Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Transformasi Konsumsi Pangan Petani Serta Peran Inovatif Penyuluhan Pertanian di Lapangan (Studi Kasus Kecamatan Wonomulyo Polewali Mandar): The Transformation of Farmers' Food Consumption and the Innovative Role of Agricultural Extension in the Field (A Case Study in Wonomulyo District Polewali Mandar Regency) Muhdiar; Abd Rahim
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.4832

Abstract

Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang berperan penting dalam mendukung keberlanjutan hidup dan pembangunan bangsa. Pola konsumsi petani, yang dipengaruhi oleh gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan ketersediaan makanan bergizi, memainkan peran strategis dalam mencapai status gizi optimal. Namun, di Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, skor Pola Pangan Ideal (PPH) masyarakat masih relatif rendah meskipun wilayah ini memiliki potensi pertanian yang signifikan. Rendahnya skor PPH ini menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi masyarakat belum memenuhi standar keamanan, nutrisi, keseimbangan, dan keberagaman tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengidentifikasi komponen bahan-bahan makanan petani untuk mencapai konsumsi ideal mereka, (2) menganalisis peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam meningkatkan pola konsumsi rumah tangga, (3) Analisis hubungan PPL dengan pola konsumsi dalam rangka meraih Angka Kecukupan Energi (AKE). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode food recall 7x24 jam, skala likert untuk melihat tingkat peran pendampingan PPL. Analisis yang digunakan adalah analisis tingkat hubungan menggunakan rank spearman correlation analysis dan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pola konsumsi petani. Berdasarkan hasil penenlitian ditemukan bahwa beras adalah makanan pokok petani dan tahu tempe menjadi lauk utamanya. Rata-rata AKE aktual dari pola konsumsi petani adalah sebesar 1.644,42 kkal/kapita/hari dengan AKP sebesar 52,53 gram/kapita/hari. Hasil tersebut menunjukan bahwa hasil yang didapatkan masih dibawah standar. Peran edukator dengan AKE memiliki hubungan yang signifikan sementara pola konsumsi tidak memiliki hubungan dengan penyuluh karena belum meratanya penyuluhan mengenai pola konsumsi kepada petani. Food is a basic human need that plays an important role in supporting the sustainability of life and national development. Farmers' consumption patterns, which are influenced by lifestyle, socio-economic conditions and the availability of nutritious food, play a strategic role in achieving optimal nutritional status. However, in Wonomulyo District, Polewali Mandar Regency, the community's Ideal Food Pattern (PPH) score is still relatively low even though this area has significant agricultural potential. This low PPH score indicates that people's consumption habits do not meet the standards of safety, nutrition, balance and diversity. The aims of this research are (1) to identify the components of farmers' food ingredients to achieve their ideal consumption, (2) to analyze the role of field agricultural instructors (PPL) in improving consumption patterns rhouseholds, (3) Analysis of the relationship between PPL and consumption patterns in order to achieve the Energy Adequacy Rate (EAR). This research is a quantitative research using the 7x24 hour food recall method, a Likert scale to see the level of PPL's ​​mentoring role. The analysis used is relationship level analysis spearman rank correlation analysis and analysis linear regression multiple ways to find out the factors that influence farmers' consumption patterns. Based on the research results, it was found that rice is the staple food for farmers and tofu and tempeh is the main side dish. The actual average AKE from farmers' consumption patterns is 1,644.42 kcal/capita/day with AKP of 52.53 grams/capita/day. These results show that the results obtained are still below standard. The role of educators with AKE has a significant relationship while consumption patterns have no relationship with extension workers because there is not even distribution of information regarding consumption patterns to farmers.
Perbandingan Metode Penyuluhan dalam Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Petani (Studi Kasus Kecamatan Wonomulyo Polewali Mandar): Comparison of the Effectiveness of Extension in Enhancing Farmers' Knowledge and Skills (A Case Study in Wonomulyo District Polewali Mandar Regency) Muhdiar, Muhdiar; Abd Rahim; MK, Pratiwi
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 2 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i2.5926

Abstract

Penyuluh pertanian merupakan ujung tombak dalam upaya mengembangkan sektor agricultura di Indonesia. Melalui kegiatan penyuluhan, petani dapat memperoleh informasi, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dalam mengelola usaha tani secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis metode penyuluhan pertanian yang digunakan di Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar; dan (2) Membuat analisis pengaruh metode penyuluhan terhadap peningkatan Ilmu pengetahuan dan keterampilan petani di wilayah tersebut. Riset ini dilakukan selama tiga bulan, mulai Januari hingga Maret 2025, dengan  lokasi penelitian di Kecamatan Wonomulyo. Sampel penelitian terdiri dari responden petani yang dipilih  menggunakan teknik proporsional sampling. Alat analisis yang digunakan adalah Uji-T. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua metode yang yang diterapkan dikecamatan Wonomulyo dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dimana Metode demplot, anjangsana, pelatihan dan Sekolah lapang (SL) menjadi metode yang memiliki kategori sangat tinggi sementara temu wicara dan studi banding memiliki kategori tinggi. Agricultural extension serves as a frontline effort in developing the agricultural sector in Indonesia. Through extension activities, farmers can acquire the information, knowledge, and skills needed to manage their farming businesses effectively. This study aims to: (1) Analyze agricultural extension methods used in Wonomulyo Subdistrict, Polewali Mandar Regency; and (2) Examine the influence of these extension methods on enhancing farmers' knowledge and skills in the region. The research was conducted over three months, from January to March 2025, in Wonomulyo Subdistrict. The study sample consisted of farmer respondents selected using proportional sampling techniques. The analytical tool used was the T-Test. The research findings indicate that all methods applied in Wonomulyo Subdistrict improved farmers' knowledge and skills. Among these, the demonstration plot, farm visits, training, and Farmers Field School (FFS) methods were categorized as having a very high impact, while discussion forums and comparative studies were categorized as having a high impact. 
Marketing Strategy of Agriku Product (Tuna Chili Sauce) at Muhammadiyah University of Parepare Setiawan, Heri; Nurhapsa; Abd. Rahim
Jurnal Agricultural Science Vol 20 No 1 (2025): MAY
Publisher : FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RATU SAMBAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/jas.v20i1.512

Abstract

Tuna chili sauce is one of the local processed products from Agriku MSME, which is marketed within the Muhammadiyah University of Parepare. This product has a distinctive taste and considerable market potential among students and academic staff. However, the marketing of this product still faces several challenges, such as limited production capacity and suboptimal promotional efforts. The objectives of this study are: 1) To identify internal and external factors affecting the sales of Agriku's tuna chili sauce at Muhammadiyah University of Parepare; and 2) To analyze effective marketing strategies to increase its sales within the campus environment. This research employs a descriptive quantitative method, utilizing a SWOT analysis approach, and data collection techniques that include observation, questionnaires, and documentation. The results show that the product's strengths lie in its flavor quality and attractive packaging, while its weaknesses are limited promotion and production capacity. Opportunities include high market demand and support from the university, whereas threats come from competing products. This study yielded several practical marketing strategies, including optimizing product strengths through targeted social media promotion, expanding distribution reach beyond the campus, incrementally increasing production capacity, and developing product variations to address market competition. These strategies were derived from a SWOT analysis that positioned the product in Quadrant II (diversification strategy), where the organization possesses internal strengths but faces external threats.
Mitigasi Bencana Lahan Miring Berbatu Rawan Longsor Kawasan Gunung Tolong Kota Parepare dengan Penerapan Lubang Resapan Biopori dan Embung Karet Geomembran Rahim, Iradhatullah; Jasman; Syukri, Fitriyani; Mansida, Amrullah; Syamsia; Abd.Rahim; MK, Pratiwi; Bahruddin; Fatwa, Abdul Halil; Zulkifli; Ramadhani, Winda; Syaparuddin; Ibrahim, Andi; Hasan, Haslinda
International Journal of Community Service Learning Vol. 9 No. 2 (2025): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijcsl.v9i2.89302

Abstract

Pengelolaan lahan di Gunung Tolong, Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, yang merupakan lokasi rawan longsor dan banjir karena merupakan lahan miring dan berbatu, sehingga miskin air dan hara, padahal dimanfaatkan untuk berusahatani cabe. Solusi dari permasalahan ini adalah melakukan teknik budidaya cabe dengan konservasi lahan. Tujuan kegiatan ini adalah melakukan mitigasi bencana di lahan kering, miring, dan rawan longsor, yang dijadilan sebagai lahan pertanian oleh petani. Tahapan kegiatan ini dimulai dengan memberi penyuluhan tentang teknik konservasi di lahan kering, kemudian dilakukan pemasangan lubang resapan biopori sebanyak 174 lubang yang meliputi 1.47 ha lahan. Untuk mengatasi masalah keterbatasan air, dibuat penampungan air ukuran 4x6 meter yang terbuat dari geo-membran sebanyak 9 titik. Metode yang digunakan berupa penyuluhan dan demontrasi plot. Hasil kegiatan ini adalah adanya peningkatan kesadaran dan pengetahuan anggota Kelompok Tani Mappasitujue yang mengelola kawasan tersebut untuk melakukan pengelolaan berbasis konservasi. Selain itu, kegiatan ini memberi aset investasi berupa ketersediaan air di dalam tanah dengan biopori dan di permukaan tanah dengan penampungan embung karet geomembran. Sehingga terjadi peningkatan kapasitas produksi cabe masyarakat. Kegiatan ini telah berkontribusi positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sesuai dengan tujuan Proram Kosabangsa.
Strategi Adaptif dan Kolaboratif Berbasis Nilai Lokal dalam Penguatan Resiliensi Agribisnis Kopi di Desa Latimojong: Adaptive and Collaborative Strategies Based on Local Values in Strengthening Coffee Agribusiness Resilience in Latimojong Village Putriani, Putriani; Irmayani, Irmayani; Rahim, Abd
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.8028

Abstract

Agribisnis kopi merupakan subsektor strategis yang menopang perekonomian pedesaan, khususnya di wilayah pegunungan. Namun, sistem agribisnis kopi di daerah terpencil masih menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, bencana alam, fluktuasi harga, serta keterbatasan kelembagaan dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai lokal yang dapat dioptimalkan dalam penguatan resiliensi agribisnis kopi serta mengidentifikasi tingkat kerentanan sistem agribisnis kopi terhadap ancaman perubahan iklim di Desa Latimojong, Kabupaten Enrekang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 15 informan yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan secara kualitatif menggunakan model Miles dan Huberman dengan kerangka ADAPT-ASIST yang mencakup dimensi agroekologi, sosial, institusional, dan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal seperti gotong royong (Sikombongan), solidaritas komunitas, serta pengetahuan turun-temurun dalam pembibitan dan penentuan waktu tanam menjadi modal sosial utama dalam menopang resiliensi agribisnis kopi. Namun demikian, agribisnis kopi di Desa Latimojong masih memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap perubahan iklim dan bencana alam, yang diperparah oleh lemahnya kelembagaan formal dan keterbatasan akses teknologi pertanian adaptif. Berdasarkan kerangka ADAPT-ASIST, dimensi sosial merupakan aspek terkuat, sementara dimensi agroekologi, institusional, dan teknologi masih memerlukan penguatan. Oleh karena itu, pengembangan agribisnis kopi memerlukan strategi adaptif dan kolaboratif yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan dukungan kelembagaan dan teknologi guna mewujudkan sistem agribisnis kopi yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Coffee agribusiness is a strategic subsector supporting rural economies, particularly in mountainous areas. However, coffee agribusiness systems in remote regions face multiple challenges, including climate change, natural disasters, price volatility, and limited institutional and technological capacity. This study aims to analyze local values that can be optimized to strengthen coffee agribusiness resilience and to identify the level of vulnerability of the coffee agribusiness system to climate change threats in Latimojong Village, Enrekang Regency. A qualitative approach with an intrinsic case study design was employed. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), participatory observation, and documentation involving 15 purposively selected informants. Data analysis followed the Miles and Huberman model using the ADAPT-ASIST framework, encompassing agroecological, social, institutional, and technological dimensions. The results indicate that local values such as mutual cooperation (Sikombongan), community solidarity, and inherited knowledge in seedling management and planting time determination serve as key social capital in supporting coffee agribusiness resilience. Nevertheless, the coffee agribusiness system remains highly vulnerable to climate change and natural disasters, exacerbated by weak formal institutions and limited access to adaptive agricultural technologies. Based on the ADAPT-ASIST framework, the social dimension is the strongest, while agroecological, institutional, and technological dimensions require further strengthening. Therefore, adaptive and collaborative strategies integrating local values with institutional and technological support are essential to achieve a more resilient and sustainable coffee agribusiness system.
Resiliensi Petani Kemiri di Desa Kaseralau Kecematan Batulappa Kabupaten Pinrang: Adaptasi Terhadap Tantangan di Era Modern: Resilience of Candlenut Farmers in Kaseralau Village, Batulappa District, Pinrang Regency: Adapting to Chalengesin the Modern Era Sukmawati, Sukmawati; Irmayani, Irmayani; Abd Rahim
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.8029

Abstract

Petani Indonesia menghadapi tantangan multidimensi berupa konversi lahan, dominasi petani kecil, kerugian pascapanen, krisis regenerasi pemuda, dan dampak ekstrem perubahan iklim. Penelitian ini menganalisis resiliensi petani kemiri (Aleuritas maluccana) di Desa Kaseralau, Kecamatan Batulappa, Kabupaten Pinrang melalui pendekatan studi kasus kualitatif dengan pengumpulan data November 2025–Januari 2026 menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen yang melibatkan petani kemiri aktif, tokoh masyarakat, pejabat desa, serta penyuluh pertanian. Hasil menunjukkan petani memiliki pengalaman bertani 31 tahun dengan pengetahuan lokal yang kuat, namun pendapatan rumah tangga bulanan rata-rata Rp1,2 juta tidak mencukupi kebutuhan dasar sehingga strategi adaptasi utama dilakukan melalui diversifikasi tanam jagung yang menghasilkan Rp10 juta per musim. Tantangan utama meliputi fluktuasi harga, perubahan iklim berupa kenaikan suhu 0,4–0,8 °C dan pola curah hujan tidak menentu, serta keterbatasan teknologi pengupas kulit kemiri manual. Resiliensi sosiokultural yang berbasis transmisi pengetahuan antargenerasi dan solidaritas komunitas terbukti tangguh, namun resiliensi ekonomi masih lemah signifikan. Praktik pengolahan manual di Kaseralau serupa dengan petani kemiri lainnya. Penguatan institusi, adopsi teknologi tepat guna, peningkatan akses pasar, dan kemitraan pengolahan menjadi prasyarat esensial transformasi resiliensi petani menuju kemakmuran rumah tangga berkelanjutan dan kemajuan sistem pertanian kemiri. Indonesian farmers face multidimensional challenges, including land conversion, smallholder dominance, post-harvest losses, youth regeneration crisis, and extreme climate change impacts. This study analyzes resilience dynamics of candlenut (Aleuritas maluccana) farmers in Kaseralau Village, Batulappa District, Pinrang Regency using a qualitative case study approach with data collection from November 2025 to January 2026 through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis involving active candlenut farmers, community leaders, village officials, and agricultural extension workers. Findings reveal farmers possess 31 years farming experience with strong local knowledge systems yet average monthly household income of IDR 1.2 million proves insufficient for basic needs, prompting primary adaptation strategy through corn diversification, yielding IDR 10 million per season. Major challenges encompass price volatility, climate change effects, evidenced by 0.4-0.8°C temperature increase and erratic rainfall patterns, and limitations in manual candlenut peeling technology. Sociocultural resilience based on intergenerational knowledge transmission and community solidarity has proven resilient, but economic resilience remains significantly weak. Manual processing practices in Kaseralau are similar to those of other candlenut farmers. Strengthening institutions, adopting appropriate technology, improving market access, and developing processing partnerships are essential prerequisites for transforming farmer resilience toward sustainable household prosperity and advancing the candlenut farming system.
Analisis Pertumbuhan Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.) pada Media Tanam yang Diperkaya Azotobacter dan Biohumic Sri Nur Qadri; Abd. Rahim; Nirmala
Jurnal Galung Tropika Vol 15 No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/jgt.v15i1.1385

Abstract

The long-term dependence of tobacco farmers on synthetic chemical fertilizers may reduce soil quality and crop productivity. One of the main challenges in tobacco production is producing high-quality seedlings that can support optimal plant productivity. This study aimed to determine the best bioagent treatment to tobacco. The used a non-factorial randomized block design with four growing-media treatments: P0 (control), P1 (Azotobacter), P2 (Biohumic), and P3 (Azotobacter + Biohumic). Each treatment was replicated three times. The results showed that the combination of Azotobacter and Biohumic (P3) produced the highest mean values for all observed plant growth parameters. This response was presumably associated with the synergy between nitrogen fixation by Azotobacter and improved nutrient availability and root-zone conditions by Biohumic.