I Gede Arya Sugiartha, I Gede Arya
Institut Seni Indonesia Denpasar

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Expansion Of Value And Form Dol Musicality As Ritual Tabot In Bengkulu Bambang Parmadie; I Gede Arya Sugiartha
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 1 No. 1 (2018): April
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lekesan.v1i1.301

Abstract

The expansion of value and form musicality in Tabot ritual music includes ideology, musicality and new sociocultural phenomena in the performing arts extend to all elements of Bengkulu society in general. The sacred music referred to in the Tabot rituals of Bengkulu is Dol music. The transformations in forms of Dol music and musicality are: sacred musicality becomes secular or profane. The physical form, function, and aesthetic of Dol music in Tabot rituals have an ever-increasing creativity in their development, musical progress and sociocultural-supporter progress. The commodification of Dol music transforms the artistic identity associated with new music from Bengkulu. The development of musicality moves freely, making changes in sacred ideology. This analysis reveals problems using social practice theory, hegemonic theory, and popular culture theory, applied eclectically by using a qualitative method. Data is collected Through observation, interview, and document study. The findings of this research are that there are forms of exploration and exploitation of Dol music from sacred to secular or profane and vice versa in the context of the commodification of physical musicality, function, and aesthetics in the ideological identity of the supporting community and the musical space dimension. The secular or profane Dol music permeates and indoctrinates the sacred Dol musical ideology as the musical ceremony of Tabot ritual. The counter-assumption about a sacred art form that will experience a shift into secular or profane is not entirely true for Dol music in Bengkulu.
Innovations of Governance in Balinese Joged Bumbung Dance in the era of globalization I Gede Arya Sugiartha
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 1 No. 2 (2018): October
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lekesan.v1i2.567

Abstract

This paper aims to analyze the develpmental dynamics concerning the governance of Balinese Joged Bumbung performances in the era of globalization. Developments being analyzed involve innovations in governance of performance standards. The methodologies utilized in conducting this research include observations, interviews, and literature studies. Post-modern aesthetic theory is utilized for analysis of phenomena such as, receptivity aesthetics and aesthetics in relation to social facts and arts of the community (Mukarovsky, 1970). Organizational innovation is a manifestation of changes in aesthetic functions by the role of supporting art, Bali’s Joged Bumbung which exists as social dance. In recent developments many manifestations of this art form have been ridiculed as joged ngebor  (meaning “drill” with pornographic connotations), also is much appreciated as innovative joged (joged care jani) due to a change in governance of performance standards. This happens because of the interplay of extraneous factors (people’s taste and the influence of television entertainment arts), as well as intrinsic forces (creative power and pragmatic attitudes of performers). The taste of the people who want dancers to move in this ngebor manner  is understood to be pragmatic by the performers whose affirmation of these movement modalities only for the sake of monetary interest (economic goals). Even though there are also Joged Bumbung Bali innovations; which are creative in organizing performances without being eroded to appear as pornographic and are still in demand by the community. The offer of a model of grooming performance, which prioritizes creativity in the development of accompaniment music and dance movements, has been an innovative Bali’s Joged Bumbung as an offer to fight the tendancy to be erotic.
The Nyama (kinship) Documentary as an Intolerant Comparative Discourse in Pegayaman Village, Buleleng, Bali I Komang Arba Wirawan; I Gede Arya Sugiartha
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 3 No. 2 (2020): October
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lekesan.v3i2.1172

Abstract

The Nyama documentary is as a counter-discourse on intolerant attitudes in Indonesia. Nyama film was the result of research and creation of written and audio-visual data documentation of the acculturation of art and culture in the Muslim village of Pegayaman Buleleng, Bali. It was an observational/direct cinema-style documentary film acculturation of Hindu and Islamic arts and culture in Pegayaman Village, Buleleng, Bali. The Nyama film identified the perceptions and acculturation of art and culture in Pegayaman Village, Buleleng, Bali. It was a qualitative descriptive research method. Sources of data obtained through a purposive sampling method were done by accidental sampling technique. The location of the sampling was carried out in Pegayaman Village, Buleleng, Bali. The method used in achieving these goals was Representing reality. The documentary tells an event or reality (facts and data). Principally, documentary films are based on facts and are demanded to be loyal to those facts. Discussion of research and creation of this movie is the observational/direct cinema documentaries. This film tells the story of several people in Pegayaman Village. The subjects in this film are not in the same condition but are equally struggling to preserve the acculturation of Hindu and Islamic arts and culture in the Bali region. The information building in this film was a combination of interviews with selected subjects. The results of the research and creation were in the form of Nyama documentary films. The Nyama documentary is an acculturation campaign for arts and culture and a counter-discourse on the intolerant attitude of Indonesian society that is multicultural and has the character of Indonesian nationality.
Gamelan Ketug Bumi The Dialectics Of Culture, Modernity, And Educational Media | Gamelan Ketug Bumi Dialektika Kultur, Modernitas, Dan Media Pendidikan I Gede Arya Sugiartha
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 1 No 3 (2021): September
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jurnalsenikarawitan.v1i3.353

Abstract

Penelitian ini mengangkat topik tentang gamelan Ketug Bumi sebuah gamelan Bali barungan besar yang didominasi oleh alat-alat pukul dan tiup. Sengaja diformat sebagai musik prosesi, Ketug Bumi digunakan untuk mengiringi berbagai even budaya, seperti pawai, arak-arakan, karnaval yang memerlukan kemeriahan. Permasalahannya menjadi menarik karena gamelan Ketug Bumi merupakan karya kolektif akademisi ISI Denpasar yang kehadirannya langsung mendapat apresiasi dari masyarakat Bali. Ia merupakan wujud baru sekaligus menggantikan peran gamelan Adi Merdangga yang selama 30 tahun digunakan untuk mengawali pawai Pesta Kesenian Bali. Berbagai aspek menarik tentang dan sekitar gamelan Ketug Bumi mulai dari pembentukan, konsep kekaryaan dan repertoar, serta penelusuran berbagai peta makna yang menyertai kehadirannya dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini berada dalam wilayah Ilmu Kajian Seni Budaya berparadigma konstruktivistik dengan Etnomusikologi sebagai pendekatan utama dalam membedah persoalan-persoalan musical maupun ekstra musikalnya. Dapat disimpulkan bahwa secara fisik, musikalitas, dan tata penyajiannya gamelan Ketug Bumi menunjukkan sifat yang fleksibel dan progresif karena selalu berkembang sesuai selera zaman. Instrumentasi dan konsep garap berbasis dialektika kearifan local berbagai kultur namun dikemas inovatif dan berwawasan modernitas. Hal inilah menjadikan gamelan Ketug Bumi menarik dijadikan media pembelajaran komposisi oleh generasi muda. Dengan berbagai kebaruan yang ada gamelan Ketug Bumi tetap mengidentitas sebagai musik Bali.
Pergulatan Ideologi dalam Penciptaan Musik Kontemporer Bali I Gede Arya Sugiartha
PANGGUNG Vol 25 No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i2.3

Abstract

Tulisan ini menelaah dinamika estetik munculnya musik-musik Bali garapan baru dengan konsep-konsep musikal yang berbeda selama kurun waktu tiga dekade terakhir ini. Kreativitas dengan pendekatan dekonstruksi ini mendapat respon yang beragam dari masyarakat setempat. Metode kualitatif dengan menggunakan paradigma kritis sebagai landasan berpikir dan postmodernisme sebagai teori kunci dalam paradigma kajian ini. Bentuk kajian dilakukan dengan mengembangkan penafsiran makna melalui pendekatanteori estetika (ideologi, etnomusikologi, dan semiotika) dan dekonstruksi Jacques Derrida. Temuan hasil penelitian ini yakni bahwa kreativitas musik Bali garapan baru didorong oleh faktor internal yang meliputi ideologi seniman dan semangat baru dalam memaknai konsep-konsep pelestarian musik tradisi; dan faktor eksternal, yaitu musik Bali dalam konstelasi global. Wujud kreativitas musik ini dapat diklasifikasikan menjadi kreativitas musik kreasi baru dan kreativitas musik eksperimental. Kreativitas musik Bali garapan baru berdampak terhadap seniman pencipta, eksistensi musik Bali, dan sikap masyarakat; serta mengandung makna perubahan budaya, kekayaan estetik, dan terbangunnya kesadaran baru.Kata kunci: Pergulatan ideologi, penciptaan musik, dan kontemporer
Bentuk dan Konsep Estetik Musik Tradisional Bali I Gede Arya Sugiartha
PANGGUNG Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i1.14

Abstract

Penelitian ini mengkaji dua elemen penting dalam musik tradisional Bali, yaitu bentuk dan konsep-konsep estetiknya. Bentuk dan konsep estetik akan memberikan identitas sebuah aktu- alitas musik sehingga dapat dibedakan dari yang lainnya. Selain itu melalui bentuk dan kon- sep-konsep estetik musik tertentu, kita dapat mengenal atau membaca unsur-unsur penting dari kebudayaan masyarakat pemiliknya. Musik tradisional Bali memiliki dua bentuk, yaitu ar- sitektonik yang sifatnya intelektualistik atau absolut dan simbolik yang sifatnya instingtif atau relatif. Kedua bentuk ini dapat dicermati dari lima hal, yaitu sumber bunyi (instrumentasi), musikalitas, ekspresi musikal, dan tata penyajiannya. Konsep keindahan musik tradisional Bali dapat diamati secara ilmiawi (science) yaitu menilai keindahan dengan perhitungan logis me- lalui standar-standar estetik yang telah ada dan melalui unsur filsafat tentang keindahan me- nyangkut berbagai wawasan keindahan yang dipersepsi oleh manusia. Memahami bentuk dan konsep-konsep estetik adalah awal yang sangat baik dan akan menuntun seseorang yang ingin belajar tentang musik tradisional Bali.Untuk mengkaji bentuk dan konsep-konsep tersebut menggunakan teori bentuk estetis dengan metode kualitatif yang dibantu oleh data kualitatif. Hasil kajian ini menunjukkan bah- wa konsep estetik musik tradisional Bali dapat diamati yaitu adanya dua kekuatan oposisi yang mesti dipadukan untuk memenuhi unsur keindahan, seperti misalnya konsep lanang-wadon, polos-sangsih, pengumbang-pengisep, pesu-mulih, dan mebasang-metundun (asimetric balance) yaitu keseimbangan yang tidak simetris, namun hasil perpaduan keduanya adalah sebuah keindah- an. Begitu juga ada tiga unsur utama yang menentukan mutu karya seni, yaitu keutuhan, keru- mitan, dan kekuatan. Kata kunci: Musik tradisional Bali, bentuk dan konsep estetik