Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Terapi Reiki Terhadap Perubahan Kadar Glukosa Darah Sewaktu (GDS) Pada Lansia Penderita DM Di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga Julitha Pristian Neno; Rona Febriyona; Nur Uyuun I. Biahimo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.941

Abstract

Diabetes Melitus (DM) pada lansia dipicu oleh penurunan fungsi fisiologis tubuh yang berdampak pada sensitivitasinsulin. Terapi reiki merupakan intervensi non-farmakologis yang memanfaatkan energi vital untuk menstabilkanmetabolisme glukosa tubuh. Mengetahui pengaruh terapi reiki terhadap perubahan kadar Glukosa Darah Sewaktupada lansia penderita DM di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga. Penelitian kuantitatif eksperimen (pre-post testdesign) dengan melibatkan 20 responden lansia penderita DM. Data dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed RankTest. Sebelum intervensi, rata-rata GDS responden sebesar 192.70 mg/dL dan setelah intervensi, rata-rata GDSmenurun sebesar 45.55 mg/dL menjadi 147.15 mg/dL dengan nilai p-value = 0,000 (<0.05). Sebanyak 10 respondentetap berada di rentang pradiabetes (140–199 mg/dL) karena ketidakpatuhan dalam mengontrol pola makan dan beratbadan. Terapi reiki secara signifikan efektif menurunkan kadar GDS pada lansia penderita DM. Intervensi inidirekomendasikan sebagai terapi komplementer di Puskesmas, namun pelaksanaannya harus tetap diimbangi denganedukasi manajemen diet dan kontrol berat badan pada pasien.
Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Gouth Arthritis Pada Lansia Di Desa Tungulo Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo Arham Laita; Rosmin Ilham; Nur Uyuun I. Biahimo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.982

Abstract

Gout artharitis merupakan salah satu penyakit degeneratip yang banyak terjadi pada lansia dan berhubungan eratdengan pola makan,khususnya konsumsi makanan tinggi purin . Pola makan yang tidak sehat dapat meningkatkankadar asam urat dalam darah sehingga memicu terjadinya gout arthritis. Penelitian ini bertujuan ini untuk mengetahuihubungan pola makan dengan kejadian gout artharitis pada lansia di desa Tunggulo, Kecamatan Limboto Barat,Kabupaten Gorontalo. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain analitik mengunakan pendekatancross-sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang berada di desa tunggulo dengan jumlahsampel sebanyak 47 responden yang di ambil menggunakan Teknik total samping. Data di kumpulkan melaluikuisoner mengenai pola makan dan pemeriksaan kadar asam urat,kemudian di analisis mengunakan uji statistic chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki pola makan yang tidak baik. Analisabivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian gout artharitis pada lansiadengan p-value = 0,000 (p<0,05).Hal ini menunjukan bahwa pola makan merupakan salah satu faktor yangmempengaruh terhadap kejadian gout artharitis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara polamakan dengan kejadian gouth artharitis pada lansia. untuk memperbaiki pola makan dengan mengurangi konsumsimakanan tinggi purin serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat guna mencegah terjadinya goutartharitis.
Psikoedukasi Berpengaruh Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Siswa Remaja Pramesti Ardani Paintu; Pipin Yunus; Nur Uyuun I. Biahimo; Siti Qomariah Usu
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.295

Abstract

Kecemasan merupakan respon psikologis yang muncul akibat adanya stresor dan dapat memengaruhi kondisi emosional, fisik, serta kemampuan individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kecemasan yang dirasakan dipengaruhi juga dari faktor internal seperti pola pikir, kepercayaan diri, kondisi fisik, dan kemampuan mengelola emosi, faktor lain yakni ekternal seperti dari lingkungan keluarga, sekolah, akademik, teman sebaya, lingkungan sosial dan ekonomi, yang dapat menyebabkan tingkat kecemasan pada remaja mudah dirasakan. Tingkat kecemasan yang tidak ditangani dengan baik dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi terhadap tingkat kecemasan pada siswa remaja di smpn Ix kota gorontalo. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan one group pre-test post-test, melibatkan 27 remaja yang mengalami kecemasan, Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum psikoedukasi, 48,2% responden mengalami kecemasan ringan, 37% cemas sedang, 14,8% cemas berat, sedangkan setelah psikoedukasi, 25,9% responden tidak cemas, 51,9% cemas riny, 22,2% cemas sedang. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value < 0,001, yang mengindikasikan adanya pengaruh signifikan intervensi Psikoedukasi dalam menurunkan tingkat Kecemasan. Hal menunjukan bahwa pemberian psikoedukasi mampu menurunkan tingkat kecemasan pada siswa remaja yang dari 23.63% menurun menjadi 17.96%, Maka dengan itu perlu adanya psikoedukasi dapat dijadikan sebagai bagian dari program rutin bimbingan dan konseling (BK) untuk membantu siswa dalam mengelola tingkat kecemasan dan bagi peneliti selanjutnya agar dapat meneiliti faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada siswa remaja.
Occupational Drawing Therapy Dalam Menurunkan Gejala Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Gangguan Jiwa Revalina Abay; Nur Uyuun I. Biahimo; Pipin Yunus; Setiawan Setiawan
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.307

Abstract

Halusinasi pendengaran merupakan kesalahan dalam mempersepsikan suara yang didengar oleh orang dengan gangguan jiwa dan memerlukan pendekatan terapi komprehensif, termasuk intervensi nonfarmakologis. Salah satu intervensi yang dapat digunakan adalah terapi menggambar okupasi . Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh terapi gambar okupasi terhadap gejala halusinasi pendengaran pasien di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah, Kota Gorontalo. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest . Sampel berjumlah 18 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) dan lembar observasi tanda dan gejala halusinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan terapi okupasi menggambar , 44,4% responden mengalami halusinasi sedang, 44,4% responden mengalami halusinasi berat, 11,2% responden mengalami halusinasi sangat berat. Setelah diberikan terapi okupasi menggambar , 27,8% responden mengalami halusinasi ringan, 66,7% responden mengalami halusinasi sedang, 5,6% responden mengalami halusinasi sangat berat. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value 0,001 < a = 0,05, yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh gejala okupasi drawing Therapy terhadap pasien halusinasi pendengaran di wilayah kerja puskesmas kota tengah, kota Gorontalo. Kesimpulan penelitian ini, intervensi okupasi terapi gambar efektif dalam menurunkan gejala halusinasi pendengaran sehingga perlu dipertimbangkan untuk dijadikan salah satu intervensi nonfarmakologis yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas perawatan penutup dan pemulihan pasien dengan gangguan halusinasi pendengaran.