Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : e-GIGI

Pengaruh Pemberian Jus Buah Pir (Pyrus Communis) terhadap Pembersihan Stain Ekstrinsik pada Resin Komposit Dendhana, Didiet S.; Wowor, Pemsi M.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19294

Abstract

Abstract: Tooth discoloration such as staining could possibly affect the condition of restorative treatment on the teeth caused by extrinsic and intrinsic factors. Bleaching could provide a solution to color changing problem of composite filling. Hydrogen peroxide (H2O2), the most common chemical agent to perform bleaching, is found naturally in pear fruit; therefore, it could be an alternative treatment to reduce stain of composite filling. This study was aimed to find out the stain removal effect of blended pear fruit on composite filling. This is a laboratory experimental study with a pre-post control group design. Total samples were 20 pieces of circular composites with 5 mm in diameter and 2 mm in thickness. The samples were submerged in coffee extract for 10 days to create visible extrinsic staining at their surfaces, and then the discoloration was measured with spectrophotometer. After that, the samples were divided into two groups with ten samples each: group A, submerged in coffee extract and group B submerged in blended pear juice for seven days. After the submerging procedure performed, all samples of group B were measured again with spectrophotometer. The results showed that in group B there was a significant effect on stain removal of composite resin (p <0.05). Conclusion: Blended pear fruit had stain removal effect in composite filling.Keywords: pear juice, extrinsic stain, composite resin. Abstrak: Perubahan warna gigi berupa stain dapat memengaruhi kondisi restorasi dalam rongga mulut yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik dan intrinsik. Bleaching dapat dilakukan untuk menangani masalah perubahan warna resin komposit. Salah satu bahan bleaching yang sering digunakan di bidang kedokteran gigi ialah hidrogen peroksida (H2O2). Senyawa ini terkandung dalam buah pir yang dapat digunakan sebagai perawatan alternatif untuk mengurangi stain pada resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus buah pir terhadap pembersihan stain ektrinsik pada resin komposit. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorium dengan pre and post control group design. Jumlah sampel penelitian ialah 20 resin komposit yang dibentuk dengan diameter 5 mm dan tebal 2 mm. Sampel direndam dalam larutan kopi selama 10 hari untuk melihat adanya stain ekstrinsik pada permukaan sampel resin komposit, kemudian dilakukan pengukuran perubahan warna dengan spektrofotometer. Setelah itu sampel dibagi atas dua kelompok masing-masih 10 buah sampel: kelompok A untuk perendaman dalam larutan kopi dan kelompok B untuk perendaman dalam jus buah pir selama tujuh hari kemudian sampel kelompok B dilakukan pengukuran kembali dengan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh bermakna (p <0,05) terhadap pembersihan stain ekstrinsik pada resin komposit pada kelompok B. Simpulan: Pemberian jus buah pir dapat membersihkan stain ektrinsik pada resin kompositKata kunci: jus buah pir, stain ekstrinsik, resin komposit
Uji daya hambat ekstrak daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus secara in vitro Wenda, Yaromis; Wowor, Pemsi M.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15416

Abstract

Abstract: Currently, oral health requires comprehensive handling by dentists and other health professionals. Osteomyelitis is an infection that occurs in bone tissue and bone marrow of the jaw and/or cortical bones, predominantly caused by Staphylococcus aureus. Medicinal plants in Indonesia have been widely used as traditional medicine inter alia stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.). This stevia plant has components that are typical natural sweetener and stevioside which has the characteristics as antibacterial, antiviral, anti-inflammatory, antimicrobial, and antifungal, and other active substances including tannins, alkaloids, flavonoids, and phenol. This was an experimental laboratory study with the post test only group design. Subjects were Staphylococcus aureus bacteria. The results showed that stevia leaf extract had inhibition zone to Staphylococcus aureus growth of 10.32 mm which was categorized as strong according to Davis and Stout 1971. Conclusion: Stevia leaf extract (Stevia rebaudiana Berrtoni M.) had strong inhibition to Staphylococcus aureus.Keywords: osteomyelitis, stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.), Staphylococcus aureusAbstrak: Dewasa ini kesehatan gigi dan mulut memerlukan penanganan secara komperhensif oleh dokter gigi maupun tenaga kesehatan lainnya. Salah satu penyakit yang sering dijumpai yaitu osteomielitis pada jaringan tulang dan sum-sum tulang rahang dan/atau korteks tulang dengan penyebab utama ialah bakteri Staphylococcus aureus. Tanaman herbal di Indonesia telah banyak digunakan sebagai obat tradisional; salah satunya ialah tanaman stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.). Tanaman stevia memiliki komponen yang bersifat pemanis alami, stevioside yang berefek antibakteri, antivirus, antiinflamasi, antifungsi, dan antimikroba, serta zat aktif di antaranya ialah tannin, alkaloid, flavonoid, dan fenol. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik dengan post test only group design. Subyek penelitian ialah bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekstrak daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.) mempunyai rerata zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus sebesar 10,32 mm yang tergolong kuat menurut Davis dan Stout 1971. Simpulan: Ekstrak daun stevia (Stevia rebaudiana Berrtoni M.) memiliki daya hambat yang kuat terhadap bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci: osteomielitis, stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.), Staphylococcus aureus
Perbandingan efektivitas pemberian asam mefenamat dan natrium diklofenak sebelum pencabutan gigi terhadap durasi ambang nyeri setelah pencabutan gigi Pangalila, Kartika; Wowor, Pemsi M.; Hutagalung, Bernat S. P.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13650

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of a minor operative surgery in dentistry that could cause uncomfortable sense of pain at its surrounding area. In order to reduce that feeling, some pain management could be performed, such as local anesthetic administration or analgesic medication. This study aimed to compare the effectiveness of mefenamic acid and diclofenac sodium given before the extraction procedure against the pain threshold duration after tooth extraction. This was a clinical study with a case-control design and was carried out in July 11th – August 12th 2016 at Department of Oral Surgery RSGM FK Unsrat. There were 30 samples obtained by using the purposive sampling method, divided into three groups, each of 10 samples, as follows: the control group without any analgesic treatment; the treated group with mefenamic acid; and another treated group with diclofenac sodium before the extraction. The results showed that the control group had a lower average of pain threshold duration than the treated groups with a difference of 2 hours and 42 minutes. The group treated with mefenamic acid before the extraction had the highest average of pain threshold duration compared to the group of diclofenac sodium with 4 hours and 11 minutes vs. 3 hours and 49 minutes. Conclusion: Mefenamic acid given before the tooth extraction procedure had greater effect and higher pain threshold duration than diclofenac sodium.Keywords: tooth extraction, mefenamic acid, diclofenac sodium, pain threshold duration.Abstrak: Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan dalam bidang kedokteran gigi yang dapat menimbulkan rasa nyeri akibat adanya trauma pada soket gigi yang dicabut. Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien maka diberikan tindakan manajemen nyeri berupa anestesi lokal dan pemberian analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efektivitas pemberian asam mefenamat dan natrium diklofenak sebelum pencabutan gigi terhadap durasi ambang nyeri setelah pencabutan gigi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian klinis dengan rancangan case-control study. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi dengan total sampel 30 pasien: 10 pasien dalam kelompok kontrol tanpa perlakuan; 10 pasien dalam kelompok uji dengan asam mefenamat; dan 10 pasien dalam kelompok uji dengan natrium diklofenak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2016 di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unsrat. Hasil penelitian menunjukkan dari 30 sampel, 10 sampel yang tidak mengonsumsi analgesik apapun sebelum pencabutan memiliki rata-rata durasi ambang nyeri lebih rendah dibandingkan dengan sampel-sampel lain yang mengonsumsi analgesik sebelum pencabutan dengan selisih 2 jam 42 menit. Pasien dengan rata-rata durasi ambang nyeri terbesar ialah yang diberikan asam mefenamat yaitu 4 jam 11 menit dan yang diberikan natrium diklofenak memiliki rata-rata durasi ambang nyeri sebesar 3 jam 49 menit dengan selisih 22 menit. Simpulan: Pemberian asam mefenamat sebelum pencabutan gigi memiliki efektivitas dan rata-rata durasi ambang nyeri yang lebih tinggi dibandingkan pemberian natrium diklofenak dengan selisih durasi ambang nyeri 2 jam 42 menit jika dibandingkan dengan kelompok tanpa pemberian analgesik.Kata kunci: pencabutan gigi, asam mefenamat, natrium diklofenak, durasi ambang nyeri
Uji daya hambat ekstrak daun cengkih (Syzygium aromaticum (L.) ) terhadap bakteri Enterococcus faecalis Lambiju, Eskha M.; Wowor, Pemsi M.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15547

Abstract

Abstract: Cloves (Syzygium aromaticum L.) grow widely in Indonesia. This plant has many benefits from its stem, leaves, and flowers. Clove leaves has several antibacterial compounds such as flavonoids, tannins, and triterpenoids, as well as eugenol as the major component of essential oil. Enterococcus faecalis is a facultative anaerobic Gram positive bacteria and normal flora in the mouth. These bacteria are often identified as the cause of the failure of root canal treatment. This study was aimed to determine the effectiveness of clove in inhibiting the growth of bacteria Enterococcus faecalis. This was an experimental study with a modified method of Kirby-Bauer using pits. Samples of clove leaves were obtained from Treman, North Minahasa, and then were extracted by using maceration method with 96% ethanol. Metronidazole was used as positive control. Enterococcus faecalis bacteria were taken from the direct isolation of patients’ necrotic teeth. The results showed that the average inhibition zone of clove leaf extract against Enterococuss faecalis was 8.0 mm meanwhile of metronidazole was 10.0 mm. Conclusion: Clove leaf extract had moderate inhibitory effect against the growth of Enterococcus faecalis.Keywords: clove leaves, Enterococcus faecalis, inhibition. Abstrak: Tanaman cengkih (Syzygium Aromaticum L.) banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini memiliki banyak manfaat mulai dari batang, daun, dan bunga. Daun cengkih mengandung berbagai senyawa yang bersifat antibakteri seperti flavonoid, tannin, dan triterpenoid, serta senyawa eugenol yang merupakan komponen utama dalam minyak atrisi. Enterococcus faecalis ialah bakteri Gram positif fakultatif anaerob yang merupakan flora normal dalam mulut. Bakteri ini sering terisolasi sebagai penyebab kegagalan perawatan saluran akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat daun cengkih (Syzygium Aromaticum L.) terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-Bauer menggunakan sumuran. Sampel daun cengkeh diperoleh dari daerah Treman Kabupaten Minahasa Utara yang kemudian diekstrasi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Sebagai kontrol positif diginakan metronidazole. Bakteri Enterococcus faecalis diambil dari isolasi langsung pada pasien dengan gigi nekrosis. Hasil penelitian ini mendapatkan rerata zona inhibisi ekstrak daun cengkih terhadap bakteri Enterococuss faecalis sebesar 8,0 mm sedangkan zona inhibisi metronidazole 13,0 mm. Simpulan: Ekstrak daun cengkih memiliki daya hambat yang tergolong sedang terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.Kata kunci: daun cengkih, Enterococcus faecalis, daya hambat
Gambaran status karies dan status gizi pada murid TK Kartika XX-16 Manado Rengkuan, Raissa Y.E.; Wowor, Pemsi M.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17369

Abstract

Abstract: Dental caries is a dental hard tissue disease with multifactorial causes. Consumption of food and beverages improperly and less of dental treatment affect dental caries status and nutritional status. This study was aimed to obtain the profile of dental caries status and nutritional status of kindergarten students of Kartika XX-16 Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. Subjects were selected using nonprobability sampling method with consecutive sampling technique. There were 71 students as the total population; 48 students were selected as subjects. Deciduous dental examination was performed to assess the dental caries status using the dmf-t index. Body weight, height, and age were noted to assess the nutritional status using antrophometric indices based on z score to obtain the body mass index for age (BMI for age). The results showed that the dental caries status of the subjects was at high category (dmf-t index of 4.92). There were 37 subjects (77.1%) who had caries experience in primary teeth and 11 subjects (22.9%) with caries-free primary teeth. Of all subjects, 93.75% had normal nutrition status and 6.3% had nutritional problems. Conclusion: In general, the kindergarten students of Kartika XX–16 Manado had dental caries status of high category, however, their nutritional status was quite good.Keywords: dental caries status, nutritional status Abstrak: Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi dengan penyebab multifaktorial. Konsumsi makanan dan minuman dengan pola yang tidak tepat, serta kurangnya pemeliharaan kesehatan gigi berdampak pada status gizi dan status karies gigi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies gigi dan status gizi pada murid TK Kartika XX-16 Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Jumlah populasi 70 orang murid dengan subyek 48 anak diperoleh menggunakan metode nonprobability sampling dengan teknik consecutive sampling. Pemeriksaan gigi-geligi sulung untuk menilai status karies gigi. Penilaian status karies gigi menggunakan indeks dmft. Pemeriksaan berat badan, tinggi badan, dan usia untuk menilai status gizi. Penilaian status gizi menggunakan indeks antropometri berdasarkan z-skor terhadap indikator indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U). Status karies gigi murid TK Kartika XX–16 Manado berada pada kategori tinggi dengan indeks dmf-t 4,92. Jumlah subyek dengan riwayat karies gigi sulung sebanyak 37 anak (77,1%) sedangkan yang bebas karies gigi sulung sebanyak 11 anak (22,9%). Status gizi murid TK Kartika XX–16 Manado terdiri dari 93,75% status gizi normal dan 6,3% bermasalah gizi. Simpulan: Murid TK Kartika XX–16 Manado umumnya mempunyai status karies gigi pada kategori tinggi sedangkan status gizi cukup baik.Kata kunci: status karies gigi, status gizi
Uji air perasan jeruk kesturi (Citrus microcarpa Bunge.) terhadap perubahan warna resin komposit yang direndam dalam larutan kopi Sibilang, Annabelle A. G. C.; Wowor, Pemsi M.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14737

Abstract

Abstract: Color change or discoloration of the tooth surface is an aesthetic problem that is often complained because it reduces one’s confidence in terms of appearance. This problem can also occur on the surface of restorative materials inter alia composite resin. Composite resin is a tooth-colored restorative material that most people favor due to its aesthetic value. This discoloration can occur due to excessive intake of colored beverages like coffee. The treatment used for discoloration is bleaching, but these treatments have side effects. Calamondin (Citrus microcarpa Bunge.) can be an alternative bleaching agent because it contatins citric acid. This study was aimed to determine whether calamondin juice could affect the color change of composite resin soaked in coffee solution. This was a pre-experimental study with a one shot case study design. Samples were 10 composite resins with a diameter of 5 mm and 2 mm thick soaked in coffee solution for 7 days to obtain discoloration and then samples were soaked in calamondin juice for 5 days to whiten the samples. The discoloration was measured by using the CIEL*a*b* method at 60 minutes and 5 days after soaking in calamondin juice. The Friedman test showed significant changes (p<0.05). Conclusion: Calamondin juice affected the color change of composite resin that had been soaked in coffee solution.Keywords: composite resin, calamondin juice, color change Abstrak: Perubahan warna atau diskolorisasi pada permukaan gigi merupakan salah satu masalah estetika yang sering dikeluhkan karena mengurangi kepercayaan diri seseorang. Masalah ini juga dapat terjadi pada permukaan bahan tumpatan gigi, salah satunya adalah resin komposit. Resin komposit merupakan bahan tumpatan yang sewarna dengan gigi yang banyak digemari orang karena nilai estetiknya. Salah satu penyebab perubahan warna yaitu mengonsumsi minuman berwarna secara berlebih seperti kopi. Perawatan yang digunakan untuk masalah diskolorisasi ialah bleaching, namun perawatan ini memiliki efek samping. Jeruk kesturi (Citrus microcarpa Bunge.) dapat menjadi bahan alternatif bleaching karena karena mengandung asam sitrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah air perasan jeruk kesturi berpengaruh terhadap perubahan warna resin komposit yang telah direndam dalam larutan kopi. Jenis penelitian ialah pre-eksperimental dengan one shot case study design. Penelitian ini menggunakan 10 sampel resin komposit dengan ukuran diameter 5 mm dan tebal 2 mm. Sampel direndam dalam larutan kopi selama 7 hari agar terjadi diskolorisasi kemudian direndam dalam air perasan jeruk kesturi selama 5 hari dengan tujuan untuk memutihkan kembali sampel. Pengukuran perubahan warna menggunakan metode CIEL*a*b dilakukan setelah perendaman 60 menit dan 5 hari. Uji Friedman menunjukkan terdapat perubahan bermakna (p<0,05). Simpulan: Air perasan jeruk kesturi berpengaruh terhadap perubahan warna resin komposit yang direndam dalam larutan kopi.Kata kunci: resin komposit, air perasan jeruk kesturi, perubahan warna
UJI DAYA HAMBAT MINYAK KELAPA MURNI (VIRGIN COCONUT OIL) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ENTEROCOCCUS FAECALIS Tumbel, Lisa K.; Wowor, Pemsi M.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15535

Abstract

Abstract: Generally, failures in root canal treatment are caused by the bacterium Enterococcus faecalis. Several studies using different types of herbs showed their inhibition effect on the growth of bacteria in the oral cavity. Coconut oil can be processed into pure coconut oil (virgin coconut oil, VCO) that contains lauric acid with its antibacterial effect. This study was aimed to determine the inhibitory effect of coconut oil on the growth of the bacteria Enterococcus faecalis. This was an experimental laboratory study with the post-test only control group design. We used a modified method of the Kirby-Bauer disk paper. Sample of VCO was made by using heating process. Enterococcus faecalis bacteria obtained directly from the patients? necrotic pulps were identified at the Pharmaceutical Microbiology Laboratory, University of Sam Ratulangi Manado. The results showed that Enterococcus faecalis bacteria were identified in the samples. The inhibition zone of VCO to Enterococcus faecalis was 10 mm. Conclusion: Virgin coconut oil could inhibit the growth of Enterococcus faecalis.Keywords: virgin coconut oil (Virgin coconut oil), Enterococcus faecalis, inhibition zoneAbstrak: Pada perawatan saluran akar dapat ditemukan kegagalan perawatan yang disebabkan oleh bakteri Enterococcus faecalis. Terdapat beberapa penelitian mengenai berbagai jenis tumbuhan herbal yang telah dilakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dalam rongga mulut, salah satunya yaitu tanaman kelapa yang dapat diolah menjadi minyak kelapa murni (virgin coconut oil, VCO) yang mengandung senyawa aktif asam laurat dengan efek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat VCO terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorium dengan post-test only control group design. Metode pengujian menggunakan metode modifikasi Kirby-Bauer dengan paper disk. Sampel minyak kelapa murni dibuat sendiri dengan proses pemanasan. Bakteri Enterococcus faecalis diambil langsung dari pasien nekrosis pulpa lalu diidentifikasi di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian menunjukkan adanya bakteri Enterococcus faecalis pada sampel hasil identifikasi. Dari hasil uji daya hambat didapatkan minyak kelapa murni (Virgin coconut oil) memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan Enterococcus faecalis dengan zona hambat sebesar 10 mm. Simpulan: Virgin coconut oil dapat menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.Kata kunci: VCO, Enterococcus faecalis, zona hambat
Perbedaan Laju Aliran Saliva pada Pengguna Obat Antihipertensi Amlodipin dan Kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu Wotulo, Febrina G.; Wowor, Pemsi M.; Supit, Aurelia S.R.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19728

Abstract

Abstract: Hypertension is still a major factor of global deaths. There are many anti-hypertensive drugs inter alia diuretics, beta blockers, angiotensin converting enzyme inhibitors (such as captopril), and calcium antagonists (such as amlodipine). The side effects of the antihypertensive agents amlodipine and captopril in the oral cavity are due to their effects on salivary flow rate which further cause xerostomia. This study was aimed to determine the difference in salivary flow rate between amlodipine consumers and captopril consumers in Tumobui Village Kotamobagu City. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Subjects were amlodipine consumers and captopril consumers, each of 30 people aged 18-55 years obtained by using purposive sampling technique. Statistical analysis by using the Mann-Whitney U test showed a P value of 0.932 (>0.05). Conclusion: There was no significant difference in salivary flow rate between amlodipine consumers and captopril consumers in Tumobui Village Kotamobagu City.Keywords: antihypertensive, amlodipine, captopril, salivary flow rate Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu faktor utama kematian global. Penggunaan obat antihipertensi sangat beragam bagi penyandang hipertensi mulai dari diuretik, penyekat resep-tor beta adrenergik, penghambat reseptor angiotensin, penghambat angiotensin converting enzyme (sebagai contoh kaptopril), dan antagonis kalsium (sebagai contoh amlodipin). Amlodipin dan kaptopril menimbulkan efek samping dalam rongga mulut, salah satunya ialah memengaruhi laju aliran saliva yang berlanjut sebagai xerostomia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju aliran saliva pada pengguna obat antihipertensi amlodipin dan kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Subyek penelitian terdiri dari pengguna obat antihipertensi amlodipin dan pengguna kaptopril masing-masing 30 orang berusia 20-55 tahun, yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan kuesioner penelitian dan pengukuran laju aliran saliva dengan unstimulated salivary flow rate (USFR). Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney mendapatkan nilai P = 0,932 (>0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara laju aliran saliva pada pengguna obat antihipertensi amlodipin dan kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu.Kata kunci: antihipertensi, amlodipin, kaptopril, laju aliran saliva
UJI EFEKTIFITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN MEDIKAMEN SALURAN AKAR TERHADAP BAKTERI ENTEROCOCCUS FAECALIS Howarto, Mario S.; Wowor, Pemsi M.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9835

Abstract

Abstract: Endodontics is the a type of treatment that aims to keep the teeth in function. Disinfection of the root canal is very important in endodontic treatment. Root canal disinfection can be done by giving the material a root canal medication. One of the bacteria that causes the failure of root canal treatment is the bacterium Enterococcus faecalis. The lemongrass essential oil contains geranial, neral, and mirsen which have antimicrobial activity against Gram-positive and Gram-negative. This study aimed to determine whether the lemongrass essential oil was effective against bacteria Enterococcus faecalis. This was an experimental study using post test only control group design with agar plate diffusion method. Samples consisted of a group of lemongrass essential oil with several concentrations: 25%, 50%, 75%, 100%, each consisted of 4 samples. The 16 control groups consisted of positive and negative groups. Diameter of inhibition was determined by the ability to inhibit Enterococcus faecalis cultured on MHA agar. The results showed that the average inhibitory diameter of 25% lemongrass essential oil was 2.60 mm; of 50% was 4.73 mm; of 75% was 4.50 mm; and of 100% was 5.34 mm. Conclusion: Lemongrass essential oil showed an antibacterial effect to inhibit the growth of bacteria Enterococcus faecalis.Keywords: enterococcus faecalis, lemongrass oil, antibacerialAbstrak: Endodontik merupakan salah satu jenis perawatan yang bertujuan mempertahankan gigi agar tetap dapat berfungsi. Disinfeksi saluran akar sangat penting dalam perawatan endodontik. Disinfeksi saluran akar dapat dilakukan dengan memberi bahan medikamen saluran akar. Salah satu bakteri yang menyebabkan kegagalan perawatan saluran akar ialah bakteri Enterococcus faecalis. Minyak atsiri sereh dapur mengandung geranial, neral dan mirsen yang memiliki aktifitas antimikrobapada gram positif dan gram negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak atsiri sereh dapur memiliki efek terhadap bakteri Enterococcus faecalis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain post test only control group design dan metode difusi lempeng agar. Sampel penelitian terdiri dari kelompok minyak atsiri sereh dapur dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% yang masing-masing terdiri dari 4 sampel; 16 kelompok kontrol terdiri atas kelompok positif dan negatif. Diameter hambat ditentukan berdasarkan kemampuan menghambat Enterococcus faecalis yang dibiakkan pada media agar MHA. Hasil penelitian memperlihatkan rata-rata diameter hambat minyak atsiri sereh dapur dengan konsentrasi 25% sebesar 2,60 mm, 50% sebesar 4,73 mm, 75% sebesar 4,50 mm, dan 100% sebesar 5,34 mm. Simpulan: Minyak atsiri sereh dapur memiliki efek antibakteri untuk menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.Kata kunci: enterococcus faecalis, sereh dapur, antibakteri