Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Lantera Widya

PEMANFAATAN BARANG BEKAS MELALUI SOSIALISASI DAN WORKSHOP KREATIVITAS DI PANTI ASUHAN YAYASAN RUMAH IMPIAN KOTA DENPASAR Kadek Risna Puspita Giri; Ni Wayan Ardiarani Utami
Jurnal Lentera Widya Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Lentera Widya Desember 2019
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/lenterawidya.v1i1.60

Abstract

Banyak yang tidak menyadari bahwa barang-barang bekas bisa dimanfaatkan menjadi hal yang lebih berguna daripada terbuang begitu saja mencmari lingkungan. Seperti halnya bakat kreatif yang sering terabaikan oleh setiap individu di dalam dirinya. Hal tersebut seringkali terhalang oleh beberapa faktor seperti kurangnya kepekaan mengenali diri sendiri, kurangnya dukungan dari orang-orang sekitar, serta kurangnya kesempatan dalam mengasah bakat yang ada. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, kesempatan tidak selalu berupa pembelajaran khusus. Melainkan melalui kegiatan sehari-hari seperti saat bermain, mencoba sesuatu yang baru, bahkan memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar sehingga timbul pengalaman yang akhirnya menghasilkan ide-ide kreatif yang cemerlang. Oleh sebab itu melalui kegiatan sosialisasi dan workshop Pengabdian Pada Masyarakat program studi Desain Interior Sekolah Tinggi Desain Bali yang dilakukan di Panti Asuhan Yayasan Rumah Impian kota Denpasar pada tanggal 23 September 2019, diharapkan mampu mendorong dan memaksimalkan bakat-bakat kreatif yang terpendam. Kegiatan yang dilakukan yaitu memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di sekitar, melalui beberapa tahapan untuk merangsang kreativitas diantaranya dengan menulis hal-hal sederhana terkait dengan ide pokok, menuangkannya dalam bentuk desain, mengenali sifat dan bentuk dasar benda tersebut, memanfaatkan benda tersebut dalam menyalurkan ide kreatif. Ide dapat berupa hal sederhana yang muncul spontanitas maupun menggali dari kenangan masa lalu. Metode yang digunakan adalah metode workshop dan presentasi. Hasil yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah pemahaman bahwa bakat kreatif bisa diasah melalui kepekaan terhadap hal-hal di sekitar.
Gerakan 1000 Masker Melawan Corona: Pembagian di Kecamatan Denpasar Utara Ni Wayan Ardiarani Utami; Kadek Risna Puspita Giri
Jurnal Lentera Widya Vol 1 No 2 (2020): Jurnal Lentera Widya Juni 2020
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/lenterawidya.v1i2.101

Abstract

The Coronavirus epidemic (Covid-19) which has infected the entire world has also arrived in Indonesia. Bali Province was not spared from this virus attack. Covid-19 Positive Cases in Denpasar City accounted for 31% of all positive cases in Bali Province. One of the recovered patients came from North Denpasar District, Peguyangan Kangin Village. The Central Government through the Ministry of Health of the Republic of Indonesia has issued a Circular Letter of the Minister of Health Republic of Indonesia concerning the Protocol to Prevent the Transmission of the Covid-19 virus, one of which is by using masks for people who leave their homes. This has caused STD Bali as a Design School to participate in preventing the transmission of the Covid-19 virus. STD Bali in Community Service activities carried out the "Movement of 1000 masks" to prevent the transmission of the Covid-19 virus. The method used is to form a Production Team, Design Team, Distribution Team and Documentation Team. The Production Team is responsible for the supply, distribution and manufacture of masks. The Design Team is in charge as infographic planning, design, packaging and printing. The Distribution Team did the mapping, data collection and distribution of masks and the Documentation Team was tasked with documenting each activity. Implementation of the 1000 Masks Movement Activity, one of which was distributed in Banjar Ambengan Peguyangan Kangin, North Denpasar. Banjar Ambengan consists of 400 residents, of which the heterogeneous population background is due to migrants from outside Banjar who have become residents of the Banjar Dinas Ambengan. The submission of masks in Banjar Ambengan was carried out by the Distribution and Documentation Team and was received by Kelian Adat and the Head of the Banjar Ambengan Hamlet, where in this activity the health protocol was implemented by maintaining a minimum distance of 1 m and using masks. Submission of the mask as well as an explanation of the packaging that contains info about the Covid-19 virus, how to prevent and how to use the mask correctly. It is hoped that this activity can help the community in preventing the transmission of the Covid-19 virus and correct information about how to prevent the transmission of the Covid-19 virus.
MURAL SEBAGAI MEDIA EDUKASI PELESTARIAN KEBUDAYAAN DAERAH Kadek Risna Puspita Giri; Ni Wayan Ardiarani Utami; Nyoman Gema Endra Persada; I Dewa Gede Putra
Jurnal Lentera Widya Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Lentera Widya Juni 2021
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/lenterawidya.v2i2.147

Abstract

Seni lukis jalanan yang dikenal dengan mural biasanya hadir untuk mempercantik dinding pada area jalan umum. Selain dinding di sisi jalan, mural sering diterapkan pada permukaan datar seperti langit-langit atau bahkan permukaan jalan. Mural umumnya bertujuan untuk mengisi kekosongan serta memberi nilai lebih pada estetika sekitar, juga menyampaikan sebuah pesan atau edukasi dan sarana berekspresi. Salah satu penerapan mural dilakukan di lapangan umum Asta Gina di Denpasar Barat. Lokasi Lapangan Asta Gina yang jauh dari jalan utama serta dikelilingi oleh rumah warga dan kebun warga, membuat tampilannya kurang menarik dan tidak diketahui secara umum, kecuali oleh warga sekitar. Fasilitas umum warga Padangsambian Klod ini difungsikan sebagai lapangan umum pada umumnya, yakni mewadahi segala aktivitas warga yang membutuhkan area terbuka. Aktivitas dilakukan oleh warga dari berbagai rentang usia, baik aktivitas sekolah, kantor, maupun umum. Untuk menambah daya tarik serta sebagai media edukasi, Institut Desain dan Bisnis Bali bekerjasama dengan Kelurahan Padangsambian Klod, memfasilitasi calon-calon desainer muda untuk berkreasi serta menyampaikan pesan tentang kebudayaan masyarakat di Bali secara visual melalui media mural. Kondisi generasi muda saat ini yang lebih condong ke arah gadget, mengurangi pengetahuan mereka kan keberadaan budaya Bali itu sendiri. Kegiatan outdoor sangat kurang diminati daripada pemanfaatan elektronik. Kegiatan ini diharapkan nantinya mampu menyampaikan pesan tepat sasaran terutama generasi muda yang memanfaatkan fasum tersebut, serta menambah nilai secara estetis sehingga meningkatkan daya tarik masyarakat dalam memanfaatkan secara aktif fasilitas umum yang disediakan.
MURAL BUDAYA DI KAWASAN DESA WISATA AIR TERJUN GREMBENGAN, DESA BONGAN, KABUPATEN TABANAN Ni Nyoman Sri Rahayu; Kadek Risna Puspita Giri; Ni Luh Gde Niti Swari
Jurnal Lentera Widya Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Lentera Widya Desember 2021
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/lenterawidya.v3i1.249

Abstract

Mural is well known as a wall design. The community service was carried out by the IDB Bali Lecturer Team in Bongan village, Tabanan. The community service program in the form of community service activities that will be carried out is in the form of mural activities located in the area of the road to Grembengan Waterfall Tourism, Bongan Tabanan Village. The walls to be mural have a length of 40 meters with a height of 2.8 meters and 140.8 meters for the total area. There were moral and social messages in people's lives with a visual approach in the form of displaying local Balinese culture, and containing messages or social criticism, one of which is related to the pandemic. The mural image shows a boy wearing a mask sweeping the yard and the others washing their hands. It is hoped that this image can be informative enough for visitors so that visitors can get used to living clean and healthy. The mural is done using the conventional method, by painting it, so as to bring out the aesthetic side of the mural that is more expressive. This is inseparable from the ability and the results of the paint scratches that are displayed.