Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

STUDI PENGARUH INJEKSI MEG TERHADAP %MASS OF RICH MEG DAN HYDRATE FORMATION TEMPERATURE PADA GAS PROCESS MENGGUNAKAN SIMULASI HYSYS V12 Imelda Nur Aqnivia; Cucuk Evi Lusiani; Khalimatus Sa’diyah; Eko Noersoesanto; Bonifasius K. Noviarto; Pandega I. Uzlah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i3.414

Abstract

Unit pengolahan gas alam seperti Dew Point Control Unit (DPCU) dirancang untuk mengurangi senyawa pengotor seperti uap air, hidrokarbon berat, CO2, senyawa BTEX (Benzene-Toluene-Ethylbenzene-Xylene), senyawa sulfur, dll. Pengotor tersebut dapat dihilangkan melalui proses pendinginan gas alam pada suhu rendah untuk mengembunkan senyawa impurities sehingga dapat dipisahkan dari gas metana. Namun permasalahan yang sering dihadapi di lapangan adalah ketika suhu operasi diturunkan serendah mungkin pada tekanan tinggi dapat menyebabkan terbentuknya metana hydrate di DPCU. Untuk mencegah terbentuknya hydrate di Gajah Baru Central Process Platform dilakukan injeksi MEG (Mono-ethylene Glycol). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh injeksi MEG terhadap %mass of rich MEG dan hydrate formation temperature dari gas process dengan low molecular weight (16,54 lb/mol) dan low water content (0,0056 fraksi mol). Dalam praktiknya, simulasi ini dilakukan menggunakan software Hysys V12 dengan model termodinamika yaitu Peng-Robinson. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah volumetric rate dari MEG (dari 0 hingga 13,5 USGPM), molar flow rate dari gas process (72,5 dan 235 MMSCFD), serta tekanan dari Low Pressure Compressor (500 dan 660 psig) pada suhu operasi di Low Temperature Separator (LTS) sebesar 40o˚F. Hasil simulasi menunjukkan bahwa injeksi MEG dapat mengurangi pembentukan hydrate di gas process yang dibuktikan dengan semakin tinggi molar flow rate dari gas process menyebabkan nilai %mass of rich MEG semakin meningkat (39,33% pada 660 psi dan 34,56% pada 500 psi). Tingginya nilai %mass of rich MEG menyebabkan nilai hydrate formation temperature menjadi semakin rendah (seperti yang terjadi pada Case A = 24,5348o˚F dan Case D = 23,9904o˚F).
SIMULASI HYSYS V12: STUDI PENGARUH INJEKSI MEG TERHADAP HYDROCARBON DEW POINT, WATER DEW POINT DAN WATER CONTENT PADA GAS EXPORT Olivia Julia Paramitha; Cucuk Evi Lusiani; Khalimatus Sa’diyah; Bonifasius K. Noviarto; Eko Noersoesanto; Pandega I. Uzlah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.481

Abstract

Dew Point Control Unit (DPCU) merupakan salah satu unit utama yang penting dalam proses pemurnian gas alam. Terbentuknya metana hidrat di DPCU menjadi masalah utama yang dihadapi ketika suhu operasi diturunkan serendah mungkin pada tekanan tinggi. Untuk mencegah terjadinya pembentukan hidrat tersebut, diperlukan adanya injeksi glycol. Jenis glycol yang digunakan oleh Gajah Baru Central Process Platform (GBCPP) milik Premier Oil Natuna Sea Indonesia adalah Mono-ethylene Glycol (MEG). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh injeksi MEG terhadap hydrocarbon gas dew point, water dew point dan water content pada gas export di Gajah Baru Central Processing Platform. Simulasi dilakukan menggunakan software Hysys V12 dengan model termodinamika yaitu Peng-Robinson. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah flowrate dari injeksi MEG ke dalam gas/gas exchanger mulai dari 0 hingga 13,5 USGPM dengan interval 0,5 USGPM, molar flowrate dari gas process sebesar 72,5 dan 235 MMSCFD, dan tekanan dari Low Pressure Compressor pada 500 dan 660 psig. Hasil simulasi menunjukkan bahwa injeksi MEG tidak memberikan pengaruh terhadap nilai hydrocarbon dew point. Water dew point bernilai semakin tinggi ketika tekanan yang digunakan semakin rendah (500 psig) dengan molar flowrate dari gas process bernilai tinggi (235 MMSCFD). Namun, hal sebaliknya terjadi ketika injeksi MEG semakin tinggi, nilai water dew point menjadi semakin rendah. Berbeda dengan water dew point, nilai dari water content cenderung rendah ketika tekanan tinggi (660 psig) dan molar flowrate rendah (72,5 MMSCFD).
PENGARUH LAMA WAKTU FERMENTASI MENGGUNAKAN RAGI TEMPE SELAMA < 24 JAM TERHADAP SIFAT ORGANOLEPTIK VCO DENGAN NUTRISI RAGI 4% B/V Merita Sulistiyawati; Cucuk Evi Lusiani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.515

Abstract

Kelapa sebagai buah yang sering dikonsumsi dapat digunakan sebagai bahan utama pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO). VCO adalah produk olahan daging buah kelapa tua (usia 11-12 bulan) yang dapat dibuat melalui proses fermentasi tanpa melalui proses pemanasan. Proses fermentasi pada pembuatan VCO dapat dilakukan menggunakan alat sederhana yang menghasilkan produk dengan daya simpan yang lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama waktu fermentasi menggunakan ragi tempe selama < 24 jam terhadap sifat organoleptik VCO dengan nutrisi Ragi 4% b/v. Proses fermentasi dilakukan selama 6, 12 dan 18 jam. Produk VCO yang dihasilkan dilakukan uji sifat organoleptik (warna, aroma, dan rasa), pH dan yield. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sifat organoleptik dari produk VCO pada waktu fermentasi selama 6, 12 dan 18 jam dengan konsentrasi nutrisi ragi 4% b/v adalah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7281:2008 yaitu tidak berwarna atau sedikit kekuningan, beraroma khas kelapa, dan terasa khas kelapa. Nilai pH dari produk VCO yang dihasilkan adalah 4,6 pada waktu fermentasi selama 6 dan 18 jam dan 4,9 pada waktu fermentasi selama 12 jam. Berdasarkan hasil dari penelitian juga dapat diketahui bahwa nilai yield dari produk VCO semakin tinggi dengan semakin lamanya waktu fermentasi. Nilai yield dari produk VCO tertinggi diperoleh pada waktu fermentasi 18 jam yaitu sebesar 16% v/v.
SIFAT FISIK VCO HASIL FERMENTASI SELAMA ≥ 24 JAMMENGGUNAKAN RAGI TEMPE DENGAN KONSENTRASI NUTRISI YEAST 2% B/V Ita Purnamasari; Cucuk Evi Lusiani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i3.399

Abstract

Negara Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki SDA (Sumber Daya Alam) dan lahan yang melimpah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan kelapa. Pemanfaatan kelapa khususnya bagian buah salah satunya dapat digunakan untuk menghasilkan VCO (Virgin Coconut Oil). Pembuatan VCO dapat dilakukan secara konvensional dengan metode fermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh waktu fermentasi terhadap warna, rasa, aroma, pH, dan, %yield VCO yang dihasilkan dari proses fermentasi dengan ragi tempe. Pembuatan VCO diawali dengan pembuatan larutan starter untuk mengaktifkan yeast yang dilakukan dengan cara menambahkan ragi tempe (yeast) dan nutrisi yeast (konsentrasi 2% b/v) ke dalam tangki pre-fermentor sederhana. Larutan starter selanjutnya dicampur dengan santan untuk dilakukan fermentasi selama 24, 30, 36 jam. Produk VCO yang dihasilkan dianalisis untuk mengetahui sifat fisik dari VCO yang meliputi warna, rasa, aroma, pH, dan %yield dari produk VCO. Berdasarkan hasil analisis sifat fisik dari VCO, dapat disimpulkan bahwa sifat fisik VCO sesuai dengan SNI 7381.2008 yaitu transparan, memiliki rasa seperti minyak kelapa, aroma seperti santan atau kelapa segar, nilai pH sebesar 5,5 dan nilai %yield tertinggi (11,30%) yang dihasilkan pada waktu fermentasi selama 36 jam.
ENHANCING ZEOLITE PERFORMANCE THROUGH AMINO MODIFICATION: A REVIEW OF METHODS AND CHARACTERIZATION Salvira Permanaputri; Cucuk Evi Lusiani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i1.6629

Abstract

The increase in CO2 emissions in Indonesia is primarily attributed to the expansion of the economy and ongoing industrialization, primarily driven by the operation of fossil fuel power plants. It is imperative to implement strategies aimed at reducing CO2 emissions in the industrial sector in order to effectively address Indonesia's pollution problems. An effective method involves utilizing adsorbents, specifically zeolites, to capture and convert CO2 into valuable fuels. In order to improve the adsorption of CO2, the zeolite is chemically modified by adding amine groups. The objective of this literature study is to examine the impact of adding amine groups into zeolite on CO2 adsorption. We collected various theories and data methods to compare the CO2 adsorption and characterization of modified zeolites. The characterization of the zeolites was determined using XRD, BET, and FTIR techniques. In general, the modification of zeolite with amines has a substantial effect on its properties, particularly on the surface area and volume porosity.
Pendampingan penerapan sistem monitoring suhu berbasis sensor dan sistem sirkulasi udara pada proses fermentasi di LPPNU Tani Sejahtera Cucuk Evi Lusiani; Eko Naryono; Anang Takwanto; Susanto Susanto; Listiyana Candra Dewi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41145

Abstract

Abstrak Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan kapasitas kelompok tani dalam mengoperasikan sistem monitoring suhu berbasis sensor digital yang diintegrasikan dengan sistem sirkulasi udara (forced aeration) pada proses fermentasi pupuk organik di LPPNU Tani Sejahtera, Desa Duwet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah proses fermentasi yang masih dilakukan secara konvensional tanpa monitoring suhu dan pengendalian aerasi sehingga pengelolaan proses belum optimal. Program dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perancangan dan implementasi teknologi, pelatihan, pendampingan, serta evaluasi terhadap 5 orang peserta menggunakan kuesioner. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 100% peserta menyatakan teknologi yang diterapkan membantu mengatasi permasalahan produksi, sedangkan 60% peserta menyatakan setuju dan 40% sangat setuju bahwa kegiatan meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam pengoperasian teknologi fermentasi. Program ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi tepat guna yang disertai pendampingan partisipatif mampu meningkatkan penerimaan teknologi dan kapasitas mitra dalam pengelolaan proses fermentasi. Kata kunci: aerasi; fermentasi pupuk organik; pemberdayaan masyarakat; sensor suhu; pertanian berkelanjutan Abstract This Community Service Program aimed to enhance the capacity of the LPPNU Tani Sejahtera farmer group in operating a digital sensor-based temperature monitoring system integrated with a forced aeration system for the organic fertilizer fermentation process in Duwet Village, Tumpang District, Malang Regency, Indonesia. The main challenge faced by the community partner was the conventional fermentation process, which lacked temperature monitoring and aeration control, resulting in suboptimal process management. The program was implemented using a participatory approach consisting of needs assessment, technology design and implementation, training, mentoring, and evaluation involving five participants through a questionnaire. The evaluation results showed that 100% of the participants stated that the implemented technology helped address production-related problems, while 60% agreed and 40% strongly agreed that the program improved their understanding and technical skills in operating the fermentation technology. These findings indicate that the implementation of appropriate technology, combined with participatory mentoring, effectively enhanced technology acceptance and strengthened the partners' capacity in managing the fermentation process. Keywords: aeration; organic fertilizer fermentation; community empowerment; sensor-based temperature monitoring; sustainable agriculture.