Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Psikoedukasi Berpengaruh Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Siswa Remaja Pramesti Ardani Paintu; Pipin Yunus; Nur Uyuun I. Biahimo; Siti Qomariah Usu
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.295

Abstract

Kecemasan merupakan respon psikologis yang muncul akibat adanya stresor dan dapat memengaruhi kondisi emosional, fisik, serta kemampuan individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kecemasan yang dirasakan dipengaruhi juga dari faktor internal seperti pola pikir, kepercayaan diri, kondisi fisik, dan kemampuan mengelola emosi, faktor lain yakni ekternal seperti dari lingkungan keluarga, sekolah, akademik, teman sebaya, lingkungan sosial dan ekonomi, yang dapat menyebabkan tingkat kecemasan pada remaja mudah dirasakan. Tingkat kecemasan yang tidak ditangani dengan baik dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi terhadap tingkat kecemasan pada siswa remaja di smpn Ix kota gorontalo. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan one group pre-test post-test, melibatkan 27 remaja yang mengalami kecemasan, Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum psikoedukasi, 48,2% responden mengalami kecemasan ringan, 37% cemas sedang, 14,8% cemas berat, sedangkan setelah psikoedukasi, 25,9% responden tidak cemas, 51,9% cemas riny, 22,2% cemas sedang. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value < 0,001, yang mengindikasikan adanya pengaruh signifikan intervensi Psikoedukasi dalam menurunkan tingkat Kecemasan. Hal menunjukan bahwa pemberian psikoedukasi mampu menurunkan tingkat kecemasan pada siswa remaja yang dari 23.63% menurun menjadi 17.96%, Maka dengan itu perlu adanya psikoedukasi dapat dijadikan sebagai bagian dari program rutin bimbingan dan konseling (BK) untuk membantu siswa dalam mengelola tingkat kecemasan dan bagi peneliti selanjutnya agar dapat meneiliti faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada siswa remaja.
Occupational Drawing Therapy Dalam Menurunkan Gejala Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Gangguan Jiwa Revalina Abay; Nur Uyuun I. Biahimo; Pipin Yunus; Setiawan Setiawan
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.307

Abstract

Halusinasi pendengaran merupakan kesalahan dalam mempersepsikan suara yang didengar oleh orang dengan gangguan jiwa dan memerlukan pendekatan terapi komprehensif, termasuk intervensi nonfarmakologis. Salah satu intervensi yang dapat digunakan adalah terapi menggambar okupasi . Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh terapi gambar okupasi terhadap gejala halusinasi pendengaran pasien di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah, Kota Gorontalo. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest . Sampel berjumlah 18 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) dan lembar observasi tanda dan gejala halusinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan terapi okupasi menggambar , 44,4% responden mengalami halusinasi sedang, 44,4% responden mengalami halusinasi berat, 11,2% responden mengalami halusinasi sangat berat. Setelah diberikan terapi okupasi menggambar , 27,8% responden mengalami halusinasi ringan, 66,7% responden mengalami halusinasi sedang, 5,6% responden mengalami halusinasi sangat berat. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value 0,001 < a = 0,05, yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh gejala okupasi drawing Therapy terhadap pasien halusinasi pendengaran di wilayah kerja puskesmas kota tengah, kota Gorontalo. Kesimpulan penelitian ini, intervensi okupasi terapi gambar efektif dalam menurunkan gejala halusinasi pendengaran sehingga perlu dipertimbangkan untuk dijadikan salah satu intervensi nonfarmakologis yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas perawatan penutup dan pemulihan pasien dengan gangguan halusinasi pendengaran.
PENGARUH TERAPI DIVERSIONAL TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN PADA LANSIA DI GRIYA LANSIA JANNATI GORONTALO Firmawati; Nur Uyuun I. Biahimo; Ayu Ashari
The Shine Cahaya Dunia D-III Keperawatan Vol 10 No 2 (2025): The Shine Cahaya Dunia D III Keperawatan
Publisher : LPPM Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kecemasan merupakan masalah yang sangat nyata pada lansia yang dapat menyebabkan lansia mengalami penurunan aktivitas fisik dan status fungsional sehingga diperlukan penanganan dengan tindakan non farmakologi yaitu terapi diversional karena dengan terapi menggunakan obat mempunyai dapat memberikan efek samping. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh terapi diversional terhadap penurunan kecemasan pada lansia di Griya Lansia Jannati Gorontalo. Metode: Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian pre-eksperimental dengan one group pre-test dan post-test design, populasi semua lansia di Griya Lansia Jannati Gorontalo sejumlah 17 orang, jumlah sampel 15 lansia menggunakan tekhnik sampling purposive sampling dalam penelitian ini dan data dianalisis dengan uji statistik non parametrik wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian diperoleh mayoritas tingkat kecemasan sebelum terapi diversional adalah sedang sebanyak 10 responden (66,7%) dengan rata-rata skor kecemasan 68 dan mayoritas tingkat kecemasan setelah terapi diversional adalah ringan sebanyak 9 responden (60%) dengan rata-rata skor kecemasan setelah 53,67, serta diperoleh p-value 0,001 <α 0,05. Terapi diversional meningkatkan produksi hormon serotonin yang membuat lansia lebih bahagia yang menyebabkan perasaan cemas berkurang. Kesimpulan: Dapat disimpulkan ada pengaruh terapi diversional terhadap penurunan kecemasan pada lansia di Griya Lansia Jannti Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu, disarankan pihak panti dapat menerapkan terapi diversional ini setiap hari atau 1-2 kali dalam seminggu sebagai penanganan kecemasan dan menjadi tambahan kegiatan lansia di panti.  
Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Pada Pasien Ansietas Di Poli Jiwa RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Dolly Maspodi; Ani Retni; Nur Uyuun I. Biahimo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1195

Abstract

Kecemasan merupakan gangguan psikologis. Individu yang mengalami kecemasan cenderungmengalami kesulitan tidur. Kondisi tersebut dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari dankualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasandengan kualitas tidur pada pasien ansietas di Poli Jiwa RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe KotaGorontalo. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan crosssectional. Jumlah sampel sebanyak 93 responden yang dipilih menggunakan teknik purposivesampling. Instrumen yang digunakan yaitu Zung Self Rating Anxiety Scale (ZRAS) untukmengukur tingkat kecemasan dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitastidur. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang sebanyak73 responden (78,5%) dan memiliki kualitas tidur buruk sebanyak 84 responden (90,3%). Hasil ujiSpearman Rank diperoleh nilai p-value = 0,001 (p &lt; 0,05) dengan nilai koefisien korelasi r =0,341 yang menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur padapasien ansietas di Poli Jiwa RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Hubungan tersebutbersifat positif, yang berarti semakin tinggi tingkat kecemasan maka semakin buruk kualitas tidurpasien. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan antara tingkat kecemasandengan kualitas tidur pada pasien ansietas.
Hubungan Teman Sebaya Dengan Kesehatan Mental Pada Remaja Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Nur Raihana Alamri; Pipin Yunus; Nur Uyuun I. Biahimo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1465

Abstract

Teman sebaya dapat dianalogikan sebagai lingkungan sosial perdana, di mana seseorang remajaberlatih untuk berinteraksi dan menunjukkan rasa hormat kepada individu lain yang bukan berasal darilingkungan rumahnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan teman sebaya dengankesehatan mental pada remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto. Metode penelitian menggunakanmetode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 74 respondenyang dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pengumpulan data dilakukanmenggunakan kuesioner Peer Relationship Scale dan kuesioner Strenght Difficulties Questionnaire(SDQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teman sebaya kategori sedang sebanyak 34 responden(45,9%) dan kategori tinggi sebanyak 40 responden (54,1%). Kesehatan mental kategori normalterdapat 3 responden (4,1%), kategori borderline terdapat 13 responden (17,6%), dan kategoriabnormal sebanyak 58 responden (78,4%). Hasil bivariat menggunakan uji Spearman Rankmenunjukkan nilai p-value = 0,002 (p &lt; 0,05) yang berarti terdapat hubungan signifikan antara temansebaya dengan kesehatan mental pada remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto.
KONTRIBUSI MASASE KAKI TERHADAP PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TELAGA Nur Uyuun I. Biahimo; Sri Susanti Abdullah; Fitricah Tahir
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v2i1.999

Abstract

Hipertensi merupakan tekanan darah sistolik lebih besar dari atau sama dengan 140 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih besar dari atau sama dengan 90 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi masase kaki terhadap penderita hipertensi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, Setelah data dianalisis,peneliti mendapatkan lima pertanyaan yaitu: (1) Definisi hipertensi (2) Faktor penyebab hipertensi (3) Pengukuran tekanan darah (4) Pengobatan hipertensi (5) Penerapan masase kaki. Peneliti selanjutnya melakukan pengukuran tekanan darah dan masase kaki. Berdasarkan hasil wawancara langsung,maka diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden mengetahui apa hipertensi, penyebab, sering memeriksakan tekanan darah, pengobatan hipertensi danada kontribusi masase kaki terhadap penderita hipertensi. Diharapkan untuk profesi kesehatan ini dapat digunakan sebagai pengembangan ilmu keperawatan dalam menjadikan masase kaki sebagai pengobatan non farmakologi yang berkontribusi terhadap penderita hipertensi.
Peran Kepala Ruangan Dalam Manajemen Keperawatan Dan Tingkat Kepuasan Pasien Di Instalasi Rawat Inap Interna RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo Imelda Putri Hurudji; Sabirin B. Syukur; Nur Uyuun I. Biahimo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1574

Abstract

Peran kepala ruangan merupakan kemampuan kepala ruangan dalam melaksanakan fungsi manajemenkeperawatan melalui kepemimpinan, motivasi, komunikasi, pendelegasian, pelatihan, dan supervisi, sedangkankepuasan pasien adalah tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan berdasarkan dimensi tangibles,reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran kepalaruangan dalam manajemen keperawatan dan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Prof. Dr. H.Aloei Saboe Kota Gorontalo. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 30 perawat dan 83 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposivesampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat dalambentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kepala ruangan beradapada kategori sangat baik sebanyak 27 responden (90,0%) dan kategori baik sebanyak 3 responden (10,0%).Tingkat kepuasan pasien berada pada kategori puas sebanyak 62 responden (74,7%) dan kategori sangat puassebanyak 21 responden (25,3%). Disimpulkan bahwa pelaksanaan fungsi manajemen keperawatan oleh kepalaruangan yang optimal mendukung terselenggaranya pelayanan keperawatan yang berkualitas sehinggaberkontribusi terhadap tingginya tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap.
EFEKTIVITAS TERAPI EMPATI UNTUK MENURUNKAN PERILAKU BULLYING PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SDN 3 TELAGA JAYA KABUPATEN GORONTALO Nur Uyuun I. Biahimo; Inne Ariane Gobel; Luthfiyana Umar
The Shine Cahaya Dunia S-1 Keperawatan Vol. 10 No. 1 (2025): THE SHINE CAHAYA DUNIA S-1 KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/

Abstract

 Latar belakang: Salah satu bentuk pemyimpangan perilaku yang terjadi pada siswa sekolah dasar ialah bullying. Bullying merupakan sebuah tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti orang lain dengan cara fisik, sosial maupun verbal. empati dapat berkontribusi pada perkembangan moral sehingga perilaku bullying yang termasuk dalam perilaku imoral dapat dikurangi dengan meningkatkan empati. Selain empati dapat menurunkan perilaku bullying juga dapat bermanfaat untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain. Penatalaksanaan terapi empati ini menurut penelitin sebelumnya yang melakukan studi di luar negeri yang dilakukan oleh Stanbury dari Amerika Serikat pernah melakukan penelitian tentang The Effects Of An Emathy Building Program On Bullying Behaviour dalam jurnal membahas tentang pengembangan, implementasi dan menghasilkan bahwa program pembangunan empati mempunyai efek positif terhadap penurunan perilaku bullying.   Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif pre-eksperimental dengan one group pre-test dan post-test design yang dilakukan pada satu kelompok dengan dua kali pengukuran. Peneliti akan mengukur perilaku bullying sebelum (pre-test) dilanjutkan dengan terapi empati kemudian mengukur kembali perilaku bullying (post-test).   Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terapi empati efektif untuk menurunkan perilaku bullying pada anak sekolah dasar di SDN 3 telaga jaya kabupaten gorontalo dengan p-value 000 (<0.05). Selain itu, terdapat perbedaan perilaku bullying yang signifikan sebelum sebanyak 15 responden (46.9%) dan sesudah sebanyak 21 responden (65.6%).   Kesimpulan: Terapi empati efektif untuk menurunkan perilaku bullying pada anak sekolah dasar di SDN 3 telaga jaya kabupaten gorontalo