Arif Widyanto, Arif
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Poltekkes Kemenkes Semarang

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Sosial Demografi, Lingkungan, dan Pelayanan Kesehatan Terhadap Case Fatality Rate COVID-19:Analisis Ekologi di Jawa Tengah Ardiansyah, Iqbal; Subagiyo, Agus; Widyanto, Arif; Rifqi Maulana, Muhammad; Susiyanti; Abdullah, Sugeng; Ihwani Tantia Nova, Rusyda
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4119

Abstract

Latar Belakang: Jawa Tengah, salah satu provinsi utama Indonesia, menghadapi peningkatan Case Fatality Rate (CFR) pada tahun 2021, naik dari 4,4% menjadi 6,2%, menempatkannya di antara tiga provinsi teratas dengan CFR tertinggi di Indonesia. Tujuan: Untuk menganalisis faktor sosial demografi, lingkungan, dan layanan kesehatan terhadap CFR COVID-19 di Provinsi Jawa Tengah. Metode: Desain penelitian ini adalah studi ekologi exploratory. Data dihimpun dari 29 kabupaten dan 6 kota di Jawa Tengah selama periode 2020-2023. Variabel dependen adalah Tingkat Kematian Kasus COVID-19 (CFR), sedangkan variabel independen meliputi faktor sosio-demografis (kepadatan penduduk, Indeks Pembangunan Manusia/IPM, kunjungan wisatawan), cakupan layanan kesehatan (jumlah seluruh tenaga kesehatan, tenaga kesehatan komunitas, tenaga sanitasi lingkungan), dan faktor lingkungan (akses sanitasi yang layak, akses air minum bersih, curah hujan, dan jumlah hari hujan). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji korelasi dan regresi linier sederhana. Hasil: Korelasi positif yang signifikan antara jumlah tenaga kesehatan per luas wilayah dengan CFR (r = 0,43, p = 0,009) dan antara rasio populasi terhadap tenaga kesehatan dengan CFR (r = 0,43, p = 0,010) pada 2021-2022. Selain itu, akses rumah tangga ke air minum bersih menunjukkan korelasi yang signifikan dengan CFR (r = 0,40, p = 0,018). Namun, faktor-faktor seperti kepadatan penduduk, HDI, dan curah hujan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan CFR. Kesimpulan: distribusi tenaga kesehatan dan akses air minum bersih memainkan peran penting dalam mengurangi angka kematian COVID-19, Studi ini memberikan wawasan berharga untuk pembuatan kebijakan dalam upaya mitigasi pandemi, terutama di daerah dengan karakteristik demografis dan lingkungan yang serupa.
Spatial Analysis of Environmental Determinants of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Endemic Areas in the Working Area of Puskesmas Purwokerto Selatan, Banyumas Regency, 2022-2023 Widyanto, Arif; Salsabila, Hanida; Utomo, Budi
Public Health Research Development Vol. 1 No. 2 (2024): Public Health Research Development
Publisher : Indonesian Association Environmental Health of West Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/phrd.v1i2.27

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a significant public health issue in Indonesia, particularly in endemic areas such as South Purwokerto. Despite a reported 61% decline in cases from 2022 to 2023, transmission persists, indicating the need for a deeper understanding of environmental determinants. This study aims to conduct a spatial analysis of environmental factors associated with dengue case distribution in the working area of the South Purwokerto Health Center during 2022–2023. This research employed an observational design with a qualitative exploratory approach. Data were collected from both primary and secondary sources, including direct measurements of indoor temperature and humidity, health center reports on larval-free index (LFI), larval density, rainfall, and case distribution. Geographic Information Systems (GIS) using ArcGIS software were utilized to analyze spatial patterns of dengue transmission. The findings showed that the average indoor temperature in patients’ homes was 31°C and relative humidity was 70%, conditions that support mosquito breeding. In 2022, the pattern of dengue cases inversely correlated with rainfall, while in 2023 the pattern was inconsistent. The dominant transmission pattern was “separated” (>100 m radius) with 55% of cases in 2022 and 60% in 2023 falling into this category. Only one sub-district, Teluk, failed to meet the Larval-Free Index threshold in 2022, while all areas improved in 2023. In conclusion, although environmental indicators improved in 2023, the persistence of cases indicates hidden transmission risks. Targeted vector control interventions and increased community participation are essential for sustainable dengue prevention.
Pengaruh Insidens DBD dan Status Endemisitas Terhadap Frekuensi Fogging Firdaust, Mela; Widyanto, Arif; Ma'ruf, Fauzan
Buletin Keslingmas Vol 44, No 3 (2025): BULETIN KESLINGMAS VOL. 44 NO. 3 TAHUN 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v44i3.13721

Abstract

Penyakit DBD merupakan penyakit arbovirosis yang masih menjadi masalah di tingkat global. Faktor risiko penyebab penyakit DBD antara lain; curah hujan tinggi, kelembaban tinggi, terdapat vektor penular penyakit, ketersediaan potensial breeding, serta kepadatan penduduk. Kabupaten Banyumas merupakan wilayah endemis DBD, ini berarti bahwa terdapat kasus DBD setiap tahun dalam kurun waktu tiga tahun berturut-turut. Penelitian ini ingin menjelaskan kausalitas antara insidens DBD dan stratifikasi endemisitas terhadap frekuensi fogging. Jenis penelitian ini adalah penelitian observational dengan rancang bangun crossectional. Data yang digunakan adalah kasus DBD (2019-2021), status endemisitas wilayah dan frekuensi fogging di Kabupaten Banyumas. Data dianalisis dengan path analysis AMOS. Hasil menunjukkan bahwa Pengujian variabel Insiden DBD (X) terhadap stratifikasi endemisitas (Y1) memperoleh nilai estimasi yang signifikan (b = - 0,079; p 0.05). Path analysis ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh langsung insiden DBD terhadap stratifikasi endemisitas wilayah. Pengujian variabel stratifikasi endemisitas (Y1) terhadap frekuensi fogging (Y2) memperoleh nilai estimasi yang signifikan (b = -2,184; p 0,05). Path analysis ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh langsung stratifikasi endemisitas wilayah terhadap frekuensi fogging. Peneliti menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh langsung incidens DBD terhadap stratifikasi endemisitas DBD serta terdapat pengaruh langsung stratifikasi endemisitas terhadap frekuensi fogging. Peningkatan Insidens DBD di suatu wilayah dapat berkontribusi pada penentuan status endemisitas wilayah tersebut. Jika sebuah wilayah dengan status endemis dimana terdapat kasus DBD terus menerus dalam kurun waktu 3 tahun maka intensitas pengendalian vektor di wilayah tersebut juga akan tinggi dengan demikian memungkinkan wilayah yang endemis akan dilakukan fogging lebih banyak dibanding dengan wilayah non endemis. 
Analisis Spasial Faktor Sosial, Pelayanan Kesehatan, dan Lingkungan terhadap Kasus COVID-19 di Jawa Tengah Ardiansyah, Iqbal; Maulana, Muhammad Rifqi; Susiyanti, Susiyanti; Abdullah, Sugeng; Subagiyo, Agus; Widyanto, Arif; Nova, Rusyda Ihwani Tantia
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.76257

Abstract

Latar belakang: Tahun 2022, tingkat positif di Jawa Tengah 40,9% melampaui ambang batas WHO (< 5%). COVID-19 menunjukkan pola yang kompleks oleh berbagai variabel seperti, sosial pelayanan kesehatan, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara faktor sosial, pelayanan kesehatan, dan lingkungan terhadap distribusi spasial tingkat kerentanan kasus COVID-19 di Provinsi Jawa Tengah.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain ekologi eksploratori. Unit analisis 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Data agregat tahun 2022 dengan variabel dependen jumlah kumulatif kasus COVID-19. Variabel independen faktor sosial (jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, tingkat pengangguran, tingkat pendidikan penduduk usia >15 tahun, indeks pembangunan manusia (IPM), jumlah turis domestik, Jumlah turis mancanegara), faktor pelayanan kesehatan (jumlah tenaga kesehatan, jumlah tenaga sanitasi lingkungan, akses terhadap sanitasi layak, dan akses terhadap air minum layak). faktor lingkungan (curah hujan rata-rata, kelembapan udara, suhu rata-rata, serta kecepatan angin luas wilayah, serta elevasi rata-rata wilayah). Data diperoleh dari instansi nasional (BPS dan Dinkes Provinsi Jawa Tengah) dan internasional (NASA). Dianalisis menggunakan pemodelan regresi Ordinary Least Squares dengan teknik stepwise backward elimination serta validasi uji asumsi klasik dan autokorelasi spasial. Hasil Pemodelan visualisasikan dengan bentuk peta distribusi tingkat kerentanan berbasis kuartil.Hasil: Variabel yang berasosiasi dengan kasus COVID-19 adalah jumlah penduduk (B = 0,0164), jumlah penduduk miskin (B = -0,0951), jumlah wisatawan domestik (B = 0,0047), jumlah tenaga kesehatan (B = 3,3453), dan suhu rata-rata (B = -2638,61) dengan kekuatan prediktif model (R² = 0,9266), Distribusi spasial menunjukan wilayah dengan tingkat kerentanan sangat tinggi seperti Kota dan Kabupaten Semarang, Kota Surakarta, Kabupaten Magelang, Kabupaten Klaten, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Banjarnegara.Simpulan: Faktor sosial (jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, wisatawan domestik), Faktor Pelayanan Kesehatan (jumlah tenaga kesehatan), dan Lingkungan (suhu rata-rata) merupakan determinan signifikan dengan kasus COVID-19 Jawa Tengah. Distribusi spasial menunjukan 6 wilayah di jawa tengah memiliki tingkat kerentanan Sangat tinggi. ABSTRACT Title: Spatial Analysis of Social, Health Service, and Environmental Factors Associated with COVID-19 Cases in Central JavaBackground: In 2022, the positivity rate in Central Java reached 40.9%, surpassing the WHO threshold (<5%). COVID-19 displays a complex pattern driven by various variables, including social conditions, healthcare services, and environmental factors. This study aims to analyze the association of social conditions, healthcare services, and environmental factors with the spatial distribution of COVID-19 vulnerability in Central Java Province.Method: This quantitative study employed an exploratory ecological design. The analytical units comprised the 35 regencies and cities of Central Java. The study used aggregated 2022 data and set the cumulative number of COVID-19 cases as the dependent variable. Independent variables included social factors (total population, number of people in poverty, unemployment rate, education level of the population aged over 15 years, Human Development Index (HDI), number of domestic tourists, and number of international tourists); healthcare service factors (number of healthcare workers, number of environmental sanitation personnel, access to adequate sanitation, and access to safe drinking water); and environmental factors (mean rainfall, humidity, average temperature, wind speed, territorial area, and mean elevation). The study obtained data from national agencies (Statistics Indonesia (BPS) and Provincial Health Office of Central Java ) and international sources (NASA). The study analyzed the data using Ordinary Least Squares (OLS) regression with backward stepwise elimination and validated the classical OLS assumptions and spatial autocorrelation. The study visualized the modeling results as quartile-based maps showing the spatial distribution of vulnerability.Result: Variables associated with COVID-19 cases were total population (B = 0.0164), number of people living in poverty (B = -0.0951), number of domestic tourists (B = 0.0047), number of healthcare workers (B = 3.3453), and mean temperature (B = -2638.61). The model exhibited strong predictive power (R² = 0.9266). Spatial distribution showed areas with very high vulnerability, including Semarang City and Semarang Regency, Surakarta City, Magelang Regency, Klaten Regency, Banyumas Regency, and Banjarnegara Regency.Conclusion: Social factors (total population, number of people living in poverty, and number of domestic tourists), the healthcare service factor (number of healthcare workers), and the environmental factor (mean temperature) were significant determinants of COVID-19 cases in Central Java. Spatial analysis identified six areas in Central Java with very high vulnerability.
Penggunaan Larvitrap Modifikasi dan Atraktan Air Rendaman Jerami Untuk Mengendalikan Larva Aedes sp Widyanto, Arif; Utomo, Nur; Firdaust, Mela
Buletin Keslingmas Vol. 44 No. 1 (2025): BULETIN KESLINGMAS: VOL. 44 NO. 1 TAHUN 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v44i1.12808

Abstract

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan oleh nyamuk Aedes sp. Upaya pengendalian vektor DBD yang selama ini dilakukan dengan metode kimia menggunakan insektisida yang ditujukan terhadap nyamuk dewasa maupun larva Aedes sp belum mampu menangani permasalahan penyakit DBD. Penggunaan insektisida yang tidak tepat justru dapat mengakibatkan risiko pencemaran lingkungan dan juga resistensi terhadap nyamuk Aedes sp. Penggunaan larvitrap merupakan metode pengendalian alternatif yang perlu dikembangkan. Larvitrap konvensional yang berwarna gelap memiliki kelemahan terkait kesulitan mengamati larva yang didapatkan. Modifikasi larvitrap yang berbahan stoples dan paralon hitam merupakan alternatif metode pengendalian nyamuk Aedes sp yang dapat digunakan untuk mengendalikan larva Aedes sp. Desa Pandak merupakan salah satu desa endemis DBD di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan efektivitas larvitrap modifikasi serta atraktan air rendaman jerami untuk mengendalikan Aedes sp. Penelitian ini merupakan penelitian terapan di masyarakat. Larvitrap dibuat dengan menggunakan bahan stoples berwarna bening dan paralon berwarna hitam. Pada larvitrap tersebut ditambahkan atraktan dari air rendaman jerami padi konsentrasi 20 g/l. Larvitrap dipasang pada rumah responden di Desa Pandak Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Observasi dan penghitungan dilakukan terhadap larvitrap index dan jumlah larva Aedes sp yang terperangkap larvitrap. Hasil penelitian ditemukan jumlah larva Aedes sp sebanyak 1.540 larva pada indoor larvitrap, sedangkan pada outdoor larvitap sebanyak 2.174 larva. Larvitrap index pada pemasangan indoor diperoleh 36%, sedangkan pada outdoor larvitrap  diperoleh 63%. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa indoor dan outdoor larvitrap dapat digunakan sebagai alat pengendali Aedes sp.
Pengaruh Insidens DBD dan Status Endemisitas Terhadap Frekuensi Fogging Firdaust, Mela; Widyanto, Arif; Ma'ruf, Fauzan
Buletin Keslingmas Vol. 44 No. 3 (2025): BULETIN KESLINGMAS: VOL. 44 NO. 3 TAHUN 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v44i3.13721

Abstract

Penyakit DBD merupakan penyakit arbovirosis yang masih menjadi masalah di tingkat global. Faktor risiko penyebab penyakit DBD antara lain; curah hujan tinggi, kelembaban tinggi, terdapat vektor penular penyakit, ketersediaan potensial breeding, serta kepadatan penduduk. Kabupaten Banyumas merupakan wilayah endemis DBD, ini berarti bahwa terdapat kasus DBD setiap tahun dalam kurun waktu tiga tahun berturut-turut. Penelitian ini ingin menjelaskan kausalitas antara insidens DBD dan stratifikasi endemisitas terhadap frekuensi fogging. Jenis penelitian ini adalah penelitian observational dengan rancang bangun crossectional. Data yang digunakan adalah kasus DBD (2019-2021), status endemisitas wilayah dan frekuensi fogging di Kabupaten Banyumas. Data dianalisis dengan path analysis AMOS. Hasil menunjukkan bahwa Pengujian variabel Insiden DBD (X) terhadap stratifikasi endemisitas (Y1) memperoleh nilai estimasi yang signifikan (b = - 0,079; p < 0.05). Path analysis ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh langsung insiden DBD terhadap stratifikasi endemisitas wilayah. Pengujian variabel stratifikasi endemisitas (Y1) terhadap frekuensi fogging (Y2) memperoleh nilai estimasi yang signifikan (b = -2,184; p <0,05). Path analysis ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh langsung stratifikasi endemisitas wilayah terhadap frekuensi fogging. Peneliti menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh langsung incidens DBD terhadap stratifikasi endemisitas DBD serta terdapat pengaruh langsung stratifikasi endemisitas terhadap frekuensi fogging. Peningkatan Insidens DBD di suatu wilayah dapat berkontribusi pada penentuan status endemisitas wilayah tersebut. Jika sebuah wilayah dengan status endemis dimana terdapat kasus DBD terus menerus dalam kurun waktu 3 tahun maka intensitas pengendalian vektor di wilayah tersebut juga akan tinggi dengan demikian memungkinkan wilayah yang endemis akan dilakukan fogging lebih banyak dibanding dengan wilayah non endemis. 
DESKRIPSI JUMLAH DAN SPESIES TIKUS DI DESA BANJARPANEPEN KECAMATAN SUMPIUH Purbaningsih, Vita Catelya; Widyanto, Arif
Buletin Keslingmas Vol. 38 No. 4 (2019): BULETIN KESLINGMAS VOL 38 NO 4 TAHUN 2019
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v38i4.5497

Abstract

Asosiasi tikus dengan manusia seringkali bersifat parasitisme, tikus mendapatkan keuntungan sedangkan manusia sebaliknya. Tikus sering menimbulkan gangguan bagi manusia dalam berbagai hal. Di bidang kesehatan, tikus dapat menjadi sarana bagi beberapa patogen yang dapat menyababkan penyakit pada manusia dan hewan peliharaan. Penyakit yang ditularkan oleh tikus diantaranya adalah penyakit pes, salmonellosis, leptospirosis, scrub typhus, murine typhus, rat-bite fever. Tujuan dari penelitian ini antara lain mendeskripsikan kasus Leptospirosis di Desa Banjarpanepen, memasang perangkap tikus, menghitung jumlah tikus yang tertangkap, mengidentifikasi spesies tikus yang tertangkap. Metode penelitian yang digunakan observasional dengan analisis deskriptif. Data dikumpulkan secara langsung pada subyek penelitian. Analisis data di gunakan analisis tabel dan grafik yaitu dianalisis secara deskriptif.Hasil Trapping di Desa Banjarpanepen dengan Succes trap 16,5%. Spesies tikus yang berhasil ditangkap di wilayah RT 1 RW 4 adalah Rattus tanezumi 13 ekor (76,47%), Juvenile 4 ekor (0,24%). Jenis tikus yang berhasil ditangkap di wilayah RT 1 RW 8 adalah Rattus tanezumi sejumlah 10 ekor (62,5%), Juvenile (tikus muda) sejumlah 5 ekor (31,25%), Subadult (tikus remaja) sejumlah 1 ekor (6,25%). Simpulan dari penelitian ini diperoleh spesies tikus Rattus tanezumi. Tikus Rattus tanezumi merupakan tikus rumah dan tikus ini berperan penting dalam penularan beberapa penyakit seperti pes, dan  leptospirosis. Disarankan untuk meningkatkan upaya pengendalian guna mencegah penyebaran habitat yang luas dan pemeriksaan bakteri Leptospira sp. pada tikus dan lingkungan serta hewan domestik dengan melibatkan dinas peternakan dan pertanian setempat sehingga dapat terdeteksi jalur penularan Leptospirosis di wilayah Desa Banjarpanepen.
Pelatihan Kader Jumantik dalam Pengendalian Vektor DBD Desa Pandak Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas Firdaust, Mela; Widyanto, Arif; Budiono, Zaeni; Abdullah, Sugeng; Santjaka, Aris; Tata Gunawan, Asep; Yulianto
Jurnal Pengabdian Masyarakat - PIMAS Vol. 4 No. 4 (2025): November
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/pimas.v4i4.1947

Abstract

The government conducts a program to reduce dengue cases by focusing on preventive. However, the PSN movement launched by the Regent of Banyumas was not optimal. This activity aims to increase the knowledge of jumantik cadres to control of dengue vectors. Pandak Village is a dengue-endemic village. The number of cadres in Pandak Village is 25 peoples, each RT has one jumantik cadre. The implementation of PSN 3M Plus has gone well, but it is not optimal. In its implementation, cadres have not fully understood the larval monitoring instruments that must be filled and how to control them. After the implementation of jumantik cadres training, knowledge of dengue vector control methods increased to 88% which has a very good value category. Cadres have been able to mention breeding places and resting places for dengue vectors. In addition, cadres were also able to mention how to control dengue vectors both physically, biologically and chemically. Each jumantik cadre has understood his duties, namely responsible for monitoring the larval indices together with the household jumantik and recapitulating data per week, and reporting per month to the jumantik coordinator. Periodic reporting of the tiered larval index will ensure the validity of the ABJ data presented in each Health Center. The data is used as a risk assessment of dengue transmission in the work area of the local health center.