Muh. Ilham Usman, Muh. Ilham
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Pappasang

SOSIALISME ISLAM : PERCIKAN PEMIKIRAN KEISLAMAN HOS TJOKROAMINOTO Muh. Ilham Usman
PAPPASANG Vol. 1 No. 1 (2019): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.595 KB) | DOI: 10.46870/jiat.v1i1.55

Abstract

Tulisan ini membahas tentang gagasan Sosialisme Islam HOS Tjokroaminoto di masa pra-kemerdekaan dan pengaruhnya di organisasi Serikat Islam. Tujuan penulisan ini untuk melengkapi penelitian-penelitian terdahulu tentang pemikiran HOS Tjokroaminoto yang telah banyak dikaji. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Sumber data diperoleh dari buku-buku primer yang ditulis oleh HOS Tjokroaminoto dan buku-buku sekunder yang mengkaji pemikiran HOS Tjokroaminoto yang ditulis orang lain. Adapun hasil penelitian didapatkan bahwa HOS Tjokroaminoto menyakini bahwa Islam sangat membenci ideologi kapitalisme. Sosialisme Islam tidaklah identik dengan sosialisme murni, marxisme dan komunisme. Sosialisme Islam sejak dulu telah dipraktekkan oleh Nabi Muhamamad Saw.
Kontribusi Pemikiran Islam Sayyid Ahmad Khan di Dunia Islam India Muh. Ilham Usman; Baharil
PAPPASANG Vol. 2 No. 2 (2020): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.655 KB) | DOI: 10.46870/jiat.v2i2.71

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemikiran dan gagasan Sir Sayyid Ahmad Khan di masa penjajahan India oleh kerajaan Inggris hingga terbentuknya negara Pakistan. Tujuan penulisan ini untuk melengkapi penelitian-penelitian terdahulu tentang pemikiran Sir Sayyid Ahmad Khan yang telah banyak dikaji. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Sumber data diperoleh dari buku-buku primer yang ditulis oleh Sir Sayyid Ahmad Khan dan juga buka-buku sekunder yang mengkaji pemikiran Sir Sayyid Ahmad Khan yang ditulis orang lain. Adapun hasil penelitian didapatkan bahwa Sir Sayyid Ahmad Khan membenci penjajahan yang dilakukan oleh kerajaan Inggris, akan tetapi untuk jalan yang ditempuh untuk melawannya bukanlah konfrontasi, melainkan diplomasi. Selain itu, umat Islam India jangan hanya pasrah terhadap takdir, melainkan harus aktif dan kreatif dalam menjalankan hidup sebagaimana paham Qadariyah dalam teologi klasik Islam. Dengan mengadopsi paham Qadariyah, umat Islam India akan mendayagunakan seluruh potensi yang diberikan oleh Allah Swt dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.
Etika Politik dalam Al-Qur’an : (Suatu Kajian Tafsir Tah{li>li QS. al-Nisa/4:58) Muh. Adnan; Muh. Ilham Usman
PAPPASANG Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v4i2.444

Abstract

Penelitian ini terfokus pada etika politik dalam Al-Qur’an surah al- Nisa>/4:58, pada ayat ini dikemukakan dua aspek prinsip dasar etika politik yaitu amanah dan keadilan. Umat Islam perlu berpegang pada dua prinsip ini, agar mampu mewujudkan sistem pemerintahan yang bersih dari berbagai bentuk penyalahgunaan jabatan, serta menerapkan keadilan bagi semua pihak. Penelitian ini berjenis kepustakaan dengan menggunakan pendekatan teologis. Sumber rujukan yang dipakai berasal dari berbagai buku-buku, artikel, penelitian terdahulu yang memiliki kaitan dengan tema etika politik. Data yang telah terkumpul dari berbagai sumber akan dianalisis dan diurai berdasarkan metode tafsir tah}li>li, mulai dari kosa kata, hubungan antar ayat, asba>bun nuzu>l, kandungan ayat, serta hukum yang dihasilkan oleh ayat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Islam telah mengatur etika politik melalui dua prinsip yakni: 1.) Menjaga Amanah sebagai bentuk kejujuran dalam menjalankan tugas.2.) Berlaku Adil untuk mewujudkan kesetaraan semua pihak di hadapan hukum. Berlandaskan analisis penafsiran QS.al-Nisa>/4:58 Allah swt. telah memerintahkan kepada manusia untuk mampu menjaga amanah, serta memutuskan perkara diantara manusia secara adil tanpa ada pihak yang merasa dicurangi. Nilai-nilai etika harus dijunjung tinggi dalam menjalankan tugas dan bertanggungjawab pada amanah yang telah dipercayakan. Implikasi pada penelitian ini ialah, orang-orang yang masuk di dunia politik harus mengerti ilmu tentang etika menyangkut baik dan buruk sebuah tindakan, khususnya aspek memegang amanah dan memberi keputusan dengan seadil-adilnya yang telah dipaparkan dalam QS.al-Nisa>/4:58, sebagai bentuk menjalankan perintah Al-Qur’an demi meraih kemaslahatan umum.
Paham Neo-Platonis dan Negara Kesejahteraan: Kritik Sir Muhammad Iqbal Terhadap Kesadaran Umat Islam Muh. Ilham Usman
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v5i1.449

Abstract

Abstract This article describes Muhammad Iqbal's thoughts in fighting for Indian Muslims with strategies that were in accordance with the conditions and situation of the Indian people at that time. This research uses library research method. The results of the study found that Muhammad Iqbal through Islamic thought, literature and philosophy voiced that Muslims everywhere must rise from the downturn and decline of Islam from British colonialism. And also Muhammad Iqbal became a pioneering figure in the early establishment of the Pakistani state to save Indian Muslims who were always secondary. Abstrak Artikel ini mendeskripsikan pemikiran Muhammad Iqbal dalam memperjuangkan umat Islam India dengan strategi yang sesuai dengan kondisi dan situasi rakyat India kala itu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Adapun hasil penelitian menemukan bahwa Muhammad Iqbal lewat pemikiran, sastra dan filsafat Islam menyuarakan bahwa umat Islam di manapun mesti bangkit dari keterpurukan dan kemunduran Islam dari kolonialisme Inggris. Dan juga Muhammad Iqbal menjadi tokoh perintis awal berdirinya negara Pakistan untuk menyelamatkan umat Islam India yang selalu dinomorduakan.  
Gerakan Pembaruan dan Pemurnian Islam: (Doktrin, Gerakan dan Imajinasi Menuju Masa Keemasan Syafaat, Abdul Rafi; Usman, Muh. Ilham
PAPPASANG Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v5i2.634

Abstract

Abstrak Secara artifisial gerakan pembaruan dan pemurnian Islam merupakan gerakan sosial keagamaan yang di latar belakangi oleh anggapan bahwa pengaruh hegemoni barat telah membuat ajaran islam telah menyimpang dari ajaran islam yang benar. Gerakan ini mengupayakan pencarian kemurnian terhadap ajaran islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis. Gerakan ini mengimajinasikan islam akan kembali mendapatan masa keemasan seperti yang pernah terjadi di masa lalu pada zaman Rasulullah dan para sahabat yang dianggap sebagai islam yang ideal, murni, dan otentik. Terdapat dua tema besar dalam memahami bentuk dan tujuan dari gerakan ini dalam lanskap sosiologis: Pertama, Upaya pembaruan dan pemurnian ini memiiki akar Doktrinal sebagai bentuk gerakan sosial. Kedua, implikasi dari doktrin ini sering kali kali berhadapan atau bahkan bertentangan dengan persoalan budaya lokal, mordenitas. Gerakan ini juga sering kali dikaitkan dengan beberapa isu global seperti, Terorisme, Modernisasi, Islamic Local Knowledge, Gerakan Fundamentalisme-Radikal dan, Fasisme Sipil di era kontemporer ini. Kata kunci : gerakan sosial, doktrinal, sosiologis, kontemporer. Abstract Artificially, the movement for reform and cleansing of Islam is a socio-religious movement motivated by the notion that the influence of western hegemony has made Islamic teachings deviate from true Islamic teachings. This movement strives to seek the purity of Islamic teachings in accordance with the Qur'an and Hadith. This movement imagines that Islam will return to its golden age as it did in the past during the time of the Prophet and his companions, who were considered ideal, pure, and authentic Muslims. There are two major themes in understanding the form and purpose of this movement in the sociological landscape: First, this renewal effort has doctrinal roots as a form of social movement. Second, the implications of this teaching are that it often confronts or even conflicts with local cultural issues (mordenitas. This movement is also often associated with several global issues such as Terrorism, Modernization, Islamic Local Knowledge, the radical-fundamentalist movement, and Civil Fascism in this contemporary era. Keywords: social movement, doctrinal, sociological, contemporary.
Menjembatani Teks dan Realitas: Analisis Interpretasi Kuntowijoyo terhadap Konsep The Chosen People dalam QS Ali Imran/3:110 Rasyid, Muhammad Dirman; Muh. Ilham Usman; Anugrah Reskiani
PAPPASANG Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v6i2.1161

Abstract

The concept of “The Chosen People” in Islam, as reflected in Surah Ali Imran 3:110, has long been a subject of theological discourse. However, contemporary interpretations of this concept, especially in the context of plural societies, remain underexplored. This research examines Kuntowijoyo's progressive exegesis of Surah Ali Imran 3:110, focusing on the reconceptualization of “The Chosen People” within the framework of modern Indonesia. Employing a qualitative methodology with a critical hermeneutic approach, this study analyzes Kuntowijoyo’s works and situates them within a quasi-objectivist progressive exegesis framework. The main findings reveal that Kuntowijoyo transforms the concept “The Chosen People” from an exclusive understanding into a universal ethical mandate, operationalized through three pillars: humanization (amar ma’ruf), liberation (nahi munkar), and transcendence (tu’minuna billah). Further analysis suggests that this interpretation offers a new paradigm for understanding the role of Muslims in plural societies, with significant implications for socio-religious activism and interfaith dialogue. This study contributes to the literature on contemporary Quranic hermeneutics and the sociology of religion, while highlighting the potential of progressive exegesis to bridge the gap between classical religious doctrine and modern social realities. The research also opens avenues for further exploration of the actualization of Quranic values in the context of a global multicultural society.