Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PERCEPATAN PENGUAPAN AIR PADA TUNNEL GARAM MENGGUNAKAN PENUTUP TUNNEL BERWARNA HITAM DAN PENGARAH ANGIN Prayitno, Muhamad Riyono Edi; Hidayat, Zahira Salsabila; Baswantara, Arif; Sembiring, Kennedi; Kusdinar, Afriana
MARLIN Vol 4, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V4.I2.2023.95-100

Abstract

Produksi garam menggunakan tambak geomembran model tunnel marak dikembangkan di Indonesia. Selain hasil garam yang lebih bersih dibandingkan dengan tambak kolam tanah, produksi garam dengan metode ini bisa dilaksanakan sepanjang tahun karena tidak terkendala oleh hujan. Namun demikian, proses penguapan pada kolam tunnel lebih lambat dibandingkan kolam terbuka sehingga waktu tunggu panennya menjadi lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kecepatan penguapan pada tambak garam model tunnel dengan penggunaan plastik penutup tunnel berwarna hitam untuk meningkatkan suhu dan pengarah angin untuk meningkatkan aliran angin dalam kolom tunnel. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan berupa tunnel berpenutup plastik bening tanpa pengarah angin sebagai kontrol, tunnel berpenutup plastik hitam tanpa pengarah angin, tunnel berpenutup plastik bening dengan pengarah angin dan tunnel berpenutup plastik hitam dengan pengarah angin. Kolam tunnel berukuran 200 x 100 x 35 cm dan diisi dengan air laut setinggi 30 cm. Parameter yang diukur yaitu berupa suhu, kelembapan dan kecepatan angin pada kolom tunnel serta penurunan tinggi muka air harian selama 30 hari. Data dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam dan Uji Beda Nyata Terkecil. Penggunaan plastik penutup berwarna hitam dan pengarah angin berpengaruh nyata terhadap peningkatan kecepatan penguapan dengan kecepatan tertinggi diperoleh pada tunnel berpenutup plastik hitam dan pengarah angin dengan kecepatan penguapan 0,98 cm/hari atau setara dengan 19,6 liter/hari.Salt production using geomembrane ponds tunnel model is widely developed in Indonesia. In addition to producing salt that is cleaner than land ponds, salt production with this method can be carried out throughout the year because it is not constrained by rain. However, the evaporation process in tunnel ponds is slower than open ponds, so the production time until the harvest is longer. This study aims to increase the speed of evaporation in the salt pond model tunnel by using black plastic tunnel cover to increase temperature and wind direction turner to increase wind flow in the tunnel column. The study was conducted in a completely randomized design with 4 treatments in the form of a clear plastic covered tunnel without wind direction as a control, a black plastic covered tunnel without wind direction turner, a clear plastic covered tunnel with wind direction turner and a black plastic covered tunnel with wind direction turner. The tunnel pool measures 200 x 100 x 35 cm and is filled with seawater as high as 30 cm. Parameters measured were temperature, humidity and wind speed in the tunnel column as well as the daily decrease in water level for 30 days. Data were analyzed using the Test of Variance and the Test of Least Significant Difference. The use of black plastic covers and wind direction turner has a significant effect on increasing the evaporation rate with the highest rate obtained in the tunnel covered with black plastic and wind direction turner with an evaporation rate of 0.98 cm/day or equivalent to 19.6 liters/day.
PEMENUHAN PERSYARATAN PENGAWAKAN KAPAL PERIKANAN DI PELABUHAN PERIKANAN MASAMI, BANYUWANGI Suhery, Noveldesra; Ulhamdy, R. Achmad Liwa; Kusdinar, Afriana
MARLIN Vol 5, No 2 (2024): (Agustus) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V5.I2.2024.141-154

Abstract

Pemenuhan persyaratan pengawakan kapal perikanan merupakan salah satu aspek yang menentukan keselamatan dan keamanan pelayaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pemenuhan persyaratan pengawakan kapal perikanan dan kesesuaian dokumen awak kapal perikanan di Pelabuhan Perikanan (PP) Masami, Banyuwangi. Pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan mengikuti pemeriksaan dokumen persyaratan pengawakan yang diintegrasikan dalam proses penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) pada bulan Juni 2023. Tercatat sebanyak 18 unit kapal perikanan yang mengurus SPB yang terdiri atas 62 orang perwira dan 478 orang anak buah kapal (ABK). Pemenuhan persyaratan dokumen awak kapal perikanan di PP Masami belum sepenuhnya mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan, khususnya ketentuan PERMEN-KP No. 33 Tahun 2021. Namun, proses pemeriksaan syarat pengawakan untuk penerbitan SPB telah dijalankan sesuai PERMEN-KP No. 3 Tahun 2013. Jenis sertifikat kompetensi yang dimiliki oleh perwira bagian dek dan mesin adalah Surat Keterangan Kecakapan (SKK) 60 mil (60%), sertifikat Ahli Nautika Kapal Perikanan (ANKAPIN III) dimiliki oleh 34% perwira yang sebagian besar adalah Nahkoda, dan sisanya 6% (sebagian kecil dari Kepala Kamar Mesin/KKM) memiliki sertifikat Ahli Teknika Kapal Perikanan (ATKAPIN III). Seluruh ABK saat ini hanya menggunakan kartu identitas sebagai dokumen pengawakan dan belum memiliki Buku Pelaut ataupun sertifikat Basic Safety Training (BST).
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI PULAU PEMAGARAN, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA Hakim, Muhammad Romdonul; Kusdinar, Afriana; Kiswandi, Malika Felizia; Yusri, Safran
MARLIN Vol 3, No 2 (2022): (Agustus 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V3.I2.2022.87-96

Abstract

Pengamatan mangrove di Pulau Pemagaran, Kepulauan Seribu mengambil lokasi stasiun pengamatan di bagian utara, timur, selatan, dan barat Pulau Pemagaran dengan substrat berupa pasir berlumpur. Ekosistem mangrove di Pulau Pemagaran memiliki Indeks Nilai Penting (INP) berkisar dari 32,02 – 300,00. Pada stasiun 1 Rhizophora mucronata menjadi jenis mangrove yang paling dominan untuk stadia pohon dan anakan dengan INP masing-masing 250,00 dan 165,74; sedangkan untuk stadia semai Rhizophora stylosa menjadi jenis mangrove yang paling dominan dengan INP sebesar 81,41. Pada stasiun 2 mangrove jenis Sonneratia alba adalah yang paling dominan untuk stadia pohon dengan INP sebesar 106,09; sedangkan untuk stadia anakan dan semai Rhizophora mucronata menjadi mangrove yang paling dominan dengan INP masing-masing sebesar 174,58 dan 82,89. Pada stasiun 3 hanya terdapat 1 individu mangrove yaitu dalam stadia pohon sehingga Rhizophora stylosa memiliki INP sebesar 300,00. Terakhir, pada stasiun 4 hanya terdapat satu jenis mangrove yaitu Rhizophora stylosa pada stadia anakan dan semai sehingga INPnya sebesar 300,00. Rhizophora stylosa merupakan jenis mangrove yang sebarannya terdapat di seluruh stasiun, sekaligus menandakan merupakan mangrove baru yang sengaja ditanam di Pulau Pemagaran. Pulau Pemagaran memiliki nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 0 – 1,30. Hal ini menunjukkan keanekaragaman jenis mangrove yang tumbuh di Pulau Pemagaran tergolong rendah atau bersifat seragam.Observations of mangroves on Pemagaran Island, Seribu Islands took the location of observation stations in the north, east, south, and west of Pemagaran Island with the substrate in the form of muddy sand. The mangrove ecosystem on Pemagaran Island has an Important Value Index (INP) ranging from 32.02 – 300.00. At station 1 Rhizophora mucronata became the most dominant mangrove species for tree and tiller stages with INPs of 250.00 and 165.74, respectively; while for the seedling stage, Rhizophora stylosa became the most dominant mangrove species with an INP of 81.41. At station 2, the Sonneratia alba mangrove species was the most dominant for the tree stage with an INP of 106.09; while for the tiller and seedling stages, Rhizophora mucronata became the most dominant mangrove with INPs of 174.58 and 82.89, respectively. At station 3 there is only 1 individual mangrove, namely in the tree stage so that Rhizophora stylose has an INP of 300.00. Finally, at station 4 there is only one type of mangrove, namely Rhizophora stylosa at the tiller and seedling stages so that the INP is 300.00. Rhizophora stylose is a type of mangrove whose distribution is found in all stations, as well as indicating that it is a new mangrove deliberately planted on Pemagaran Island. Pemagaran Island has a diversity index value ranging from 0 to 1.30. This shows that the diversity of mangrove species growing on Pemagaran Island is low or uniform.
KOLABORASI BERSAMA MASYARAKAT DALAM UPAYA REVITALISASI KAWASAN MANGROVE BULAKSETRA, PANGANDARAN, JAWA BARAT Baswantara, Arif; Wibowo, Yuni Ari; Alfaris, Lulut; Kusdinar, Afriana; Firdaus, Anas Noor; Sembiring, Kennedi; Hakim, Muhammad Romdonul; Prayitno, Muhammad Riyono Edi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 6 (2023): Volume 4 Nomor 6 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i6.23568

Abstract

Kawasan mangrove bulaksetra yang berada di wilayah Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran telah banyak mengalami alih fungsi lahan sejak tahun 2017. Alih fungsi ini mengakibatkan beberapa kerusakan, sehingga pengembalian ke kondisi semula (revitalisasi) perlu dilakukan khususnya pada pengembalian vegetasi mangrove dan vegetasi pesisir lainnya di kawasan ini. Selain melaksanakan aktivitas penanaman, kolaborasi bersama kelompok penggerak masyarakat juga dirasa penting agar proses revitalisasi ini dapat berlangsung secara berkelanjutan. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Babakan dilaksanakan secara terprogram selama enam bulan dengan enam tahapan kegiatan. Program ini dilaksanakan untuk membantu Kelompok Penggerak dan Pengelola Kawasan Pesisir Bulaksetra (KPPKP-Bulaksetra) yang telah ada di masyarakat, dalam proses revitalisasi kawasan mangrove. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan disetiap tahapan kegiatan dan di akhir program, diperoleh kesimpulan bahwa masyarakat merasakan manfaat dari program pengabdian tersebut, dan program ini akan terus dilanjutkan hingga proses revitalisasi menunjukkan perkembangan.
Pemanfaatan Teknologi Monitoring Kualitas Air pada Sektor Budidaya di Desa Cintakarya, Kabupaten Pangandaran: Penelitian Wahyudi, Andri; Muhammad Romdonul Hakim; Yuni Ari Wibowo; Lulut Alfaris; Afriana Kusdinar; Anas Noor Firdaus; Arif Baswantara; Kennedi Sembiring; Suhernalis
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3916

Abstract

Desa Cintakarya telah menjadi mitra Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran sejak 2021. Penelitian pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas teknis pembudidaya dalam pemantauan kualitas air melalui penerapan teknologi monitoring serta mengevaluasi efektivitas pelatihan dan distribusi alat ukur. Metode pelaksanaan terdiri dari enam tahapan terstruktur meliputi perencanaan, survei lokasi, persiapan, penyampaian materi dan demonstrasi alat (pengukuran suhu dan TDS), monitoring lapangan, serta evaluasi akhir; pendekatan melibatkan pelatihan teknis, demonstrasi, kuisioner evaluatif, dan FGD. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pemahaman praktis peserta terhadap penggunaan alat monitoring dan penerapan parameter kualitas air; penyerahan alat kepada Kelompok Pembudidaya Ikan Tirta Kahuripan memperkuat kapasitas operasional lapangan. Analisis kuisioner mengindikasikan 74% responden menilai kegiatan berhasil, 15% sangat berhasil, dan 11% netral. Observasi juga mengidentifikasi bahwa intervensi teknologi monitoring efektif untuk meningkatkan kapabilitas pembudidaya, namun keberlanjutan dampak memerlukan penguatan materi berbasis praktik dan peningkatan sarana pelatihan untuk mendukung adopsi teknologi secara luas.