Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal Artefak

PEMANFAATAN MUSEUM REMPAH SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
Jurnal Artefak Vol 8, No 1 (2021): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.845 KB) | DOI: 10.25157/ja.v8i1.5087

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan museum rempah sebagai sumber pembelajaran, dampak perubahan, dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pemanfaata museum rempah dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Subjek penelitian ialah peserta didik dan guru sejarah di SMA Negeri 1 Ternate. Jenis sumber data meliputi guru sejarah dan peserta didik; tempat dan peristiwa; serta arsip dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Pengujian keabsahan data penelitian dilakukan dengan cara triangulasi. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian menggunakan model interaktif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penerikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemanfaatan museum rempah sebagai sumber pembelajaran sejarah dilakukan sekali waktu saja dan disesuiakan dengan materi pembelajaran. Dalam pelaksanaanya mengikuti tahapan-tahapan, yaitu: menentukan tujuan, menyusun rencana, membagi kelompok, penentuan judul, pelaksanaan, menyusun laporan, dan presentasi. Peserta didik mendapat informasi awal dari guru sebelum mengunjungi museum rempah. Dampak perubahan yang diperoleh adalah peserta didik menjadi aktif, berpikir kronologis, serta berpikir kesejarahan. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran di museum rempah adalah faktor waktu dan transportasi. Uapaya pemecahannya adalah dilakukan hanya dalam sekali waktu disesuaikan dengan kondisi pembelajaran disekolah.
TRADISI OROM SASADU DALAM SUKU SAHU TALAI DI WORAT-WORAT Gomer Rionaldo Sipondak; Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.873 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3337

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang tradisi orom sasadu di Desa Worat-Worat, prosesi tradisi orom sasadu suku Sahu Talai di Desa Worat-worat, serta makna dan nilai tradisi orom sasadu dalam suku Sahu di Desa Worat-Worat. Metode yang duganakan adalah metode kualitatif tipe fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwaprosesi upacara adat yang dilaksanakn pada masa ini juga memberi kesan kepada masyrakat Worat-Worat untuk selalu bersyukur atas hasil alam tersebut dalam prosesi upacara adat sehingga prosesi ritual adat orom sasadu patut dilestarikan. Prosesi ritual adat orom sasadu meliputi masa persiapan, yaitu dilaksanakan pertemuan-pertemuan adat antara masyarakat, kepala desa serta perangkat adat untuk membahas waktu pelaksanaan tradisi ritual adat orom sasadu. Pembukaan yakni menggantungkan kain putih berbentuk segi tiga mengelilingi sasadu dan pengibaran bendera induk. Pelaksanaan, yaitu makan secara bersama-sama sebagai wujud ucupan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang ada. Serta penutupan, yakni penurunan bendera induk (paji) di bumbungan rumah adat dan melepaskan kain putih yang berbentuk segi tiga dengan dilepaskannya kain putih berbentuk segi tiga yang digantung mengililingi sasadu, maka acara makan bersama di rumah adat atau orom sasadu dinyatakan berakhir dan masyarakat suku Sahu kembali ke kegiatan rutin keseharian mereka. Melalui orom sasadu, masyarakat Worat-worat juga diajarkan untuk memaknai hubungannya dengan lingkungan alam sekitar, hubungan sesama manusia, dan relasi deng yang Maha Kuasa. Nilai yang terkandung dalam tradisi orom sasadu yakni nilai sosial, nilai moral, nilai kebersamaan atau gotong royong, dan nilai religius. Tradisi orom sasadu perlu dilestarikan karena dibalik prosesi upacara adat tersebut tersimpan makna dan nilai yang baik.
TRADISI DAMA NYILI-NYILI DALAM MASYARAKAT TIDORE KEPULAUAN Farida Yusuf; Sidik Dero Siokona; Jamin Safi
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.609 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2441

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masayarakat Tidore Kepulauan, proses serta nilai-nilai dalam tradisi Dama Nyili-nyili pada masyarakat Tidore Kepulaun. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penilitian menunjukan bahwa masyarakat Tidore Kepulauan masih berpegang teguh pada adat dan tradisi leluhurnya karena memiliki makna dalam tata kehidupan masyarakat seperti tradisi dama nyili-nyili. Tradisi dama nyili-nyili adalah tradisi berkeliling masyarakat Tidore dengan membawa dama (obor) dan paji (bendera) dengan mengunjungi wilayah-wilayah atau daerah-daerah kesultanan Tidore. Proses ritual dama nyili-nyili diawali dengan sogoroho gunyihi (membersihkan tempat) yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya ritual, kemudian dilanjutkan dengan ratib taji besi (dabus). Ratib taji besi merupakan bagian dari dzikrullah atau mendoakan keselamatan dan kesejahteraan sultan, boki, (permaisuri), bobato, dan rakyat di Kesultanan Tidore. Setelah prosesi tersebut dilanjutkan dengan upacara kota paji (pelepasan bendera) dan dama. Upacara pelepasan dama dan paji diarak secara bergantian dari soa ke soa menuju kadato kie atau keraton kesultanan Tidore yang berkedudukan di Soasio. Nilai-nilai dalam tradisi dama nyili antara lain nilai-nilai religius dan persatuan. Nilai religius bermakna bahwa selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon kepada-NYA agar dijauhkan dari musibah. Sedangkan Nilai Persatuan bermakna bahwa keberagaman merupakan kodrat yang patut disyukuri. Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan baik itu suku, agama, ras atau golongan menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.This study aims to determine the perceptions of the Tidore Islands community, the processes and values in the Dama Nyili-Nyili tradition in the Tidore Kepulaun community. The method used is a qualitative method. The results of the study indicate that the Tidore Islands community still adheres to the customs and traditions of their ancestors because they have meaning in the life order of the community such as the dama nyili-nyili tradition. The Dama Nyili-Nyili tradition is a tradition of traveling around the Tidore community by bringing dama (torches) and paji (flags) by visiting the regions or areas of the Sultanate of Tidore. The dama nyili-nyili ritual process begins with sogoroho gunyihi (cleaning the place) which is used as a place for the ritual, then followed by an iron spur ratib (dabus). Iron spurs Ratib is part of the Dhikrullah or pray for the safety and welfare of the sultan, boki, (empress), bobato, and the people in the Sultanate of Tidore. After the procession continued with the city ceremonies of paji (release of the flag) and dama. The release ceremony of dama and paji was paraded alternately from soa to soa to Kadato Kie or the Sultanate of Tidore sultanate based in Soasio. Values in the Dama Nyili tradition include religious values and unity. Religious value means that always draw closer to Allah and ask Him to be kept away from disaster. While the Value of Unity means that diversity is a nature that is thankful for. In social life, differences in terms of ethnicity, religion, race or class become a force in maintaining the unity and integrity of the nation.
KEARIFAN LOKAL SEBAGAI IDENTITAS ETNIK: TRADISI SALAI JIN DALAM MASYARAKAT TIDORE KEPULAUAN Yusri A Boko; Jamin Safi
Jurnal Artefak Vol 9, No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.877 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i1.6638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) persepsi masyarakat tentang tradisi Salai Jin dalam Masyarakat Tidore Kepulauan; (2) proses ritual tradisi Salai Jin dalam masyarakat Tidore Kepulauan; dan (3) mengidentifikasi strategi pewarisan tradisi Salai Jin Masyaraka Tidore Kepulauan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Lokasi dan subyek penelitian adalah pemangku adat dan masayarakat pelestarian tradisi salai Jin di Tidore kepulauan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Pengujian keabsahan data penelitian dilakukan dengan triangulasi data/sumber dan triangulasi data. Teknik analisis data dalam penelitian adalah reduksi data, penyajian data, dan penerikan simpulan. Dalam persepsi masyarakat Tidore adalah Jin hadir sebelum kehadiran manusia dibumi. Masyarakat Tidore berpegang teguh pada pada nilai-nilai keluhuran yang diwariskan oleh leluhurnya. Ritual tradisi Salai Jin merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas nikmatNya. Dalam ritual salain Jin sebelum waktu pelaksanaan, semua keluarga atau ngofa sedano (anak cucu) mengadakan pertemuan guna menentukan siapa yang menangung bahan seperti beras dan keperluan lainnya. Termasuk dimai (bahan) khusus yang terdiri dari pinang dan sirih. Sedangkan alat yang dipakai dalam salai Jin adalah parang (pedang), salawaku, ruba (tombak), Rababu/fiol (biola), tifa (beduk yang dibuat dari batang kayu yang dipahat dan ditutupi oleh kulit rusa atau kambing), daun woka (jenis tanaman tertentu yang dipakai sebagai atribut tarian Jin). Strategi pewarisan tradisi Salai Jin yaitu kepada anak cucu yang masih memiliki garis keturunan.
Tradisi Salai Jin Sebagai Modal Sosial Masyarakat Tidore Kepulauan Yusri A Boko; Jamin Safi
Jurnal Artefak Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i1.9241

Abstract

The Tidore people are people who still adhere to the traditions passed down by their ancestors. One of the traditions in question is the Salai Jin ritual. Viewed from the aspect of social relations, this tradition characterizes social interaction between people. The Salai Jin ritual is basically a ritual which, according to local people's beliefs, allows communication between humans and supernatural beings with various purposes. Among the purposes of this ritual is to establish cooperation to ensure safety and health. The researcher is interested in examining (1) the values of the Salai Jin ritual as one of the social assets of the Tidore archipelago community, and (2) the meaning and internalization of the values of the Salai Jin ritual in the social life of the Tidore archipelago community. Designed as a descriptive qualitative research, data were collected through interviews, observation, and documentation. Meanwhile, triangulation is used to validate research data. After the data has been analyzed using data reduction techniques, data presentation, and drawing conclusions, this study captures several social phenomena related to the Salai Jin ritual in the Tidore Islands community, including, (1) the Salai Jin ritual contains values of togetherness, bari (mutual cooperation), empathy, and social care, and (2) the meaning of these values is to build good communication and cooperation based on the values and norms prevailing in society. The actualization of the Salai Jin ritual as social capital can be found in various mutual cooperation activities such as building houses, wedding celebrations, dina (the tradition of commemorating those who have died), and other community social activities.
Nilai-Nilai Multikultur di Sekolah Multi Etnik: Studi dalam Pembelajaran Sejarah Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
Jurnal Artefak Vol 10, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i2.12166

Abstract

This research examines the strengthening of multicultural values in multi-ethnic schools and the constraints of strengthening multicultural values in learning history in multi-ethnic schools, SMA Negeri 1 Ternate. This research is a qualitative type. Information collection uses interview techniques, field observations, and document analysis. Meanwhile, data validity was carried out using the triangulation technique. Data analysis started with data reduction, data presentation, and conclusion. The study results show that integrating multiculturalism values in history learning can form a sense of togetherness among students so that they can accept and appreciate differences in ethnicity and religion. Multicultural values such as tolerance, mutual respect, unity, mutual respect, cooperation, and mutual help are instilled in students to strengthen unity and oneness among people. The obstacle faced is the inconsistency of students' parents with what teachers have taught at school. Multiculturalism can be a vehicle for increasing the degree of mutual respect between ethnicities, tribes, and religions. Strengthening pluralistic values can strengthen diversity among fellow Indonesian citizens. Multicultural education can educate students about unity and integrity to avoid inter-ethnic, ethnic, and religious conflicts.
Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Mempertahankan Kedaulatan NKRI: Analisis Peran dan Strategi pada Masa Agresi Militer Belanda II Tahun 1948-1949 Ari Yanto, Eka Nofri; Suyanti, Suyanti; Safi, Jamin; Sudarto, Sudarto
Jurnal Artefak Vol 11, No 2 (2024): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v11i2.16671

Abstract

Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia (RI) selama Agresi Militer Belanda II (1948-1949) merupakan sebuah babak penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Penelitian bertujuan menggali peran dan kontribusi Sultan dalam mendukung pemerintahan Republik, terutama saat Yogyakarta menjadi ibu kota negara. Dalam konteks tersebut, Sultan tidak hanya memberikan dukungan moral tetapi juga material dengan meminjamkan gedung-gedung milik kesultanan untuk keperluan pemerintahan dan membuka kas kerajaan untuk membiayai aktivitas pemerintahan RI di Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan menggunakan analisis historis sebagai metode utamanya yang meliputi; koleksi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan sintesis historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap konsisten Sultan dalam memperjuangkan kedaulatan RI tidak hanya mencerminkan komitmennya sebagai pemimpin daerah, tetapi juga sebagai simbol persatuan bangsa dalam menghadapi ancaman dari luar. Perjuangan beliau pada masa itu merupakan babak penting dalam sejarah perjuangan kedaulatan Negara. Kontribusinya tidak hanya sebatas simbol-simbol belaka; ia aktif memobilisasi sumber daya, mendukung operasi militer, dan memupuk persatuan di antara rakyat Indonesia. Dengan demikian, kontribusi Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia pada masa yang krusial ini.