Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

Gambaran Mikrobiota Usus dan Konsistensi Tinja pada Bayi Sehat Usia 0-6 Bulan yang Mendapat ASI dan Susu Formula Logor, Narita T; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Tatura, Suryadi N. N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 2 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.2.2021.31782

Abstract

Abstract: The gut microbiota affects the maturation of the immune system, absorption of nutrients and the avoidance of colonization of pathogens, and the stool consistency can reflect the tolerance of gastrointestinal tract and activity in the ecosystem of the colon. The intake of infants in early life affects the gut microbiota and stool consistency, there are differences in the description of the intestinal microbiota and the stool consistency in infants who are given breast milk and infant formula. This study aims to compare the description of gut microbiota and stool consistency in healthy infants aged 0-6 months who are breastfed and infant formula. This study was in the form of a literature review. The literature was taken from three databases, namely Pubmed, Google scholar and pediatric extract. The keywords used were gut microbiota, stool consistency, breast milk and infant formula. After being selected by exclusion inclusion criteria, it was obtained 13 literature. There are 13 literatures examining the description of the gut microbiota and stool consistency in infants who are breastfed, standard infan formula and supplemented infant formula; probiotics, prebiotics, synbiotics, sn-2 palmitate and protein. In conclusion, breastfed infants have a lower diversity of the gut microbiota in early life and will increase with age, a low diversity indicates a healthy gut characteristic if caused by breastfeeding. The stool consistency in breastfed infant is softer than in infants who receive standard infant formula and supplemental infant formulas.Key words: gut microbiota, stool consistency, breast milk, infant formula  Abstrak: Mikrobiota usus mempengaruhi pematangan system kekebalan, penyerapan nutrisi serta menghindari kolonisasi patogen, dan konsistensi tinja dapat menggambarkan toleransi dari gastrointestinal dan aktivitas di ekosistem usus besar. Asupan bayi diawal kehidupan mempengaruhi mikrobiota usus dan konsistensi tinja, terdapat perbedaan gambaran mikrobiota usus dan konsistensi tinja pada bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) dan susu formula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gambaran mikrobiota usus dan konsistensi tinja pada bayi sehat usia 0-6 bulan yang mendapat ASI dan susu formula. Penelitian ini dalam bentuk literature review. Literature diambil dari tiga database yaitu Pubmed, Google scholar dan sari pediatric. Kata kunci yang digunakan yaitu gut microbiota, stool consistency, breast milk dan infant formula. Setelah diseleksi dengan kriteria inklusi eksklusi, didapatkan 13 literatur. Terdapat 13 literatur yang meneliti gambaran microbiota usus dan konsistensi tinja pada bayi yang mendapat ASI, susu formula standar dan susu formula dengan tambahan ; probiotik, prebiotik, sinbiotik, sn-2 palmitate dan protein. Sebagai simpulan, bayi yang mendapat ASI memiliki keragaman mikrobiota usus yang rendah diawal kehidupan dan kemudian akan meningkat seiring bertambahnya usia, keragaman yang rendah menunjukan ciri usus yang sehat jika dikarenakan pemberian ASI. Konsistensi tinja pada bayi dengan ASI lebih lunak dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula standar dan susu formula dengan tambahan.Kata kunci: mikrobiota usus, konsistensi tinja, ASI, susu formula
Faktor Risiko Terjadinya Sindroma Syok Dengue pada Demam Berdarah Dengue Podung, Gerald C. D.; Tatura, Suryadi N. N.; Mantik, Max F. J.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 2 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.2.2021.31816

Abstract

Abstract: This study aimed to determine the risk factors and how much they cause Dengue Shock Syndrome (SSD) in children with Dengue Hemorrhagic Fever. This study is a study using the literature review method. From the 10 articles reviewed, the risk factors identified were as follows: from demographic factors, age > 5 years; male and female; late treatment; and referral patients. Signs and symptoms of patients who are risk factors for SSD, namely secondary infection, duration of fever ≥ 4 days before being admitted to hospital, abdominal pain, hepatomegaly, oliguria, pleural effusion, ascites, spontaneous bleeding, flushing measurable. The identified risk factors based on lab tests were hematocrit ≥42%, thrombocytopenia (platelet count <50,000 cells/mm3), increased hematocrit > 20% with platelet levels <50,000 cells/mm3, leucocyte levels <4000 (leukopenia), low fibrinogen levels. (<200 mg / dL) and APTT prolongation. In conclusion, risk factors based on identified demographics are age > 5 years, gender, late treatment and referral patients; factors that are symptoms and signs associated with the incidence of SSD are secondary infection, fever ≥ 4 days before hospitalization, abdominal pain, hepatomegaly, oliguria, pleural effusion, spontaneous bleeding, ascites, facial flushing, unmeasured pulse and systolic pressure and unmeasured diastolic; factors based on laboratory results: hematocrit ≥ 42, thrombocytopenia, leucopenia, low fibrinogen levels and prolonged APTT.Keywords: Risk Factors, Dengue Shock Syndrome  Abstrak: Tujuan pelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor risiko dan seberapa besar faktor risiko tersebut menyebabkan Sindroma Syok Dengue (SSD) pada anak dengan Demam Berdarah Dengue. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode literature review. Dari 10 artikel yang direview, faktor risiko yang teridentifikasi adalah sebagai berikut: dari faktor demografis, umur > 5 tahun, jenis kelamin laki-laki dan perempuan; keterlambatan berobat; dan pasien rujukan. Tanda dan gejala dari pasien yang merupakan faktor risiko SSD, yaitu infeksi sekunder, lama demam ≥ 4 hari sebelum dirawat di RS, nyeri abdomen, hepatomegali, oliguria, efusi pleura, asites, perdarahan spontan, wajah kemerahan, nadi yang tidak terukur. Faktor risiko berdasarkan pemeriksaan lab yang teridentifikasi adalah hematocrit ≥42%, trombositopenia (kadar trombosit <50.000 sel/mm3), peningkatan hematocrit >20% dengan kadar trombosit <50.000 sel/mm3, kadar leukosit <4000 (leukopenia), level fibrinogen yang rendah (<200 mg/dL) dan pemanjangan APTT. Sebagai simpulan, faktor risiko berdasarkan demografi yang teridentifikasi adalah umur >5 tahun, jenis kelamin, terlambat berobat dan pasien rujukan; faktor yang merupakan gejala dan tanda yang berhubungan dengan kejadian SSD adalah infeksi sekunder, demam ≥ 4 hari sebelum dirawat di RS, nyeri abdomen,hepatomegaly,oliguria,efusi pleura,perdarahan spontan,asites,wajah kemerahan, nadi yang tidak terukur dan tekanan sistolik dan diastolik yang tidak terukur; faktor berdasarkan hasil labotratorium: hematocrit ≥ 42, trombositopenia, leukopenia, level fibrinogen rendah dan pemanjangan APTT.Kata Kunci: faktor resiko, sindroma syok dengue