Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

EVALUASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENGHAMBATAN ENZIM ?-GLUCOSIDASE DARI EKSTRAK KERING DAN FRAKSI DAUN JAMBU BOL (Syzygium malaccense): EVALUATION OF ANTIOXIDANT ACTIVITY AND INHIBITION OF ?-GLUCOSIDASE ENZYME FROM DRIED EXTRACT AND FRACTIONS OF JAMBU BOL (Syzygium malaccense) Islan Nor; Irfan Zamzani; Joko Priyanto Wibowo
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.630

Abstract

Jambu bol (Syzygium malaccense) diberbagai belahan dunia digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit dan gejala, termasuk sakit kepala, batuk, peradangan, dan hipertensi. Penyakit degeneratif menimbulkan beberapa penyakit seperti diabetes melitus. Pada tahun 2014 terdapat 422 juta orang dewasa menderita Diabetes Melitus di dunia. Prevalensi meningkat dari 4,7% pada tahun 1980 menjadi 8,5% pada tahun 2014 pada orang dewasa. Angka tertinggi diabetes melitus di Indonesia ditempati oleh DKI Jakarta (3,4%), Kalimantan Timur (3,3%), Yogyakarta (3,2%), dan Sulawesi Utara (3,0%). Antioksidan berperan mencegah penyakit degeneratif yang dikarenakan oleh radikal bebas. Agen penghambat ?-glucosidase dapat menjadi solusi dalam menangani diabetes melitus tipe 2. Tanaman dengan aktivitas antioksidan dan penghambat enzim ?-glucosidase dapat menangani pasien dengan penyakit degeneratif terutama diabetes melitus dengan stres oksidatif, dan menjadi alternatif yang kurang berbahaya dibandingkan obat sintetis. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi daun jambu bol dan dikeringkan dengan metode freeze drying, ekstrak difraksinasi dan didapatkan lima fraksi. Ekstrak dan fraksi dilakukan evaluasi terhadap antioksidan dengan metode DPPH dan antihiperglikemik dengan metode penghambatan enzim ?-glucosidase. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil IC50 ekstrak daun jambu bol (Syzygium malaccense) sebesar 57,14 ± 0,42 µg/mL yang termasuk dalam kategori kuat, begitu pula dengan fraksinya yaitu Fr4 dan Fr6 dengan nilai IC50 sebesar 35,52 ± 0,81 µg/mL dan 39,56 ± 1,17 µg/mL, berturut-turut yang tergolong kategori kuat. Begitu pula aktivitas ekstrak dalam menghambat enzim ?-glucosidase dengan persen penghambatan sebesar 83,72 ± 2,06 %. Maka perlu dikembangkan lagi jambu bol (Syzygium malaccense) sebagai agen antioksidan dan agen antihiperglikemia.
DETERMINATION OF THE MINIMUM INHIBITORY CONCENTRATION OF THE ETHANOLIC EXTRACT OF KIPAHIT LEAVES ON THE GROWTH OF Propionibacterium acnes Joko Priyanto Wibowo; Noor Aida; Islan Nor; Irfan Zamzani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.844

Abstract

Acne is a skin disorder characterized by inflammation in the form of comedones, papules, pustules, and nodules. The disease is caused by the gram-positive bacterium,  Propionibacterium acnes. Treatment of the disease using antibiotic agents such as erythromycin and clindamycin has been reported to cause some side effects. Therefore, alternative antibacterial agents derived from natural products are required to reduce the occurrence of side effects. Kipahit (Tithonia diversifolia A. Gray) is one of the plants with pharmacological activities, such as antibacterial and antiprotozoal activities. The aim of this study was to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of a 96% ethanolic extract of kipahit leaves on the growth of P. acnes. Kipahit leaves were extracted through the ultrasound-assisted extraction (UAE) method. Minimum inhibitory concentration (MIC) was determined using the liquid dilution method. A serial dilution was performed to prepare a series of extract concentrations: 25%, 12.5%, 6.25%, 3.13%, 1.56%, 0.78%, and 0.39%. Whereas, clindamycin and DMSO 1% were used as positive and negative controls, respectively. Phytochemical  screening showed  that  the 96% ethanolic extract of kipahit leaves contains flavonoids, alkaloids, saponins, steroids/triterpenoids, tannins, and phenolic compounds. In addition, the extract showed   inhibitory activity against P. acnes at concentrations ranging from 25% to 1,56%. In contrast, the extract showed  no inhibitory activity at concentrations of 0.78% and 0.39%. Further experiments confirmed that kipahit leaf extract acted as a bacteriostatic agent (inhibiting bacterial growth) at a minimum concentration of 1.56%.  Keywords: Acne, Propionibacterium acnes, Kipahit, MIC
EVALUASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENGHAMBATAN ENZIM ?-GLUCOSIDASE DARI EKSTRAK KERING DAN FRAKSI DAUN JAMBU BOL (Syzygium malaccense): EVALUATION OF ANTIOXIDANT ACTIVITY AND INHIBITION OF ?-GLUCOSIDASE ENZYME FROM DRIED EXTRACT AND FRACTIONS OF JAMBU BOL (Syzygium malaccense) Islan Nor; Irfan Zamzani; Joko Priyanto Wibowo
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.630

Abstract

Jambu bol (Syzygium malaccense) diberbagai belahan dunia digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit dan gejala, termasuk sakit kepala, batuk, peradangan, dan hipertensi. Penyakit degeneratif menimbulkan beberapa penyakit seperti diabetes melitus. Pada tahun 2014 terdapat 422 juta orang dewasa menderita Diabetes Melitus di dunia. Prevalensi meningkat dari 4,7% pada tahun 1980 menjadi 8,5% pada tahun 2014 pada orang dewasa. Angka tertinggi diabetes melitus di Indonesia ditempati oleh DKI Jakarta (3,4%), Kalimantan Timur (3,3%), Yogyakarta (3,2%), dan Sulawesi Utara (3,0%). Antioksidan berperan mencegah penyakit degeneratif yang dikarenakan oleh radikal bebas. Agen penghambat ?-glucosidase dapat menjadi solusi dalam menangani diabetes melitus tipe 2. Tanaman dengan aktivitas antioksidan dan penghambat enzim ?-glucosidase dapat menangani pasien dengan penyakit degeneratif terutama diabetes melitus dengan stres oksidatif, dan menjadi alternatif yang kurang berbahaya dibandingkan obat sintetis. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi daun jambu bol dan dikeringkan dengan metode freeze drying, ekstrak difraksinasi dan didapatkan lima fraksi. Ekstrak dan fraksi dilakukan evaluasi terhadap antioksidan dengan metode DPPH dan antihiperglikemik dengan metode penghambatan enzim ?-glucosidase. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil IC50 ekstrak daun jambu bol (Syzygium malaccense) sebesar 57,14 ± 0,42 µg/mL yang termasuk dalam kategori kuat, begitu pula dengan fraksinya yaitu Fr4 dan Fr6 dengan nilai IC50 sebesar 35,52 ± 0,81 µg/mL dan 39,56 ± 1,17 µg/mL, berturut-turut yang tergolong kategori kuat. Begitu pula aktivitas ekstrak dalam menghambat enzim ?-glucosidase dengan persen penghambatan sebesar 83,72 ± 2,06 %. Maka perlu dikembangkan lagi jambu bol (Syzygium malaccense) sebagai agen antioksidan dan agen antihiperglikemia.
DETERMINATION OF THE MINIMUM INHIBITORY CONCENTRATION OF THE ETHANOLIC EXTRACT OF KIPAHIT LEAVES ON THE GROWTH OF Propionibacterium acnes Joko Priyanto Wibowo; Noor Aida; Islan Nor; Irfan Zamzani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.844

Abstract

Acne is a skin disorder characterized by inflammation in the form of comedones, papules, pustules, and nodules. The disease is caused by the gram-positive bacterium,  Propionibacterium acnes. Treatment of the disease using antibiotic agents such as erythromycin and clindamycin has been reported to cause some side effects. Therefore, alternative antibacterial agents derived from natural products are required to reduce the occurrence of side effects. Kipahit (Tithonia diversifolia A. Gray) is one of the plants with pharmacological activities, such as antibacterial and antiprotozoal activities. The aim of this study was to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of a 96% ethanolic extract of kipahit leaves on the growth of P. acnes. Kipahit leaves were extracted through the ultrasound-assisted extraction (UAE) method. Minimum inhibitory concentration (MIC) was determined using the liquid dilution method. A serial dilution was performed to prepare a series of extract concentrations: 25%, 12.5%, 6.25%, 3.13%, 1.56%, 0.78%, and 0.39%. Whereas, clindamycin and DMSO 1% were used as positive and negative controls, respectively. Phytochemical  screening showed  that  the 96% ethanolic extract of kipahit leaves contains flavonoids, alkaloids, saponins, steroids/triterpenoids, tannins, and phenolic compounds. In addition, the extract showed   inhibitory activity against P. acnes at concentrations ranging from 25% to 1,56%. In contrast, the extract showed  no inhibitory activity at concentrations of 0.78% and 0.39%. Further experiments confirmed that kipahit leaf extract acted as a bacteriostatic agent (inhibiting bacterial growth) at a minimum concentration of 1.56%.  Keywords: Acne, Propionibacterium acnes, Kipahit, MIC
UJI CEMARAN MIKROBA SUSU KEDELAI DI WILAYAH BANJARMASIN UTARA DENGAN METODE ANGKA LEMPENG TOTAL Wibowo, Joko Priyanto; Hakim, Khoirul Usmanul; Mirajunnisa
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 7 No 2 (2024): JIFI : Special edition
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jifi.v7i2.2099

Abstract

The microbial contamination of soymilk is possibly due to the improper production process. Soymilk product must pass the safety and quality assessment prior to distribution as a commercial product. The research was conducted to determine the level of microbial contamination in soymilk product that are distributed by street vendors in North Banjarmasin. The Total Plate Count (TPC) method was performed to five samples of soymilk to determine the level of microbial contamination. The Total Plate Count (TPC) number of the samples as follow: SG (22,000 ± 2,500 CFU/mL), CU (27,667 ± 2,363 CFU/mL), SA (12,667 ± 1,268 CFU/mL), SM (18,667 ± 1,528 CFU/mL), and KU (18,500 ± 1,323 CFU/mL). In conclusion, all samples of soymilk product North Banjarmasin meet the standard criteria of the Badan Standarisasi Nasional (BSN), which is the TPC less than 1×106 CFU/mL.
PERAN KOMUNIKASI, INFORMASI, DAN EDUKASI (KIE) DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG GOUT ARTHITIS DI KAMPUNG HIJAU KOTA BANJARMASIN Priyanto Wibowo, Joko; Hadi, Ismanurrahman; Ria Utami, Primanitha; Rachmawati, Hidajah; Setiawan, Didik; Lutfiyati, Heni; Lestari, Dwi; Suhendi, Andi
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 8 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i8.%p

Abstract

asam urat atau artritis gout merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan nyeri pada persendian, umumnya sering terjadi pada usia 30-40 tahun dan 2 kali lipat lebih berisiko pada pria dibandingkan wanita. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan pengetahuan serta pencegahan asam urat terhadap masyarakat Kampung Hijau, Banjarmasin dan memberikan penyuluhan serta penyampaian informasi obat (PIO). Metode yang dilakukan pada pengabdian ini adalah observasi secara langsung kepada masyarakat dengan menggunakan evaluasi berupa pre-test dan post-test. Pengabdian ini menunjukkan hasil yang signifikan antara pre-test dan post-test yang artinya terjadi peningkatan pemahaman setelah dilakukannya edukasi penyakit asam urat kepada masyarakat mengenai  tanda dan gejala asam urat, pencegahan, terapi yang dapat digunakan serta rentang batas normal asam urat. Upaya pengabdian ini secara efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang asam urat dan mendorong penerapan gaya hidup sehat. untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan berkualitas.
ANTIBIOFILM ACTIVITY OF FIVE NATIVE PLANTS OF KALIMANTAN ISLAND AGAINST Staphylococcus aureus Wibowo, Joko Priyanto; Wahid, Abdul Rahman; Paramitha, Dewi Setya; Wewengkang, Restu Dara; Nurrahmah, Medina
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis Vol 11 No 3 (September-December 2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/pharmacy.v11i3.12917

Abstract

Infections caused by Staphylococcus aureus are an increasing concern in the healthcare sector, particularly due to the rise of antibiotic-resistant strains. Natural products provide a promising alternative source for discovering new antibacterial and antibiofilm agents. This study aimed to evaluate the antibiofilm activity of five plant species natives to Kalimantan Island against S. aureus. Plant materials were extracted using the ultrasound-assisted extraction (UAE) method with 70% ethanol at 40 kHz and temperature of 30 °C for 30 minutes. Phytochemical screening was performed using standard qualitative tests to detect major secondary metabolite groups, including alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and terpenoids. The antibiofilm assay was carried out using a spectrophotometric microplate method, where biofilm formation was quantified in the presence of plant extracts (500 ppm) compared to negative control (solvent). Data were analyzed statistically using ANOVA (p < 0.05) followed by post-hoc tests to determine significant differences among samples. Among the tested extracts, the gelinggang extract exhibited the strongest antibiofilm effect, inhibiting biofilm formation by 84.39 ± 7.21 %, followed by sangkareho (70.63 ± 7.29 %), kratom (66.54 ± 6.11 %) and matoa (58.36 ± 5.91 %). While, limpasu showed the weakest antibiofilm activity (18.22 ± 1.21 %) in this study. The observed activity may be attributed to the presence of phenolic and flavonoid compounds known to disrupt quorum sensing and biofilm matrix synthesis. These findings highlight the potential of Kalimantan’s native plants, particularly gelinggang, as promising sources of natural antibiofilm agents for combating antibiotic-resistant S. aureus infections.
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG TATA LAKSANA HENTI JANTUNG TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN SISWA KELAS XI DI SMAN 12 BANJARMASIN Indah Nurcahyani; Noor Khalilati; Joko Priyanto Wibowo; Mira
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/juvokes.v5i1.1820

Abstract

Henti jantung merupakan kegawatdaruratan medis yang dapat menyebabkan kematian dalam 7–10 menit jika tidak ditangani segera. Studi pendahuluan di SMAN 12 Banjarmasin menunjukkan bahwa mayoritas siswa belum pernah mendapat pelatihan resusitasi jantung, dan sebagian besar hanya memiliki pengetahuan dasar yang tidak memadai untuk bertindak dalam situasi darurat. Mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan tentang tata laksana henti jantung terhadap peningkatan pengetahuan siswa kelas XI di SMAN 12 Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 siswa kelas XI dipilih secara purposive sampling. Intervensi berupa pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi berdasarkan Guideline AHA 2020. Pengukuran pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner benar–salah (19 item), dianalisis secara univariat dan bivariat. Sebelum intervensi, 80% siswa berada pada kategori pengetahuan cukup, 13% kurang, dan 7% baik. Setelah intervensi, terjadi peningkatan signifikan: 90% siswa mencapai kategori baik, 10% cukup, dan tidak ada yang kurang. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (< 0,05), berarti terdapat perbedaan bermakna antara skor pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi efektif meningkatkan pengetahuan siswa tentang tata laksana henti jantung.
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG TATA LAKSANA HENTI JANTUNG TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN SISWA KELAS XI DI SMAN 12 BANJARMASIN Indah Nurcahyani; Noor Khalilati; Joko Priyanto Wibowo; Mira
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/juvokes.v5i1.1820

Abstract

Henti jantung merupakan kegawatdaruratan medis yang dapat menyebabkan kematian dalam 7–10 menit jika tidak ditangani segera. Studi pendahuluan di SMAN 12 Banjarmasin menunjukkan bahwa mayoritas siswa belum pernah mendapat pelatihan resusitasi jantung, dan sebagian besar hanya memiliki pengetahuan dasar yang tidak memadai untuk bertindak dalam situasi darurat. Mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan tentang tata laksana henti jantung terhadap peningkatan pengetahuan siswa kelas XI di SMAN 12 Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 siswa kelas XI dipilih secara purposive sampling. Intervensi berupa pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi berdasarkan Guideline AHA 2020. Pengukuran pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner benar–salah (19 item), dianalisis secara univariat dan bivariat. Sebelum intervensi, 80% siswa berada pada kategori pengetahuan cukup, 13% kurang, dan 7% baik. Setelah intervensi, terjadi peningkatan signifikan: 90% siswa mencapai kategori baik, 10% cukup, dan tidak ada yang kurang. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (< 0,05), berarti terdapat perbedaan bermakna antara skor pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi efektif meningkatkan pengetahuan siswa tentang tata laksana henti jantung.
PENINGKATAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT MELALUI KEGIATAN EDUKASI KEPATUHAN MINUM OBAT MASYARAKAT DI RT 06 ALALAK UTARA, BANJARMASIN UTARA Joko Priyanto Wibowo; Qadhy Kamil Al-Banjarie; Adinda Wulandari; Akhmad Fadillah Mursyid; Stevani Angelica; Vidya Azelia Sherlinda
JURNAL PENGABDIAN MANDIRI Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Medication adherence issues in the community continue to challenge therapeutic success. This community service was conducted to improve understanding among residents of RT 06 RW 01, North Alalak Sub-district, North Banjarmasin regarding the importance of medication adherence. The target participants were 24 adult residents selected for their role in household medication decision-making. Implementation occurred in December 2025 through three stages: preparation, execution and evaluation. Initial observations revealed that most residents discontinued medication when symptoms improved without completing prescribed courses. The intervention was delivered interactively using PowerPoint, educational videos and leaflets, complemented by discussion and Q&A sessions. Knowledge levels were measured using pre-test and post-test, while participant satisfaction was assessed through Likert scale questionnaires. Results showed average score improvement from 4.0 to 7.04, representing a 76% increase. Participant satisfaction reached 4.25 on a scale of 5. Despite significant knowledge improvement, continued support remains necessary to ensure sustainable behavioral changes in daily medication practices within the community