Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Transformation of Sense of Place in Citra Niaga Area Fitriansyah Fitriansyah; Putu Ayu P. Agustiananda; Arif Budi Sholihah
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 9 No. 2 (2026): April
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v9i2.15874

Abstract

Citra Niaga area in Samarinda, a recipient of the Aga Khan Award, has experienced a significant decline in existence due to modern competition and the erosion of sense of place. This research aims to identify sense of place elements (physical form, activity, meaning) based on cross-generational perceptions to formulate an adaptive revitalization strategy. Using data (Likert scale questionnaire and qualitative) from 93 respondents (visitors and merchants), the quantitative analysis shows the historical value and original architecture of Citra Niaga is appreciated. However, significant weaknesses were seen in the diversity of activities, quality of facilities, and physical tidiness. The qualitative analysis highlighted an aspiration gap between generations: the older generation longs for the nostalgia of the past, while the younger generation seeks dynamic experiences and modern facilities. Key complaints include parking issues, cleanliness, and lack of creative events. These results emphasize the need for a holistic approach. The proposed revitalization strategy includes preserving the original architecture along with improving parking facilities and arrangements, diversifying activities through cultural events and contemporary tenants, and building a historical narrative that appeals to all generations. The goal is to transform Citra Niaga into a relevant, beloved and sustainable public space for the people of Samarinda.
KAJIAN PROSES DAN DAMPAK GENTRIFIKASI DI KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTAGEDE MAFFYRA BINAR FIRSTYA MUTIARA; Arif Budi Sholihah; Revianto Budi Santosa
NALARs Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kotagede sebagai sebuah kawasan bersejarah sekaligus kawasan cagar budaya di Yogyakarta, terindikasi menghadapi gentrifikasi. Hal ini berpotensi mengubah karakter fisik, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses gentrifikasi di Kotagede serta dampaknya terhadap kawasan cagar budaya tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan untuk mengetahui sejarah Kotagede yang terkait langsung dengan gentrifikasi. Data ini diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang terkait, serta studi dokumentasi. Selanjutnya data dianalisis melalui beberapa metode. Analisis  kualitatif digunakan untuk memahami dampak gemtrifikasi pada aspek fisik dan spasial kawasan, serta aspek sosial dan ekonomi.  Analisis komparatif digunakan untuk membandingkan proses dan dampak gentrifikasi pada dua fase. Analisis pemetaan spasial digunakan untuk memahami perubahan tata ruang Kotagede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gentrifikasi di Kotagede terjadi dalam dua fase utama: fase pertama yang ditandai dengan invasi kelompok pedagang, dan fase kedua yang ditandai dengan masuknya kelompok bermodal tinggi yang membeli rumah tradisional Kotagede. Fase pertama berdampak pada lahirnya pemukiman padat dan kekayaan tipologi arsitektur. Secara fungsional, Kotagede berubah menjadi kota perdagangan dan kota kerajinan yang makmur. Dari aspek sosial, terjadi perubahan demografi Kotagede yang didominasi pedagang dan pengrajin, serta hadirnya kalangan intelektual. Sedangkan pada fase kedua, dimana fenoma architectural neglection and alterations terjadi, gentrifikasi berdampak pada pelestarian fisik bangunan.   Kotagede, one of Yogyakarta’s cultural heritage districts, faces gentrification pressures that may transform its physical, social, and economic character. This phenomenon can accelerate the degradation of the district’s identity if unmanaged, but it also holds the potential to become a tool for preservation through building restoration. This study aims to analyze the dynamics of gentrification in Kotagede across two phases of development and examine its impacts on the district’s social, economic, and spatial-physical aspects. A qualitative descriptive approach with a case study strategy was employed, utilizing literature review, field observations, in-depth interviews, and documentation studies. The analysis compared two gentrification phases: (1) the influx of traders and artisans after the Diponegoro War and (2) the arrival of high-capital groups following the 1998 economic crisis and the 2006 earthquake and incorporated spatial mapping to identify settlement pattern changes. Findings indicate that the second phase significantly contributed to the adaptive reuse of heritage buildings, the restoration of the district’s image from neglect, and the enhancement of tourism and the local economy. These results enrich the gentrification literature by demonstrating that gentrification in heritage districts can have a positive impact if managed participatively and contextually, and provide a basis for formulating community-based planning policies that balance heritage conservation with social sustainability.
Identifikasi Keterikatan Tempat di Alun-alun Kota Probolinggo Muhammad Syauqi Hikam Fayazid; Putu Ayu Pramanasari Agustiananda; Arif Budi Sholihah
TATALOKA Vol 28, No 1 (2026): Volume 28 No 1, February 2026
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.28.1.42-52

Abstract

Keterikatan tempat terbentuk melalui proses interaksi manusia yang lama. Efek urbanisasi mempercepat perubahan yang berpotensi melemahkan dan menghancurkan ikatan manusia dengan tempat tersebut. Penting untuk memahami keterikatan tempat sebagai konsep untuk perencanaan ruang publik, seperti halnya yang terjadi di Alun-alun sebagai pusat aktivitas bagi masyarakat urban. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk keterikatan tempat pada Alun-alun Kota Probolinggo. Dengan pendekatan explanatory sequential mixed methods, penelitian dimulai dengan pengumpulan data kuantitatif melalui kuesioner, kemudian dianalisis dan diperdalam dengan wawancara serta observasi, sehingga menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai 3 dimensi keterikatan tempat.  Penelitian menganalisis 3 aspek: (1) budaya (nilai historis dan tradisi), (2) pengalaman personal (intensitas kunjungan), dan (3) karakteristik demografis. Hasil menunjukkan keterikatan terbentuk melalui dimensi afektif (kenyamanan), kognitif (pemaknaan simbolik), dan budaya (partisipasi kegiatan). Hasil menunjukkan bahwa pemahaman pengguna terhadap sejarah terbatas, namun keterikatan tetap kuat karena pengalaman berulang. Sebanyak 68% responden merasa nyaman dan bangga, didorong oleh aspek fisik dan interaksi sosial. Alun-alun berfungsi multigenerasi: muda untuk sosialisasi; dewasa untuk relaksasi; dan lansia untuk interaksi sosial. Keberlanjutannya tidak hanya bergantung pada nilai historis, tetapi pada partisipasi aktif masyarakat. Strategi pengembangan perlu fokus pada inklusivitas, kenyamanan, dan pelibatan warga agar alun-alun tetap relevan sebagai ruang publik yang bermakna.
ADAPTIVE REUSE BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI KAWASAN KOMERSIAL: STUDI KASUS SD NETRAL C YOGYAKARTA Muhammad Ikhwan; Erlangga Winoto; Putu Ayu Pramanasari Agustiananda; Arif Budi Sholihah
JURNAL KOLABORASI UNPAND 卷 5 期 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.102

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi tantangan dan peluang bangunan cagar budaya di kawasan komersial perkotaan Indonesia melalui studi kasus SD Netral C (Sekolah Dasar Netral C) Yogyakarta—sebuah sekolah bersejarah yang didirikan pada era kolonial dan masih mempertahankan fungsi aslinya di tengah tekanan komersial kawasan Malioboro. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi keseimbangan antara pelestarian cagar budaya dengan viabilitas ekonomi melalui penerapan adaptive reuse sebagai sebuah strategi. Melalui pendekatan studi kasus eksploratif, data dikumpulkan dari observasi lapangan, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan SD Netral C memiliki nilai cagar budaya yang unik (bertahan selama 113 tahun, berkarakter inklusif, dan berstatus Sultan Ground), namun menghadapi ancaman penurunan jumlah siswa akibat gentrifikasi. Dua skenario adaptive reuse dikembangkan: Heritage School Plus (intervensi minimal dengan program cagar budaya tambahan) dan Community Heritage Hub (mixed-use sebagai fungsi pendidikan-komunitas-komersial). Observasi mengungkap perbedaan antargenerasi dalam merespons perubahan—generasi tua lebih mendukung preservasi maksimal, sementara generasi muda lebih adaptif. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan bertahap dimulai dengan intervensi minimal untuk membangun kepercayaan sebelum transformasi lebih lanjut.
Revealing the Spirit of Place: The Former Campus of the Indonesian Academy of Fine Arts in Yogyakarta Raden Bagus Budho Diwangkoro; Aditya Noor Hadhy Utama; Putu Ayu Pramanasari Agustiananda; Arif Budi Sholihah
Jurnal Internasional Teknik, Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 7 No 1 (2025): International Journal of Engineering, Technology and Natural Sciences
Publisher : Universitas Teknologi Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46923/ijets.v7i1.397

Abstract

In many urban heritage contexts, adaptive reuse often prioritizes physical and economic transformation while neglecting the intangible dimensions that shape a site’s identity. The former campus of the Indonesian Academy of Fine Arts (ASRI) in Yogyakarta, that now revitalized as the Jogja National Museum (JNM) and JNM Bloc, is a compelling case to examine how the spirit of place (genius loci) evolves in response to cultural, spatial, and functional shifts. This study aims to analyze the historical transformation and adaptive reuse of the ASRI campus and to explore the persistence or redefinition of its genius loci through the dimensions of image, space, and character. Employing a qualitative case study design, data were collected through field observations, semi-structured interviews with stakeholders (including alumni, artists, and museum managers), and archival documentation. Data were analyzed using phenomenological interpretation, focusing on the relationships between tangible heritage, community memory, and symbolic meaning. The results show that despite commercial insertions and spatial reprogramming, the site retains its identity as an arts and cultural landmark. Key findings include the role of community actors in preserving memory, the hybridization of academic and public spaces, and the use of symbolic anchors (e.g., banyan tree, monuments) to sustain continuity. This study contributes conceptually to adaptive reuse discourse by proposing an integrated framework that links spatial adaptation with cultural memory. However, the study is limited by its single-site focus and scope of informants. Future studies are encouraged to explore comparative analyses of other culturally transformed heritage sites to gain deeper insights into experiential authenticity and the construction of place identity.
Integrasi Kawasan Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul dengan Inovasi Desain Streetscape Koridor Komersial MUHAMMAD RAFFI ANTON PRATAMA; Kemal Faruqi Wijiarya; Arif Budi Sholihah; Ina Fildzah Hanifah
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 6 No. 2 (2023): Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v6i2.538

Abstract

Kawasan wisata Candi Plaosan memiliki koridor area komersial yang terbangun secara organik oleh masyarakat setempat. Candi Plaosan memiliki keunikan karena terpisah menjadi dua kompleks, Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Koridor area komersial wisata Candi Plaosan memiliki potensi untuk mengintegrasikan dua kompleks Candi Plaosan yang terpisah sebagai koridor penghubung antara dua kompleks candi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk secara kritis mengkaji koridor area komersial jalan diantara Candi Plaosan Lor dan Kidul serta mengkaji inovasi streetscape yang dapat diterapkan pada koridor area komersial tersebut sehingga berdampak pada citra visual dan sosial ekonomi kawasan wisata Candi Plaosan. Peneliti menggunakan metode kualitatif melalui observasi lapangan, pemetaan fisik dan wawancara. Temuan penelitian menunjukkan adanya pemanfaatan koridor komersial yang mampu berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat namun demikian perlu adanya penataan yang memadai sehingga terintegrasi dengan Kawasan cagar budaya dan tidak merusak situs. Rekomendasi berupa inovasi streetscape di koridor tersebut terutama melalui lima aspek, yaitu feasibility, accessibility, safety, comfort, serta pleasure ability.Â