Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Profil Kadar Kolesterol pada Penderita Hipertensi di Usia Produktif Gina Nafsa Mutmaina; Astari Nurisani; Sugiah Sugiah; Mamay Mamay; Lia Mar’atiningsih; Meti Rizki Utari; Muhammad Hadi Sulhan; Rismawati Rismawati
Jurnal Siti Rufaidah Vol. 3 No. 3 (2025): :Jurnal Siti Rufaidah
Publisher : PPNI UNIMMAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jasira.v3i3.211

Abstract

Hypertension is a chronic clinical condition characterized by persistently elevated blood pressure above normal physiological limits and is a major global health concern due to its strong association with cardiovascular morbidity and mortality. One important contributing factor to hypertension is hypercholesterolemia, or an abnormal increase in total cholesterol levels in the blood. Elevated cholesterol concentrations may accelerate arterial stiffness and increase vascular resistance, thereby worsening blood pressure regulation. This study aimed to describe the relationship between blood pressure status and total cholesterol levels among productive-age individuals diagnosed with hypertension. The study was conducted in July 2023 using a descriptive design. A total of 30 hypertensive respondents within the productive age range were selected through accidental sampling. Data collection involved direct measurement of blood pressure using a sphygmomanometer and assessment of total cholesterol levels through standard clinical procedures. The results showed that the majority of respondents were categorized as having Stage 1 hypertension. With regard to cholesterol profiles, 16 respondents (53%) exhibited normal cholesterol levels, 9 respondents (30%) had borderline high cholesterol levels, and 5 respondents (17%) were classified as having high cholesterol levels. These findings suggest that most hypertensive individuals in the productive age category present with cholesterol levels ranging from normal to borderline high, although a smaller proportion already experience clinically high cholesterol concentrations. The study highlights the importance of regular monitoring of both blood pressure and lipid profiles in productive-age individuals to prevent progression to more severe cardiovascular complications. Lifestyle modification remains a cornerstone in hypertension management, particularly increasing physical activity, adopting a balanced diet low in saturated fats, and maintaining good sleep hygiene. Such preventive strategies can help reduce the dual burden of hypertension and hypercholesterolemia, ultimately lowering the risk of long-term cardiovascular disease.
Sinergi Sekolah dan Orang Tua dalam Pencegahan Dini Diabetes Anak Melalui Skrining Glukosa Dan Edukasi Pemanfaatan Magnesium-Daun Insulin Astari Nurisani; Lia Mar’atiningsih; Meti Rizki Utari; Gina Nafsa Mutmainah; Mamay; Muhammad Hadi Sulhan; Sugiah; N. Ai Erlinawati; Eli Laelawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5043

Abstract

Diabetes melitus (DM) kini menjadi tantangan kesehatan yang tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga mulai mengancam anak-anak akibat pola hidup tidak sehat dan kurangnya edukasi sejak dini. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mencegah risiko diabetes pada anak melalui skrining glukosa darah sewaktu (GDS) serta edukasi pemanfaatan terapi herbal berbasis magnesium dan daun insulin (Smallanthus sonchifolius) kepada orang tua siswa. Sasaran kegiatan adalah 18 siswa (usia 4,5–7 tahun) dan 18 orang tua yang tergabung dalam Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) di TK Islam Ar Rayyan Karangpawitan. Metode pelaksanaan mencakup koordinasi dengan pihak sekolah, pelaksanaan skrining glukosa pada anak dan orang tua, serta penyuluhan mengenai manajemen nutrisi preventif. Hasil skrining menunjukkan rata-rata kadar GDS anak sebesar 115 mg/dL (rentang 88–142 mg/dL) dan rata-rata GDS orang tua sebesar 102 mg/dL (rentang 77–141 mg/dL). Meskipun hampir seluruhnya subjek berada dalam kategori normal, temuan nilai ambang atas pada anak (142 mg/dL) menegaskan pentingnya pengawasan pola konsumsi gula. Sinergi antara sekolah dan POMG dalam kegiatan ini terbukti efektif dalam mendukung deteksi dini dan meningkatkan literasi kesehatan keluarga. Model kolaborasi ini berpotensi dikembangkan sebagai program promosi kesehatan berkelanjutan untuk memutus rantai risiko diabetes intergenerasional melalui pemanfaatan bahan alami yang aman dan mudah diterapkan di rumah.
Gambaran Kadar C-Reactive Protein (CRP) Pada Mencit (Mus Musculus) Yang Diberi Minuman Kemasan Tinggi Gula Meti Rizki Utari; Astari Nurisani; Sugiah; Iwan Wahyudi; Muhammad Hadi Sulhan; Gina Nafsa Mutmaina; Mamay; Lia Mar’atiningsih; N. Ai Erlinawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7118

Abstract

Minuman ringan merupakan minuman olahan nonalkohol yang umumnya mengandung gula sederhana dan diduga berhubungan dengan peningkatan kadar C-Reactive Protein (CRP) sebagai penanda inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar CRP pada mencit (Mus musculus) yang diberi minuman kemasan tinggi gula. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain posttest only control group yang menggunakan 24 ekor mencit berumur 3–4 bulan dengan berat badan 20–30 gram. Hewan uji dibagi ke dalam empat kelompok, terdiri atas satu kelompok kontrol yang diberikan aquadest dan tiga kelompok perlakuan yang masing-masing diberikan minuman kemasan tinggi gula dengan dosis 0,13 ml, 0,26 ml, dan 0,39 ml per hari selama 10 hari. Pada hari ke-11 dilakukan pengambilan serum dan pemeriksaan kadar CRP secara kualitatif menggunakan reagen kit CRP dengan pengamatan adanya atau tidak adanya aglutinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel pada keempat kelompok memiliki kadar CRP dalam batas normal, yang ditandai dengan tidak ditemukannya aglutinasi, sehingga seluruh mencit (100%) dikategorikan normal. Tidak ditemukan perbedaan gambaran kadar CRP antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Disimpulkan bahwa pemberian minuman kemasan tinggi gula dengan dosis 0,13–0,39 ml per hari selama 10 hari pada mencit Mus musculus tidak menyebabkan peningkatan kadar CRP yang dapat terdeteksi secara kualitatif.
Penanganan Nilai Kritis pada Pemeriksaan Ureum Astari Nurisani; Lia Mar’atiningsih; Muuhammad Hadi Sulhan; Gina Nafsa Mutmaina; Sugiah Sugiah; Mamay Mamay; Meti Rizki Utari; Arsylia Intan Zori Ichsani
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i1.808

Abstract

Critical values ​​in an examination indicate a disorder that requires special and rapid action to improve patient safety. Urea examination is one of the laboratory parameters that functions as an indicator in assessing the level of kidney function. Urea levels are considered critical if the results exceed 100 mg/dl. This study aims to understand how to handle critical values ​​in urea examinations. This study describes a case in the field of clinical chemistry related to critical results obtained from urea examinations. The object of the case study used in this study was a serum sample, with data showing a critical urea level of 185 mg/dl. Based on the confirmation results, this figure is in accordance with the condition of patients who have kidney failure and will undergo hemodialysis therapy. The conclusion of this study shows that handling critical values ​​in urea examinations is carried out by identifying patient identity and ensuring good sample quality. In addition, the sample testing process must be carried out carefully and precisely, control results must be optimal, the reagents used must have the appropriate temperature and not expired, and the equipment must be properly maintained and calibrated. Finally, confirmation and reporting of results must be carried out accurately and on time.