Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Kesiapan Konselor Muda dalam Mengintegrasikan Budaya Digital Pada Layanan Bimbingan dan Konseling Muhammad Ikhwan Habibie; Asbi Asbi; Dika Madani; Khapi Yanti
AMI Vol 4, No 1 (2026)
Publisher : AMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan budaya digital yang semakin pesat membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di lingkungan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapan konselor muda dalam mengintegrasikan budaya digital pada layanan Bimbingan dan Konseling. Kesiapan tersebut mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pelaksanaan layanan konseling. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konselor muda pada umumnya telah memiliki pemahaman dasar mengenai penggunaan teknologi digital, namun masih terdapat keterbatasan dalam penerapan secara optimal pada layanan BK, terutama dalam hal etika digital, pemanfaatan platform konseling daring, serta pengelolaan informasi konseli secara aman. Selain itu, dukungan institusi dan pelatihan berkelanjutan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesiapan konselor muda.
IMPLEMENTASI PROFESIONALISME KONSELOR DALAM MENINGKATKAN MUTU LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH Nia Ramadhani Barus; Asbi Asbi; Desiana Syahfitri; Syndi Aridsa
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 4 (2026): Agustus: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i4.11000

Abstract

Profesionalisme guru Bimbingan dan Konseling (BK) menjadi isu strategi dalam upaya peningkatan mutu layanan di sekolah seiring meningkatnya tuntutan terhadap kualitas pendidikan dan akuntabilitas profesi. Permasalahan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan layanan, tetapi juga belum optimalnya penerapan kompetensi profesional secara konsisten, terutama dalam aspek evaluasi program, pemanfaatan teknologi, dan penguatan pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen profesionalisme konselor yang relevan dalam layanan BK, menganalisis peran kompetensi profesional dalam meningkatkan mutu layanan, serta menyusun strategi pengembangan profesionalisme yang kontekstual danimplementatif di lingkungan sekolah. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan teknik analisis isi melalui penelahan sistematis terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa profesionalisme konselor mencakup penguasaan kompetensi profesional, komitmen terhadap kode etik, keterampilan interpersonal, kemampuan adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta keterlibatan dalam pengawasan dan pengembangan berkelanjutan. Integrasi aspek-aspek tersebut membentuk fondasi peningkatan kualitas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi layanan BK secara sistematis. Penguatan profesionalisme secara berkelanjutan terbukti menjadi kunci strategi dalam mewujudkan layanan BK yang efektif, relevan, dan berkualitas tinggi dalam sistem pendidikan
Optimalisasi Layanan BK Berbasis Multikultural dalam Menanamkan Nilai Toleransi dan Kebhinekaan pada Gen-Z Vinda Chairunnisa; Asbi Asbi
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The increasing diversity of social interactions in the digital era has created new challenges in fostering tolerance and appreciation of diversity among Gen-Z. Multicultural-based guidance and counseling services are needed as a strategic approach to strengthen the values of tolerance and diversity. This study aims to analyze the optimization of multicultural guidance and counseling services in fostering the values of tolerance and diversity among students. The study used a qualitative descriptive approach implemented on students of the Guidance and Counseling Study Program at Al-Washliyah Muslim Nusantara University (UMN) Medan. Participants were selected through purposive sampling technique. Data were collected through interviews, observation, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The results of the study indicate that multicultural-based guidance and counseling services play an important role in increasing diversity awareness, intercultural understanding, social empathy, and inclusive behavior of students. Optimization of services is carried out through multicultural information services, classical guidance, multicultural group counseling, cross-cultural dialogue, diversity project-based learning, and digital counseling. This research produced a conceptual model consisting of five stages: multicultural awareness, intercultural understanding, empathy development, value internalization, and inclusive behavior. This model contributes to developing students who are tolerant, inclusive, democratic, and oriented toward the values of diversity.Keywords: Multicultural Guidance and Counseling, Tolerance, Diversity, Generation ZAbstrak: Meningkatnya keberagaman interaksi sosial di era digital telah menciptakan tantangan baru dalam menumbuhkan toleransi dan apresiasi terhadap keberagaman di kalangan Gen-Z. Layanan bimbingan dan konseling berbasis multikultural dibutuhkan sebagai pendekatan strategis untuk memperkuat nilai-nilai toleransi dan keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimalisasi layanan bimbingan dan konseling multikultural dalam menumbuhkan nilai toleransi dan keberagaman di kalangan Mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan. Partisipan dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan BK berbasis multikultural berperan penting dalam meningkatkan kesadaran keberagaman, pemahaman antarbudaya, empati sosial, dan perilaku inklusif mahasiswa. Optimalisasi layanan dilakukan melalui layanan informasi multikultural, bimbingan klasikal, konseling kelompok multikultural, dialog lintas budaya, pembelajaran berbasis proyek keberagaman, dan konseling digital. Penelitian ini menghasilkan model konseptual yang terdiri atas lima tahapan, yaitu multicultural awareness, intercultural understanding, empathy development, value internalization, dan inclusive behaviour. Model tersebut berkontribusi dalam membentuk mahasiswa yang toleran, inklusif, demokratis, dan berorientasi pada nilai-nilai kebhinekaan.Kata Kunci: Bimbingan dan Konseling Multikultural, Toleransi, Keberagaman, Generasi Z
Pemahaman Guru Bk Terhadap Kode Etik Profesi Dalam Menjaga Kerahasiaan Data Konseling Mawaddah Ramadhani; Asbi Asbi; Alman Faluthi; Jefano Albanua
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 3 (2026): JUNI
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i3.2616

Abstract

Data confidentiality is a fundamental principle in guidance and counseling services that determines the level of student trust in counselors. This study aims to analyze the level of Guidance and Counseling (BK) teachers' understanding of professional codes of ethics, specifically in maintaining the confidentiality of student counseling data in schools. The research method used is descriptive qualitative with a case study approach. Data collection was conducted through in-depth interviews, observation, and documentation studies of [Number] BK teachers in [Location/School Level]. Data analysis used interactive analysis techniques including data reduction, data display, and conclusion drawing. The results showed that, in general, BK teachers have a good understanding of confidentiality ethics regulations. However, in practical terms, BK teachers still face ethical dilemmas when confronted with pressure from school authorities (such as principals or homeroom teachers) who request the disclosure of student data for disciplinary purposes. This study concludes that cognitive understanding alone is insufficient; professional assertiveness and regular socialization regarding the boundaries of information disclosure in BK are required. The implications of this study emphasize the importance of strengthening professional advocacy and continuous ethical code development by professional organizations such as ABKIN..