Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Penentuan Stuktur Bawah Permukaan Segmen Aktif di Kabupaten Probolinggo Berdasarkan Data Geomagnetik Melalui Forward Modeling Salsabila, Salsabila; Amir, Harman; Dwiridal, Letmi; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30749

Abstract

Kabupaten Probolinggo merupakan wilayah dengan potensi aktivitas tektonik yang tinggi di Jawa Timur karena keberadaan segmen-segmen aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persebaran anomali magnetik dan struktur bawah permukaan menggunakan metode geomagnetik berbasis data EMAG2. Data diolah melalui tahapan reduksi ke kutub (Reduce to Pole), Upward Continuation, dan pemodelan dua dimensi menggunakan perangkat lunak Mag2DC. Hasil pemodelan pada tiga lintasan utama (A–A’, B–B’, dan C–C’) mengungkap keberadaan tiga satuan batuan utama, yaitu Qvl, Qva/Qvt, dan Qi, dengan nilai suseptibilitas berkisar antara 0.0002 hingga 0.0015 SI. Anomali magnetik tinggi mengindikasikan adanya intrusi granit, sementara perubahan geometri dan kontras suseptibilitas menunjukkan empat dugaan sesar geser berarah tenggara–baratlaut. Temuan ini diperkuat oleh pola anomali residual dan korelasi dengan data geologi lokal. Hasil penelitian ini memberikan gambaran awal struktur geologi bawah permukaan yang berpotensi mendukung kajian kebencanaan dan perencanaan wilayah.
Penentuan Kedalaman Titik Curie Berdasarkan Data Geomagnetik dengan Menggunakan Analisis Spektral dan Upward Continuation (Studi Kasus Kabupaten Probolinggo) Handayani, Silvia Sri; Amir, Harman; Dwiridal, Letmi; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30885

Abstract

Kabupaten Probolinggo memiliki geologi kompleks dan aktivitas vulkanik tinggi, menjadikannya area potensial panas bumi. Penelitian ini bertujuan mengestimasi kedalaman titik Curie (Curie Point Depth/CPD) sebagai indikator kondisi termal bawah permukaan menggunakan data geomagnetik EMAG2. Metode analisis spektral dan upward continuation diterapkan untuk memisahkan anomali magnetik regional dan residual. Data diubah ke peta Reduce to the Pole (RTP), lalu dianalisis secara spektral untuk menghitung kedalaman atas (Zt), pusat (Z₀), dan Curie (Zb) menggunakan transformasi Fourier. Hasil menunjukkan kedalaman Curie berkisar 29,16–113,10 km, rata-rata 58,23 km. Zona dangkal (<55 km) di barat–barat laut menunjukkan potensi panas bumi tinggi, ditandai anomali magnetik besar, gradien suhu tinggi, dan fluks panas signifikan. Wilayah timur dan tenggara menunjukkan potensi rendah. Metode ini terbukti efektif untuk estimasi awal sistem panas bumi dan penentuan zona prospektif.
Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Gunung Merapi di Kabupaten Magelang Menggunakan Metode Geomagnetik Melalui Pemodelan Inversi 3D Denandra, Alza; Amir, Harman; Dwiridal, Letmi; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30891

Abstract

Kabupaten Magelang merupakan wilayah dataran tinggi yang berada di zona vulkanik aktif Gunung Merapi, dengan litologi dominan berupa batuan vulkanik muda hasil aktivitas Kuarter. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi struktur bawah permukaan wilayah Gunung Merapi di Kabupaten Magelang menggunakan metode geomagnetik berbasis data EMAG2 dan pemodelan inversi 3D. Hasil analisis menunjukkan variasi nilai suseptibilitas magnetik berkisar antara -40 hingga >60 SI, yang merepresentasikan perbedaan litologi bawah permukaan, seperti lava segar, intrusi beku, batuan alterasi, dan zona rekahan. Visualisasi 3D menunjukkan distribusi anomali magnetik yang mengikuti arah struktur geologi, termasuk sesar aktif seperti Sesar Opak. Model 3D pada tiga lintasan memperlihatkan akumulasi batuan vulkanik dan tubuh intrusi yang signifikan pada kedalaman 1–4 meter. Temuan ini menunjukkan bahwa metode geomagnetik efektif dalam mengungkap struktur bawah permukaan dan memiliki nilai strategis dalam upaya mitigasi bencana di kawasan rawan letusan Gunung Merapi.
Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Gunung Argopuro Kabupaten Probolinggo Menggunakan Metode Geomagnetik Melalui Pemodelan Inversi 3D Saqilah, Alya; Amir, Harman; Dwiridal, Letmi; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30893

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi struktur bawah permukaan Gunung Argopuro, Kabupaten Probolinggo, menggunakan data geomagnetik EMAG2 melalui pemodelan inversi 3D. Data dianalisis dengan metode Reduce to Pole (RTP), menghasilkan anomali magnetik antara -2600 nT hingga +5800 nT. Hasil pemodelan mengungkap keberadaan tubuh batuan non-magnetik (pluton/batolit) pada kedalaman >4 km dengan suseptibilitas sangat rendah (<0.0012 SI), yang diduga sebagai sisa dapur magma purba. Selain itu, terdeteksi zona intrusi batuan beku segar pada kedalaman 2–5 km dengan suseptibilitas menengah-tinggi (0.0013–0.0015 SI), berasosiasi dengan andesit Gunung Argopuro (Qva). Temuan ini menunjukkan sistem magmatik kompleks dengan pola dome dan kaldera purba, penting untuk pemahaman geologi regional, mitigasi bencana, dan eksplorasi sumber daya. Kata kunci: Gunung Argopuro, Geomagnetik, Inversi 3D, Suseptibilitas, Struktur Bawah Permukaan.
Penentuan Kedalaman Titik Curie Berdasarkan Data Geomagnetik dengan Menggunakan Analisis Spektral dan Upward Continuation Zikri, Ahmad Raihan; Amir, Harman; Dwiridal, Letmi; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30915

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kedalaman titik Curie di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan menggunakan metode analisis spektral dan upward continuation berbasis data geomagnetik. Kedalaman titik Curie merupakan parameter penting dalam mengidentifikasi potensi panas bumi, karena berkaitan dengan distribusi panas di bawah permukaan bumi. Data yang digunakan berupa anomali medan magnet total dari satelit Thematic Mapper EMAG2 v3 dengan resolusi 2 arc- minute. Analisis spektral dilakukan untuk memperoleh kedalaman atas, kedalaman pusat, dan kedalaman titik Curie pada tiap blok, sedangkan teknik upward continuation digunakan untuk memisahkan komponen regional dan residual pada anomali magnetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman titik Curie di wilayah studi berkisar antara 30 km hingga >140 km, dengan rata-rata 67,96 km. Wilayah tengah hingga timur laut seperti Kecamatan Mertoyudan, Bandongan, dan Secang memiliki kedalaman yang relatif dangkal dan gradien geotermal tinggi, yang mengindikasikan potensi panas bumi sedang hingga tinggi. Sebaliknya, bagian barat dan barat daya menunjukkan kedalaman lebih besar dan gradien rendah. Dengan demikian, kombinasi metode yang digunakan terbukti efektif dalam mengidentifikasi zona prospektif panas bumi berdasarkan distribusi kedalaman titik Curie.
Analysis Of Seismic Rate Change Based On Spatial Distribution Of Seismotectonics And Deformation Extension In West Nusa Tenggara Aprimanda Mulya Rizki, Rifa; Syafriani; Amir, Harman; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Nusa Tenggara Barat memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi. Sebelum terjadinya suatu kejadian gempa bumi, terlebih dahulu didahului oleh keadaan seismik tenang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perubahan laju seismik yang diamati dari fenomena seismik tenang dan luas deformasi. Metode perubahan laju seismik yang digunakan adalah distribusi spasial z-value. Dan metode luas deformasi yang digunakan adalah rumusan Utsu dan Seki untuk gempa bumi M7,0 pada tanggal 5 Agustus 2018 dengan input magnitudo permukaan. Penelitian ini menggunakan data dari website USGS periode 1983-2023. Pada penelitian ini terdapat tiga zona fokus penelitian yaitu gempa bumi tahun 2009 (M6,6), gempa bumi tahun 2018 (M7,0) dan gempa bumi tahun 2018 (M6,9). Dengan menggunakan metode distribusi spasial z-value, wilayah dibagi menjadi beberapa grid. Nilai z dihitung pada setiap grid dan menggambarkan perubahan laju seismik. Fenomena tersebut dapat dilihat berdasarkan perubahan laju seismik yang telah diperoleh. Hasil yang diperoleh, pada zona pertama terjadi peningkatan aktivitas seismik sebelum gempa bumi 2009, zona kedua dan zona ketiga terjadi fenomena seismic quiescence yang mendahului gempa bumi 2018. Berdasarkan sebaran spasial z-value awal tahun 2023, terjadi fenomena penurunan aktivitas seismik di sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat. Serta terjadi deformasi sebesar 1.091,44 km2 pada gempa bumi M7,0 tanggal 5 Agustus 2018. Hal ini patut diduga sebagai awal gejala gempa bumi di masa mendatang .
Analysis Of Seismic Quiescence Precursors Before The M7.4 Earthquake Of 28 September 2018 In Central Sulawesi Based On Seismotectonic Spatial Distribution And Earthquake Fracture Lengths zu, Zurahma; Syafriani; Dwiridal, Letmi; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Central Sulawesi earthquake with coordinates 2°30‘S -1°50’ N and 119°0'-124°20 E magnitude 7.4 in Palu, Donggala Regency on 28 September 2018. This earthquake was a significant and destructive earthquake in Central Sulawesi. A significant earthquake is preceded by a seismic quiescence. The aim of the study was to determine when the seismic quiescence occurred and seismic activity after the earthquake alongside fracture length. The method of analysis of seismic quiescence and fracture length is z-value and Wells and Coppersmith equation. Data processed with MATLAB and Zmap were 1478 events from 1983-2023. The study area is divided into several grids with sizes of 0.1°* 0.1°. The number of earthquakes included (N = 800, 700, 600, 500, 400, 300, and 200). The z-value was calculated for each grid based on the earthquake data organized in one grid and seismic activity after earthquake. The results of the analysis of the z-value calculation in each grid show of seismic quiescence before a significant earthquake. Based on the results of the spatial distribution of z-value in Central Sulawesi, the seismic quiescence preceded the 28 September 2018 earthquake event (M 7.4) by about 21 years beginning in 1990. When cut at 2019.6, there was a decrease in seismic activity again, which indicated that an earthquake would occur, so it was thought to be a trigger factor for future earthquake precursors. While the fracture length of the 7.4 Mw earthquake of 104,232 meters shows a positive correlation between magnitude and fracture length.
Estimation Of Maximum Ground Acceleration Value Based On Mentawai Earthquake Scenario Using Atkinson Boore and Zhao Khairunnissa, Shafira; Syafriani; Fauzi, Ahmad; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 5 No. 4 (2024): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v5i4.510

Abstract

We have estimated the value and intensity of maximum ground acceleration in West Sumatra based on the Mentawai earthquake scenario by using the formulation of Atkinson Boore (2003) and Zhao (2006). This study aims to determine the PGA value of an area as the level of activity and intensity of the earthquake in West Sumatra region from the Mentawai earthquake scenario as a measure of damage caused by the earthquake and analyze its distribution. This study uses earthquake information data for the period 1900-2023 with magnitude > 7 SR and depth < 100 km and shear wave velocity model at a depth of 30 meters (Vs 30) sourced from the National Earthquakes Information Center US Geological Survey (NEIC/USGS) catalog. After that, calculations are carried out so that the estimated maximum ground acceleration value is obtained using the Atkinson Boore (2003) and Zhao (2006) formulas. The maximum ground acceleration and earthquake intensity values for each city/regency in West Sumatra were calculated with a 0.1° grid. The estimation results show that the largest values for each scenario are in Mentawai Islands and South Pesisir because those areas are close to the subduction zone. In addition, it is also influenced by the epicenter, magnitude and soil type in the region. So that the maximum ground acceleration value in West Sumatra ranges from 0.007 g - 2.117 g with earthquake intensity ranging from I - X+ MMI. This indicates that the area is vulnerable to damage if an earthquake occurs. Keywords: Earthquakes, Atkinson Boore, Zhao, PGA, Intensity
Magnetic Susceptibility of nanoparticles in the Lubuk Basung Region Janna, Anisa; Hamdi, Hamdi; Amir, Harman; Zulhendra, Zulhendra
Journal of Experimental and Applied Physics Vol 2 No 4 (2024): December Edition
Publisher : Department of Physics, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jeap.v2i4.87

Abstract

Nanoparticles is particles that have size very small, generally in range from 1 to 100 nanometers. Nanoparticles have one​ uniqueness with exists characteristic superparamagnetic. Characteristic superparamagnetic is properties the material has magnetization tall if given external magnetic field, however when No There is external magnetic field mark the average magnetization is zero. On size certain, nanoparticles can show transition from superparamagnetic to ferromagnetic or antiferromagnetic. Influence size grain and structure crystal to characteristic magnetic is one​ method in determine susceptibility. Susceptibility magnetic is defining constant​ big small a material to magnetized. Study This aim to the analyze mark susceptibility magnetic from nanoparticles rock floating in the area Lubuk Basung. Method used​ is method magnetism rock with tool Bartington Magnetic Susceptibility Meter Type B. Research results shows in the area Lubuk Basung LBS 23-02 and LBS 23-03 are available concentration content high Fe element and concentration content element Ti more low. Magnetic susceptibility in the area Lubuk Basung have characteristic antiferromagnetic magnetism, and has type grain almost no There is details superparamagnetic and also has mixture superparamagnetic and granular rough or details superparamagnetic <0.05 μm equivalent with <50 nm. So that depicted that size nanoparticles contained in the sample rock floating LBS 23-02 and LBS 23-03 have size nanoparticles below 50 nanometers with characteristic antiferromagnetic magnetism.
Estimasi Kedalaman Titik Curie Berdasarkan Data Magnetik Menggunakan Metode Analisis Spektral 2D pada Sesar Sumatera Segmen Sianok Zatil Ismah, Amirah; Amir, Harman; Dwiridal, Letmi; Zulhendra, Zulhendra
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Segmen Sianok merupakan salah satu bagian dari sesar Sumatera yang terbentuk akibat pertemuan dari dua buah lempeng besar yang bergerak secara dextral strike slip. Hal ini berimplikasi terhadap terbentuknya aktivitas vulkanik dan magmatisme pada Segmen Sianok. Estimasi kedalaman titik Curie dilakukan untuk memberikan informasi tentang struktur geologi dan hubungannya dengan aktivitas vulkanik dan tektonik pada segmen ini. Metode analisis spektral digunakan untuk menentukan kedalaman di mana batuan kehilangan sifat kemagnetannya karena pengaruh suhu yang lebih tinggi dari suhu Curie (580 °C). Penelitian menggunakan data magnetik telah dilakukan koreksi harian dan koreksi IGRF sebelumnya. Pengestimasian kedalaman dilakukan dengan pembuatan peta anomali magnetik terlebih dahulu sehingga mendapatkan anomali tinggi dan rendah berturut-turut adalah 635.6 nT hingga -240.0 nT. Pada peta anomali magnetik dilakukan pembagian blok sebanyak 38 blok dengan lebar 16×16 km yang tumpang tindih sebesar 50%. Tiap-tiap blok dilakukan analisis spektral hingga mendapatkan nilai kedalaman atas ( ) dan kedalaman pusat ( ). Nilai kedalaman atas yang didapatkan sebesar 1.10 km hingga 4.28 km dengan rata-rata kedalaman 2.85 km. Nilai kedalaman pusat yang didapatkan sebesar 10.60 km hingga 17.01 km dengan rata-rata kedalaman 13.66 km. Kedalaman titik Curie didapatkan melalui perhitungan nilai kedalaman pusat yang dikurangi dengan nilai kedalaman atas, sehingga nilai kedalaman titik Curie sebesar 18.32 km hingga 30.86 km dengan rata-rata kedalaman adalah 24.48 km. Kedalaman titik Curie dalam berkaitan dengan keberadaan batuan andesit Gunung Marapi (Qama), andesit Gunung Singgalang-Tandikat (Qast) dan andesit Kaldera Maninjau (Qamj).