Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Gambaran karakteristik gagal jantung pada bayi baru lahir di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode tahun 2013-2015 Gautama, Reggie C.; Kaunang, Erling D.; Tatura, Suryadi N.N.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14351

Abstract

Abstract: Heart failure is one of the cardiovascular diseases to be the focus of attention. This study was aimed to obtain the characteristics of heart failure in newbornsat Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2013-2015. This was a retrospective descriptive study with a cross-sectional design using data of medical records in Department of Pediatrics and Medical Records Center of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed that there were 22 samples consisted of males 55% and females45%.Clinical manifestations were as follows: fever (68%), cyanosis (64%), and breathing difficulty (45%). The physical examinations that were taken into account were vital signs (pulse: 152.86 x/minute; respiration rate: 70.59 x/minute; body temperature: 36.86°C), anthropometry (body weight: 3495.45 grams), head examination (anemic conjunctiva: 9%; icteric sclera: 42%), lung examination (retraction: 95%, ronchi: 14%), and heart examination (pansystolic murmur: 82%; systolic ejection murmur: 14%). The supportive workups that were taken into account included echocardiography (VSD: 68%; ASD: 9%; ASD and VSD: 9%; other congenital heart diseases: 14%), chest X-ray (normal: 91%; infiltrate spots in both lungs: 9%), and laboratory tests (low Ht count 45%; low Hb count 55%; low platelet count 68%; high leukocyte count 73%; high level of total bilirubin 77%; high level of direct bilirubin 73%; electrolytes (within normal limit: calcium 50%; sodium 46%, potassium 68%; and chloride 54%). Conclusion: In this study, the most dominant gender was male, and the clinical manifestations as follows: fever, cyanosis, and breathing difficulty; physical examination as follows: tachycardia, tachypnea, hypothermia, hyperthermia, icteric sclera, prominent retraction, and pansystolic murmur. Meanwhile, in the supportive workups the most common manifestations were VSD in echocardiography, and the laboratory tests as follows: decreased hematocrit count, hemoglobin, and platelets, and increased leukocyte count, and total and direct bilirubin levels. Keywords: characteristics, heart failure, newborn infant Abstrak: Gagal jantung merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menjadi fokus perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita gagal jantung pada bayi baru lahir di RSUP Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2013-2015.Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang menggunakan data rekam medik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak dan Pusat Rekam Medik RSUP Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 22 sampel, terdiri dari sampel laki-laki sebanyak 55% dan perempuan 45%. Gambaran klinis berupa demam (68%), sianosis (64%) dan sesak napas (45%). Pemeriksaan fisik yang dinilai berupa tanda vital (nadi: 152,86x/menit; respirasi: 70,59x/menit; suhu: 36,860C), antropometri (berat badan: 3495,45 gram), pemeriksaan kepala (konjungtiva anemis: 9%; sklera ikterik: 42%), pemeriksaan paru-paru (retraksi: 95%; rhonki: 14%) dan pemeriksaan jantung (bising pansistolik: 82%; bising;ejeksi sistolik: 14%). Pemeriksaan penunjang ialah ekokardiografi (VSD: 68%; ASD: 9%; ASD dan VSD: 9%; PJB lainnya: 14%), foto toraks (normal: 91%; bercak infiltrat pada kedua lapang paru: 9%) dan pemeriksaan laboratorium (Ht rendah 45%; Hb rendah 55%; trombosit rendah 68%)leukosit tinggi 73%; kadar bilirubin total tinggi (77%); kadar bilirubin direk tinggi (73%); elektrolit (dalam batas normal: kalsium (50%), natrium (46%), kalium (68%), dan klorida (54%)) normal). Simpulan: Dalam studi ini yang terbanyak ditemukan ialah jenis kelamin laki-laki, temuan klinis demam, sianosis dan sesak napas, pemeriksaan fisik takikadia, takipneu, hipotermi dan hipertermi, sklera ikterik, retraksi, dan bising pansistolik.Pada pemeriksaan penunjang terbanyak ditemukan ialah VSD pada ekokardiografi dengan hasil laboratorium penurunan hematokrit, hemoglobin, dan trombosit serta peningkatan leukosit, bilirubin total, dan direk.Kata kunci: karakteristik, gagal jantung, bayi baru lahir
Analisis Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis Neonatorum di Neonatal Intensive Care Unit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kereh, Tesalonika; Wilar, Rocky; Tatura, Suryadi N. N.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27007

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is defined as a clinical syndrome with systemic manifestations and bacteremia that occurs in the first month of life. Admnistration of antibiotics had to follow the pattern of the most common causal germs in a hospital. This study was aimed to determine the antibiotics of neonatal sepsis patients at the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado, in this case types of antibiotics, duration of the used antibiotics, as well as the use of the first, second, and third-line antibiotics. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Samples were neonatal sepsis patients who were treated with first, second, and third line antibiotic therapy at the NICU from September to November 2019. The results obtained a total of 40 patients, consisting of 22 males (55%) and 18 females (45%). The condition of the patients when coming out of the ward were 12 recovered (30%) and 28 died (70%). Combination antibiotics were the most common used as many as 37 cases (58%). The length of time using antibiotics based on lines, obtained that the first-line antibiotics were given at a duration of ≤5 days, while the second and third line antibiotics were more often given at a duration of >5 days. In conclusion, most neonatal sepsis patients were given antibiotics in combination. There were differences among the durations of the first, second and third line antibiotics used in patients with neonatal sepsis.Keywords: neonatal sepsis, antibiotics Abstrak: Sepsis neonatorum didefinisikan sebagai sindrom klinis dengan manifestasi sistemik dan bakterimia yang terjadi pada satu bulan pertama kehidupan. Pemberian antibiotik harus memperhatikan pola kuman penyebab tersering yang ada di suatu rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatorum di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dalam hal ini jenis-jenis antibiotik yang digunakan, durasi penggunaan antibiotik yang diberikan, serta penggunaan antibiotik lini pertama, kedua, dan ketiga. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien sepsis neonatorum yang menggunakan terapi antibiotik lini pertama, kedua, dan ketiga yang dirawat di ruangan NICU periode September - November 2019. Hasil penelitian memperoleh total 40 pasien, terdiri dari 22 bayi laki-laki (55%) dan 18 bayi perempuan (45%). Keadaan pasien saat keluar dari ruang rawat 12 sembuh (30%) dan 28 meninggal (70%). Penggunaan antibiotik kombinasi paling banyak digunakan yaitu sebanyak 37 kasus (58%). Lama waktu penggunaan antibiotik berdasarkan lini, didapatkan antibiotik lini pertama paling banyak diberikan pada durasi ≤5 hari, sedangkan lini kedua dan ketiga lebih sering diberikan pada durasi >5 hari. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar pasien sepsis neonatorum diberikan antibiotik secara kombinasi. Terdapat perbedaan pada lama waktu penggunaan antibiotik pasien sepsis neonatorum baik lini pertama, kedua dan ketiga.Kata kunci: sepsis neonatorum, antibiotik
Gambaran malaria pada anak di RSU GMIM Bethesda Tomohon periode 2011-2015 Paendong, Boy A.I.; Tatura, Suryadi N.N.; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14457

Abstract

Abstract: Malaria is an endemic disease that is often found in the world, particularly in tropic areas. Four types of plasmodiums that often infect human are falciparum, vivax, malariae, and ovale. The symptoms of malaria that usually occur are fever, chills, and sweats. This study was aimed to obtain the profile of malaria in children at GMIM Bethesda Hospital Tomohon. This was a descriptive retrospective study with a cross sectional design. The results showed that of 105 children who suffered from malaria, only 92 children fulfilled the inclusion criteria. Malaria was found in the years 2011-2015. The highest percentages were age 5-9 years (31.5 %), males (66 %), plasmodium falciparum (63%), and fever as the clinical manifestation (100%). The manifestation of malaria such as fever, chill, and ssweating perspiring was found in 13.1% of cases and complication of severe anemia in 1,1% of cases. Most cases were treated with DHP and primaquin. Conclusion: In this study, malaria was still an endemic disease in GMIM Bethesda Hospital Tomohon, most among males aged 5-9 years. Plasmodium falciparum was the most common type and fever was the clinical manifestation mostly complained.Keywords: malaria, plasmodium, children Abstrak: Malaria adalah penyakit endemis yang sering dijumpai di seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Empat plasmodium yang biasa menginfeksi manusia yaitu falciparum, vivax, malariae, dan ovale. Gejala umum pada malaria ialah demam, menggigil, dan berkeringat. Menurut data WHO, di dunia kasus penyakit malaria pada tahun 2015 berjumlah 214 juta kasus. Di Sulawesi Utara pada tahun 2014 jumlah kasus malaria menyentuh angka 2.244 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran malaria pada anak di RSU GMIM Bethesda Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 105 anak yang menderita malaria didapatkan 92 anak sebagai subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Malaria terdapat sepanjang tahun dari 2011-2015. Mayoritas anak dengan malaria ialah usia 5-9 tahun (31,5%), jenis kelamin laki-laki (66%), jenis plasmodium falciparum (63%), dan gejala klinis demam (100%). Gejala malaria demam, menggigil, berkeringat ditemukan sebanyak 13,1% dan komplikasi anemia berat 1,1%. Terapi yang banyak digunakan ialah DHP dan primakuin. Simpulan: Pada studi ini malaria masih merupakan penyakit endemik di RSU GMIM Behesda Tomohon, sering terjadi pada anak laki-laki, usia 5-9 tahun, dengan mayoritas plasmodium falciparum dan gejala klinis demam. Kata kunci: malaria, plasmodium, anak
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN BERAT RINGANNYA CAMPAK PADA ANAK Liwu, Teressa S.; Rampengan, Novie H.; Tatura, Suryadi N. N.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10961

Abstract

Abstract: Appendicitis is an inflammation of vermiform appendix. Acute inflammation of the appendix needs to be treated immediately to prevent fatal complications. The incidence among females and males is slightly comparable, however, the incidence is higher among males than females in the age range between 20-30 years. The fundamental clinical decision in the diagnosis of a patient with suspected appendicitis is whether to do an operation or not. The meaningful evaluation of acute appendicitis balances early operative intervention to prevent operative risks. This study aimed to obtain the incidence of appendicitis at Prof. Dr. R.D Kandou Hosiptal Manado from October 2012 to September 2015. This was a  retrospective descriptive study using data of the Department of Medical Record Prof. Dr. R.D Kandou Manado Hospital. The results showed that there were 650 patients. Most patients had acute appendicitis as many as 412 patients (63%) meanwhile chronic appendicitis was found in 38 patients (6%). Of 650 patients, 200 patients had complications; 193 patients (30%) with perforated appendicitis and 7 patients (1%) with appendicular mass. The most frequent age group to develop appendicitis was 20-29 years. The number of male patients was higher than the females. Keywords: appendicitis, incidence  Abstrak: Apendisitis adalah adanya peradangan pada apendiks vermiformis. Peradangan akut pada apendiks memerlukan tindak bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Insidens pada perempuan dan laki-laki umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun insidens pada laki-laki lebih tinggi. Keputusan klinis mendasar dalam mendiagnosis pasien dengan dugaan apendisitis ialah apakah perlu dilakukannya operasi atau tidak.  Evaluasi yang baik dari kasus apendisitis akut dapat mengurangi intervensi untuk operasi awal, dengan harapan dapat mengurangi risiko operasi yang tidak diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian apendisitis di RSUP Prof. Dr. R. D, Kandou Manado periode Oktober 2012 – September 2015. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode Oktober 2012 – September 2015 terdapat 650 pasien. Jumlah pasien terbanyak ialah apendisitis akut yaitu 412 pasien (63%) sedangkan apendisitis kronik sebanyak 38 pasien (6%). Dari 650 pasien, yang mengalami komplikasi sebanyak 200 pasien yang terdiri dari 193 pasien (30%) dengan komplikasi apendisitis perforasi dan 7 pasien (1%) dengan periapendikuler infiltrat. Kelompok umur tersering yang menderita apendisitis ialah 20-29 tahun. Jumlah pasien laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Kata kunci: apendisitis, angka kejadian
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TINGKAT KEPADATAN PARASIT MALARIA PADA ANAK Lee, Jeanette Elmerose Natalia; Tatura, Suryadi N. N.; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11000

Abstract

Latar belakang: Status gizi diketahui dapat mempengaruhi kepadatan parasit malaria pada anak, sehingga melalui status gizi dapat dinilai tingkat kepadatan parasit malaria. Namun status gizi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan tingginya kepadatan parasit malaria, terdapat faktor lain yang turut berperan dalam hal ini. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tingkat kepadatan parasit malaria. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian analititik retrospektif dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sampel penelitian sebanyak 59 anak yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan uji koefisien korelasi Gamma. Hasil: Dari 65 anak didapatkan 59 sebagai sampel penelitian yang memnuhi kriteria inklusi. Status gizi dengan kepadatan parasit malaria didapatkan kepadatan tinggi dengan gizi kurang sebanyak 9 anak (15,3%), dengan gizi baik sebanyak 24 anak (40,7%), dengan overweight sebanyak 2 anak (3,4%) dan dengan obesitas sebanyak 2 anak (3,4%). Sedangkan kepadatan rendah dengan gizi kurang sebanyak 9 anak (8,5%), dengan gizi baik sebanyak 13 anak (22,0%), dengan overweight sebanyak 3 anak (5,1%). Dengan uji koefisien korelasi Gamma didapatkan korelasi yang sangat lemah (rG = 0,118; p = 0,632). Hasil ini menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kepadatan parasit malaria.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan tingkat kepadatan parasit malaria pada anak.Kata kunci: Malaria, kepadatan parasit, status gizi, anak.Background: Nutritional status can influence malaria parasite density in children, so from nutritional status we can evaluate malaria parasite density. Nutritional status is not the only factor which cause high malaria parasite density, there are another factors which cause this. Objective: To find out the relation between nutritional status and malaria parasite density in children. Methods: This study uses analytic retrospective method with cross –sectional design. About 59 sample qualify the inclusion criteria. Data were analyzed using Gamma correlation coefficient statistical test. Results: From 65 children, there are 59 children who qualify the inclusion criteria. On the analysis of nutritional status and malaria parasite density, children with high parasite density consist of 9 children (15,3%) with malnutrition, 24 children (40,7%) with good nutritional status, 2 children (3,4%) with overweight, and 2 children (3,4%) with obesity. On children with low parasite density, there are 9 children (8,5%) with malnutrition, 13 children (22,0%) with good nutritional status, and 3 children (5,1%) with overweight. Using Gamma correlation test, the study find a very weak correlation (rG = 0,118; p = 0,632). This find indicates that there is no significant relation between nutritional status and malaria parasite density. Conclusion: There is no significant relation between nutritional status and malaria parasite density in children.Keywords: Malaria, parasite density, nutritional status, children.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Angka Kejadian Malaria pada Anak di Kecamatan Lembeh Selatan Kota Bitung Lahiang, Reinette M.; Rampengan, Novie H.; Tatura, Suryadi N. N.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.53687

Abstract

Abstract: Malaria is an infectious disease that contributes to high mortality and morbidity rates. Indonesia is no exception and is still one of the countries with high malaria endemicity. This study aimed to determine factors influencing the incidence of malaria in children in Lembeh Selatan, Bitung. This was an analytical and observational study with a retrospective approach and a case-control research design. Data were obtained from medical record data and through interviews by filling out questionnaires, and were analyzed using the chi-square test. The statistical test results of this study showed that the presence of livestock pens around the residence as well as the habit of using mosquito nets and mosquito repellent when sleeping at night were not factors that influenced the incidence of malaria in children in Lembeh Selatan. There was an influence of the presence of mosquito breeding sites around the residence (p-value of <0.001) and the habit of going out at night (p-value of <0.001) with the incidence of malaria in children in Lembeh Selatan. In conclusion, factors that influence the incidence of malaria in children in Lembeh Selatan, Bitung, are living close to mosquito breeding areas and the habit of going out at night. Keywords: incidence rate of malaria; children; influencing factors   Abstrak: Malaria merupakan salah satu penyakit menular dengan penyumbang angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Indonesia tak terkecuali masih menjadi salah satu negara dengan endemisitas malaria yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi angka kejadian malaria pada anak di Kecamatan Lembeh Selatan Kota Bitung. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan retrospektif dan desain penelitian case-control. Data diperoleh melalui data sekunder yaitu data rekam medis dan melalui wawancara dengan mengisi kuisioner. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square. Hasil uji statistik penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara keberadaan kandang ternak di sekitar tempat tinggal serta kebiasaan menggunakan kelambu dan obat anti nyamuk saat tidur di malam dengan kejadian malaria pada anak di Kecamatan Lembeh Selatan. Terdapat hubungan bermakna antara keberadaan tempat perindukan nyamuk di sekitar tempat tinggal (nilai p<0,001) dan kebiasaan keluar rumah pada malam hari (nilai p=<0,001) dengan kejadian malaria pada anak di Kecamatan Lembeh Selatan. Simpulan penelitian ini ialah faktor yang memengaruhi angka kejadian malaria pada anak di Kecamatan Lembeh Selatan Kota Bitung ialah tempat tinggal dekat dengan tempat perindukan nyamuk dan kebiasaan keluar rumah pada malam hari. Kata kunci: angka kejadian malaria; anak; faktor yang memengaruhi