Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KONDISI KAPAL, SUMBER DAYA MANUSIA, DAN KONDISI LINGKUNGAN, TERHADAP KECELAKAAN KAPAL PADA ALUR PELAYARAN DI SELAT SUNDA DAN LAUT JAWA Nursyamsu; Arief Hidayat Tumanggor; Rudi Harun Irwansyah; Boedi Prihandono
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kondisi kapal, sumber daya manusia (SDM), dan kondisi lingkungan terhadap tingkat kecelakaan kapal di alur pelayaran Selat Sunda dan Laut Jawa, serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Berdasarkan data Mahkamah Pelayaran dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) periode 2019–2025, tercatat 125 kasus kecelakaan kapal, dengan human error sebagai penyebab utama (46,4%) dan kandas (grounding) sebagai insiden terbanyak (28,8%). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode regresi linier berganda. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 60 responden dari KNKT, Vessel Traffic Service (VTS) Merak, dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Hasil uji validitas dan reliabilitas memastikan kelayakan seluruh instrumen penelitian. Pengujian statistik secara simultan (Uji F) menunjukkan bahwa kondisi kapal, SDM, dan kondisi lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kecelakaan kapal (F-hitung = 45,287; Sig. 0,000). Nilai koefisien determinasi ($R^2$) sebesar 0,733 menunjukkan bahwa 73,3% variasi tingkat kecelakaan kapal dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. Secara parsial (Uji t), seluruh variabel independen juga terbukti memiliki pengaruh yang signifikan. SDM diidentifikasi sebagai faktor paling dominan dengan koefisien regresi tertinggi (0,417) dan nilai t-hitung sebesar 4,389. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kompetensi SDM—khususnya dalam hal pengetahuan, pengalaman operasional, dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP)—merupakan langkah krusial untuk menekan angka kecelakaan maritim di wilayah perairan tersebut.   This study aims to analyze the influence of ship conditions, human resources, and environmental conditions on the rate of ship accidents in the shipping lanes of the Sunda Strait and the Java Sea, as well as to identify the most dominant factor. According to data from the Maritime Court and the National Transportation Safety Committee (KNKT) for the 2019–2025 period, 125 ship accidents were recorded, with human error being the primary cause (46.4%) and grounding as the most frequent incident (28.8%). This quantitative research employs a multiple linear regression method. Primary data were collected through a questionnaire survey administered to 60 respondents from KNKT, Merak Vessel Traffic Service (VTS), and the Harbormaster and Port Authority (KSOP). The validity and reliability test results confirmed the suitability of all research instruments. The simultaneous statistical analysis (F-test) indicates that ship conditions, human resources, and environmental conditions significantly affect ship accidents (F-value = 45.287; Sig. 0.000). The coefficient of determination ($R^2$) of 0.733 indicates that 73.3% of the variance in ship accidents is explained by these three variables. Partially (t-test), all independent variables also exhibit a significant impact. Human resources emerged as the most dominant factor, possessing the highest regression coefficient (0.417) and a t-value of 4.389. These findings emphasize that enhancing human resource competency—particularly regarding knowledge, operational experience, and compliance with Standard Operating Procedures (SOP)—is a crucial step in reducing maritime accidents in the studied region.
Implementasi penggunaan alat pelindung diri terhadap kru kapal di MV Ifama Mas guna meminimalisasi terjadinya kecelakaan kerja Nursyamsu; Yollanda Octavitri; Dwi Risky Sukma Haryoni
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.226

Abstract

Kecelakaan kerja merupakan insiden tidak terduga yang dapat mengakibatkan kerugian material, kerusakan lingkungan, hingga jatuhnya korban jiwa. Risiko kecelakaan ini sejatinya dapat diminimalisasi melalui kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab rendahnya kepatuhan penggunaan APD pada kru kapal serta merumuskan upaya mitigasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan studi pustaka yang dilaksanakan selama periode praktik laut. Hasil analisis menunjukkan bahwa masih terdapat kru kapal yang mengabaikan penggunaan APD. Ketidakpatuhan ini disebabkan oleh empat faktor utama: faktor manusia (kesadaran individu), faktor metode (penerapan prosedur operasional), faktor material (ketersediaan dan kelayakan APD), serta faktor manajemen (pengawasan dan regulasi tata kelola). Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tindakan perbaikan yang direkomendasikan meliputi pelaksanaan familiarisasi dan sosialisasi keselamatan secara berkala, peningkatan pengawasan intensif, optimalisasi manajemen inventaris APD, serta pengajuan permintaan perbekalan (running store order) secara rutin setiap bulan kepada pihak perusahaan.   Workplace accidents are unexpected incidents that can result in material losses, environmental damage, and fatalities. The risk of such accidents can be significantly minimized through strict compliance with the use of Personal Protective Equipment (PPE). This study aims to analyze the factors contributing to the low compliance of PPE usage among ship crews and to formulate effective mitigation strategies. The research employs a qualitative descriptive method, utilizing observation, interviews, and literature reviews conducted during the sea practice period. The analysis reveals that several ship crews still neglect the use of PPE. This non-compliance is attributed to four main factors: human factors (individual awareness), method factors (implementation of operational procedures), material factors (availability and condition of PPE), and management factors (supervision and governance). To address these issues, the recommended corrective actions include conducting regular safety familiarization and socialization, implementing intensive supervision, optimizing PPE inventory management, and submitting routine monthly running store orders to the company.
Bersih-bersih pantai dan penanaman pohon kopasus dalam rangka hari pelaut sedunia Soleh Uddin; Moejiono; Dapid Rikardo; Nursyamsu; Amirullah; Cholis Imam Nawawi; Hendi Prasetyo; Astri Kustina Dewi; Vidiana Anggeranika; Jusva Agus Muslim; Nurfadhlina
Journal Marine Services Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/jms.v1i1.240

Abstract

Indonesia menempati urutan kedua sebagai penyumbang sampah plastik di laut terbesar di dunia. Kondisi ini berdampak buruk pada keindahan pantai dan ekosistem mangrove di wilayah pesisir. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan taruna-taruni Kementerian Perhubungan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesisir serta teknik pelestariannya melalui penanaman pohon. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi penyuluhan materi keilmuan, diskusi tanya jawab, serta praktik langsung pembersihan sampah plastik dan penanaman pohon kopasus. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Juni 2023 di Pesisir Laut Dermaga Prestasi Politeknik Pelayaran Banten dengan melibatkan 200 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kolektif peserta terhadap kebersihan lingkungan dan kelestarian ekosistem laut, yang menjadi langkah nyata dalam mewujudkan lingkungan maritim yang sehat dan berkelanjutan.   Indonesia ranks second globally in contributing plastic waste to the ocean. This condition negatively impacts the beauty of beaches and mangrove ecosystems in coastal areas. This community service activity aims to increase the awareness and knowledge of cadets from the Ministry of Transportation regarding the importance of maintaining coastal environmental cleanliness and preservation techniques through tree planting. The methods used include scientific counseling, Q&A discussions, and direct practice of plastic waste cleanup and Kopasus tree planting. The activity was held on June 20, 2023, at the coastal area of Dermaga Prestasi, Banten Merchant Marine Polytechnic, involving 200 participants. The results indicated an improvement in the participants' collective understanding of environmental cleanliness and marine ecosystem conservation, serving as a concrete step toward achieving a healthy and sustainable maritime environment.
Edukasi penghijauan lingkungan pesisir laut guna menjaga lingkungan yang asri di Desa Karang Serang Siwi Woro Herningsih; Moejiono; Riyanto; Soleh Uddin; Abdul Rochman; Budi Purnomo; Nursyamsu; Alvian Demaz Peramutya; Henni Sutryani; Dwi Endah Kurniasari; Yohanna Nurika
Journal Marine Services Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/jms.v1i1.244

Abstract

Kondisi ekosistem pesisir di Desa Karang Serang saat ini menghadapi tantangan degradasi lingkungan yang signifikan akibat polusi, pembangunan infrastruktur, dan kurangnya ruang terbuka hijau. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memulihkan keseimbangan ekosistem dan meningkatkan kesadaran masyarakat lokal mengenai pentingnya penghijauan wilayah pesisir. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi tiga tahapan utama: penyuluhan materi keilmuan, sesi diskusi interaktif, serta praktik lapangan berupa penanaman pohon dan bersih-bersih pantai secara gotong royong. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kolektif warga mengenai manfaat ekologis dan ekonomi dari vegetasi pantai, serta terlaksananya penanaman bibit pohon pelindung dan buah di area strategis. Kesimpulan dari program ini menekankan bahwa partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci dalam keberhasilan restorasi lingkungan yang berkelanjutan demi mewujudkan kawasan pesisir yang asri, sehat, dan ramah lingkungan.   The coastal ecosystem in Karang Serang Village currently faces significant environmental degradation due to pollution, infrastructure development, and a lack of green open spaces. This community service activity aims to restore ecosystem balance and increase local community awareness of the importance of coastal greening. The implementation methods used include three main stages: scientific material counseling, interactive discussion sessions, and field practice involving collective tree planting and beach cleanup. The results indicate an improvement in the community's collective understanding of the ecological and economic benefits of coastal vegetation, alongside the successful planting of shade and fruit tree seedlings in strategic areas. The conclusion of this program emphasizes that active community participation is key to successful sustainable environmental restoration to achieve a beautiful, healthy, and eco-friendly coastal area.
Bimbingan teknis keselamatan bernavigasi kepada operator kapal tradisional di lingkungan KUPP Kelas III Karangantu Banten Dapid Rikardo; Semuel Palembangan; Zainal Arifin; Soleh Uddin; Nursyamsu; Cholis Imam Nawawi; Hari Sunanto; Vidiana Anggeranika; Sandy Wahyu Purnomo; Dedtri Anwar; Amirullah; Antaris Fahrisani; Agus Widodo; Yollanda Octavitri; Djibril Tri Bayu Pamungkas; Arief Hidayat Tumanggor
Journal Marine Services Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/jms.v2i1.247

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para operator kapal tradisional di lingkungan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Karangantu, Banten, mengenai keselamatan bernavigasi. Masyarakat nelayan dan operator kapal di wilayah ini umumnya mengoperasikan kapal berukuran 10-40 GT namun masih memiliki kesadaran dan pengetahuan yang terbatas mengenai prosedur keselamatan modern, karena lebih banyak bergantung pada pengalaman turun-temurun. Kurangnya pemahaman ini meningkatkan risiko kecelakaan laut, terutama saat menghadapi cuaca buruk atau kepadatan lalu lintas kapal. Metode yang digunakan dalam bimbingan teknis ini meliputi pendekatan multisensory (audio-visual), diskusi interaktif (sharing), studi kasus, serta praktik langsung (learning by doing) terkait penggunaan alat bantu navigasi dan keselamatan. Materi yang disampaikan mencakup identifikasi rambu laut, isyarat bunyi, peraturan pencegahan tubrukan di laut (COLREGs), serta pengenalan dasar permesinan kapal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek pengetahuan teoretis dan keterampilan praktis peserta, di mana para operator kini lebih siap dan waspada terhadap potensi bahaya selama pelayaran. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan budaya keselamatan maritim yang berkelanjutan di wilayah Karangantu.   This community service activity aims to increase the knowledge and understanding of traditional ship operators within the Class III Karangantu Port Authority (KUPP) environment, Banten, regarding navigation safety. The fishing community and ship operators in this region generally operate vessels of 10-40 GT but still have limited awareness and knowledge regarding modern safety procedures, as they rely more on hereditary experience. This lack of understanding increases the risk of maritime accidents, especially when facing bad weather or high ship traffic density. The methods used in this technical guidance include a multisensory approach (audio-visual), interactive discussions (sharing), case studies, and direct practice (learning by doing) related to the use of navigational and safety aids. The materials presented include identification of sea markers, sound signals, international regulations for preventing collisions at sea (COLREGs), and an introduction to basic ship machinery. The results of the activity show a significant increase in the participants' theoretical knowledge and practical skills, where operators are now better prepared and alert to potential hazards during voyages. This collaboration is expected to create a sustainable maritime safety culture in the Karangantu region.