Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Krisis Regenerasi Petani Muda Di Desa Karang Anyar Kecamatan Gunung Maligas Kabupaten Simalungun Fahmi Anshori; Lina Sudarwati; Rahman Malik; Bisru Hafi
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 3 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Juni 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i3.2349

Abstract

Krisis regenerasi petani muda adalah fenomena menurunnya tenaga kerja pada kalangan muda dalam sektor pertanian. Seperti di desa Karang Anyar berdasarkan data SIMLUHTAN Pertanian Desa Karang Anyar tahun 2022, jumlah petani muda usia dibawah 39 tahun hanya 39 orang dari 476 total jumlah petani. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan persepsi dan faktor pertimbangan pemuda pada jenis pekerjaan di sektor pertanian dan nonpertanian, serta penyebab kurang berminatnya pemuda menjadi petani, sehingga terjadi krisis regenerasi petani muda di desa tersebut. Lokasi penelitian berada di desa Karang Anyar, Simalungun. Adapun metode penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan pemuda lebih memilih jenis pekerjaan di luar pertanian daripada di sektor pertanian. Karena adanya persepsi pemuda jika bekerja di sektor luar pertanian, dinilai lebih memberikan jaminan penghasilan, meningkatkan status sosial, atau fasilitasnya yang nyaman. Dibandingkan sektor pertanian yang dinilai profesi yang berat, melelahkan, bekerja di tempat yang kotor, panas-panasan, penghasilannya rendah, dan dipandang rendah. Adanya persepsi tersebut menjadikan pemuda lebih mempertimbangkan jenis pekerjaan yang akan dipilih, yakni lebih memilih bekerja di luar pertanian. Enggannya pemuda bekerja menjadi petani selain karena faktor internal, juga karena adanya faktor eksternal seperti kurangnya edukasi, dukungan orang tua, serta belum adanya program intensif yang diberikan dari pemerintah dalam menunjang minat pemuda dalam dunia pertanian.
Representasi Nilai Multikultural dalam Interaksi Digital Siswa pada Grup Whatsapp Kelas di Lingkungan Multietnis: Studi Literatur Syandikha Andana; Gabriel Nainggolan; Karel Benyamin Obet Nego Kay; Suthan Muzakky; Oemar Ghibran Maftuh; Bisru Hafi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 05 (2026): MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi digital telah mengubah pola interaksi siswa, khususnya melalui penggunaan aplikasi WhatsApp sebagai media komunikasi utama dalam lingkungan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk interaksi digital siswa dalam grup WhatsApp kelas serta mengkaji representasi nilai-nilai multikultural yang muncul dalam interaksi tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi literatur, melalui analisis terhadap berbagai jurnal dan sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi digital siswa dalam grup WhatsApp bersifat dinamis dan efektif dalam mendukung kegiatan pembelajaran, seperti diskusi, penyampaian informasi, dan berbagi materi. Nilai-nilai multikultural seperti toleransi, saling menghargai, dan kesantunan berbahasa tercermin dalam komunikasi siswa, meskipun masih terdapat potensi pelanggaran norma komunikasi. Selain itu, perbedaan latar belakang budaya dapat menimbulkan miskomunikasi akibat keterbatasan komunikasi berbasis teks. Oleh karena itu, literasi komunikasi digital dan peran guru menjadi faktor penting dalam membangun interaksi yang inklusif dan harmonis
Perkawinan yang Dijodohkan vs. Perkawinan karena Cinta: Dilema Pasangan Suami-Istri di Indonesia Modern Frans Dwiansyah; Laudya Cynthia Fung; Kendy Tri Wijaya Sihombing; William Chawi Sembiring; Nuah Zeffanya Sembiring; Bisru Hafi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas perbandingan antara dua metode pemilihan pasangan yang paling umum di Indonesia, yaitu arranged marriage (perjodohan) dan love marriage (menikah atas dasar pilihan sendiri). Fokus utama penelitian ini adalah untuk melihat mana di antara keduanya yang memiliki ketahanan lebih kuat dan apa saja faktor yang membuat sebuah pernikahan bisa bertahan lama di tengah perubahan zaman. Masalah ini menjadi penting karena data dari Mahkamah Agung tahun 2025 menunjukkan adanya kenaikan angka perceraian sebesar 12% dari tahun sebelumnya, di mana sebagian besar kasus terjadi pada usia pernikahan di bawah lima tahun. Berdasarkan data temuan, penelitian ini mengungkapkan hasil yang cukup mengejutkan bagi banyak orang: pasangan yang melalui proses perjodohan ternyata memiliki tingkat perceraian yang jauh lebih rendah, yakni sekitar 29%, jika dibandingkan dengan pasangan love marriage yang mencapai 71%. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor kunci, seperti adanya dukungan penuh dari keluarga besar yang berperan sebagai mediator saat terjadi konflik dan adanya kesamaan nilai-nilai latar belakang antara kedua pihak. Selain itu, pasangan perjodohan cenderung memiliki ekspektasi yang lebih realistis sejak awal sehingga mereka tidak mudah kecewa jika menghadapi masalah rumah tangga. Namun, keberhasilan perjodohan ini sangat bergantung pada proses pilihannya; model yang paling ideal adalah “Demokratis Penuh”, di mana orang tua hanya memfasilitasi dan keputusan akhir tetap berada di tangan anak. Di sisi lain, bagi pasangan love marriage, kunci ketahanannya terletak pada kualitas komunikasi, rasa saling memiliki, dan keterbukaan agar rasa cinta tidak menurun seiring berjalannya waktu. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dan persiapan mental yang matang sebelum menikah jauh lebih menentukan masa depan pernikahan daripada sekadar cara bagaimana pasangan tersebut bertemu.
Peran Komunikasi dalam Mempererat Hubungan Antar Golongan Alya Saphira Zufa; Liberke Sinulingga; Mutiara Azzahra; Putri Khairina; Zoya Nova Amelia; Bisru Hafi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi sangat penting untuk menghubungkan berbagai kelompok dalam masyarakat yang berbeda-beda. Ketika ada perbedaan dalam budaya, agama, etnis, dan status sosial, hal ini bisa menjadi sumber konflik jika tidak diatasi dengan komunikasi yang baik. Penelitian ini ingin melihat bagaimana komunikasi dapat membantu menciptakan keharmonisan dan menguatkan hubungan antar kelompok. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan mempelajari berbagai sumber penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka, menerima, dan menghargai toleransi bisa mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan penghargaan antar satu sama lain. Selain itu, komunikasi juga dapat membantu menyelesaikan konflik dan membangun solidaritas dalam masyarakat. Maka dari itu, memperkuat komunikasi yang baik sangat penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis di tengah masyarakat yang beraneka ragam.
Streotip Sosial Sebagai Hambatan Dalam Hubungan Antar Golongan Janera Maharani; Wanda Habibah Al-Zahwa; Billy Dwy Nugraha Haryono; Ester Melvin Yansria Mendova; Ilham F Kurniawan; Mhd Habiburrahman; Bisru Hafi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran stereotip sosial sebagai hambatan dalam hubungan antar golongan. Hubungan antar golongan penting bagi keharmonisan sosial, namun sering terganggu oleh prasangka dan diskriminasi. Stereotip menyederhanakan penilaian terhadap kelompok lain dan dapat berkembang menjadi sikap negatif serta perilaku diskriminatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis deskriptif-analitis. Hasil menunjukkan stereotip terbentuk dari pengalaman terbatas, lingkungan, dan media, serta diperkuat oleh pembagian in-group dan out-group. Dampaknya adalah jarak sosial dan rendahnya kepercayaan. Upaya pengurangan stereotip diperlukan melalui interaksi inklusif dan pendidikan multikultural.
Co-Authors 105120100111001, RAHMAN MALIK Adiba Deeandra Agnes Putri Sembiring Aisyah Simanullang Alisyah Najla Butar Butar Alya Saphira Zufa Aura Dwi Kanti Aurellia Shaula Awi Febrian Badaruddin & Humaizi Badaruddin & Humaizi Billy Dwy Nugraha Haryono Carolin Sani M. Simarmata Cyrila Aryanti Br Sembiring Dafina Nabila Nasution Daniel Marcelino S Purba Dewi Priscilya Damanik Dwi Dara Sonya G. Pakpahan Dwi Dara Sonya Gracia Gracia Emilda Riana Purba Ester Melvin Yansria Mendova Evelyn Christy Sidabalok Examy Aurora Siregar Fadilla Nuraini Nazla Fahmi Anshori Fathia Rizaqna Fauza Syahiban FIka Zulfarina Fitrah Fatahillah Frans Dwiansyah Gabriel Nainggolan Gita Renata Br Karo Hadriana Marhaeni Munthe Hezekiel Marudut Tua Lumbantobing Ilham F Kurniawan Ipan Stumetru Tanjung Jack Totty Sanjaya Manik Janera Maharani Jelita Rosmawati Hutauruk Jesica Sihotang Jihan Mahirah Nasution John Moses Sintong Sinaga Junita Junita Karel Benyamin Obet Nego Kay Kasih Monica Saragih Kendy Tri Wijaya Sihombing Kevin Christian Tarihoran Khalisha Zhafira Laudya Cynthia Fung Laura Natalie Br. Tarigan Laura Natalie Br.Tarigan Liberke Sinulingga Luna Claudya br Purba M. Rifqi Athariq Maria Fatricia Naainggolan Mhd Habiburrahman Mutiara Azzahra Nabira Arafah Nadira Syifa Qanita Naila Annisa Siregar Naila Br Tarigan Naiya Rinaldi Putri Naya Nalamonda Nazwa Dhisa Aulia Nazwa Ramadhaniar Rasyidi Nikita Mikayla Nuah Zeffanya Sembiring Nurul Islamidiyah Oemar Ghibran Maftuh Putri Hanina Putri Khairina Putri Rahayu Rahmayanti Bintang Caniago Raisah Melati Putri Ratu Annisa Fitri Regina H.S Munthe Roly Natalia Situmorang Rumata Hotmauli Rumatal Rumatal Sarah Syafika Siregar Sismudjito . Siti Nasyrah Sri Anisha Devi Stefani Pia Benedigta Malau Steffanie Sihombing Steven Paulus Tampubolon Sudarwati, Lina Surahman Zalukhu Suthan Muzakky Syabilah Sasmika Sari Syandikha Andana Talitha Kirana Azzurra Tio Agnes Br Sinaga Triana Margaretha Napitupulu Venina Banurea Veronika Florin Tumanggor Wahyu Arif Syahputra Wanda Habibah Al-Zahwa William Chawi Sembiring Zalza Zwi Azzurriyah Zoya Nova Amelia