Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

KESULTANAN BACAN DALAM PERSAINGAN POLITIK DAN PERDAGANGAN DI MALUKU UTARA, 1602-1940 Raman, La; Safi, Jamin
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 16, No 2 (2022): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v16i22022p276-285

Abstract

This study aims to determine the history of the Batjan sultanate in political and trade competition in North Maluku in 1601-1940. The method used in this research is the historical method. The steps of the historical method are heuristics, source criticism or verification, interpretation, and historiography (historical writing). The results of this study are; The Bacan Sultanate or Kie ma-Kolano, (ruler of the cape), is a sultanate that was originally domiciled in East Makian, then moved to Kasiruta. In fact, the initial procession of the formation of the Bacan kingdom cannot be known with certainty. However, based on chronicle reports, it can be interpreted that this kingdom emerged along with other Islamic kingdoms in North Maluku. Based on the political perspective, the Bacan Sultanate, which is part of the world of Central Maluku, has very broad political influence and power. It can be argued that the clove commodity has projected the economic strength of the Bacan SultanatePenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah kesultanan Batjan dalam persaingan politik dan perdagangan di Maluku Utara tahun 1601-1940. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode sejarah (historical method). Adapun langkah-langkah metode sejarah, yaitu heuristik, kritik sumber atau verifikasi, interpretasi, dan historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini adalah; Kesultanan Bacan atau Kie ma-Kolano, (penguasa tanjung), merupakan kesultanan yang semula berkedudukan di Makian Timur, kemudian dipindahkan ke Kasiruta. Secara faktual prosesi awal pembentukan kerajaan Bacan tidak dapat diketahui secara pasti. Tetapi berdasarkan pemberitaan kroniek dapat diinterpretasikan bahwa kerajaan ini muncul seiring dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Maluku Utara. Berdasarkan perspektif politik Kesultanan Bacan yang merupakan bagian dari dunia Maluku Pusat, memiliki pengaruh politik dan kekuasaan yang sangat luas. Secara argumentatif dapat dikemukakan bahwa komoditas cengkih telah memproyeksikan kekuatan ekonomi kesultanan Bacan.
Tagi Jere Tradition: Its Function and Preservation as A Cultural Identity of Tidore People in Foramadiahi Jamin Safi; Suharlin Ode Bau; Yusri A. Boko
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 26, No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v26.n1.p18-24.2024

Abstract

Tagi Jere in the Tidore language means to visit the tomb of a saint. This ritual usually begins with certain preparations and is then followed by a visit to the Jere such as Jere Sultan Babullah, Jere Doe-doe, Jere Laboso, Jere Amo, Jere Tui, and Jere Wange Lamo. Tagi Jere is carried out as an expression of gratitude to God for the blessings that have been given. In addition, the Tagi Jere ritual is also carried out under certain conditions, such as crop failure, or as an antidote to distress or disaster. The researcher was interested in seeing the Tagi Jere ritual in the Tidore ethnic community in Ternate, especially in the Foramadiahi sub-district, using a qualitative approach. The interpretation of the data in the field shows that the Tagi Jere ritual is used as a request by the community based on their respective intentions. They brought Boso Kene (small pots of earthenware) containing Bira Kuraci (yellow rice) which they brought to the visited Jere. The Tagi Jere ritual also has a social value to strengthen the bonds of brotherhood that are manifested in mutual cooperation activities. The rituals performed by the Tidore ethnic community in various circles are preserved from generation to generation.
Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Mempertahankan Kedaulatan NKRI: Analisis Peran dan Strategi pada Masa Agresi Militer Belanda II Tahun 1948-1949 Ari Yanto, Eka Nofri; Suyanti, Suyanti; Safi, Jamin; Sudarto, Sudarto
Jurnal Artefak Vol 11, No 2 (2024): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v11i2.16671

Abstract

Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia (RI) selama Agresi Militer Belanda II (1948-1949) merupakan sebuah babak penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Penelitian bertujuan menggali peran dan kontribusi Sultan dalam mendukung pemerintahan Republik, terutama saat Yogyakarta menjadi ibu kota negara. Dalam konteks tersebut, Sultan tidak hanya memberikan dukungan moral tetapi juga material dengan meminjamkan gedung-gedung milik kesultanan untuk keperluan pemerintahan dan membuka kas kerajaan untuk membiayai aktivitas pemerintahan RI di Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan menggunakan analisis historis sebagai metode utamanya yang meliputi; koleksi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan sintesis historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap konsisten Sultan dalam memperjuangkan kedaulatan RI tidak hanya mencerminkan komitmennya sebagai pemimpin daerah, tetapi juga sebagai simbol persatuan bangsa dalam menghadapi ancaman dari luar. Perjuangan beliau pada masa itu merupakan babak penting dalam sejarah perjuangan kedaulatan Negara. Kontribusinya tidak hanya sebatas simbol-simbol belaka; ia aktif memobilisasi sumber daya, mendukung operasi militer, dan memupuk persatuan di antara rakyat Indonesia. Dengan demikian, kontribusi Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia pada masa yang krusial ini.
Toma Loa Se Banari as Educational Social Capital: An Ethnopedagogical Study in Tidore: Toma Loa Se Banari sebagai Modal Sosial Pendidikan: Studi Etnopedagogi di Tidore Bakri Ismail; Non Drakel; Jamin Safi
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 9 No 4 (2025): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v9i4.5991

Abstract

The life philosophy of the Tidore community reflects a profound perspective on shaping a complete human identity, both morally and socially. One of the core values embraced is Toma Loa Se Banari, which emphasizes the importance of being a righteous and well-behaved individual in all aspects of life. These values are embodied in attitudes of integrity, togetherness, and social responsibility. This study aims to explore how such principles are utilized as a form of social capital within the educational process through an ethnopedagogical approach rooted in local culture. Using a descriptive qualitative method, the research observes how Tidore society transmits cultural values through daily social interactions, informal learning within families and communities, as well as formal education in schools. The findings indicate that consistent integration of local values into the education system can effectively shape students’ character in a holistic way. Therefore, strengthening culture-based education becomes a crucial step in enriching the curriculum while preserving the unique cultural identity of the Tidore community.
MARI MOI NGONE FUTURU SEBAGAI IDENTITAS KULTURAL: MAKNA DAN IMLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MALUKU UTARA Ibrahim, Asriadi; Bau, Suharlin Ode; Safi, Jamin
Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter Vol. 7 No. 1 (2023): WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter
Publisher : PUSAT MPK UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.waskita.2023.007.01.6

Abstract

Mari Moi Ngone Futuru merupakan semboyan yang hidup dalam masyarakat Maluku Utara. Semboyan yang sarat nilai dan dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Maluku Utara yang plural. Semboyan ini sebagai pemersatu dan pencegahan konflik lintas suku dan agama di Zajirah Al-Mulk. Dalam semboyan Mari Moi Ngone Futuru sebenarnya memiliki kedudukan yang hampir sama dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Namun Mari Moi Ngone Futuru merupakan semboyan yang berbasis pada nilai-nilai local genius. Pada prinsipnya Mari Moi Ngone Futuru telah ada sebelum Ternate menjadi Kota Madya dan Maluku Utara sebagai Provinsi Maluku Utara. Dalam konteks ini, semboyan Mari Moi Ngone Futuru digagas dan diperkenalkan bahkan dijadikan sebagai perekat antara etnis-etnis yang bertika atasnama kekuasaan. Oleh karena itu, semboyan ini mestinya dihayati dan diamalkan oleh masyarakat Maluku Utara yang beragam etnis, budaya, agama dan bahasa guna menjaga keharmonisan bersama. Penelitian ini bertujuan menjelaskan prespektif masyarakat tentang semboyan Mari Moi Ngone Futuru dan strategi internalisasi nilai dari semboyan Mari Moi Ngone Futuru dalam mayarakat Maluku Utara. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, studi dokumen. Uji keabsahan dengan cara triangulas. Analisis data yang digunakan ialah reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Mari moi ngone futuru artinya bersatu kita kuat. Semboyan bermakna bahwa kebersamaan menjadikan kuat dalam mewujudkan kedamaian. Mari moi ngone futuru mengandung nilai-nilai seperti nilai persatuan, kesatuan, tolong menolong, rela berkorban, dan kebersamaan/kekeluargaan. Proses internalisasi nilai-nilai mari moi ngone futuru melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kegiatan sosial budaya seperti kegiatan bari rumah, liliyan dina, dan sebagainya.
PENGUATAN NILAI-NILAI NASIONALISME: STUDI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH Suharlin Ode Bau; Leny M.S. Tomagola; Jamin Safi; Yusri A. Boko
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 6 No 1 (2022): Santhet : Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.911 KB) | DOI: 10.36526/santhet.v6i1.1566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan; a) bagaimana penguatan nilai-nilai nasionalisme di SMA Negeri 2 Ternate; b) kendala yang dihadapi guru sejarah dalam penguatan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 2 Ternate. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi dan subjek penelitian ialah peserta didik dan guru sejarah di SMA Negeri 2 Ternate. dan subyek penelitian adalah peserta didik dan guru sejarah yang dianggap mampu memberikan informasi terkait dengan permasalahan yang diteliti yaitu integrasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah. Sumber data utama, yaitu peserta didik, guru sejarah, tempat dan kejadian. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Pengujian keabsahan data penelitian dilakukan dengan triangulasi data/sumber dan triangulasi metode. Teknik analisis data dalam penelitian adalah reduksi data, penyajian data, dan penerikan simpulan. Perencanaan pembelajaran sejarah telah diterapkan dengan cara menyusun Silabus dan RPP sebelum waktu pembelajaran itu ditetapkan. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan komponen pembelajaran, maka tujuannya dapat tercapai. Penguatan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah yakni cinta tanah air, persatuan, dan kesatuan, rela berkorban, disiplin, tengang rasa dan berani. Dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 2 Ternate, guru sejarah telah mempersiapkan sumber belajar yang dibutuhkan, metode dan media dan sumber belajar tergantung atau dikembalikan kepada guru masing-masing. Penguatan nilai-nilai nasionalisme di sekolah dilaksanakan melalui ekstrakurikuler, seperti kegiatan kepramukaan. Kendala yang dihadapi guru mata pelajaran sejarah ialah berhubungan dengan inkonsistensi guru dalam menyusun dan mengumpulkan RPP. Kendala lain yang dihadapi guru sejarah di masa pandemi Covid-19 ialah terkait evaluasi sikap melalui pembelajaran daring. Banyak guru yang masih bingung karena bagi mereka, pembentukan karakter siswa harus melalui pembelajaran luring (tatap muka).
Tagi Jere Tradition: Its Function and Preservation as A Cultural Identity of Tidore People in Foramadiahi Safi, Jamin; Bau, Suharlin Ode; A. Boko, Yusri
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 26 No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v26.n1.p18-24.2024

Abstract

Tagi Jere in the Tidore language means to visit the tomb of a saint. This ritual usually begins with certain preparations and is then followed by a visit to the Jere such as Jere Sultan Babullah, Jere Doe-doe, Jere Laboso, Jere Amo, Jere Tui, and Jere Wange Lamo. Tagi Jere is carried out as an expression of gratitude to God for the blessings that have been given. In addition, the Tagi Jere ritual is also carried out under certain conditions, such as crop failure, or as an antidote to distress or disaster. The researcher was interested in seeing the Tagi Jere ritual in the Tidore ethnic community in Ternate, especially in the Foramadiahi sub-district, using a qualitative approach. The interpretation of the data in the field shows that the Tagi Jere ritual is used as a request by the community based on their respective intentions. They brought Boso Kene (small pots of earthenware) containing Bira Kuraci (yellow rice) which they brought to the visited Jere. The Tagi Jere ritual also has a social value to strengthen the bonds of brotherhood that are manifested in mutual cooperation activities. The rituals performed by the Tidore ethnic community in various circles are preserved from generation to generation.
Jou Se Ngofa Ngare Philosophy In the History of Traditional Leadership in Ternate Abas, Thalib; Boko, Yusri Ali; Bau, Suhartin Ode; Safi, Jamin
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 12, No 2 (2024): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v12i2.9034

Abstract

This study seeks to elucidate: (1) The history of the Jou Se Ngofa Ngare philosophy (2) traditional leadership patterns in Jou Se Ngofa Ngare  philosophy in the Ternate Sultanate, (3) the relationship between the leader (sultan) and the people (bala) in the Jou Se Ngofa Ngare  philosophy in the Ternate Sultanate. This study employs historical methods and a qualitative approach, including stages of topic determination, heuristics, criticism, and historiography. Methods of collecting data for research include interviews, observation, and document analysis. In the process of analysis, data is reduced, presented, and conclusions drawn. The findings of the study indicate that the philosophy of Jou Se Ngofa Ngare cannot be determined as to when it emerged and who its originator was, but it is believed to have existed since the Momole era (pre-Islamic). The Sultanate of Ternate adhered to the tenets of Ma Jojoho Toma kitabullah (faith in accordance with the Qur'an of Allah) and Ma Jojoho Toma of Rasulullah hadith. The Sultan serves as both the head of state and the head of government of the Sultanate of Ternate. Under his guidance, the sultan was endowed with two distinct categories of rights: Idhin and Jaib Kolano. The philosophy of traditional leadership espoused by Jou Se Ngofa Ngare  delineates pluralistic relationships. Aside from that, the sultan and the army function as a unified unit whose prosperity and the sultan's success are mutually dependent.