Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) BAGI ANAK AUTIS & DOWN SYNDROM DI MANADO. Arsitektur Organik Lisa C. Robot; Cynthia E. V. Wuisang; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24631

Abstract

Sekolah Luar Biasa (SLB) Bagi Anak Autis dan Down Syndrom merupakan sebuah lembaga pendidikan mulai dari taman kanak - kanak (TKLB), tingkat sekolah dasar (SDLB), sekolah menengah pertama (SMPLB), dan sekolah menengah atas (SMALB) di Manado yang dikhususkan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Latar belakang yang melandasi perancangan ini yaitu karena fasilitas pendidikan bagi anak autis dan down syndrom tergolong belum memadai dan belum dapat memenuhi segala kebutuhan pendidikan bagi penderita agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensi diri, serta memperoleh pendidikan yang setara dengan anak normal seusianya. Faktanya, anak- anak ini dianggap tidak memiliki bakat dan potensi yang dapat dikembangkan. Kebanyakan masyarakat umum memiliki perspektif negatif mengenai anak berkebutuhan khusus. Hasilnya, terdapat begitu banyak anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat dan potensi diri yang apabila dikembangkan, dapat jauh melebihi apa yang dimiliki anak normal pada umumnya. Berdasarkan permasalahan tersebut mendorong penulis untuk merancang sebuah perancangan Sekolah Luar Biasa yang berlokasi di Manado yang dapat memfasilitasi setiap kebutuhan anak agar mendapat pembimbingan dan pelatihan khusus. Dalam perancanaan dan perancangan Sekolah Luar Biasa ini akan diinterpretasikan melalui konsep Arsitektur Organik dan perilaku. Perpaduan konsep alam dengan perilaku akan sangat menarik dalam aktifitas dan pembentukan pertumbuhan anak autis dan down syndrom melalui bentukan massa, sirkulasi, lansekap, dan berdasarkan fungsinya. Kata Kunci : SLB Autis & Down Syndrom, Arsitektur Organik, Manado.
PUSAT SENI & BUDAYA MINAHASA DI TOMOHON. Semiotika dalam Arsitektur Hizkia D. D. Tumiwa; Julianus A. R. Sondakh; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.26202

Abstract

Kebangkitan kebudayaan di Sulawesi Utara dalam 20 tahun terakhir sangat pesat terlebih khusus dalam suku Minahasa. Hal ini terlihat diberbagai kegiatan seni dan budaya yang sangat masif yang dilakukan diseluruh wilayah suku Minahasa. Kebangkitan kebudayaan di suku Minahasa ini merangsang munculnya kelompok – kelompok serta sanggar – sanggar seni yang berlatar belakang budaya diberbagai daerah di suku Minahasa. Perancangan pusat seni dan budaya Minahasa merupakan sebuah respon dari fenomena kebangkitan kebudayaan yang terjadi di Sulawesi Utara terlebih khusus suku Minahasa. Arsitektur merupakan sebuah benda mati namun memiliki jiwa yang terpancar dari citra. Citra menunjukan pada sebuah gambaran sehingga meninggalkan suatu kesan penghayatan arti bagi seseorang. Sudah sewajarnya kita berarsitektur dengan hati nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektur yang baik[1].Pendekatan dengan semiotika dalam perancangan pusat seni dan budaya Minahasa merupakan metode yang sesuai dengan perancangan ini. Dimana semiotika merupakan pendekatan yang menafsirkan bangunan dalam sebuah tanda untuk menyampaikan informasi hingga bangunan tersebut memiliki makna. Metode pendekatan dengan semiotika sesuai dengan maksud dari perancangan pusat seni dan budaya Minahasa yaitu menyampaikan sebuah makna kebudayaan Minahasa yang dihadirkan lewat bentuk, ruang, serta tata atur yang ada dalam perancangan ini.  Kata kunci : Semiotika, seni, kebudayaan, Minahasa[1]  Wastu Citra, 2013 : hal.20
GALERI DAN PERTUNJUKAN MUSIK DI MANADO. Metaphor Architecture Farrell H. J. Kesek; . Sangkertadi; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.26702

Abstract

Musik adalah seni yang sangat melekat di Indonesia, khususnya di Manado. Musik dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk menampung dan mengekspresikan diri dalam seni pertunjukan musik. Berbagai kegiatan pertunjukan dan pameran musik selalu disertai dengan berbagai jenis kegiatan, yang mana musik tersebut menjadi bagian dari proses kehidupan dan simbol dari jati diri masyarakat. Hingga saat ini berbagai kegiatan musik terus dipertahankan. Salah satu cara mempertahankan dan mengembangkannya adalah dengan membuat komunitas musik ataupun sanggar-sanggar musik. Sangat disayangkan, saat ini dengan adanya sanggar-sanggar musik yang menunjang pelestarian dan berkembangnya musik  di Manado, belum ada sarana Gedung yang memadai,  untuk mewadahi mereka yang berjuang dalam bidang musik secara keseluruhan di kota Manado ini.Melihat kurangnya fasilitas seni musik yang dapat menampung serta mengembangkan minat atau hobi masyarakat dalam bermusik di Manado, maka penulis tertarik untuk merencanakan pembangunan Galeri dan Pertunjukan Musik di Manado, dan mengambil lokasi di daerah Mapanget karena melihat kedepannya pusat keramaian dan fasilitas kota Manado akan dialihkan ke daerah Mapanget dan sekitarnya. Dengan mengambil tema Arsitektur Metafora, perancangan Galeri dan Pertunjukan Musik skala kota Manado ini akan dibuat dengan menerapkan konsep sebagai gagasan bentukan perancangan Galeri dan Pertunjukan Musik di Manado Kata Kunci : Galeri dan Pertunjukan Musik, Arsitektur Metafora, Kota Manado, Mapanget
PUSAT KREATIVITAS SENI DAN BUDAYA MINAHASA DI TONDANO. Arsitektur Vernakular Febrian Ch. Rembet; Cynthia E. V. Wuisang; Faizah Mastutie
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.27552

Abstract

Batu adalah “rumah”. Kayu adalah “Rumah”. Tanah adalah “Rumah”. Gunung dan Lembah pun adalah “Rumah. Bahan dan tempat bukanlah merupakan suatu yang menentukan berdirinya sebuah “rumah”. Akal, cara berpikir, dan menentukan situasi adalah dasar utama dalam mendirikan sebuah “rumah”1. Dalam adat dan budaya, kita mewarisi segala hal yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita, yang mana salah satu dari antara warisan tersebut adalah karya arsitektur2. Implementasi dari budaya dan adat ke arsitektur adalah suatu karya yang mewarisi garis estafet nenek moyang dalam bertahan hidup dan meneruskan kehidupan. Di Sulawesi Utara sendiri, terdapat suatu bangsa yang bernama Minahasa. Orang Minahasa sendiri adalah orang-orang yang terikat akan budaya. Yang mana pasti mempengaruhi gaya arsitektur. Terdapat empat suku besar Minahasa yaitu, Tontemboan, Tombulu, Tolour, dan Tonsea yang memilik gaya arsitektur yang serupa, namun memiliki arti yang berbeda-beda. Arsitektur Vernakular menafsirkan suatu gaya arsitektur yang tidak lekang oleh adat dan budaya. Dengan segala keunikan dari daerah, ataupun memiliki suatu tradisi adat terlebih dahulu. Arsitektur Vernakular memiliki makna yaitu dalam membangun sesuatu haruslah menggunakkan adat dan budaya terebih dahulu. Seperti yang terjadi pada masyarakat Minahasa pada jaman dahulu, dimana mereka mendirikan rumah di tempat yang mereka diami pada waktu itu juga dengan memanfaatkan hasil alam yang ada di sekitar dan tradisi-tradisi yang harus dilakukan sebelum membangun rumah. Kata Kunci: Rumah, Minahasa, Adat, Budaya, Vernakular
PUSAT AUTISME DI MANADO. Arsitektur Perilaku (Ruang Personal) Christie S. A. Rorah; Cynthia E. V. Wuisang; Ricky M. S. Lakat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30160

Abstract

Anak adalah pemberian Tuhan. Anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus citacita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Anak adalah orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat dengan segala keterbatasan serta merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Semua anak terlahir dengan keadaan normal, tetapi ada beberapa anak yang terlahir dengan kebutuhan khusus salah satunya adalah anak autis. Menelusuri tingkat autisme di seluruh dunia memiliki banyak tantangan. Ini karena banyak negara tidak mendapatkan atau melaporkan tingkat autisme mereka. Juga tidak ada kriteria spesifik dan seragam untuk menilai autisme. Bahkan jika ada, ada banyak negara yang tidak memiliki sumber daya untuk melakukan penilaian. perancangan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku yaitu ruang personal. Bangunan ini diharapkan dapat menjadi bangunan yang tepat untuk sekolah, pusat terapi dan bangunan autis lainnya. Diharapkan Pusat Autisme ini dapat memaksimalkan segala bentuk kebutuhan dan fasilitas penyembuhan yang berguna untuk anak autis. Karena anak autis juga adalah manusia yang membutuhkan hak untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan.Kata kunci: Anak, Autis, Ruang Personal, Perancangan, Manado
PUSAT PELATIHAN DAN EKSIBISI TATA BUSANA DI MANADO. Arsitektur Metafora Christanty Srirejeki; Cynthia E. V. Wuisang; Esli D. Takumansang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.31152

Abstract

Perkembangan fashion yang pesat pada masa kini memberikan dampak pada bidang tata busana, dimana pelaku dan peminat tata busana semakin banyak bermunculan. Di Indonesia sendiri khususnya Kota Manado merupakan salah satu kota yang dengan cepat bisa mengikuti perkembangan fashion, namun industri fashionnya belum cukup terlihat. Oleh karena itu, diperlukan suatu wadah pendidikan yang bisa mengembangkan bakat dan minat dalam membuat busana serta mendesain model sampai cara memadukan karya mereka sendiri. Dimana tersedia fasilitas lengkap untuk menciptakan karya, memberikan informasi rancangan dan mempromosikan rancangan, memperagakan berbagai mode, serta mengembangkan diri seperti pembentukan mental dan kepercayaan diri, etika dan sikap professional. Dengan adanya Pusat Pelatihan dan Eksibisi Tata Busana ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin mempelajari ilmu dan perancangan fashion dari awal dan lebih dalam lagi, yang tidak hanya melahirkan desainer dan model yang berkualitas dan professional dan juga membantu meningkatkan perkembangan mode dan perekonomian di Indonesia, khususnya di Manado. Dan juga bisa memfasilitasi setiap acara berupa pameran tata busana, maupun pesta pernikahan. Tema perancangan yang digunakan untuk bangunan ini yaitu Arsitektur Metafora. Konsep yang diterapkan adalah Metafora Tangible, yang mengambil bentuk dari kepompong ulat sutera.Kata Kunci: Fashion, Pusat Pelatihan dan Eksibisi Tata Busana, Arsitektur Metafora
PUSAT LAYANAN KANKER DI MANADO. Biofilik Arsitektur Jessica M. Walukow; Octavianus H. A. Rogi; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.32078

Abstract

Penyakit kanker merupakan salah satu penyakit yang sensitif dan dapat menimbulkan gangguan psikis terhadap penderita karena membuat penderita takut dan strs untuk menanggapi penyakit tersebut lebih lanjut sehingga tidak sedikit penderita yang kehilangan nyawanya akibat takut dan stres.. Melihat permasalahan ini, muncul tujuan untuk mendesain sebuah Pusat Layanan Kanker dengan penerapan tema Arsitektur Biofilik di Sulawesi Utara, tepatnya di kota Manado, Kecamatan Mapanget dengan tujuan menghadirkan layanan informasi khusus tentang Kanker yang diharapkan dapat memberikan suasana yang tenang dan damai bagi para pengunjung yang terkait didalamnya para pasien dan keluarganya juga masyarakat luas.Kata Kunci : Pusat Layanan Kanker, Arsitektur Biofilik, Manado
IDENTIFIKASI LANSEKAP BERSEJARAH DI KECAMATAN KAIDIPANG KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA Petrik Runtuwene; Cynthia E. V. Wuisang; Alvin J. Tinangon
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37061

Abstract

The historical event is a journey of the nation starting from the era of the Hindu, Buddhist and Islamic style kingdoms, to the era of European colonization. The arrival of foreign nations in the past has left many sites and areas of cultural and historical value as valuable assets that describe people's lives in the past. Based on its history, the Great Kaidipang kingdom was a combination of the Kaidipang kingdom and the Bolangitang kingdom. The residential area of the Kaidipang community still maintains its customs. However, the Kaidipang sub-district experienced a change in the cultural landscape due to the changing times. The purpose of this study was to identify historical landscapes in Kaidipang District, North Bolaang Mongondow Regency and analyze the characteristics of historical landscapes in Kaidipang District, Bolaang Mongondow Regency. The method used in this research is descriptive qualitative by collecting historical landscape data in Kaidipang District. Descriptive analysis was conducted to determine the characteristics of the historical landscape in the study area. The results of this study indicate that settlements in Kaidipang District follow the same pattern as the royal era under the leadership of King Sam Suit Pontoh which is divided into 2, namely the northern region and the southern region where these two areas also have the same landscape, namely linear (settlement pattern follows the road). . The residential area used to be divided into 2, namely residential areas and agricultural areas, but with the expansion of the North Bolaang Mongondow Regency, land conversion occurred so that the distribution of the community tends to the north and south areas. The cultural landscape of the Kaidipang community has its own characteristics related to traditions, settlement culture, and landscape order. The analysis carried out on eleven components of the formation of the cultural landscape characteristics of the Kaidipang Community is a type of landscape character that is still traditional and life relies on the surrounding natural environment and agricultural products. The life of the people still upholds the values of tradition and culture that are still practiced.
PAPUA MIX-USE BUILDING DI KOTA JAYAPURA: Implementasi Arsitektur Hi-tech Nidia Rantia; Frits O. P. Siregar; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan pertambahan hunian dan fasilitas lainnya menyebabkan penyempitan lahan sehingga berpengaruh pada harga tanah yang semakin mahal. Meningkatnya kebutuhan akan hunian masyarakat di pusat Kota Jayapura pada kondisi lahan yang cukup kecil ini menjadikan konsep pembangunan kearah vertikal merupakan solusi dari kondisi tersebut. Perancangan objek ini bertujuan untuk mewadahi kebutuhan hunian, jual-beli serta refreshing dalam satu objek arsitektural pada kawasan yang dinamis serta strategis melalui penerapan tema Arsitektur Hi-tech dan memberikan aspek-aspek pendukung aktifitas yang lebih aman mudah dan nyaman baik didalam bangunan maupun diarea sekitar Kawasan. Papua Mix-use Building yang berada di pusat Kota Jayapura dengan pengimplementasi tema arsitektur Hi-tech diharapkan mampu menjadi referensi dalam suatu perancangan bangunan multi fungsi. Melalui Perancangan yang terukur, mampu menjawab akan kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang nyaman dan aman dengan fasilitas jual-beli yang mudah dan fleksibel didalam satu tapak. Begitu pula dengan karakteristik tema rancangan yang sesuai dengan pemanfaatan objek. Sehingga menciptakan bangunan kokoh dan estetik dengan penggunaan struktur yang ditonjolkan dan warna-warna natural dari material. Hal ini juga mendukung citra bangunan, menjadi ciri yang melekat dan mudah diingat. Yang paling utama perencanaan yang tepat pada bangunan Papua Mix-use Building didalam tapak memberi nilai tambah pada aspek Ekologi, Sosial dan Ekonomi. Kata Kunci: Papua Mix-use Building, Arstitektur Hi-tech, Kota Jayapura
MIX-USE TERMINAL DAN PUSAT PERBELANJAAN DI TAHUNA: Arsitektur Neo Vernakular Oscar V. Tatengkeng; Cynthia E. V. Wuisang; Esli D. Takumansang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terminalimerupakan tempat berpusatnyaitransportasi yangisangat dibutuhkanioleh masyarakat berkaitanidengan transportasi darat . Terminali termasukisalah satu unit pelayananiumum dalam hal transportasi yaitu dalam pergerakan serta perpindahan manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lainiyang merupakan simpulidari sistem jaringanitransportasi. Pusat perbelanjaan dalm parawisata merupakan wadahi bagi perdagangan, pasari yang asli setempat (indigenous, native) yang berlangsung isejak lama. Menurut Max Waber,memandang suatu tempatiitu kota jikaipenghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannyailewat pasar setempat. Oleh sebab itu pasaribisa di katakan dapat menjadiisebuah ciri khas dan meningkatkanicitra suatuikawasan menjadiilebih baik. Terkaitidenganiakses suatu kawasan parawisata, moda transportasi termasuk elemen yang penting dalam parawisata yang berperan dalam memudahkaniakses dalam keterjangkauanitempat wisata. Sementara fasilitas yangidibutuhkan lebih disarankan kedalam pembangunan dan perbaikan fasilitas umum seperti angkutan umum dan wadah bagi angkutan umum. Kondisi transportasi di Kabupaten Tahuna saat ini terdiri atas angkutanitradisionalibecak, dan taksi sebagai angkutanitransportasi umum yang dapat mengantaripenumpang ke seluruh tujuan tanpa pembagian rute atau jaluriarah kendaraan. Kondisi – kondisiiini menyebabkan terjadi ketidakaturan dalam lalu lintasikendaraan umum di Kabupaten Tahuna yang menimbulkan masalah kecelakaan akibat kacaunya lintasanikendaraan umum. Konsep Perancangan MIX-USE Terminal dan Pusat Perbelanjaan KabupateniKepulauan Sangiheikhususnya KotaiTahuna menerapkanitema ArsitekturiNeo Vernakularipada bangunan, yang memunculkaniikon baruidengan tetap mempertahankan unsur-unsuritradisional di kotaiTahuna. Kata Kunci: terminal, perbelanjaan, neo vernakular