Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

KAJIAN REDESAIN TEMPAT PELELANGAN IKAN PELABUHAN PAOTERE MAKASSAR DENGAN KONSEP ARSITEKTUR EKOLOGI Lisal, Bunny; Siahaan, Uras; Sudarwani, Margareta Maria
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 12 No. 1 (2024): RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v12i1.454

Abstract

Kota Makassar menjadi salah satu jalur perdagangan Internasional. Pelabuhan Paotere dikategorikan sebagai pelabuhan tradisional/rakyat yang dimiliki oleh kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke 14. Seiring perkembangan Tempat Pelelangan Ikan dalam 10 tahun terakhir, kapasitas Tempat Pelelangan Ikan tersebut terlampaui, sehingga menimbulkan banyak permasalahan, antara lain sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat, sirkulasi dan lahan parkir yang tidak memadai. Apabila melihat potensi yang ada dalam Kawasan Tempat pelelangan ikan tersebut dapat menjadi pusat sarana perikanan tidah hanya sekedar tempat pelelangan ikan ikan melainkan pusat kuliner, oleh oleh khas daerah dan berbagai tempat perdagangan UMKM sehingga dibutuhkan kajian untuk meredesain kawasan tersebut, khususnya Tempat Pelelangan Ikan yang akan dipenuhi oleh sarana dan prasaran penunjang yang sesuai dengan kebutuhan ruang serta standar dermaga pendaratan perikanan bahan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya agar Kawasan tersebut berkembang dan menumbuhkan perekonomian masyarakat setempat dan Kawasan percontohan untuk wilayah Indonesia bagian timur dengan itu konsep ekologi arsitektur yang lebih mengembangkan konsep dengan menyatukan dengan lingkungan sekitar diantaranya keselarasan dengan klimatologi wilayah setempat bahkan kelanjutan Kawasan tersebut untuk ke masa akan datang masih terpenuhi secara kapasitas, fungsi dan bentuk arsitekturnya. Kata kunci: Kajian Redesain, Tempat Pelelangan Ikan, Pelabuhan Paotere, Arsitektur Ekologi
A Case Study: House Condition of Stunting Children at Tidung Island, Jakarta, Indonesia Nainggolan, Susanti Muvana; Siahaan, Uras; Saputra, Stepanus Andi; Langi, Louisa Ariantje; Wirawan, Luky; Vito, Juan
RUSTIC Vol 5 No 1 (2025): RUSTIC
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32546/rustic.v5i1.2869

Abstract

A house or dwelling is one of the essential architectural elements designed to meet human needs. A house serves as a shelter, a place for protection, rest, and various activities. Houses and dwellings are designed to support their occupants by providing essential needs, security, aesthetics, a sense of pride, and even contributing to the occupants' health. Housing is an element that is often challenging to access and address in detail, including residential homes on Tidung Island. The varying sizes of houses and their increasing proximity to one another due to limited land availability have resulted in many homes losing access to natural lighting and ventilation. Previous research has indicated that the living environment significantly influences the prevalence of stunting in children. Stunting is a condition of malnutrition in children under the age of five that often affects their health and growth. The Jakarta city government of Indonesia already tries to reduce stunting rates among children by ensuring adequate nutrition. However, in some areas, progress has been slower, including on Tidung Island. According to previous studies, the factors contributing to stunting in children is not only to nutritional deficiencies, environmental conditions, housing quality, and poor sanitation also play a significant role in increasing the number of stunted children. As an initial study phase, this research aims to observe the living conditions of children experiencing stunting.
Adaptasi Pola Hidup Penghuni pada Perumahan Minimalis Lianto, Christoforus Oscar; Siahaan, Uras; Septiady, Yophie
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i1.2355

Abstract

Minimalisme sebagai tren arsitektur telah menjadi pilihan populer di Indonesia, khususnya di kawasan perkotaan. Konsep ini menawarkan efisiensi ruang dan estetika sederhana yang sesuai dengan kebutuhan modern. Namun, penerapannya sering kali bertentangan dengan gaya hidup masyarakat Indonesia yang kaya akan nilai budaya dan kebutuhan ruang multifungsi, seperti ruang komunal untuk kegiatan sosial dan keluarga. Penelitian ini mengeksplorasi adaptasi penghuni Perumahan Puri Ciracas Asri, terhadap desain minimalis. Fokusnya pada bagaimana mereka menyesuaikan pola hidup sehari-hari, termasuk penggunaan ruang, modifikasi tata letak, dan penyesuaian estetika rumah. Adaptasi ini melibatkan aspek kenyamanan fisik, seperti pencahayaan dan sirkulasi udara, serta kenyamanan psikologis, seperti rasa puas dan keterikatan terhadap hunian. Menggunakan teori adaptasi Robert K. Merton penelitian ini menganalisis respons penghuni, mulai dari konformitas hingga modifikasi inovatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi sering dilakukan untuk mencerminkan kebutuhan praktis dan nilai budaya lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa desain minimalis perlu lebih fleksibel agar dapat mendukung kebutuhan lokal. Rekomendasi meliputi desain yang adaptif dan responsif terhadap pola hidup masyarakat Indonesia, menciptakan hunian yang tidak hanya estetis, tetapi juga nyaman dan relevan secara budaya.
KAJIAN REDESAIN TEMPAT PELELANGAN IKAN PELABUHAN PAOTERE MAKASSAR DENGAN KONSEP ARSITEKTUR EKOLOGI Lisal, Bunny; Siahaan, Uras; Sudarwani, Margareta Maria
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 12 No. 1 (2024): RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v12i1.454

Abstract

Kota Makassar menjadi salah satu jalur perdagangan Internasional. Pelabuhan Paotere dikategorikan sebagai pelabuhan tradisional/rakyat yang dimiliki oleh kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke 14. Seiring perkembangan Tempat Pelelangan Ikan dalam 10 tahun terakhir, kapasitas Tempat Pelelangan Ikan tersebut terlampaui, sehingga menimbulkan banyak permasalahan, antara lain sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat, sirkulasi dan lahan parkir yang tidak memadai. Apabila melihat potensi yang ada dalam Kawasan Tempat pelelangan ikan tersebut dapat menjadi pusat sarana perikanan tidah hanya sekedar tempat pelelangan ikan ikan melainkan pusat kuliner, oleh oleh khas daerah dan berbagai tempat perdagangan UMKM sehingga dibutuhkan kajian untuk meredesain kawasan tersebut, khususnya Tempat Pelelangan Ikan yang akan dipenuhi oleh sarana dan prasaran penunjang yang sesuai dengan kebutuhan ruang serta standar dermaga pendaratan perikanan bahan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya agar Kawasan tersebut berkembang dan menumbuhkan perekonomian masyarakat setempat dan Kawasan percontohan untuk wilayah Indonesia bagian timur dengan itu konsep ekologi arsitektur yang lebih mengembangkan konsep dengan menyatukan dengan lingkungan sekitar diantaranya keselarasan dengan klimatologi wilayah setempat bahkan kelanjutan Kawasan tersebut untuk ke masa akan datang masih terpenuhi secara kapasitas, fungsi dan bentuk arsitekturnya. Kata kunci: Kajian Redesain, Tempat Pelelangan Ikan, Pelabuhan Paotere, Arsitektur Ekologi
Building Development In The Tod Jakarta Area In The Form Of Increasing The Floor Coefficient Of Integrated Mixed Buildings With All MRT Busway LRT Facilities In The Pulomas Area, East Jakarta Onaning, Kamaruzzaman; Siahaan, Uras; Yopie, Yopie
Journal of Social Research Vol. 3 No. 6 (2024): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of Transit-Oriented Areas (TOD) has been established provisions and regulations related to the requirements and rules of implementation through the Minister of Agrarian Regulation number 16 of 2017 and DKI Jakarta Governor Regulation number 67 of 2019. Submission of an area for the TOD Area can be submitted by the landowning community to the Governor of the DKI Jakarta Provincial Government, it is also possible to cooperate with BUMN or BUMD which have obtained the right to manage the TOD Area from the Governor of DKI Jakarta Province. TOD Areas that are integrated with the Public Transport System will have a positive impact on the Community, in the form of transportation cost efficiency, ease of reaching the terminal location, equipped with pedestrian and cycling facilities. With the increasing need for land, especially around Mass Public Transport Facilities, incentives are given in the form of an increase in the Building Floor Area Coefficient (KLB) in the TOD Area according to the established TOD typology. Regulations regarding the increase of Building Floor Area Coefficient in TOD Area along with the procedure and the amount of incentives obtained are regulated in Governor Regulation number 31 of 2022. TOD areas that are integrated with Public Transport Facilities will improve the quality of urban space utilisation, increase property values by involving stakeholders.
Rekonstruksi Konstelasi Proporsi Denah Bangunan Cagar Budaya Zaman Kolonial Belanda Nugroho, Slamet; Siahaan, Uras; Sudarwani, M. Maria
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.43593

Abstract

The quality of architecture is assessed based on the rule of proportion, which is an architectural poem. The reconstruction of the constellation of proportions can be achieved by using the method of combining and matching proportions patterns with architectural drawings of cultural heritage buildings. The method of combining proportional patterns results in geometric patterns that are easier to understand and interpret than other methods such as mathematical scale calculation and statistical methods. The research subject has an attraction in the form of differences in grid patterns between the hallway face datum and the building wall datum, which creates a complex impression on the building face. The difference in datum is suspected to be caused by the use of a progression comparison between the grid pattern of the building wall and the face of the hallway. The process of reconstructing a constellation of proportions with complex datum is thought to start from drawing plans and cuts. This research is the first step for the reconstruction of the overall proportion constellation, which can be continued with further research on the building face and architectural elements. The purpose of the research is to complete the significance of cultural heritage buildings so that the interpretation discourse can be further expanded. The method used is quantitative because it uses geometric instruments and the calculation of the average accuracy of the measurement results. The first step is to provide image data and collect proportional constellation patterns synchronously and diachronically according to the time period in which the research subject was designed. Second, verifying and correcting image data according to the results of field research. Third, combine image data with proportional constellation patterns. Fourth, choose a constellation pattern of a certain proportion because of its suitability with the image data. Then make a follow-up analysis based on the constellation pattern of the selected proportions. The acquisition of the proportional constellation pattern facilitates the interpretation of the reconstruction of the design of a cultural heritage building. This proportional constellation reconstruction method can be used on other research subjects with a condition that must be met, namely the proportional constellation patterns to be tested must have synchronous and diachronic conformity at the time the research subject is designed.