Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : AL KAUNIYAH

Ekstrak Secang sebagai Bahan Diuretikum (Percobaan terhadap Tikus Putih Jantan Galur Spraque Dawley) Pertamawati Pertamawati; Nuralih Nuralih; Fahri Fahrudin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 7, No 2 (2014): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.731 KB) | DOI: 10.15408/kauniyah.v7i2.2720

Abstract

Empirically, secang (Caesalpinia sappan L.) utilized as natural materials to overcome various types of disease but not yet known how the influence of consuming secang against the volume urine. The experiment was conducted on white male rats varian Spraque dawley and sample test extract ethanol 96% of dried bark secang. The animal try grouped in seven groups and each group consists of six animal try, namely normal group, positive group (furosemide 10 mg/200 g BW), negative group (water 2 ml/200 g BW), Group of I dose (62,5 mg/kg BW), dosage II (125 mg/kg BW), dosage III (250 mg/kg BW), and dosage IV (500 mg/kg BW). Thirty minutes after granting test sample, the animal try given drinking water 2 ml/200 g BW by gastric sonde, then put them in metabolite cages for 16 hours (overnight). The result of experiment conducted show the average volume urine of animal try of normaly group was 4,5 ml, negative group was 4,25 ml, dosage I was 4,5 ml, dosage II was 8 ml, Dosage III was 5,75 ml and dosage IV was 5,5 ml. The volume of animal try urine in the group II was the highest, so it can be said that secang extract (dosage II – 125 mg/kg BW) can be used as diureticum material.
Rambutan Fruit Peel Extract Reduces Abnormal Sperm Morphology in Male Wistar Rats with Obesity Iqlima Luthfiya; Oktania Sandra Puspita; Yudhi Nugraha; Fahri Fahrudin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.25729

Abstract

AbstractObesity is an accumulation of excessive fat tissue in the body. Excessive fat tissue in the body lead to infertility by increased Reactive Oxygen Species (ROS) and decrease the hormone balance regulation, those things can be affected the process of spermatogenesis, especially sperm morphology. Rambutan peel was known as a source of antioxidants because it has phenolic compounds, so it has a protective effect on free radicals. The research purpose knew the effect of Rambutan Peel Extract (RPE) (Nephelium lappaceum) on abnormal sperm morphology of Wistar rats (Rattus novergicus) percentage induced with a High-Fat Diet (HFD). This study uses True experimental post control group design for this research on 30 male Wistar rats. Samples were divided into 5 groups. Group 1: induced HFD only, Group 2: only given RPE at a dosage of 30 mg/kilogram Body Weight (kg BW), Group 3, 4, and 5: induced HFD and RPE at dosage of 15 mg/kg BW, 30 mg/kg BW, and 60 mg/kg BW feed using sonde. The data were analysed using ANOVA One Way. The result showed that RPE has decreased the abnormal sperm morphology of male Wistar rats at dose of 15 mg/kg BW. This is the first study that observe the effect of RPE administration to sperm morphology of obese and non-obese group of rats, with larger rats’ population, several doses of the RPE extract, and longer time to complete one cycle of rat spermatogenesis.AbstrakObesitas diartikan sebagai akumulasi jaringan lemak berlebihan yang ada di dalam tubuh. Jaringan lemak yang berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan regulasi hormonal dan terbentuknya Reactive Oxygen Species (ROS). Kedua hal tersebut dapat mempengaruhi proses spermatogenesis sehingga dapat menyebabkan infertilitas, terutama pada morfologi sperma. Ekstrak Kulit Rambutan (EKR) diketahui memiliki efek sebagai antioksidan dikarenakan memiliki senyawa fenolik, senyawa tersebut dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian EKR (Nephelium lappaceum) terhadap persentase morfologi abnormal sperma tikus Wistar (Rattus novergicus) yang diinduksi dengan Pakan Tinggi Lemak (PTL). Penelitian ini menggunakan desain True experimental post control group design pada 30 ekor tikus. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1: hanya diberi PTL, Kelompok 2: hanya diberikan EKR dengan dosis 30 mg/kilogram Berat Badan (kgBB), Kelompok 3, 4 dan 5: diinduksi dengan PTL dan EKR dengan dosis 15 mg/kgBB, 30 mg/kgBB, dan 60 mg/kgBB. Pemberian PTL dan EKR dilakukan menggunakan sonde. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA One Way. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EKR dapat menurunkan jumlah morfologi abnormal pada kelompok dengan induksi PLT, dengan dosis yang paling efektif 15 mg/kgBB. Studi ini adalah yang pertama dalam mencari tahu efek pemberian RPE tehadap morfologi spermatozoa pada kelompok tikus obesitas dan tidak obesitas, dengan populasi tikus yang lebih besar, beberapa dosis ekstrak RPE, dan waktu yang lebih lama agar dapat menyelesaikan satu siklus spermatogenesis tikus.
Identifikasi Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Karang Lunak Nephthea sp. Hasil Transplantasi Secara In Situ dan Ex Situ Fahri Fahrudin; Dinda Rama Haribowo; Rahmi Karmila; Danang Aji Pangestu; Fathin Hamida
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 17, No 1 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i1.35781

Abstract

AbstrakKarang lunak (Nephthea sp.) menghasilkan metabolit sekunder di habitat aslinya dan dapat dikembangkan menjadi marine natural product (MNP). Nephthea sp. hasil transplantasi diharapkan juga menghasilkan metabolit sekunder yang sama. Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi metabolit sekunder secara kualitatif dan kuantitatif pada Nephthea sp. hasil transplantasi serta menguji aktivitas antioksidannya. Sampel Nephthea sp. berasal dari Taman Nasional Ujung Kulon (in situ) dan dari akuarium sebagai sampel transplantasi ex situ. Kedua sampel diekstraksi dengan maserasi menggunakan etanol 70% dengan perbandingan 1:3 (w/v). Identifikasi metabolit sekunder dilakukan secara kualitatif dan metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk identifikasi kuantitatif. Aktivitas antioksidan menggunakan uji DPPH (2,2-difenil-1-1 pikrilhidrazil) dengan lima konsentrasi dari setiap sampel (10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm). Nephthea sp. hasil transplantasi memiliki metabolit sekunder golongan alkaloid, tanin, dan steroid. Hasil uji GC-MS menunjukkan terdapat enam jenis senyawa aktif golongan benzene dan fatty acid. Aktivitas antioksidan diperoleh 34,3–73,1% (in situ) dan 33,2–72,3% (ex situ) serta berbeda nyata (P <0,05) pada setiap konsentrasi dari dua sampel. Peningkatan aktivitas antioksidan Nephthea sp. tidak berbeda signifikan (P >0,05) pada perbedaan lokasi transplantasi (in situ dan ex situ). Nephthea sp. hasil transplantasi mengandung enam jenis senyawa metabolit sekunder dan memiliki aktivitas antioksidan.AbstractSoft corals (Nephthea sp.) produce secondary metabolites in their habitat and can be used as marine natural products (MNP). However, Nephthea sp. transplantation not done identified for secondary metabolites. The aim research to identify secondary metabolites and antioxidant activity assay in Nephthea sp. transplant. Samples of Nephthea sp. used from the transplant area of Ujung Kulon National Park (in situ) and from the aquarium as ex situ transplant samples. Both samples extracted by maceration with 70% ethanol (1:3, w/v). Identification of secondary metabolites was carried out qualitatively and using the GC-MS method for quantitative. Antioxidant activity using the DPPH (2,2-diphenyl-1-1 picrylhydrazyl) assay. with concentrations of each sample (10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, and 200 ppm). Nephthea sp. proven to have secondary metabolites from the alkaloids, tannins and steroids. The result of GC-MS showed that six types of active compounds from the benzene and fatty acid groups. Antioxidant activity obtained was 34.3–73.1% (in situ) dan 33.2–72.3% (ex situ) and was significantly different (P <0.05) at each concentration of the two samples. Antioxidant activity at different transplant locations (in situ and ex situ) in Nephthea sp. did not a significant (P >0.05). Thus, Nephthea sp. transplant were proven to contain six types of secondary metabolite compounds and has antioxidant activity.
Potensi Kulit Buah Jengkol Sebagai Bioinsektisida Terhadap Rayap (Isoptera: Rhinotermitidae) Menggunakan Metode Baiting Fahrudin, Fahri; Dasumiati, Dasumiati; Angraini, Isty; Hamida, Fathin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.44952

Abstract

Bioinsektisida merupakan bahan hayati pengendali organisme pengganggu yang berpotensi menjadi hama, di antaranya rayap. Bahan hayati yang berpotensi sebagai bioinsektisida adalah kulit buah jengkol. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan konsentrasi optimal dari ekstrak kulit buah jengkol sebagai bioinsektisida rayap. Skrining fitokimia ekstrak kulit buah jengkol dilakukan secara kualitatif. Mahoni dan jati belanda dijadikan sebagai kayu uji yang direndam ekstrak kulit buah jengkol (konsentrasi 0; 2; 4; dan 6%) selama 24 jam. Kedua jenis kayu diuji pada rayap menggunakan metode pengumpanan (Baiting) dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah mortalitas rayap, penurunan berat kayu uji, dan nilai retensi ekstrak. Data dianalisis Anova (95%) dengan uji lanjut DMRT menggunakan SPSS 25. Ekstrak terbukti mengandung alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai racun pencernaan pada rayap. Mortalitas rayap di setiap perlakuan (2; 4; dan 6%) berbeda nyata (P <0,05) dengan perlakuan 0% pada semua kayu uji serta dapat meningkatkan keawetan kayu. Penurunan berat kayu terendah pada perlakuan 6% dan tergolong pada kelas awet I. Ekstrak kulit buah jengkol (6%) mampu meningkatkan kelas awet kayu mahoni dan jati belanda terhadap serangan rayap.
Potensi Kulit Buah Jengkol Sebagai Bioinsektisida Terhadap Rayap (Isoptera: Rhinotermitidae) Menggunakan Metode Baiting Fahrudin, Fahri; Dasumiati, Dasumiati; Angraini, Isty; Hamida, Fathin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 18 No. 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.44952

Abstract

Bioinsektisida merupakan bahan hayati pengendali organisme pengganggu yang berpotensi menjadi hama, di antaranya rayap. Bahan hayati yang berpotensi sebagai bioinsektisida adalah kulit buah jengkol. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan konsentrasi optimal dari ekstrak kulit buah jengkol sebagai bioinsektisida rayap. Skrining fitokimia ekstrak kulit buah jengkol dilakukan secara kualitatif. Mahoni dan jati belanda dijadikan sebagai kayu uji yang direndam ekstrak kulit buah jengkol (konsentrasi 0; 2; 4; dan 6%) selama 24 jam. Kedua jenis kayu diuji pada rayap menggunakan metode pengumpanan (Baiting) dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah mortalitas rayap, penurunan berat kayu uji, dan nilai retensi ekstrak. Data dianalisis Anova (95%) dengan uji lanjut DMRT menggunakan SPSS 25. Ekstrak terbukti mengandung alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai racun pencernaan pada rayap. Mortalitas rayap di setiap perlakuan (2; 4; dan 6%) berbeda nyata (P <0,05) dengan perlakuan 0% pada semua kayu uji serta dapat meningkatkan keawetan kayu. Penurunan berat kayu terendah pada perlakuan 6% dan tergolong pada kelas awet I. Ekstrak kulit buah jengkol (6%) mampu meningkatkan kelas awet kayu mahoni dan jati belanda terhadap serangan rayap.