menyebabkan gagalnya budidaya perikanan. Perlu alternatif lain untuk mengatasi resiko ini dengan mengoptimalkan vegetasi laut kaya senyawa bioaktif sebagai antibakteri seperti lamun Enhalus acoroides dari perairan Sapeken. Tujuan penelitian adalah mengetahui kandungan fitokimia ekstrak E.acoroides dan menganalisis perbedaan signifikan zona hambat bakteri V. harveyi dan E. coli terhadap beberapa konsentrasi ekstrak E. acoroides. Metode ekstraksi menggunakan metode maserasi, uji fitokimia merujuk Harbone (1987) dan uji antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Terdapat 4 konsentrasi ekstrak yang diuji antibakteri yaitu 10000 ppm, 20000 ppm, 40000 ppm dan 80000 ppm, kontrol positif (kloramfenikol), dan kontrol negatif (aquades) dengan 3 kali ulangan selama 3x24 jam pengamatan. Uji ANOVA dan uji Tukey digunakan untuk mengetahui perbedaan signifikan pengaruh konsentrasi ekstrak E. acoroides terhadap masing-masing bakteri uji. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak E. acoroides dari perairan Sapeken mengandung alkaloid, saponin, dan triterpenoid. Diameter zona hambat bakteri E. coli berbeda nyata signifikan (p<0,05) terhadap konsentrasi ekstrak, sebaliknya diameter zona hambat V. harveyi tidak berbeda nyata signifikan (p>0,05) terhadap konsentrasi ekstrak. Konsentrasi 80.000 ppm merupakan konsentrasi terbaik sebagai antibakteri E. coli dan V. harveyi. Penelitian ini menjadi informasi awal pengembangan produk antimikroba berbahan E. acoroides.