Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

OMERTA: TANTANGAN PSIKOLOGI SOSIAL PENGUNGKAPAN KEJAHATAN KORUPSI Rizma Afian Azhiim
Jurnal Kajian Ilmu Kepolisian dan Anti Korupsi Vol. 3 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Kajian Ilmu Kepolisian dan Anti Korupsi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/5bf2en76

Abstract

The phenomenon of Omerta, or the code of silence, serves as a significant structural barrier in the investigation of corruption crimes in Indonesia. This culture protects corrupt networks through mechanisms that safeguard superiors, colleagues, and organized syndicates, thereby complicating the disclosure of grand corruption cases. This qualitative research aims to dissect the root causes of the Omerta phenomenon within the context of corruption in Indonesia and evaluate the investigative strategies employed by law enforcement, particularly the Corruption Eradication Commission (KPK). Utilizing a case study approach on the e-KTP corruption scandal, the results indicate that Omerta is rooted in strong patronage networks, blind loyalty, and systemic weaknesses in whistleblower protection. A permissive environment and partial legal implementation create a "chilling effect" that perpetuates this silence. This study concludes that dismantling the walls of Omerta requires an integrated strategy through the optimization of Justice Collaborators (JC). Law enforcement must not only be punitive but also capable of providing credible security guarantees and legal incentives for perpetrators who cooperate. Without such strategic interventions, high-level corruption will remain shielded by the impenetrable veil of silence.
Analisis Item dan Reliabilitas Skala Problematic Internet Use Questionnaire Short-Form 6 (PIUQ-SF6) Versi Indonesia Berdasarkan Sampel Generasi Z Pengguna Internet Aktif di Bekasi Layla Putri Amalya; Rizma Afian Azhiim; Ferdy Muzzamil
Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/orbit.v2i4.323

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat atau kecenderungan Problematic Internet Use pada Generasi Z pengguna internet aktif di Bekasi. Sebanyak 119 responden yang kelahiran 1997-2012 (14-29 tahun) berpatisipasi dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran menggunakan Problematic Internet Use Questionnaire Short-Form 6 (PIUQ-SF-6) yang terdiri dari 6 item favorable yang mencangkup aspek Obsession, Neglect, dan Control Disorder. Uji reliabilitas menunjukkan bahwa skala Problematic Internet Use memperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,8352. Hasil menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori sedang sebanyak 80 orang (67%). Sementara itu, responden yang berada pada kategori tinggi sebanyak 27 orang (23%) dan terdapat responden yang berada pada kategori rendah sebanyak 12 orang (10%). Selanjutnya, analisis item menghasilkan korelasi antara 0,5702 - 0,6557 yang menunjukkan seluruh item valid dan memiliki daya beda baik. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas Generasi Z pengguna internet aktif di Bekasi dalam penelitian ini memiliki tingkat Problematic Internet Use yang relatif sedang.
Analisis Item dan Reliabilitas Skala Problematic Internet Use Questionnaire Short-Form 6 (PIUQ-SF6) Versi Indonesia Berdasarkan Sampel Generasi Z Pengguna Internet Aktif di Bekasi Layla Putri Amalya; Rizma Afian Azhiim; Ferdy Muzzamil
Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/orbit.v2i4.323

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat atau kecenderungan Problematic Internet Use pada Generasi Z pengguna internet aktif di Bekasi. Sebanyak 119 responden yang kelahiran 1997-2012 (14-29 tahun) berpatisipasi dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran menggunakan Problematic Internet Use Questionnaire Short-Form 6 (PIUQ-SF-6) yang terdiri dari 6 item favorable yang mencangkup aspek Obsession, Neglect, dan Control Disorder. Uji reliabilitas menunjukkan bahwa skala Problematic Internet Use memperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,8352. Hasil menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori sedang sebanyak 80 orang (67%). Sementara itu, responden yang berada pada kategori tinggi sebanyak 27 orang (23%) dan terdapat responden yang berada pada kategori rendah sebanyak 12 orang (10%). Selanjutnya, analisis item menghasilkan korelasi antara 0,5702 - 0,6557 yang menunjukkan seluruh item valid dan memiliki daya beda baik. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas Generasi Z pengguna internet aktif di Bekasi dalam penelitian ini memiliki tingkat Problematic Internet Use yang relatif sedang.
Hubungan Agresivitas Verbal dengan Perilaku Cyberbullying di Kalangan Gen Z pada Pengguna Tiktok Ikawati Ratnaduhita; Ferdy Muzzamil; Rizma Afian Azhiim
Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/orbit.v2i4.329

Abstract

Penelitian ini disusun untuk menguji keterkaitan antara agresivitas verbal dengan kemunculan perilaku cyberbullying pada Generasi Z pengguna TikTok di Kota Bekasi. Maraknya penggunaan TikTok di kalangan generasi muda turut membuka ruang bagi munculnya interaksi yang tidak sehat secara daring, salah satunya cyberbullying, yang diduga sebagian dipicu oleh tingginya kecenderungan agresivitas verbal individu. Desain yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan 120 responden Generasi Z berusia 14-29 tahun berdomisili di Bekasi dan aktif menggunakan TikTok, dijaring melalui purposive sampling. Data dijaring lewat dua instrumen, yakni Cyberbullying Offending Scale (COS) hasil adaptasi dari Hinduja dan Patchin (2015) berisi 9 aitem, serta Verbal Aggressiveness Scale (VAS) hasil adaptasi dari Infante dan Wigley (1986) berisi 20 aitem. Karena data kedua variabel tidak berdistribusi normal, pengujian hubungan memakai korelasi Spearman's rho berbantuan JASP. Hasilnya memperlihatkan koefisien sebesar 0,677 dengan p < 0,001, yang berarti Ha diterima: terdapat hubungan positif yang kuat antara agresivitas verbal dan cyberbullying. Artinya, makin tinggi agresivitas verbal seseorang, makin besar pula kecenderungannya berperilaku cyberbullying. Secara deskriptif, sebagian besar responden (57,50%) berada pada taraf agresivitas verbal sedang, sementara untuk cyberbullying, mayoritas (51,67%) juga pada taraf sedang. Ditemukan pula perbedaan bermakna pada cyberbullying menurut jenis kelamin (p = 0,048) dan usia (p = 0,030), dengan rerata yang lebih tinggi pada laki-laki dan kelompok usia 20-24 tahun.
Hubungan Social Support dengan Quarter Life Crisis Pada Perempuan dalam Fase Emerging Adulthood Nursyaniah Siregar; Lenny Utama Afriyenti; Rizma Afian Azhiim
Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/orbit.v2i4.373

Abstract

Quarter life crisis merupakan kondisi psikologis yang umum dialami individu pada fase emerging adulthood, ditandai dengan kebingungan dalam menentukan arah hidup, kecemasan terhadap masa depan, serta tekanan dalam memenuhi tuntutan perkembangan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam membantu individu menghadapi kondisi tersebut adalah social support. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social support dengan quarter life crisis pada perempuan dalam fase emerging adulthood. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling dengan melibatkan 116 perempuan berusia 18–25 tahun. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Quarter Life Crisis Scale. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara social support dengan quarter life crisis (r = -0,108; p = 0,249). Selain itu, tingkat social support responden berada pada kategori tinggi, sedangkan tingkat quarter life crisis berada pada kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa social support bukan merupakan satu-satunya faktor yang memengaruhi quarter life crisis pada perempuan dalam fase emerging adulthood. Faktor-faktor lain, seperti karakteristik individu, kondisi psikologis, pengalaman hidup, maupun faktor lingkungan, diduga turut berkontribusi terhadap munculnya quarter life crisis. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji variabel lain yang berpotensi memengaruhi quarter life crisis sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang berperan dalam proses transisi menuju dewasa.
PERBEDAAN TINGKAT FORGIVENESS PADA SISWA KORBAN BULLYING DAN BUKAN KORBAN BULLYING DI SMP X KOTA BEKASI Lani Pranesti; Lenny Utama Afriyenti; Rizma Afian Azhiim
JURNAL PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Vol. 4 No. 6 (2026): Jurnal Pendidikan dan Keguruan
Publisher : CV. ADIBA AISHA AMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21870209

Abstract

The phenomenon of bullying in junior high schools (SMP) remains a serious concern due to the emotional distress and deep psychological wounds it inflicts on victims. This study aims to examine differences in forgiveness levels between student victims and non-victims of bullying at SMP X, Bekasi City. The method used was a quantitative approach with a comparative design, involving 98 students from grades 7, 8, and 9 selected through convenience sampling via a screening process, using the Transgression-Related Interpersonal Motivations Scale-18 (TRIM-18), which demonstrated adequate reliability (α = 0.785). The results showed p = 0.432 (p > 0.05), indicating no statistically significant difference in forgiveness levels between bullying victims and non-victims. Most students in both groups fell into the moderate forgiveness category, with comparable mean scores across groups. Future research is suggested to use a more structured bullying-status classification and examine other psychological factors influencing forgiveness levels.
Gambaran Psychological Well-Being pada Komunitas Lari GBK di Jakarta Ivan Maulana Ibrahim; Lenny Utama Afriyenti; Rizma Afian Azhiim
Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/orbit.v2i4.344

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada komunitas lari GBK di Jakarta. Psychological well-being merupakan kondisi individu yang mampu berfungsi secara optimal dalam kehidupannya, yang ditandai dengan kemampuan menerima diri, menjalin hubungan positif dengan orang lain, memiliki kemandirian, mengelola lingkungan, memiliki tujuan hidup, serta terus mengembangkan potensi diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 303 anggota komunitas lari GBK di Jakarta yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Ryff Psychological Well-being Scale. Analisis data meliputi statistic deskriptif, uji normalitas, kategorisasi penelitian, dan uji hipotesis dengan One Sample Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat psychological well-being pada kategori tinggi, yaitu sebanyak 91%. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai V = 46.010 dengan p < 0,001, sehingga dapat disimpulkan bahwa Tingkat psychological well-being pada komunitas lari GBK di Jakarta berada pada kategori secara signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa anggota komunitas lari GBK di Jakarta memiliki psychological well-being yang sangat baik. Oleh karena itu, keterlibatan dalam komunitas lari diharapkan dapat terus dipertahankan sebagai salah satu upaya mendukung Kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis anggota komunitas lari GBK di Jakarta.