Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : MANUSKRIPTA

Manual Kepemimpinan dalam Naskah Sirāj al-Mulūk dan Serat Wulang Dalem: Perspektif al-Ṭurṭūshī dan Pakubuwono IX * Yahya, Ismail
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.59

Abstract

Genre ”Mirror for Princes” -with its various terms- enlivened the Islamic literature, not only develop in Islamic centers in the Middle East, but also in other regions of the Islamic world, including Indonesia, more specifically Surakarta. One of the masterpieces of such a genre was Sirāj al-Mulūk by al-Ṭurṭūshī. The purposes of this study are to understand the background of the emergence of Sirāj al-Mulūk, to describe al-Ṭurṭūshī’s thoughts relating to leadership ethics, and try to relate it to Wulang Dalem, a work attributed to the Surakarta king of Pakubuwono IX. The findings of this study are: 1) socio-political contexts in the form of rebellion, disharmonious relationships between the government administration that occurred at the time of al-Ṭurṭūshī became the reason composing Sirāj al-Mulūk, 2) al-Ṭurṭūshī showed how politics and morality in Islam can not be separated, both are an integral and complementary, 3) this preliminary study found no direct link between the work of al-Ṭurṭūshī and PB IX, although found little common ground. === Genre ”Mirror for Princes” -dengan beragam istilah lainnya-menghiasi literatur-literatur Keislaman, tidak saja berkembang di pusat-pusat Islam di Timur Tengah, namun juga hingga ke kawasan lain dunia Islam, termasuk Nusantara, lebih spesifik lagi Surakarta. Salah satu karya dari genre tersebut adalah Sirāj al-Mulūk karya al-Ṭurṭūshī. Tujuan penelitian ini untuk memahami latar belakang kemunculan Sirāj al-Mulūk, mendeskripsikan pemikiran al-Ṭurṭūshī terkait etika kepemimpinan atau pemerintahan, dan mencoba menghubungkannya dengan karya raja Surakarta Pakubuwono IX, Wulang Dalem. Adapun yang menjadi temuan penelitian ini: 1) konteks sosial-politik berupa pemberotakan, ketidakharmonisan hubungan antar penyelenggara pemerintahan yang terjadi pada masa al-Ṭurṭūshī menjadi alasan menulis Sirāj al-Mulūk, 2) Pemikiran al-Ṭurṭūshī di dalam Sirāj al-Mulūk menunjukkan bagaimana politik dan moral di dalam Islam tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi, 3) dalam studi awal ini tidak ditemukan kaitan langsung antara karya al-Ṭurṭūshī dengan PB IX, walaupun ditemukan sedikit kesamaan gagasan.
Teks Fiqh dalam Bahasa Lokal Nusantara: Studi Penerjemahan Manuskrip Masā’il al-Ta’līm Ke dalam Pegon Abad XVII Yahya, Ismail; Hasan, Moh. Abdul Kholiq; Farkhan, Farkhan
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.106

Abstract

This research aims to reveal and explain the use of Pegon script in the translation of the manuscript of Masā'il al-Ta'līm, one of the popular books of fiqh in Javanese pesantren. This article is the result of qualitative descriptive research using philology research methods by utilizing manuscripts, books, research results, internet sites, and journals to examine matters relating to the development of Pegon characters in the 17th century AD contained in the manuscript of Masā'il al-Ta'līm. The findings of this study: 1) in terms of age, it can be proved that this manuscript was written in the 17th century based on the numbers and letters in the calendar in the manuscript which implies that the Pegon text in the text Masā'il at-Ta'līm is a form The oldest Pegon that can still be found, 2) the shape of the Pegon letter in the 17th century there is no striking difference with the writing of Pegon today even though it only looks a little different. === Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menjelaskan penggunaan aksara Pegon dalam penerjemahan naskah Masā’il al-Ta’līm salah satu kitab fiqh yang populer di pesantren Jawa. Artikel ini merupakan hasil penelitian deskriptif kualitatif menggunakan metode penelitian filologi dengan memanfaatkan manuskrip, buku-buku, hasil penelitian, situs-situs internet, dan jurnal untuk menelaah hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan aksara Pegon pada abad ke-17 M yang termuat di dalam naskah Masā’il al-Ta’līm. Temuan penelitian ini: 1) dari segi usia, bisa dibuktikan bahwa naskah ini ditulis abad ke-17 M berdasarkan angka dan huruf di dalam penanggalan di dalam naskah yang berimplikasi bahwa teks Pegon di dalam naskah Masā’il at-Ta’līm ini merupakan bentuk Pegon yang paling tua yang masih bisa ditemukan, 2) bentuk huruf Pegon pada abad ke-17 tidak terdapat perbedaan yang mencolok dengan penulisan Pegon dewasa ini walaupun hanya terlihat sedikit perbedaan.