Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Analisis Faktor Bahaya Kesehatan Kerja Dan Potensi Penyakit Akibat Kerja Di PT. X Sheila Aldri Ananda; Adinda Putri Santoso; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.868

Abstract

The manufacturing industry faces a high risk of work-related illnesses (WRI), which reduce productivity. This descriptive observational study aims to identify occupational health hazards at PT X Cikarang, analyze the potential for WRI (Presidential Regulation No. 7/2019), and evaluate the compliance of control measures with occupational safety and health (OSH) regulations. Data were collected from March to May 2025 through production area observations, interviews with the SHE team, and document reviews. The study identified four main hazard factors: physical (noise and temperature), chemical (welding fumes), ergonomic (repetitive movements and awkward postures), and psychosocial (night shift systems and production targets). These factors have the potential to trigger occupational health and safety issues such as Noise-Induced Hearing Loss (NIHL), reduced lung function, Musculoskeletal Disorders (MSDs), and chronic fatigue. In general, PT X has complied with Law No. 1/1970 and Minister of Manpower Regulation No. 5/2018 through periodic workplace monitoring, the provision of PPE, and specialized health examinations (audiometry and spirometry). However, the implementation of SMK3 (Government Regulation No. 50/2012) has not been optimal because the company has not yet been formally certified and has not conducted a comprehensive ergonomic evaluation. It is concluded that OSH control at PT X is already functioning well, but requires strengthening in the ergonomic assessment of workstations and the acceleration of SMK3 certification. Keywords: occupational health hazards, occupational disease, automotive manufacturing, NIHL, ergonomics.
Analisis Program Kesehatan Kerja dalam Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Kerja pada Pekerja PT X Ardenta Talitha Yafi Angelo; Golda Irene Triana; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.870

Abstract

Industri pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) memiliki potensi tinggi menyebabkan Penyakit Akibat Kerja (PAK) akibat paparan faktor bahaya kimia, fisik, biologis, ergonomi, dan psikologi kerja. PT X telah menerapkan berbagai program kesehatan kerja sebagai upaya perlindungan pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis program kesehatan kerja dalam upaya pencegahan Penyakit Akibat Kerja pada pekerja PT X. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan mixed methods. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur dengan divisi HSE/SHEQ, dan kuesioner skala Likert kepada 31 pekerja menggunakan teknik purposive sampling. Uji validitas menggunakan Pearson Product Moment dengan r tabel 0,355 dan uji reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha. Hasil pengujian menunjukkan 27 dari 35 item dinyatakan valid dengan nilai reliabilitas 0,627–0,876. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja terpapar berbagai faktor risiko kesehatan kerja seperti bahan kimia, kebisingan, panas kerja, ergonomi, dan psikologi kerja. PT X telah menerapkan program kesehatan kerja meliputi Medical Check Up (MCU), penggunaan APD, emergency response system, edukasi kesehatan kerja, serta program hygiene dan sanitasi lingkungan kerja. Sebagian besar responden memiliki persepsi positif terhadap kebijakan K3, implementasi program kesehatan kerja, dan dukungan organisasi terhadap kesehatan kerja. Program kesehatan kerja di PT X berperan dalam mendukung pencegahan PAK melalui pengendalian faktor risiko, medical surveillance, promosi kesehatan kerja, dan penguatan budaya keselamatan kerja.
Implementasi Program Kesehatan melalui Pemanfaatan Aplikasi Darwinbox sebagai Media Edukasi Kesehatan di PT X Nadia Najwa Zhafira; Alda Armelia Putri; Muhammad Daffa Parahita; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.875

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong perusahaan untuk mengintegrasikan berbagai program kerja ke dalam platform digital, termasuk program kesehatan kerja. PT X sebagai salah satu perusahaan manufaktur baja terbesar di Indonesia memiliki berbagai potensi bahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja sehingga diperlukan upaya promotif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pekerja terhadap kesehatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi program kesehatan melalui pemanfaatan aplikasi Darwinbox sebagai media edukasi kesehatan di PT X. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan observasional melalui pengumpulan data sekunder berupa dokumen perusahaan, informasi implementasi aplikasi, serta kajian regulasi terkait kesehatan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Darwinbox dimanfaatkan sebagai media penyampaian informasi dan edukasi kesehatan kepada pekerja melalui berbagai fitur digital yang memungkinkan penyebaran informasi secara cepat, mudah diakses, dan berkelanjutan. Materi edukasi yang disampaikan meliputi promosi kesehatan, pencegahan penyakit akibat kerja, kesehatan mental, ergonomi kerja, serta perilaku hidup sehat. Pemanfaatan Darwinbox mendukung pelaksanaan upaya promotif kesehatan kerja dengan meningkatkan akses pekerja terhadap informasi kesehatan dan memperluas jangkauan komunikasi perusahaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi program kesehatan melalui aplikasi Darwinbox telah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 88 Tahun 2019 tentang Kesehatan Kerja, dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2022 tentang Pelayanan Kesehatan Penyakit Akibat Kerja. Dengan demikian, pemanfaatan Darwinbox dapat menjadi salah satu inovasi digital yang efektif dalam mendukung program kesehatan kerja serta meningkatkan kesadaran pekerja terhadap pentingnya menjaga kesehatan di lingkungan kerja.
Penilaian Tingkat Kebisingan Mesin Produksi dan Potensi Resikonya terhadap Kesehatan Pendengaran Pekerja di Industri Plastik Gita Preety Ronatio Tampubolon; Nasywa Dzatul Ulya; Nur Sya'bani Ziyadatul Khair; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.884

Abstract

Kebisingan akibat operasional mesin produksi merupakan faktor bahaya fisik yang umum dijumpai di fasilitas pengolahan plastik. Pemaparan suara keras secara berulang dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan gangguan pada sistem pendengaran maupun efek kesehatan di luar sistem pendengaran. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tingkat kebisingan di area produksi sebuah pabrik plastik di kawasan industri Bantar Gebang, Bekasi, serta menggambarkan kondisi lingkungan kerja berdasarkan observasi langsung dan wawancara pekerja. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif observasional. Data tingkat kebisingan bersumber dari laporan uji lingkungan perusahaan tahun 2023 menggunakan metode SNI 7231:2009, yang dilengkapi dengan data observasi dan wawancara. Intensitas kebisingan yang terukur di area produksi adalah 74 dB(A), masih berada di bawah ambang batas 85 dB(A) yang dipersyaratkan dalam Permenaker No.  5 Tahun 2018. Namun demikian, temuan lapangan mengungkap bahwa durasi kerja aktual pekerja mencapai 12 jam per hari, posisi kerja berada kurang dari satu meter dari mesin yang beroperasi kontinu, dan tidak ada pekerja yang menggunakan alat pelindung pendengaran. Pekerja juga melaporkan keluhan berupa tinnitus, kesulitan berkomunikasi di area kerja, kelelahan, dan nyeri kepala. Temuan ini menegaskan bahwa penilaian resiko yang hanya berfokus pada intensitas suara tidak memadai apabila durasi paparan aktual dan perilaku protektif pekerja diabaikan. Pemeriksaan audiometri berkala dan program kewajiban penggunaan alat pelindung pendengaran sangat direkomendasikan sebagai langkah pengendalian awal.
Analisis Tingkat Kebisingan dan Upaya Pengendalian Penyakit Akibat Kerja di Area DTY pada PT X Anjani Janitra Satyaningtias; Annisa Auliya Cahya; Ratu Nurhalimah Nasution; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.887

Abstract

Kebisingan merupakan faktor risiko bahaya fisik dominan di industri manufaktur tekstil yang berpotensi menimbulkan Penyakit Akibat Kerja (PAK) berupa Noise Induced Hearing Loss (NIHL) secara kumulatif dan ireversibel. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kebisingan, mengidentifikasi potensi PAK, mengevaluasi efektivitas pengendalian, serta merumuskan rekomendasi perbaikan di area Draw Texturing Yarn (DTY) PT X. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional, melalui pengukuran intensitas kebisingan menggunakan Sound Level Meter berdasarkan SNI 7231:2009, observasi lapangan, dan wawancara dengan tim keselamatan. Hasil pengukuran menunjukkan tingkat kebisingan di area DTY mencapai 88 dBA, melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA sesuai Permenaker No. 5 Tahun 2018 untuk durasi kerja 8 jam per shift. Sumber kebisingan utama berasal dari mesin twisting, heater, roll pengatur tegangan, cooling plate, dan take up unit yang beroperasi kontinu. Paparan melebihi NAB selama 8 jam melampaui batas aman 4 jam yang diperbolehkan pada intensitas 88 dBA, sehingga risiko NIHL pada pekerja tergolong tinggi. Perusahaan telah menerapkan pengendalian berupa penyediaan earplug, pemasangan tanda peringatan, pengaturan shift dengan istirahat setiap 4 jam, dan pemeriksaan kesehatan berkala (MCU), namun pengendalian teknik seperti pemasangan peredam suara dan perawatan mesin belum dioptimalkan. Program kesehatan kerja perusahaan mencakup lima pilar: promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi pengendalian teknik, administratif, dan APD perlu ditingkatkan secara sinergis guna menekan pajanan kebisingan di bawah NAB dan melindungi kesehatan pendengaran pekerja di industri tekstil sintetis.
Analisis Penyakit Akibat Kerja dan Upaya Kesehatan Kerja pada Proyek Pembangunan Gedung dan Prasarana Penunjang Perkeretaapian PT X Keyza Bunga Adelia; Muhamad Bagas Anggoro Putro; Muhammad Faqih Akram Wira Atmaja; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.889

Abstract

Paparan debu semen merupakan salah satu risiko kesehatan kerja yang paling dominan pada proyek konstruksi gedung dan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko penyakit akibat kerja (PAK) akibat paparan debu semen berdasarkan dokumen Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control (HIRADC), Aspek Dampak dan Manajemen (ASDAM), serta pelaksanaan program kesehatan kerja di Perusahaan X. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Data sekunder diperoleh dari hasil Medical Check Up (MCU) periode 6–15 Mei 2025 terhadap 38 tenaga kerja yang seluruhnya dinyatakan Fit to Work. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, kemudian dibandingkan dengan PP No. 28 Tahun 2024 dan PP No. 5 Tahun 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan debu semen teridentifikasi pada 14 aktivitas konstruksi dengan tingkat risiko dominan kategori Medium (2c). Upaya pengendalian yang diterapkan meliputi aspek promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif, namun masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian, terutama pada pengukuran kadar debu, pemeriksaan spirometri, dan pengendalian teknis. Penelitian ini merekomendasikan penguatan surveilans kesehatan kerja dan pengendalian risiko berbasis HIRADC secara berkala.
Analisis Program Promotif dan Preventif Kesehatan Kerja pada Industri Baja: Studi Observasional di PT X Azra Hanifah Amalia; Farhan Muzakki; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.894

Abstract

Industri baja merupakan sektor dengan risiko kesehatan kerja yang tinggi akibat paparan kebisingan, debu, asap pengelasan, dan bahan kimia berbahaya. Program promotif dan preventif kesehatan kerja menjadi upaya kunci dalam melindungi kesehatan pekerja dan mencegah penyakit akibat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan program promotif dan preventif kesehatan kerja di PT X serta menganalisis kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Metode yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara dengan departemen Health, Safety, and Environment (HSE), dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT X telah melaksanakan program promotif yang meliputi Health talk bulanan, media komunikasi informasi dan edukasi, edukasi digital melalui aplikasi Darwinbox, safety talk harian, senam bersama, serta program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Pada aspek preventif, perusahaan menerapkan Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control (HIRADC), pemeriksaan lingkungan kerja setiap enam bulan, pemeriksaan kesehatan berkala (audiometri, spirometri), penyediaan alat pelindung diri, serta prosedur tanggap darurat. Analisis kesesuaian menunjukkan bahwa sebagian besar program telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024, Permenaker PER-02/MEN/1980, dan UU No. 13 Tahun 2003. Namun, terdapat kesenjangan pada aspek biomonitoring logam berat, pemeriksaan kesehatan purna kerja, dan dokumentasi prosedur tertulis program Return to Work. Perusahaan perlu memperkuat surveilans kesehatan berbasis risiko dan dokumentasi program untuk meningkatkan perlindungan kesehatan pekerja secara berkelanjutan.
Analisis Potensi Pajanan Bahan Kimia Cat Sebagai Dasar Pemeriksaan Kesehatan Kerja Pada Pekerja Painting/Mixing Cat Di PT. LMN Dizza Armelia; Gilang Jatnika; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.903

Abstract

Pekerjaan painting dan mixing cat berpotensi menimbulkan pajanan bahan kimia melalui inhalasi, kontak kulit, dan kontak mata akibat kandungan volatile organic compounds (VOC) dan pelarut organik dalam bahan cat, sehingga pemeriksaan kesehatan kerja perlu disusun berdasarkan karakteristik pajanan agar mampu mendeteksi dini gangguan pada organ target yang relevan. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi pajanan bahan kimia cat sebagai dasar pemeriksaan kesehatan kerja pada pekerja painting/mixing cat di PT. LMN menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan kualitatif melalui telaah Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB), HIRADC, daftar Medical Check-Up (MCU), rekapitulasi kejadian, dan observasi lapangan. Hasil identifikasi menunjukkan potensi pajanan melalui inhalasi uap pelarut organik/VOC, kontak kulit, dan kontak mata, dengan organ target meliputi sistem pernapasan, kulit, mata, sistem saraf pusat, dan ginjal secara selektif. Pemeriksaan spirometri yang telah tersedia sesuai dengan jalur pajanan inhalasi yang dominan, namun terdapat gap pada pemeriksaan kulit dan mata khusus pajanan kimia yang belum ditemukan dalam daftar MCU. Diperlukan penambahan pemeriksaan berbasis organ target yang mencakup kulit, mata, serta evaluasi selektif fungsi ginjal dan skrining neurologis sederhana sesuai rekomendasi dokter kesehatan kerja.
Efektivitas Program Kesehatan dalam Pengendalian Risiko Iritasi Kulit Akibat Paparan Semen pada Konstruksi PT X Kesya Ratu Janna; Laila Kamila; Nico Linggi Pongmasangka
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1308

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas penerapan program kesehatan kerja dalam pengendalian risiko iritasi kulit akibat paparan semen pada pekerja konstruksi di PT X. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan studi dokumentasi terhadap pelaksanaan program promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program promotif dilaksanakan melalui toolbox meeting rutin yang meningkatkan pemahaman pekerja terhadap bahaya paparan semen dan pentingnya penggunaan alat pelindung diri. Upaya preventif dilakukan melalui penyediaan sarung tangan dan safety shoes. Program kuratif didukung oleh pelatihan P3K pada kecelakaan, akses klinik mitra, dan kepesertaan jaminan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja. Sementara itu, program rehabilitatif diterapkan melalui penyesuaian tugas kerja bagi pekerja yang mengalami iritasi kulit hingga pulih. Analisis HIRADC menunjukkan penurunan tingkat risiko dari kemungkinan terjadi menjadi kemungkinan rendah setelah pengendalian diterapkan. Kesimpulannya, penerapan program kesehatan kerja di PT X telah cukup efektif, namun perlu penguatan pada aspek prosedural, pemantauan kesehatan kulit, dan spesifikasi alat pelindung diri agar pengendalian risiko dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Identifikasi Risiko Ergonomi Dan Program Kesehatan Pada Pekerja Pt X Industri Farmasi Hazrelia Anindya Hasibuan; Shafa Mutamayyizah; Anjani Keyla Mahari; Nico Linggi Pongmasangka
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1414

Abstract

Pekerja industri farmasi berisiko mengalami Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) akibat postur kerja tidak ergonomis yang berlangsung dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko ergonomi postur kerja pada lima posisi jabatan di PT X Industri Farmasi menggunakan instrumen GOTRAK (SNI 9011:2021) dan menyusun program kesehatan kerja berbasis hasil tersebut. Metode yang digunakan adalah observasi ergonomi deskriptif kuantitatif dengan pengukuran langsung di tempat kerja, penilaian risiko melalui matriks 5×5, dan penyusunan strategi pengendalian berbasis hierarki K3 sesuai PP No. 28 Tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh posisi jabatan memperoleh skor GOTRAK dalam kategori "Perlu Pengamatan" (skor 5–6), kecuali posisi Scientist yang mencapai skor 7 (kategori "Berbahaya") dengan risiko awal sangat tinggi (RR = 16). Posisi Operator Cetak Tablet, Operator Coating, dan Packer memiliki risiko awal tinggi (RR = 12), sementara Operator Cleaning berada pada risiko sedang (RR = 6). Bahaya ergonomi utama mencakup postur leher menunduk >20°, lengan tidak tertopang, pergelangan tangan menekuk, serta duduk dan berdiri dalam durasi lama. Program kesehatan kerja yang disusun mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif sesuai Pasal 233 PP 28/2024. Simpulan penelitian ini menegaskan urgensi intervensi ergonomi terpadu dan terstruktur di lingkungan industri farmasi sebagai upaya pengendalian WMSDs secara komprehensif.
Co-Authors Abrar Sajidan Firzatullah Adam Ramadhan Sutria Adinda Putri Santoso Aflah Naufal Wajdi Putra Vieko Ahmad, Eka Fitriani Alda Armelia Putri Alleysa Safina Najmia Amelia Agustina Anjani Janitra Satyaningtias Anjani Keyla Mahari Annisa Auliya Cahya Anya Farras Putri Gunawan Ardenta Talitha Yafi Angelo Aryadi, Valyaty Frisa Asoka Dharma Sanjaya Azra Hanifah Amalia Cholifiya Salsabila Dadan Erwandi Davedine Amara Keisya Della Fitrah Oktaviana Dina Aulia Dizza Armelia Faa’izah Arsyi Osci Hm Fansa Oginata Farhan Muzakki Fazha Radistya Gibran Garuda Surya Kencana Wijaya Agung Gerald Sadrakh Simanungkalit Gilang Jatnika Ginanjar Aulia Nugroho Gita Preety Ronatio Tampubolon Golda Irene Triana Hasbi Rijalul Hazrelia Anindya Hasibuan Hilman Bayu Wardana Ida Umarul Mufidah Inosensia Adolina Situmorang Jessica Manalu Karina Putri Maharani Kayyisa Aufa Zhafira Keishabrina Fatiya Madu Azzahra Kesya Ratu Janna Keyza Bunga Adelia Laila Kamila Malik, Anis Rohmana Mufidah, Ida Umarul Muhamad Bagas Anggoro Putro Muhammad Daffa Parahita Muhammad Faiz Yazid Muhammad Faqih Akram Wira Atmaja Nadhira Sabila Pramesty Nadia Najwa Zhafira Nasution, Muhammad Islam Nasywa Dwi Fathiyyah Nasywa Dzatul Ulya Natasya Alika Ramadhina Nofitri Meiliza Nur Sya'bani Ziyadatul Khair Nur Syakilah Putri Aulia Nur Syifa Calista Putri Handayani Putri Nurul Aini Jannatin Rahman Ratu Nurhalimah Nasution Ria Kezia Ridho Eka Satrio Rojak, Octovianus Bin S. Gohantua Sinaga Shafa Mutamayyizah Shalwa Amanda Wicaksono Sheila Aldri Ananda