Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

ANALISIS VEGETASI PADA LAHAN HUTAN GAMBUT BEKAS TERBAKAR DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR (OKI), PROVINSI SUMATERA SELATAN, INDONESIA Yuningsih, Lulu; Bastoni, Bastoni; Yulianty, Taty; Harbi, Jun
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v7i2.1541

Abstract

Tren kebakaran hutan terbesar yang terjadi di Indonesia terjadi pada tahun 1997, 2006 dan 2015. Salah satu daerah yang menjadi pusat kebakaran hutan tersebut terletak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Hal ini terjadi karena adanya lahan basah khususnya gambut yang mendominasi wilayah ini. Proses rehabilitasi terhadap lahan pasca terbakar tahun 2006 telah dilakukan dan tidak diberikan perlakuan serupa pada lahan pasca terbakar tahun 2015. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan proses suksesi pada lahan gambut bekas terbakar. Penelitian dilakukan pada tahun 2017 di Desa Kedaton, Kecamatan Kayuagung, OKI, Sumatera Selatan. Metode penelitian menggunakan analisis vegetasi, analisis kekayaan jenis Margelaf dan analisis indeks keanekaragaman jenis Shannon-Weinner yang mencakup strata pertumbuhan semai/tumbuhan bawah, pancang, tiang dan pohon. Nilai INP tertinggi sehingga mengominasi yaitu kumpai (Hymenachine amplexicaulis rudge) pada lahan terbakar 2015 dengan indeks kekayaan jenis tinggi dan pakis (Stenochlaena Palustris) untuk lahan terbakar tahun 2006 dengan indeks kekayaan jenis sedang. Indeks Keanekaragaman kedua lahan termasuk kriteria sedang namun nilai kemerataan jenis relatif rendah. Sudah adanya proses suksesi alami tingkat pertama pada lahan gambut pasca terbakar tahun 2015 dan pada pada lahan gambut pasca terbkar tahun 2006 yang sudah dilakukan kegiatan rehabilitasi dan revegetasi daya hidup pohon yang ditanam antara 82-97 % dan penutupan tajuk pepohonan meningkat dari 0 % menjadi 50-70 %. Jenis tanaman dengan kerapatan tertinggi adalah kumpai pada lahan terbakar tahun 2006 dan pakis udang pada lahan terbakar tahun 2015 The biggest forest fire trends in Indonesia occurred in 1997, 2006 and 2015. One of the areas that became the center of the forest fires was located in Ogan Komering Ilir (OKI) Regency. This is due to the presence of wetlands, especially peat which dominate in this region. The rehabilitation process for post-burnt land in 2006 was carried out and was not given a similar treatment on post-burnt land in 2015. The purpose of this study was to see the differences in the succession process that occurred on burnt peat land. The research was conducted in 2017 in Kedaton Village, Kayuagung District, OKI, South Sumatra. The research method uses vegetation analysis, analysis of species wealth (Margelaf) and analysis of species diversity index by Shannon-Weinner which includes seedling/seedling growth stems, saplings, poles and trees. The highest INP value that dominates is kumpai (Hymenachine amplexicaulis rudge) in land burned 2015 with high species richness index and pakis (Stenochlaena Palustris) on land burned in 2006 with the species richness index in the medium category. The diversity index of the two lands is in the medium criteria but the species evenness is relatively low. There has been a first-degree natural succession process on peatland after burning in 2015 and on post-burnt peatland in 2006 the rehabilitation and revegetation activities of planted trees between 82-97% and canopy cover increased from 0% to 50 -70%. The highest density of plants is "kumpai" (on land burned in 2006) and "shrimp ferns" (on burned land in 2015)
HARMONISASI PERUSAHAAN DAN MASYARAKAT DI WILAYAH KPHP MERANTI DESA PANGKALAN BULIAN KECAMATAN BATANGHARI LEKO KABUPATEN MUSI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN Tobri, Al Muhibut; Yuningsih, Lulu; Lensari, Delfy
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v5i1.426

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pendataan perusahaan yang ada di sekitar KPHP Meranti Desa Pangkalan Bulian, mengetahui tatanan kehidupan masyarakat, mengetahui permasalahan masyarakat dan perusahaan serta untuk mengetahui peran yang dilakukan perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat Desa Pangkalan Bulian. Penelitian ini dilakukan di KPHP Meranti Desa Pangkalan Bulian Kecamatan Batanghari Leko Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan, dan dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2016. Pendataan perusahaan yang berada di KPHP Meranti Desa Pangkalan Bulian yang dilakukan secara sensus. Pengambilan data permasalahan masyarakat secara umum, permasalahan perusahaan, tanggapan masyarakat terhadap program perusahaan dan peran perusahaan dilakukan melalui metode quisioner dan wawancara langsung. Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat Desa Pangkalan Bulian dan perusahaan yang berada di Desa Pangkalan Bulian. Pendataan permasalahan masyarakat dilakukan secara sampling dengan menggunakan snowball sampling. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dari hasil wawancara dengan masyarakat dilapangan. Data sekunder diperoleh dari data dinas atau instansi terkait dengan penelitian ini, diantaranya data tentang keadaan umum daerah, data umum penelitian dan data-data lainnya yang dapat menunjang penelitian ini. Data-data perusahaan yang dihasilkan dari survei akan ditampilkan secara tabulasi. Metode analisis data harmonisasi perusahaan dengan masyarakat menggunakan skala likert. Dari hasil penelitian diketahui ada empat perusahaan yang berbatasan langsung dengan Desa Pangkalan Bulian. Sebagian besar mata pencaharian penduduk sebagai petani dan penambang minyak tradisional. Permasalahan penduduk mulai dari permasalahan dalam pengembangan wilayah, permasalahan dibidang sosial budaya dan di bidang perekonomian. Dari sejumlah program dan pelatihan yang diberikan perusahaan kepada masyarakat belum dapat meningkatkan perekonomian masyarakat hal ini diakibatkan oleh ketidak sesuaian dengan keadaan desa dan kebiasaan masyarakat.
EFFEKTIFITAS ZAT PERANGSANG TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN STEK BATANG BALIK ANGIN (Mollotus paniculatus) Yuningsih, Lulu; Lensari, Delfy; Piande, Alam
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v8i2.2698

Abstract

Potensi sumber energi kita yang ada di negara Indonesia semakin hari semakin menipis yang disebabkan diambil secara terus menerus. Sumber energi yang berasal dari fosil ini jika kita ambil secara terus-menerus akan habis dan tidak bisa terbaharukan.  Oleh karena itu perlu adanya altarnatif sumber energi yang bisa diperbaharui, salah satunya energi yang bisa diperbaharui untuk menggantikan energi fosil, adalah biomasa kayu. Salah satu Kayu yang bisa di jadikan sumber energi yang bisa diperbaharui adalah kayu Balik Angin (Mollotus paniculatus). Balik Angin (Mollotus paniculatus) merupakan jenis pohon teduhan yang dapat tumbuh di hutan gugur dan hijau sepanjang tahun. Permasalahan yang ada pada perbanyakan tanaman secara generatif untuk tanaman Balik Angin adalah benih hanya bisa didapat pada musim-musim tertentu saja, sehingga perlu adanya dilakukan penelitian perbanyakan tanaman secara vegetatif salah satunya stek batang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas keberhasilan pertumbuhan stek batang Balik Angin (Mollotus paniculatus) dengan menggunakan berbagai konsentrasi zat pengatur tumbuh (Rootone F). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan melakukan berbagai eksperimen perlakuan terhadap stek batang Balik Angin yaitu tidak diberi perlakuan   S0K Tanpa perlakuan (0 ppm) S1K Perlakuan mengunakan hormon Rootone-f dengan konsentrasi  (100 ppm), S2K Perlakuan mengunakan hormon Rootone-f dengan  konsentrasi  (200 ppm). Untuk tingkat pertumbuhan rata-rata pertumbuhan. Jumlah tunas perlakuan SOA (tanpa perlakuan)  1 tunas, S1A (100 ppm) 1 tunas S2A (200 ppm) 1 tunas. Panjang tunas perlakuan S0A (tanpa perlakuan) 2,83 cm, S1A (100 ppm) 1,72 cm, S2A(200 ppm) 0,23 cm. Jumlah jumlah perlakuan S0A (tanpa perlakuan) 2 helai,S1A (100 ppm) 1 helai, S2A (200 ppm) 1 helai. Presentase hidup perlakuan S0A ( tanpa perlakuan) 11,1 %, S1A (100 ppm) 25,5 % S2A (200 ppm) 4,44 %, panjang akar  perlakuan S0A (tanpa perlakuan  )0,421 cm, S1A (100ppm) 1,07 cm, S2A (200 ppm) 0,18 cm.
SEJARAH PENGUASAAN HUTAN DAN POLA PEMANFAATAN LAHAN OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN HUTAN KPHP RAWAS KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA Yuningsih, Lulu; Pramono, Joko
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v3i1.160

Abstract

Permasalahan sosial kehutanan yang paling krusial adalah okupasi lahan oleh masyarakat menjadi lahan perkebunan, pertanian dan pemukiman. Beberapa skema pola pemberdayaan masyarakat sudah diakomodir oleh pemerintah, namun dalam pelaksanaannya masih banyak terjadi kendala antara lain tidak diketahuinya luas lahan garapan dan pola pemanfaatan lahan yang dilakukan oleh masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah desa dan penguasaan kawasan hutan, serta pola pemafaatn lahan oleh masyarakat sekitar hutan KPHP Rawas. Ada dua tipe desa yakni desa lama dan desa transmigrasi dan penguasaan kawasan hutan dimulai dengan sistim pengelolaan HPH.Lahan pemukiman berkisar 30% dan 70% merupakan lahan garapan. Rata-rata lahan garapan yang dimiliki masyarakat adalah 1-2 ha. Pola pembukaan lahan pada umumnya memakai sistim tebang bakar. Saat ini interaksi masyarakat dengan hutan hanya sebatas memenuhi kebutuhan lahan garapan. Pengetahuan masyarakat tentang hutan masih kurang (<50%) menyatakan tidak tahu.
IDENTIFIKASI HAMA DAN ANALISIS SERANGAN TERHADAP TANAMAN GAHARU (AQUILARIA.SP) DI PT. AGARWOOD BANGKA LESTARI PANGKAL PINANG Handika, Agun; Yuningsih, Lulu; Asmaliyah, Asmaliyah
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v5i1.427

Abstract

Agarwood is a non-timber forest products (NTFPs) with high economic value. Exploitation of these kinds of aloes large crops, causing the plants designated as endangered plants, hence the conservation and development was carried out by the ministry of forestry, and got high response and enthusiasm from the public. This study aims to determine what types of pests that attack plants Agarwood, knowing the intensity of the attacks and the level of damage, climate and weather conditions during the attack. Pests and plant diseases can slow plant growth and even death aloe plant. For example, diseases due to fungal attack which is not the establishment of a pig in a long time can kill plants. Moth pest and mealybug attacks are quite heavy, especially on the young aloe plant can lead plants become miserable so can result in death. Uret pests and termites are also quite dangerous because it causes damage to the roots and base of the tree, insect pests great impact on the success in the plant maintenance, let alone see the environmental conditions that support insect life. As for calculating the intensity of the attack qualitatively classified. (According to Untung, K). To determine the pattern of development of the pests do with charting the development trend of the percentage of attacks and intensity for 5 months, observations performed 5 times at intervals of 1 month observation.
KONTRIBUSI AGROFORESTI REPONG DAMAR TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT Lensari, Delfy; Yuningsih, Lulu
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v6i1.894

Abstract

Sumberdaya hutan mempunyai fungsi terhadap kehidupan manusia, baik secara langsung, maupun secara tidak langsung. Salah satu cara untuk mengurangi kerusakan hutan adalah diikutsertakan masyarakat dalam memelihara hutan misalnya dengan sistem agroforestri. Sistem agroforestri selalu ada interaksi ekologi, sosial dan ekonomi. Salah satu contoh agroforestri tersebut adalah Repong Damar di Pesisir Krui Lampung yang menghasilkan produk getah damar (Shorea javanica). Penelitian dilakukan di Desa Penengahan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung selama 2 bulan. Populasi penelitian adalah masyarakat (petani damar) dengan jumlah responden sebesar 35 KK. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Parameter pendapatan masyarakat yang diukur adalah pendapatan dari usaha mengelola Repong Damar (dalam Rp. per tahun), pendapatan di luar usaha mengelola Repong Damar (dalam Rp. per tahun), dan pendapatan per kapita (dalam Rp. per tahun). Petani Repong Damar di Desa Penengahan memiliki rata-rata pendapatan dari Repong Damar sebesar Rp. 16.120.000/KK/tahun, Pendapatan di luar Repong Damar berkisar antara Rp. 4.200.000/KK/tahun sampai dengan Rp. 24.000.000/KK/tahun dan rata-rata pendapatan per kapita masyarakat di Desa Penengahan adalah sebesar Rp.5.169.200/orang/tahun atau Rp. 430.800/orang/bulan. Faktor yang mempengaruhi aspek pendapatan masyarakat tersebut adalah jumlah anggota rumah tangga, luas lahan Repong Damar, dan sumber pendapatan masyarakat yang berbeda-beda.
POTENTIAL ANALYSIS OF VEGETATION TYPES DIVERSITY IN RECLAMATION LANDS POST COAL MINING PT. BUKIT ASAM (pesero) TBK Yuningsih, Lulu; arez, Arez; Lensari, Delfy
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v10i2.3947

Abstract

To overcome the problem of land degradation due to mining is reclamation (revegetation). This study aims to analyze the level of diversity of vegetation types in post-coal mining reclamation land in 2009, 2012 and 2015. Identification and measurement of vegetation parameters using the path or transect method of analyzing vegetation data and species diversity. The potential level of vegetation species diversity shows that the diversity index value of vegetation species in the 2009 planting year is relatively low, namely at the understorey level, seedlings and saplings, at the pole level and trees are classified as moderate with a value of 1.65. Whereas the rare type is relatively low, only the seedling level is classified as medium with a diversity value of 1.52. The index value for the diversity of vegetation types in 2012 for the thick type was relatively low, only at the pole level, which was classified as medium with a value of 1.66. In the relatively low sparse type only the level of understorey, seedlings and saplings can be calculated with the highest diversity value of 1.55. The value of the diversity index for vegetation types in the 2015 planting year for thick and sparse types was relatively low with the highest diversity index value of 1.04.
ANALYSIS ON THE CHARACTERISTICS OF EX-MINING SOIL AFTER 5 YEARS AND 10 YEARS OF REVEGETATION Hermansyah Hermansyah; Yuningsih Lulu; Ibrahim Eddy; Marsi Marsi
Media Konservasi Vol 26 No 3 (2021): Media Konservasi Vol. 26 No. 3 Desember 2021
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/medkon.26.3.239-247

Abstract

Open-pit mining has affected landscapes and ecosystem balances immensely. The effects are including altered soil surface, decreased soil productivity, soil compaction, erosion and sedimentation, declined biodiversity, as well as deteriorated hydrological, hydrogeological, and atmospheric function of the surrounding area. Reclamation is one of the environmental restoration efforts that could be taken to improve these conditions. Physical and chemical properties of soil are the indicators of soil damage level as well as the success indicator of the reclamation program. This study aims to analyze the changes in post-mining soil characteristics after 5 years and 10 years of revegetation. The sample was selected by the purposive sampling method based on the age of plants and the vegetation density. The physical properties of post-coal soil after 5 years of revegetation are characterized by high soil acidity, low in organic matter (OM)/soil organic carbon (SOC), very low total N (nitrogen), moderate P availability, extremely high K2O, and moderate CEC. Whilst, the post-coal mining soil after 10 years of revegetation is found to be acidic (low pH), with moderate SOC, low total N, low P, very high K2O, and moderate CEC. Heavy metal (Fe, Mn, Al) contents in ex-coal mining reclamation area after 5 years and 10 years revegetation found to be in the high category. Key words: post-mining land, revegetation, soil characteristics
Estimation of Carbon Stock in Sungai Merah Protection Forest, Musi Banyuasin Regency of South Sumatra Province Lulu Yuningsih; Ifran D. Imanda; Ayu Wulandari; Delfi Lensari; Jun Harbi
Sriwijaya Journal of Environment Vol 5, No 3 (2020): ENVIRONMENTAL MANAGEMENT
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.982 KB)

Abstract

Calculation and estimation of carbon stocks in various types of forests and ecosystems in Indonesia has been widely practiced. However, the availability of carbon stock information for some locations in the remaining forest area in South Sumatra Province is still very limited. This study aim to measuring the carbon storage potential and the ratio between the carbon storage value derived from the interpretation of satellite imagery and the storage of carbon stock from the field calculation. The method used is to calculate the estimation of carbon stock through satellite imagery interpretation and field measurement. The largest estimation of carbon stock through satellite image interpretation was found in secondary forest cover type with yield 896,234 ton/c/ha, followed by plantation land type with a yield of 147.104 ton/c/Ha and the smallest is open land cover with value yield of 2.883 tons/c/ha. While carbon stocks through field measurement yield 429,181 ton/c/ha of secondary forest cover type, followed by plantation land type with 41,169 ton/c/ha and 4,283 ton/c/ha for open land type. A comparison of carbon stock estimates of the two approaches used, yielding a reference value of 220%. These comparative values can be used to assist in carrying out initial estimates of carbon stocks in some types of land cover, especially for lowland forest types.
APLIKASI POLA GIS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT UNTUK INVENTARISASI PEMANFAATAN HUTAN PRODUKSI OLEH MASYARAKAT DI KABUPATEN OKU PROVINSI SUMATERA SELATAN Lulu Yuningsih; Delfy Lensari
Jurnal Hutan Tropis Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v4i2.3599

Abstract

In order implementation Of Community Plantation Forest in the field, there are several constraints such as their negative perceptions of the community, so the community is very difficult to provide information on the location location and extent of the area under cultivation. This research was conducted in the area that has come out of the Minister's principal license. The results showed that the vast reserves of Community Plantation Forest 6000 ha, only 225.29 ha of the 47 heads of family which can be further processed to exclude community from the Regent of OKU Decree on behalf of the Ministry of Forestry. Negative perceptions of the value reached 59.56%, while the positive perception of only 39.85%. The Problems that predominantly arise in the community are concerned about the clarity of Land Ownership Status reached 58.82%. This is in line with the expectations that arise are expecting their land ownership rights to the percentage value of 59.56%.Dalam tatanan implementasi Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dilapangan terdapat beberapa kendala antara lain adanya persepsi negatif dari masyarakat, sehingga masyarakat sangat sulit memberikan informasi mengenai letak lokasi dan luasan areal yang digarap. Penelitian ini dilakukan pada kawasan yang sudah keluar ijin prinsip dari Mentri Kehutanan (HTR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari luas pencadangan HTR 6000 ha, hanya 225,29 ha dari 47 Kepala Keluarga yang dapat diproses lebih lanjut untuk dikeluarkan Sk nya dari Bupati OKU atas nama Menteri Kehutanan. Nilai persepsi negatif mencapai 59,56%, sedangkan persepsi positif hanya 39,85%. Permasalahanyang timbul di masyarakat dominan mempermasalahkan tentang kejelasan Status Kepemilikan Lahan mencapai 58,82%.  Hal ini sejalan dengan harapan yang muncul yaitu mengharapkan adanya hak kepemilikan tanah dengan nilai persentasi 59,56%.