Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

SESAR NAIK KALI JEBUG SEBAGAI INDIKASI PENGONTROL NAIKNYA BATUAN PRATERSIER DI KARANGSAMBUNG, KABUPATEN KEBUMEN-JAWA TENGAH Widagdo, Asmoro; Setijadi, Racmad; Purwasatriya, Eko Bayu; Suman, Huzaeli Latief; Aditama, Maulana Rizki; Laksono, FX Anjar Tri
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.103 KB)

Abstract

Kemunculan komplek batuan melang berumur pra-tersier di daerah Karangsambung, Jawa Tengah merupakan hal yang masih menjadi perdebatan dan telah melahirkan berbagai pendapat yang menjelaskannya. Struktur lipatanantiklin, sesar naik dan sesar mendatar yang dijumpai di sekitar daerah ini dapat menjadi penyebab kemunculan batuan tertua di Pulau Jawa ini. Penelitian ini dilakukan guna menjelaskan kontrol struktur geologi tertentu yang menyebabkan kemunculan batuan berumur Pra-Tersied di sekitar batuan berumur Tersier di Karangsambung. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan kajian struktur geologi pada batas selatan batuan Pra-Tersier. Pemetaansebaran batuan Pra-Tersier dan Tersier serta pengukuran unsur struktur sesar dilakukan pada batas ini. Analisis dilakukan dengan membuat penampang geologi, analisis stereografis data sesar dan lipatan. Sesar Naik Kali Jebugdengan kedudukan N250E/40N pitch 70 ke arah NE telah mengontrol kemunculan batuan Pra-Tersier di Karangsambung. Sesar naik miring ke utara ini menjadi batas batuan Pra-Tersier dan Batuan Formasi Karangsambung yang berumur Eosen di selatan. Sesar ini dihasilkan oleh gaya utama berarah Utara-Selatan yang bekerja pada batuan dasar dan mengasilkan antiklin dan sinklin di daerah Karangsambung.
STRUKTUR GEOLOGI AREA BENCANA TANAH LONGSOR DI DESA TUMENGGAL, KECAMATAN PENGADEGAN-PURBALINGGA Widagdo, Asmoro; Iswahyudi, Sachrul; Laksono, Anjar Tri
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/p.semitan.2021.1959

Abstract

The Ligung Formation which is predominantly composed of claystone and the Kalibiuk Formation which is composed of volcanic breccias, both of which landslide simultaneously on the hillsides in the Tumenggal area, Pengadegan District, Purbalingga-Central Java. How the influence of the geological structure that has worked to compose the geological order of this area, which has an effect on the occurrence of the landslide, is the study that is revealed in this paper. Field observations of landslide locations were carried out by determining the position of the landslide, determining the type of bedrock, measuring the direction of the slope, measuring the dipping of rock layers and describing the distribution of landslides in the study area. The geological structures found in the study area are rock layers of the Ligung and Kalibiuk Formation and rock fractures/joints. Little dipping structure of the bed was observed in the field while intensive jointing was found in claystone. This structure has accelerated the weathering of claystone to form a thick soil. Andesite breccia found at the bottom of the slope has undergone intensive weathering. Rocks in the study area have a slope to the south and landslides to the north or towards the fore-slope, this is formed due to thick soil and intensive fractures/joints in the bedrock.
Peningkatan Kapasitas Anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Purbalingga Dalam Penanggulangan Bencana Gerakan Tanah Di Kabupaten Purbalingga Zaenurrohman, Januar Aziz; Permanajati, Indra; Aliim, Muhammad Syaiful; Widagdo, Asmoro
Darma Sabha Cendekia Vol 6 No 1 (2024): Darma Sabha Cendekia: Juni 2024
Publisher : Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32424/dsc.v6i1.12079

Abstract

Longsor (gerakan tanah) merupakan peristiwa alam yang seringkali membawa bencana dan kerugian yang tidak sedikit, baik berupa harta benda, sarana dan prasarana maupun jiwa manusia. Kabupaten Purbalingga terutama di bagian utara sebagian besar tanah/batuannya dibentuk oleh batuan vulkanik yang tanah pelapukannya gembur, dan sebagian daerahnya berlereng terjal, sehingga pada musim penghujan mempunyai potensi untuk terjadi gerakan tanah yang dapat mengancam kelestarian alam dan keselamatan jiwa penduduk setempat. Hal tersebut harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah, sehingga perlu dilakukan studi yang lebih detil agar kedepan bisa dilakukan mitigasi yang bersifat prefentif kedepanya. Pada pelaksanaan Peningkatan Kapasitas dilakukan sosialisasi atau penyuluhan guna meningkatkan kemampuan dalam akuisis data bencana. Pengabdian ini dapat mengoptimalkan sistem informasi kebencanaan di Kabupaten Purbalingga dalam menginformasikan peta rawan bencana dalam bentuk webGIS.
Curug Bayan Sebagai sarana Pembelajaran Geoscience Di Lereng Gunung api Slamet, Banyumas-Jawa Tengah Widagdo, Asmoro; Iswahyudi, Sachrul; Setijadi, Rachmad; Waluyo, Gentur
Geosapta Vol 8, No 2 (2022): JULI 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v8i2.13326

Abstract

Pengunjung dari kalangan akademisi geoscience (geofisika, geologi, geografi dan pertambangan) ke obyek wisata Curug Bayan di lereng selatan Gunung Slamet-Kabupaten Banyumas perlu mendapatkan informasi pembelajaran aspek kebumian (geoscience) pada lokasi yang dikunjunginya. Penggalian nilai ilmiah Curug Bayan perlu dilakukan sebagai informasi kepada masyarakat geoscience  yang tertarik mengetahuinya. Penelitian potensi pembelajaran kebumian di Curug Bayan ini adalah melalui urutan langkah dari kajian publikasi/pustaka dan pengamatan singkapan lapangan. Curug Bayan memiliki makna edukasi kebumian yang penting mengenai aliran lava purba, proses pendinginan lava pijar hingga membentuk batuan beku andesit, mekanisme gerusan air sungai atau erosi sungai vertical, bagian-bagian lereng gunung api, pertambangan, hidrologi dan vegetasi.
Sosialisasi Geowisata Curug Ceheng di Lereng Gunung Slamet, Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah Widagdo, Asmoro; Iswahyudi, Sachrul; Andreas, Roy; Irayani, Zaroh; Karisun, Kharisun
Darma Sabha Cendekia Vol 6 No 2 (2024): Darma Sabha Cendekia: Desember 2024
Publisher : Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32424/dsc.v6i2.12784

Abstract

Pengunjung obyek wisata Curug Ceheng di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang-lereng selatan Gunung Slamet-Kabupaten Banyumas perlu mendapatkan informasi aspek geologi pada lokasi kunjungannya. Sebagian besar dari para wisatawan ini belum mengetahui makna keilmuan secara geologi (geoscience). Pengabdian kepada masyarakat sosialisasi geowisata Curug Ceheng di Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah ini adalah melalui serangkaian langkah dari review pustaka, pengamatan lapangan air terjun, sosialisasi pada masyarakat/wisatawan dan selanjutnya penyusunan publikasi karya pengabdian ini. Kegiatan sosialisasi kepada wisatawan mengenai aspek geowisata Curug Ceheng telah memberikan pengetahuan dan pemahaman akan makna keilmuan geologi pada lokasi wisata Curug Ceheng.
Analysis of Tectonic Influence on Morphological Formation: Case Study of Gapura Pemalang Area Sunan, Huzaely Latief; Nurlatifah, Maula; Laksono, FX Anjar Tri; Widagdo, Asmoro
Journal of Earth and Marine Technology (JEMT) Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelititan dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Adhi Tama Suraba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jemt.2023.v3i2.4518

Abstract

Tectonic activity is closely related to the formation of landforms (morphology) in a region. The study area exhibits morphology controlled by normal fault tectonics, with blocks consisting of highlands and lowlands. This study aims to determine the extent of tectonic influence (normal faulting) on the morphology in the location. The quantitative geomorphological analysis method is used to obtain data on the level of tectonic activity present in the research area. Based on this method, it causes the formation of morphology and geological structures that affect the current surface forms. The methods used to calculate the tectonic influence are the Ratio of Valley Floor Width to Valley Height (Vf) and Mountain Front Sinuosity (Smf). Based on the results of the case study, the average Vf is 0.19, indicating class one tectonic activity and a high uplift level with V-shaped valleys. Meanwhile, the average Smf is 1.45, indicating strong tectonic activity associated with wide plains, narrow valleys, and steep hills. Based on these results, the study location falls into the category of strong tectonic activity, supported by field geological data showing right-lateral strike-slip faults and left-lateral normal faults intersecting each other.
DYNAMOTHERMAL METAMORPHIC SEBAGAI PROVENANCE ENDAPAN SEDIMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI KALIGARANG SEMARANG BERDASARKAN ANALISIS MINERAL BERAT Laksono, FX Anjar Tri; Widagdo, Asmoro; Iswahyudi, Sachrul
Jurnal Geosaintek Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah aliran Sungai Kaligarang Semarang yang mengalir dari selatan Semarang hingga bermuara di Semarang utara memiliki struktur sesar aktif dan sedimentasi dari enam formasi batuan yang berbeda yaitu Formasi Kerek, Kalibeng, Kaligetas, Damar, batuan gunungapi Kaligesik, dan aluvium. Kajian ini akan membahas provenance endapan sedimen daerah aliran Sungai Kaligarang yang terkait dengan tectonic setting Semarang. Hasil kajian provenance ini dapat digunakan untuk korelasi batuan dan interpretasi mekanisme pengendapan sedimen di Sungai Kaligarang. Metode dilakukan dengan mengumpulkan sampel sedimen dari Sungai Kaligarang yang kemudian dianalisis menggunakan mikroskop binokuler untuk mengidentifikasi jenis-jenis mineral berat. Jumlah mineral berat dihitung dan kemudian ditampilkan pada histogram untuk mengetahui perbandingan antara frekuensi mineral berat daerah penelitian dengan klasifikasi Mc Lane. Hasil analisis mineral berat menunjukkan bahwa Sungai Kaligarang didominasi mineral berat berupa ilmenit, magnetit, silimanit, muskovit, zirkon, andalusit, garnet, dan turmalin. Provenance mineral berat tersebut adalah dynamothermal metamorphic yang terbentuk pada metamorfisme tingkat tinggi dan dipengaruhi oleh temperatur dan tekanan tinggi. Kesimpulan kajian ini adalah provenance berupa dynamothermal metamorphic sesuai dengan tectonic setting Semarang yang berada pada jalur orogenesa dan adanya pergerakan sesar mendatar dekstral yang kemudian mengalami reaktivasi pada zaman Kuarter menjadi sesar mendatar sinistral. Mineral ilmenit, magnetit, dan silimanit yang dominan pada endapan terkait dengan fasies metamorfisme greenschist yang terjadi pada tekanan dan suhu yang tinggi. Mineral-mineral tersebut terbentuk pada kulit bumi bagian dalam yang terkait dengan aktivitas orogenesa.
Idenfitikasi dan Edukasi Bencana Penyebab Gerakan Tanah di SMP N 2 Karangjambu, Kabupaten Purbalingga Prasetya, Yogi Adi; Widagdo, Asmoro; Fadlin, Fadlin; Permana Jati, Indra; Zaenurrohman, Januar Aziz; Iswahyudi, Sachrul
Jurnal Pengabdian Masyarakat Terapan Vol 2 No 1 (2025): JUPITER April 2025
Publisher : Informatika, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jupiter.2.1.56

Abstract

Tingginya potensi bencana gerakan tanah di wilayah SMPN 2 Karangjambu, Desa Danasari, Kecamatan Karangjambu, Kabupaten Purbalingga, yang secara fisiografis berada pada daerah lereng terjal. Fenomena tanah longsor yang terjadi di kawasan ini berjenis landslide dan debris slide, yang diperparah oleh kondisi batuan dari Formasi Halang yang telah mengalami pelapukan, rekahan, serta tingginya curah hujan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi faktor geologi yang memengaruhi terjadinya longsor dan memberikan edukasi kepada warga sekolah mengenai bahaya serta mitigasi gerakan tanah. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan secara langsung, kajian pustaka untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai kondisi geologi dan bahaya longsor, dan sosialisasi kepada Masyarakat terdampak longsor. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa selain faktor geologi dan morfologi, aktivitas manusia serta kurangnya kesadaran akan mitigasi juga berperan besar dalam peningkatan risiko bencana. Melalui kegiatan penyuluhan dan diskusi partisipatif, warga sekolah memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang proses longsor dan langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan. Edukasi kebencanaan yang menyasar sekolah-sekolah di daerah rawan longsor. Kegiatan ini menunjukkan pentingnya pendekatan holistik dalam manajemen risiko bencana berbasis komunitas.
Edukasi Geowisata Bukit Pentulu Indah-Karangsambung, Kabupaten Kebumen-Jawa Tengah Widagdo, Asmoro; Andreas, Roy; Kharisun, Kharisun; Rif’an, Muhammad; Afuan, Lasmedi
Pamasa : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 2 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.pamasa.2024.2.2.12952

Abstract

Pengunjung obyek wisata Bukit Pentulu Indah di Karangsambung-Kabupaten Kebumen perlu mendapatkan edukasi unsur-unsur geologis pada lokasi-lokasi yang dikunjungi. Sebagian besar pengunjung belum memahami fenomena geologi yang diamati. Pengabdian pada masyarakat sosialisasi geo-wisata Bukit Pentulu Indah ini dilakukan melalui rangkaian alur dari kaji pustaka, observasi lapangan, sosialisasi pada pengunjung dan kemudian penulisan karya pengabdian ini. Tujuan sosialisasi pada geo-wisatawan tentang aspek geowisata Bukit Pentulu Indah telah menambahkan pengetahuan/pemahaman tentang makna geologis pada lokasi geo-wisata. Pengunjung tidak hanya datang dan menikmati pemandangan, namun mereka juga memahami dan memperoleh pencerahan akan aspek geoscience dibalik fenomena yang mereka lihat.
Interpretasi Struktur Geologi Berdasarkan Fault Fracture Density (FFD) dan Implikasinya Terhadap Potensi Likuefaksi di Daerah Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah Sunan, Huzaely Latief; Gibran, Akhmad Khahlil; Aditama, Maulana Rizki; Iswahyudi, Sachrul; Widiatmoko, Fajar Rizki; Widagdo, Asmoro; Laksono, FX Anjar Tri
EKSPLORIUM Vol. 42 No. 1 (2021): MEI 2021
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.1.6129

Abstract

The existence of geological structures is often associated with landslides and earthquakes. The Kalibening area is an interesting location for research on that purpose. This area is composed of Pleistocene and Recent rocks units. Based on its stratigraphy, the rocks in the area are truncated by fault structure. It means that the fault in the area is categorized as an active fault. The high morphology and a basin existence on its center indicate that the area formation was controlled by faults. The research is carried out to determine the trend of the geological structures that control the study area. To determine the trend of the geological structure, a structural mapping method of Fault Fracture Density (FFD) map combined with the Bouguer anomaly residual map and hillshade lineaments map is used. In general, the most important thing in the study of structural geology is the geometry of the structural elements. The conceptual model of geological structures is subsequently used to analyze the liquefaction potential of the study area. The interpretation of the structures shows the existence of dextral strike-slip fault followed by companion faults and pull-apart basin that is inferred as the result of normal faulting in the strike-slip mechanism. The dextral strike-slip fault produces a basin filled with loose sediment that is prone to liquefaction in the event of an earthquake and ground motion. This study concludes that the Kalibening area is prone to liquefaction due to the existence of the movement of dextral strike-slip fault, loose sediments that dominate the study area, and shallow groundwater table.